NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Dini hari, Nisa terbangun karena suara ponsel. Bukan alarm, tapi ada panggilan masuk. Buru-buru ia bangun, meraih benda pipih menyala yang menggelepar-gelepar dia atas nakas, berharap itu panggilan dari Ojan. Sayangnya, Nisa harus menelan kekecewaan, bukan Ojan yang telepon, melainkan Dinda. Sialan, tahu gitu ia gak bangun tadi. Saat tersambung, yang terdengar malah suara Dinda nangis.

"Ada apa, Din?" Gak mungkin Nisa tak panik mendengar tangisan Dinda.

"ATM ku Nis, ATM ku ketelen. Hua..." Tangisan Dinda makin kencang.

Nisa tepuk jidat sambil mengumpat dalam hati. Kirain ada apaan, ternyata cuma soal ATM. "Kapan?"

"Barusan."

Otomatis, Nisa melihat jam di ponselnya. Baru jam 4 dini hari, ngapain Dinda sudah main ke ATM? "Kamu ngelindur atau gimana sih, jam segini ke ATM."

"Semalam ibuku telepon Nis, Bapak masuk rumah sakit. Aku gak bisa tidur semalaman, jam 3 aku nekat ke indoapril, mau tf, tapi ATM malah ketelen. Untung pas udah selesai tf."

"Ya udahlah, hari ini izin kerja, kamu urusin dulu ATM kamu ke bank." Nisa menutup telepon sesudah itu. Orang lagi ada masalah, masih juga kena masalah. Kasihan Dinda, definisi sudah jatuh tertimpa tangga.

Gara-gara telepon Dinda, Nisa tak lagi bisa tidur. Ia mengecek pesan, masih seperti kemarin, tak ada pesan dari Ojan. Mumpung belum subuh, ia putuskan untuk sholat tahajjud saja. Di rumahnya, meski ukurannya tak terlalu besar, ada ruangan khusus untuk sholat. Saat hendak masuk, langkahnya terhenti mendengar suara isakan. Ternyata di dalam ada ibunya, menangis sesenggukan. Tak ingin seperti semalam, Ayahnya malu, Nisa memutuskan tidak jadi masuk. Ia beralih ke dapur, mencuci wadah magigcom lalu masak nasi. Lanjut, ia menyiapkan lauknya juga.

Suasana sarapan terasa canggung. Bu Wiwik tak banyak bicara, hanya diam sembari makan penyet tempe buatan Nisa. Naina juga ikut sarapan, meski sepanjang itu, dia hanya diam.

"Suruh Sandi dan keluarganya kesini Sabtu nanti," ujar Pak Bambang. Matanya fokus pada makanan, sama sekali tidak menoleh pada Naina.

"Iya, Yah."

Ini sudah hari ketiga Ojan tanpa kabar. Nisa bukan lagi merasakan baterainya tinggal 1 persen, tapi udah kosong, melompong. Setiap keluar rumah, tempat pertama yang ia lihat, adalah gerbang, berharap ada Ojan disana, tapi sama seperti kemarin, tak ada.

Apa mungkin, selama ini Ojan sengaja mengejarnya, lalu setelah ia luluh, merasa tak ada tantangan lagi. Mungkin cowok itu sudah bosan padanya. Ojan masih muda, tampan, pasti gampang nyari cewek. Ngejar-ngejar dia selama ini, mungkin cuma buat ngisi kegabutan.

Nisa sudah siap di atas motor, hendak menarik gas, tapi tiba-tiba, ponsel di dalam tasnya berdering. Halah, palingan Dinda, ia tak menjawab, nanti saja di kantor, daripada telat, jaga-jaga kalau jalanan macet.

Sesampainya di pantry, saat membuka HP, mulut Nisa menganga mengetahui yang telepon tadi ternyata bukan Dinda, tapi Ojan. Nyesel banget tadi gak ngecek dulu. Cowok itu juga ngirim pesan.

[ Mbak ]

Isi pesannya benar-benar minimalis, tidak menjabarkan perasaan seseorang yang lama tak berkabar dan sedang dilanda rindu.

Tanpa pikir panjang, apalagi mikirin gengsi, Nisa menelepon Ojan.

"Ojan, kamu kemana aja?" tanyanya saat telepon tersambung. "Bisa gak sih, kalau ada apa-apa itu minimal ngabarin, jangan main hilang aja. Dua hari kamu gak ada kabar sama sekali. Jangankan antar jemput, nanya aku udah bangun apa belum aja enggak. Kamu kayak hilang ditelan bumi, padahal kirim pesan itu cuma butuh gerakin jari doang, dan gak sampai semenit, itu pun gak kamu lakukan."

"Busyet! Panjang kali lebar benget," Ojan menahan tawa.

Nisa terdiam, wajahnya memanas, malu. Diantara sekian banyak cerocosannya tadi, semoga saja gak ada keceplosan ngomong kalau dia kangen.

"Kenapa gak langsung intinya aja sih, Mbak? Kamu kangen aku, iya kan?"

Tenggorokan Nisa tercekat, tak tahu harus menjawab apa. Bohong jika tidak kangen, tapi malu mau bilang iya. "Kamu kemana aja?" Belum pernah, ia selega ini saat ditelepon seseorang. Baterainya langsung terisi 50 persen, saklar didalam dirinya seperti sudah ditekan, lampu menyala, ia kembali bersemangat.

"Jawab dulu pertanyaanku? Kangen gak?"

"Em..."

"Gak kangen ya?" Ojan menghela nafas panjang.

"Kangen." Nisa akhirnya mengakui meski agak ragu-ragu karena malu.

"Jan."

Nisa mendengar suara wanita memanggil Ojan.

"Buruan!"

Wanita itu kembali bicara.

"Iya Mah, tunggu bentar," teriak Ojan.

Oh, mamahnya

Merasa lega untuk yang kedua kalinya.

"Mbak, udah dulu ya, aku buru-buru ini," ujar Ojan.

"Eh, nanti bisa jemput aku gak?" Nisa bertanya cepat sebelum sambungan diputus. Padahal ia bawa motor, tapi bisa-bisanya malah minta dijemput.

"Maaf Mbak, gak bisa."

"Tapi kalau besok, bisakan antar jemput?"

Ojan membuang nafas kasar, diam beberapa saat. "Sekali lagi maaf Mbak, aku gak bisa."

"Oh, gitu ya." Nisa tertunduk lesu, kecewa.

"Udah dulu ya, Mbak."

Nisa melihat layar ponselnya, telepon sudah diakhiri, bahkan sebelum Ojan memberi penjelasan kenapa dua hari ini, tak menghubunginya. Cowok itu sepertinya tergesa-gesa, entah mau pergi kemana.

1
Kadrama17
✍️ Penulis "1 Milyar Untuk Operasi Ayahku" 💔
CEO Dingin x Gadis Miskin | Pernikahan Kontrak
⚡ UPDATE TIAP HARI JAM 07.00 & 19.00 WIB ⚡
Follow yuk biar gak ketinggalan lanjutannya ❤️
Neng Alifa
saya juga kerja. urus anak 3 sblm kerja bangun jam 4 kurang buat bekal sekolah,blm buat suami. masak buat makan siang dll. plg kerja bebenah dll. tdr jam 11 MLM bangun jam 4 kurang. beuhhh luar biasa capek ya tp itu tanggung jawab sebagai ibu dan istri
Neng Alifa
si Oneng
Neng Alifa
dih geli banget. ak pernah denger pacar anakku ngomong gini 😄
Nasri
aaaaa,,, author mah bikin mewek,
Linda Febri
bagus
Istatik Cell
la benar itu pk su Bu Wiwik ngasuh boleh tp ya sekali2 jangan terusan kaenakan naina nya nanti biar dia belajar tanggungjawab
jimine1104
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Istatik Cell
makan tu dapat yg setara pendidikan tinggi akhirnya selera juga tinggi pusing2deh sandi turutin tuh istri manjamu...🤭
Punkpunk 234
mampir dn nyimak.. 💪
mommyarayra
cerita nya bagus ada unsur komedi nya juga jd gk bikin bosan baca nya.. makasih bnyak thor
Dewi Hutabarat
Luar biasa
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
bagus kak aku suka, semangat berkarya 🤗
Dewi Kania
/Facepalm/
Dewi Kania
mantap juga ibu ku iniii
Dewi Kania
mantap bapak ku ini
Dewi Kania
🤣.
Dewi Kania
🤣🤣🤣
Dewi Hutabarat
Luar biasa
Ila Lee
alhamdulillah habis juga baca kisah ojan dan nisa😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!