NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:925.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Rania memejamkan mata sejenak, menghirup udara subuh dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya.

Ia memantapkan hatinya yang kini sudah berubah sekeras batu karang. Langkah kakinya kembali diayunkan, sengaja mengetukkan tumit sepatunya dengan keras ke atas lantai porselen agar kedua orang di ruang tamu itu menyadari kehadirannya.

Takk! Tak!

Suara ketukan sepatu itu memecah ketegangan di ruang tamu.

Perdebatan antara ibu dan anak itu mendadak terhenti seketika.

“Rania?"

Harsa menoleh dengan cepat, diikuti oleh pandangan mata Ratna yang langsung berubah sinis.

Harsa tertegun melihat penampilan istrinya. Rania sudah berpakaian sangat rapi dengan celana kulot dan blus formal, tas selempang sudah menggantung di bahunya, dan wajahnya dipulas kosmetik tipis untuk menyembunyikan rona pucatnya.

“Kamu mau kemana sudah rapi begini?” tanya Harsa sembari bergegas bangkit dari lantai.

“Mau keluar. Jalan-jalan. Aku suntuk di rumah,” jawab Rania datar, tanpa ekspresi, bahkan matanya tidak sudi melirik ke arah Ratna.

“Jalan-jalan? Pagi-pagi begini? Ini bahkan belum jam enam, Rania! Jangan kekanak-kanakan!” sela Ratna dengan nada ketus, melipat tangan di dada.

“Istri macam apa yang keluyuran subuh-subuh setelah semalam membuat keributan?”

Rania tidak membalas ucapan mertuanya. Ia hanya menatap lurus pada Harsa, seolah-olah Ratna hanyalah embusan angin lalu. Sikap abai Rania membuat Ratna semakin meradang, lantas Harsa buru-buru memotong sebelum ibunya kembali mengomel.

“Rania, dengarkan aku,” ucap Harsa melangkah mendekat, mencoba meraih pergelangan tangan Rania, namun Rania dengan cepat menyembunyikan tangannya di balik saku kulot.

Harsa menghela napas, menahan rasa sesak yang tiba-tiba hadir karena penolakan itu.

“Semalam aku sudah bilang, kan? Hari ini aku meluangkan waktu dari kantor. Aku yang akan mengantarmu. Kita ke dokter, kita periksa kondisimu. Kamu tidak boleh pergi sendiri.”

“Tidak perlu, Mas. Aku bisa pergi sendiri,” tolak Rania ketus.

“Tidak! Aku tidak mengizinkanmu pergi sendiri dengan kondisi seperti ini!” paksa Harsa, suaranya meninggi karena panik bercampur rasa takut kehilangan.

Tumben sekali mas Harsa perhatian? Apa kepalanya baru saja terbentur semalam?

Harsa menoleh pada ibunya sejenak, mengabaikan tatapan protes Ratna.

“Tolong tunggu sebentar. Aku akan mandi dan ganti baju sekarang. Hanya sepuluh menit, Rania. Aku mohon, tunggu aku.”

Rania hanya diam, tidak mengiyakan pun tidak menolak. Matanya menatap kosong ke luar jendela besar ruang tamu, melihat langit subuh yang perlahan mulai menguning.

Dadanya terasa begitu sesak, berdenyut nyeri seiring dengan denyutan di kepalanya yang tak kunjung reda.

“Mengapa kepedulian ini baru datang sekarang, Mas? Setelah aku menginginkan perpisahan?” batin Rania perih, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di depan pria itu.

Tepat saat Harsa hendak berbalik melangkah menuju kamar, ponsel di dalam saku celananya berdering nyaring.

Drrt... Drrt...

Harsa merogoh sakunya, melihat nama yang tertera di layar digital tersebut.

Wulan.

Harsa sempat melirik Rania dengan tatapan bersalah yang teramat ketara, membuat Rania mendengus pelan. Sebuah senyuman penuh sarkasme yang sangat menyedihkan.

“Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting,” ucap Rania dengan tenang.

Harsa menelan ludah, akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo, Wulan? Ada apa subuh-subuh menelepon?”

Suara isakan kecil dari seberang telepon langsung terdengar cukup jelas di keheningan ruang tamu tersebut.

“Halo... Mas Harsa. Maaf kalau aku mengganggu sepagi ini. Aku cuma mau memastikan, Mas Harsa tidak lupa kan kalau hari ini ada janji mengantar Gavin check-up ke dokter spesialis anak di rumah sakit pusat?”

Harsa langsung mematung. Kepalanya mendadak kosong. Ia benar-benar lupa dengan janji yang ia buat bersama Wulan tiga hari yang lalu.

“Wulan, aku...” Harsa terbata-bata, matanya bergerak panik menatap Rania yang kini sedang menatapnya balik dengan sorot mata yang seolah berkata kalau dirinya selalu punya prioritas lain.

“Gavin sejak semalam badannya agak hangat, Mas. Dia terus bertanya kapan papa Harsa datang menjemput. Aku nggak punya kendaraan dan nggak tahu prosedur di rumah sakit besar itu kalau nggak ada Mas...” lanjut Wulan dengan lembut, memicu rasa iba yang dalam di hati Harsa.

Mendengar percakapan itu, Ratna yang berdiri di samping Harsa langsung menyambar kesempatan.

“Harsa! Kamu harus antar Gavin! Anak itu sedang sakit, dia yatim, tidak ada yang mengurusnya kalau bukan kamu! Soal Rania, dia kan cuma mau jalan-jalan karena suntuk, tidak penting!”

Harsa semakin terpojok di dalam lingkaran kepanikan.

“Wulan, bisa tunggu sebentar? Aku—”

“Tidak usah menunda janji mulia mu, Mas,” potong Rania tiba-tiba.

Suaranya terdengar sangat renyah, namun ada kehancuran yang teramat pekat di dalamnya.

Rania memundurkan langkahnya, menatap Harsa dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan paling asing.

“Rania, bukan begitu, aku bisa mengatur waktunya.”

Harsa mencoba meraih baju Rania, sayangnya Rania melangkah mundur lagi.

“Pergilah, Mas. Temani Gavin. Dia lebih membutuhkan kamu dibandingkan aku,” ucap Rania.

Bibir wanita tersenyum, tapi matanya memancarkan rasa sakit yang teramat menyesakkan hingga membuat Harsa ikut merasa tercekik.

“Jangan biarkan mereka menunggumu terlalu lama. Lagipula, tempatmu memang di sana, bukan di samping istri mandul sepertiku.”

“Rania, tutup mulutmu! Berhenti bicara seperti itu!” bentak Harsa frustrasi, air matanya sendiri hampir menetes melihat bagaimana Rania memandangnya seolah dirinya adalah sampah.

“Aku pergi, Mas Harsa,” ujar Rania final.

Tanpa menunggu balasan lagi, Rania berbalik dengan cepat, mengabaikan teriakan panggilan Harsa yang tertahan karena suara tangisan Wulan yang masih menjerit di ponselnya.

Rania berjalan cepat membuka pintu rumah, keluar menuju udara pagi yang dingin.

Di bawah langit subuh itu, Rania meremas dadanya yang terasa sangat sesak bagai dihantam ribuan jarum, meninggalkan Harsa yang kini berdiri membeku di ruang tamu.

“Pak Darto, bisa antar saya sebentar ke rumah sakit?” Rania menghampiri Pak Darto yang sedang membersihkan kaca mobil.

Pak Darto menoleh, wajahnya mendadak pias dan serba salah.

“Maaf, Nyonya... Bukannya saya nggak mau. Tapi kemarin sore tuan Harsa sudah berpesan, pagi ini saya harus menjemput adik iparnya.”

“Wulan?” tanya Rania.

Pak Darto hanya menunduk, diam membisu tanda mengiyakan.

“Maafkan saya, Nyonya.”

Rania mencengkeram tasnya erat-erat. Bahkan fasilitas di rumah ini pun sudah bukan miliknya lagi.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya bisa pergi naik taksi,” ucap Rania tersenyum getir.

1
Dewa Nara
kirain sama Jonathan
Dewa Nara
masak siang2 aspalnya dingin thor🤭
Dewa Nara
kalau kasus korupsi gak bisa laporannya ditarik Thor, karena itu bukan delik aduan
Dewa Nara
memangnya bagas udah kenal sama orang tua Rania
Senja: Rania dl teman bagas kk, sekolah, cukup tau ortunya
total 1 replies
Dewa Nara
memangnya si wulan gak punya keluarga
Nonik Anda Swl
aku benci wanita lemah dan menye2, apalagi bodoh karena cinta
Senja: Awalnya kak, dimaklumi saja. kalau mau yg gak menye2 di buku sebelah kak "aku buat suamiku menyesal"🙏
total 1 replies
Diny Julianti (Dy)
lha bukanny tasya hamil duluan, ko baru lahiran
Diny Julianti (Dy)
enak dcintai Jo ugal2an, beruntung Rania
Moms Shinbi
baru eps 1 dadaku cenut" sakit 🥹
Senja: Sabar mom. makasih udah mampir🙏
total 1 replies
Diny Julianti (Dy)
najis Harsa peluk2 jalang
Adinda ambarsari
sinetron indosiar
Senja: ga punya tivi aku maaf ga nonton sinetron🙏
total 1 replies
Royanah
kasian rania
Diny Julianti (Dy)
jijik baca pas harsa kegoda, najis
Diny Julianti (Dy)
keren
Diny Julianti (Dy)
beuh belagu, ternyata harsa dulunya kismin dan ibunya hadehh ngga tau diri
Mukeseh
makan tu wulan di hotel prodeo 🤣🤣🤣
Mukeseh
katagihan kan dokter bagas 😂😂😂😂
Diana Bellusi
haiiish bagus banget otornya bikin kata2 ceritanya jadi seperti bukan hanya cerita novel ....q aja yg baca jadi mikir kok bisa ....
salut buat otor nya....👍
Senja: Terima kasih kak sudah mampir🙏
total 1 replies
ayu cantik
suka
Mukeseh
plot wisth panji 😂🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!