NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak di Air Tenang

Perjalanan kembali dari Arseto Tower menuju kediaman utama di Bukit Permai terasa lebih lambat bagi Kirana. Bukan karena arus lalu lintas yang mendadak mengular, melainkan karena pikirannya yang masih tertinggal di lantai lima puluh delapan. Bayangan kerutan di dahi Adrian dan aroma kemejanya yang kusut masih membekas kuat dalam benak Kirana.

"Dia memikul terlalu banyak beban untuk pria seusianya," gumam Kirana pelan, menatap kaca jendela mobil yang menampilkan deretan ruko dan pohon-pohon peneduh jalan yang berkelebat konstan.

Sopir kediaman yang mengantarnya, seorang pria paruh baya bernama Pak Joko yang sudah bekerja belasan tahun untuk Keluarga Arseto, melirik melalui spion tengah. "Ada yang mengganggu pikiranmu, Kirana? Jarang-jarang melihatmu diam begini. Biasanya ada saja cerita lucu yang kamu bagikan."

Kirana tersenyum riang, seketika mengembalikan topeng keceriaannya yang khas. "Ah, tidak ada apa-apa, Pak Joko. Saya hanya takjub melihat kemegahan kantor Tuan Muda. Kota ini terlihat sangat kecil dari atas sana."

Pak Joko terkekeh, namun nadanya segera berubah menjadi lebih serius dan penuh petuah. "Kantor itu memang megah, tapi tekanan di sana bisa meremukkan tulang orang biasa. Apalagi sejak Tuan Besar sakit. Tuan Muda Adrian itu... dia harus merelakan masa mudanya demi menjaga agar dinasti ini tidak runtuh. Kamu harus ekstra hati-hati di lantai tiga, ya. Satu kesalahan kecil di saat Tuan Muda tertekan bisa berakibat fatal."

"Saya tahu, Pak Joko. Terima kasih pengingatnya," jawab Kirana tulus.

Ketika mobil akhirnya melewati gerbang besi raksasa kediaman, matahari sudah mulai tergelincir ke barat, memancarkan rona kemerahan yang hangat di atas dinding-dinding marmer kastel modern tersebut. Kirana turun dengan langkah tegap, bersiap untuk kembali ke rutinitas domestiknya.

Namun, kedamaian sore itu langsung koyak saat Kirana melangkah masuk melalui koridor belakang menuju ruang pelayan. Di sana, ia melihat Sinta sedang duduk di sudut ruangan sambil terisak pelan, memegangi lengannya yang tampak memerah. Di depannya, Mawar berdiri dengan berkacak pinggang, wajahnya dipenuhi raut kemenangan yang angkuh.

"Makanya, punya mata itu digunakan dengan benar!" ketus Mawar dengan nada ketat. "Gelas kristal dari Venesia di ruang makan malam itu harganya bisa untuk membayar gajimu selama setahun! Untung saja aku melihatmu menyenggolnya tadi, jadi aku bisa langsung melaporkannya ke Ibu Maya sebelum kamu menyembunyikan pecahannya!"

"P-Tapi Mawar... bukan aku yang menyenggolnya... kain lapmu yang tersangkut di sana saat kamu berjalan terburu-buru..." bantah Sinta di sela tangisnya, suaranya bergetar ketakutan.

"Oh, jadi kamu mau memutarbalikkan fakta dan menuduhku?!" Mawar menaikkan nada suaranya, siap melayangkan makian yang lebih keras.

Kirana yang melihat ketidakadilan itu merasakan darahnya mendidih. Sifat pemberani dan protektifnya terhadap orang-orang yang lemah seketika bangkit. Ia melangkah maju dengan cepat, memotong jarak di antara Mawar dan Sinta. Dengan gerakan yang tegas, ia menarik Sinta ke belakang punggungnya, lalu menatap Mawar dengan pandangan mata bulatnya yang mendadak berubah menjadi setajam silet.

"Cukup, Mawar," suara Kirana terdengar rendah, namun memiliki artikulasi yang begitu jelas dan mengintimidasi, membuat Mawar refleks menghentikan kalimatnya.

"K-Kirana? Jangan ikut campur ya! Ini urusan internal bagian lantai dasar, tidak ada hubungannya dengan pelayan lantai tiga sepertimu!" ujar Mawar, mencoba mempertahankan benteng keangkuhannya meskipun ia sedikit terkesiap melihat tatapan Kirana.

Kirana maju satu langkah, membuat Mawar terpaksa mundur. Kecerdasan Kirana bekerja cepat mengingat detail ruangan yang mereka bicarakan.

"Ruang makan malam utama memiliki lantai marmer yang mengkilap, Mawar. Dan setahu saya, setiap sudut ruangan di rumah ini dilengkapi dengan kamera pengawas tersembunyi demi keamanan tingkat tinggi. Bagaimana kalau kita minta Pak Hendra atau Ibu Maya untuk membuka rekaman CCTV jam tiga sore tadi? Kita lihat bersama, kain lap siapa yang sebenarnya menari-nari di dekat meja kristal itu."

Mendengar kata 'CCTV' dan nama 'Pak Hendra', wajah Mawar seketika memucat. Ia lupa bahwa di kediaman Arseto, hampir tidak ada sudut yang luput dari pengawasan digital.

"K-Kamu... tidak usah berlagak jadi pahlawan di sini!" gagap Mawar, matanya bergerak panik. "A-Awas kamu ya, Kirana!" Dengan menahan malu dan takut yang teramat sangat, Mawar berbalik dan melarikan diri dari ruangan itu secepat mungkin.

Kirana menghela napas, lalu berbalik membantu Sinta berdiri. Ia mengusap air mata di pipi gadis desa itu dengan jemarinya yang lembut. "Sudah, jangan menangis lagi. Di tempat seperti ini, kalau kamu memperlihatkan kelemahanmu, orang-orang seperti Mawar akan terus menginjakmu. Tegakkan kepalamu, Sinta. Kita di sini bekerja, bukan untuk menjadi keset kaki."

Sinta mengangguk pelan, menatap Kirana dengan pandangan penuh rasa kagum dan syukur. "Terima kasih, Kirana. Kamu... kamu selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kamu sangat pintar dan pemberani."

Kirana hanya tertawa renyah, mengembalikan atmosfer riang di antara mereka. "Aku hanya tidak suka melihat ada orang yang merusak pemandangan soreku yang indah ini. Ayo, obati lenganmu dulu sebelum Ibu Maya memanggil kita untuk persiapan makan malam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!