NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya

Pagi itu, Nadira datang ke kantor dengan senyum yang sulit disembunyikan.

Semalam, untuk pertama kalinya, ia melihat kesungguhan Arga di depan ayahnya. Tidak ada janji muluk. Tidak ada kata-kata berlebihan. Hanya keyakinan yang sederhana, tetapi mampu membuat hatinya tenang.

Begitu pintu lift terbuka, matanya langsung mencari sosok Arga.

Seperti biasa, pria itu sudah duduk di mejanya.

Namun kali ini, ada yang berbeda.

Arga sedang menatap sebuah amplop berlogo perusahaan dengan wajah serius.

"Gar?"

Arga mengangkat kepala. Ia berusaha tersenyum.

"Pagi."

"Pagi."

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

Nadira mengenal Arga cukup baik.

Kalau Arga menjawab *"nggak apa-apa"* dengan wajah seperti itu...

Berarti ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

---

Pukul sembilan pagi, seluruh supervisor dipanggil ke ruang rapat.

Pak Dimas berdiri di depan dengan beberapa map di tangannya.

"Wah, tegang amat, Pak."

Rina mencoba mencairkan suasana.

Pak Dimas tersenyum tipis.

"Ini kabar baik sekaligus kabar yang cukup berat."

Semua langsung memperhatikan.

"Perusahaan kita resmi membuka kantor cabang baru di Surabaya."

Ruangan dipenuhi tepuk tangan.

"Itu kabar baiknya."

"Lalu kabar beratnya?"

Pak Dimas membuka map pertama.

"Perusahaan membutuhkan satu orang untuk memimpin tim pembukaan cabang selama enam bulan."

Suasana kembali hening.

"Itu bukan tugas mudah."

"Harus membangun tim dari nol."

"Harus tinggal di Surabaya sementara."

Beberapa orang langsung saling berpandangan.

"Siapa yang dipilih, Pak?"

Pak Dimas menarik napas pelan.

"Manajemen sudah memutuskan."

Beliau menatap seseorang.

"Arga."

Jantung Nadira seperti berhenti berdetak.

---

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Rina bahkan lupa menutup mulutnya.

"Enam bulan?"

gumamnya pelan.

Arga sendiri tampak tenang.

Ia sudah mengetahui isi surat itu sejak pagi.

"Keputusan ini diambil karena performa Arga selama dua tahun terakhir sangat baik."

lanjut Pak Dimas.

"Mulai awal bulan depan, Arga akan bertugas di Surabaya."

Semua memberikan tepuk tangan.

Namun bagi Nadira...

Suara tepuk tangan itu terdengar begitu jauh.

Yang terngiang di kepalanya hanya satu kalimat.

**Enam bulan.**

Lama yang sama dengan syarat yang diberikan ayahnya.

---

Rapat selesai.

Semua rekan kerja bergantian mengucapkan selamat kepada Arga.

"Selamat, Gar."

"Keren!"

"Promosi, nih."

Arga membalas satu per satu dengan senyum.

Namun matanya terus mencari Nadira.

Perempuan itu sudah tidak ada di ruang rapat.

---

Nadira berdiri sendirian di rooftop kantor.

Angin pagi menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Ia mencoba tersenyum.

*"Ini kabar baik."*

*"Aku harus ikut senang."*

Namun mengapa...

Dadanya justru terasa sesak?

"Dir."

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

"Kamu kabur."

ucap Arga pelan.

Nadira tersenyum tipis.

"Aku cuma butuh udara."

Arga berdiri di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya memandangi langit Jakarta.

"Aku baru mau cerita."

kata Arga.

"Tapi suratnya keburu diumumkan."

Nadira mengangguk pelan.

"Selamat."

Arga menoleh.

"Itu aja?"

"Masa aku harus marah?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku kira..."

Arga menghela napas.

"...kamu bakal ngomel."

Nadira tertawa pelan.

"Kamu dipromosikan."

"Itu impianmu."

"Aku nggak punya hak buat marah."

Arga tidak menjawab.

Justru itulah yang membuatnya semakin berat.

---

"Dir."

"Hm?"

"Kalau aku berangkat..."

"...apa kamu bakal nunggu?"

Pertanyaan itu membuat Nadira memejamkan mata.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian ia menoleh.

"Kamu ingat nggak..."

"Ayah bilang apa?"

Arga mengangguk.

"Enam bulan."

"Ya."

Nadira tersenyum tipis.

"Lucu ya."

"Syarat dari Ayah..."

"...ternyata sama dengan masa tugasmu."

Arga ikut tersenyum hambar.

"Iya."

"Seolah-olah Tuhan sengaja menguji kita."

---

Nadira menarik napas panjang.

"Gar."

"Iya?"

"Aku nggak tahu enam bulan itu akan terasa cepat atau lama."

"Tapi..."

Ia menatap mata Arga.

"...aku nggak mau kita menganggap ini sebagai perpisahan."

"Lalu?"

"Anggap saja..."

"...ini kesempatan."

"Kesempatan buat kita sama-sama membuktikan."

Arga memandang Nadira cukup lama.

Lalu perlahan tersenyum.

"Kamu tahu?"

"Apa?"

"Kalimatmu barusan..."

"...berhasil bikin aku lebih tenang."

---

Sore harinya, sebelum pulang, Pak Dimas memanggil Arga ke ruangannya.

"Masuk."

"Permisi, Pak."

Pak Dimas menyerahkan sebuah map lain.

"Ini berkas penugasanmu."

Arga menerimanya.

"Terima kasih."

"Tapi ada satu hal lagi."

"Apa, Pak?"

Pak Dimas tersenyum tipis.

"Manajemen meminta kamu memilih satu orang dari tim Jakarta untuk membantu proyek di Surabaya selama enam bulan."

Arga mengernyit.

"Satu orang?"

"Iya."

"Boleh siapa saja?"

"Asal punya kompetensi."

Arga menatap daftar nama di dalam map.

Di sana ada banyak nama.

Namun matanya berhenti pada satu nama.

**Nadira Prameswari.**

Di saat yang sama, di ruang kerja, Nadira menerima email dari HR.

Ia membukanya tanpa curiga.

Namun beberapa detik kemudian...

Wajahnya berubah pucat.

Di layar tertulis:

> **"Selamat. Anda termasuk dalam daftar kandidat yang dipertimbangkan untuk penugasan sementara ke Kantor Cabang Surabaya."**

Nadira membelalak.

"Jangan-jangan..."

Kalimatnya terhenti.

Jika ia benar-benar terpilih...

Maka enam bulan itu tidak akan memisahkan mereka.

Justru...

Akan membuat mereka menghabiskan setiap hari bersama.

**Bersambung ke Episode 31...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!