NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gilaaaa

Merasa tidak ada lagi perlawanan dari bawah kungkungannya, Alden perlahan menyadari bahwa Aleta benar-benar telah kehabisan tenaga. Tubuh gadis itu terkulai pasrah di atas kasur, lemas tanpa daya dengan napas yang putus-putus. Namun, bukannya menyudahi tindakan egoisnya, dominasi yang membakar kepala Alden justru menuntut lebih.

Alden perlahan melepaskan pautan bibir mereka. Ia membiarkan Aleta meraup udara dengan rakus, sementara ia sendiri mulai beralih menurunkan kecupannya. Wajah Alden turun menyusuri rahang Aleta yang tegas, lalu berhenti tepat di ceruk leher gadis itu yang putih dan halus.

Bau harum tubuh Aleta yang bercampur dengan keringat dingin membuat Alden semakin kehilangan kendali. Tanpa memedulikan air mata Aleta yang masih mengalir deras membasahi bantal, Alden mulai menghisap dan menggigit kecil kulit sensitif di ceruk leher Aleta.

"Ah.. Kak... jangan..." rintih Aleta dengan suara yang sangat serak, nyaris menyerupai bisikan. Tangan mungilnya mencoba mendorong kepala Alden, namun tenaganya sudah benar-benar habis.

Alden menghiraukan rintihan lemah itu. Ia terus mendominasi, memberikan beberapa isapan kuat yang meninggalkan noda kemerahan—tanda kepemilikan yang egois—di sana. Kulit leher Aleta yang sensitif kini bernoda merah keunguan akibat ulah Alden yang menjadikannya tempat pelampiasan atas seluruh rasa frustrasinya terhadap dunia luar.

Aleta hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa perih di lehernya tidak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya. Pikirannya mendadak kosong, dan bayangan wajah ibunya kembali berkelebat, membuat air matanya mengalir semakin deras di tengah siksaan emosional yang sedang ia hadapi.

🌍🌍🌍

Alden sudah benar-benar melintasi batas kewarasannya. Rasa frustrasi, amarah, dan ego yang terluka bersatu, mengubahnya menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh oleh rasa iba. Tangisan Aleta yang pecah, rintihan lirih yang memohon ampun, sama sekali tidak menembus dinding egonya yang tebal.

Jika di mata Aleta semua laki-laki itu sama, jika di mata gadis ini dia hanyalah seorang bajingan, maka Alden akan menunjukkan seberapa brengsek dirinya yang sebenarnya.

Alden menarik wajahnya dari ceruk leher Aleta yang kini bernoda kemerahan, lalu menatap lurus ke sepasang mata gadis itu yang basah dan menyiratkan keputusasaan mendalam. Tanpa memberikan waktu bagi Aleta untuk sekadar bernapas lega, Alden kembali merangsek turun.

Ia mengunci kembali bibir mungil Aleta, meraupnya dengan sangat rakus dan kasar di sana.

Ciuman kali ini terasa jauh lebih menuntut dan dominan dari sebelumnya. Alden menghisap dan menekan bibir Aleta tanpa memedulikan rasa perih yang mungkin dirasakan gadis itu. Kedua tangan Alden kembali mengunci pergelangan tangan Aleta di atas kasur, menahannya dengan kuat agar tidak ada lagi celah untuk bergerak. Di bawah kungkungan tubuh kekar Alden yang terasa begitu berat, Aleta benar-benar kehilangan dunianya, tenggelam dalam tangis yang tertahan di sela-sela pautan paksa yang egois itu.

Pertahanan fisik dan mental Aleta akhirnya mencapai titik nadir. Rasa takut yang mencekam, syok yang luar biasa, serta pasokan oksigen yang terus-menerus dirampas membuat tubuh mungilnya tidak mampu lagi menahan beban tersebut.

Perlahan-lahan, kesadaran Aleta menipis.

Suara tangisannya yang semula terdengar pilu kini menguap, menyisakan keheningan yang kelam. Isakan yang keluar dari tenggorokannya pun terhenti. Pandangan matanya yang semula buram oleh air mata kini perlahan-lahan meredup, berganti menjadi kegelapan yang pekat.

Tubuhnya benar-benar lemah, terkulai pasrah seutuhnya di atas kasur tanpa ada satu pun saraf yang bergerak untuk melawan lagi. Remasan lemah tangan Aleta pada kemeja Alden terlepas begitu saja, jatuh terkulai di sisi tubuhnya.

Aleta kehilangan kesadarannya sepenuhnya, pingsan di bawah kungkungan egois Alden yang telah merenggut seluruh sisa dayanya.

🌍🌍🌍

Dalam kegelapan emosi yang telah menutup seluruh nuraninya, Alden merasakan perubahan pada tubuh di bawahnya. Detak jantung Aleta yang semula berpacu panik kini melemah, dan tubuh mungil itu benar-benar mendingin, pasrah tanpa rona kehidupan. Namun, hilangnya kesadaran Aleta justru tidak membuat Alden menghentikan aksi gilanya.

Alden benar-benar telah buta. Alih-alih berhenti atau panik karena gadis itu pingsan, ia justru semakin menjadi-jadi. Ketiadaan perlawanan dari Aleta justru membuatnya merasa memiliki kendali penuh atas korbannya.

Ia semakin menikmati bibir manis Aleta yang kini terasa dingin dan tak berdaya. Tanpa memedulikan fakta bahwa Aleta sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, Alden terus menghisap bibir mungil itu dengan rakus, menginvasi rongga mulut gadis yang pingsan itu dengan gerakan menuntut yang teramat egois.

Keheningan kamar mewah itu hanya diisi oleh suara napas Alden yang memburu berat, kontras dengan tubuh Aleta yang terbujur kaku di bawah kungkungannya, sepenuhnya kehilangan daya di tangan cowok yang telah berubah menjadi monster nyata dalam hidupnya.

🌍🌍🌍

Setelah merasa puas melampiaskan seluruh amarah, frustrasi, dan keegoisannya, Alden baru melepaskan bibirnya dari bibir Aleta.

Suara napas Alden yang memburu berat perlahan-lahan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di dalam kamar yang mendadak terasa begitu sunyi dan dingin. Ia menegakkan tubuhnya, bertumpu pada kedua tangannya di sisi kepala Aleta, lalu menatap ke bawah.

Di bawah kungkungannya, Aleta terbujur kaku. Wajah gadis itu tampak sangat pucat, dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya dan jejak kemerahan yang kontras di sekitar bibir serta lehernya. Tidak ada pergerakan, tidak ada rintihan, dan tidak ada lagi tatapan ketakutan yang tadi memicu emosinya. Aleta benar-benar tidak sadarkan diri.

Keheningan yang mencekam itu perlahan-lahan mulai mengikis kabut amarah yang sejak tadi menguasai kepala Alden. Tatapannya yang semula tajam dan penuh tuntutan lambat laun berubah kosong saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada gadis polos yang tidak tahu apa-apa ini.

Kesadaran akan tindakan kasarnya mulai merayap naik, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara mereka.

Rasa panik yang teramat sangat langsung merayap naik, menggantikan amarahnya.

Alden buru-buru bangkit dari posisi menindih Aleta. Dengan gerakan tergesa-gesa dan tangan yang mulai gemetar, ia menyusupkan lengannya ke bawah leher dan punggung Aleta, lalu menarik tubuh mungil itu ke atas pangkuannya.

"Aleta... Aleta, bangun," panggil Alden, suaranya yang tadi terdengar berat dan mengancam kini berubah menjadi serak dan penuh kepanikan.

Ia menepuk-nepuk pipi Aleta dengan pelan, berusaha mendapatkan respons. Namun, kepala Aleta hanya terkulai lemah di bahunya, benar-benar kehilangan kesadaran. Kulit gadis itu terasa dingin di bawah sentuhan tangannya yang gemetar.

"Aleta, jangan bercanda. Bangun!" Alden semakin panik. Ia menempelkan telinganya ke dada Aleta, memastikan detak jantung gadis itu masih ada, lalu memeriksa urat nadi di pergelangan tangannya. Napas Aleta terasa sangat tipis dan lemah.

Rasa bersalah yang teramat besar mulai mencengkeram dada Alden saat melihat jejak air mata, bibir yang bengkak, serta noda kemerahan di leher Aleta akibat ulahnya sendiri. Cowok yang tadinya merasa paling berkuasa itu kini tampak begitu rapuh dan ketakutan, terus berusaha menyadarkan Aleta di pangkuannya dengan rasa cemas yang mendalam.

🌍🌍🌍

1
Swan Tiger
Alden😍
Nalara amora: ntar ada ka di depan 😭😭🤭
total 5 replies
Arni Arlinawati pratiwi
Alden sini lu gua jadi in lu musuh gua juga.. jadiin ulekan lu mau!
Nalara amora: kaaaa😭😭🤭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
wah menta di karungan si alden.. gob***!!! /Drowsy/
Nalara amora: ga bakal cukup ka kalau pake karung 🙏🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kadieukeun aleta.. uwang di piceun,! /Skull/
Nalara amora: kaa aku ketawaaa😭😭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
karak poe ka hiji.. ari silaing!!! kumaha mun manggih poe isuk isuk na deui, ku maneh ek di bawa ka imah alden.. urus tunyung silaing!!! /Skull/
Arni Arlinawati pratiwi
macem macem lu alden gua goreng, jiwa psicopat aing bangkit aya nu leuwih gelo mah!
Nalara amora: tenang kaaa😭😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
asdfghjkl Alden... 😭😭
Nalara amora: kaaaa😭🙏
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
yah lanjut.. ku pikir sudah capek loh den
Putri Ayu/PqxxyZ
ku pikir masih lanjut yang kemarin.. sudah capek ya Alden
author_rabbit18✍︎
ayo cepat pergi ke UKS
Nalara amora: ga keburu itu kaa😭
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
yah ia lah, kan kau pakai jaket ketua OSIS, jadi mereka iriiiiii
Nalara amora: iri banget pasti 🤭
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
jaket buat aku mana, Alden?
Nalara amora: kaaaa😭🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
nyaan si* Alden di kad*k siah maneh!!! ek nu mana? di tenggelamkan? ek di teureuy?
Arni Arlinawati pratiwi
wah hayangeun di jieun dodol nya maneh alden.. anak saha atuh maneh teh, musingkeun babatok!!! /Cleaver/
Arni Arlinawati pratiwi
ceuk urang mah banjurkeun we eusi gelasna kana babatok na sugan we mikir! 👍
Arni Arlinawati pratiwi
har ari silaing!!! ek teu pingsan kumaha lapangan sagede lapang nasional sepak bola di pake lumpat ku budak aww, mikir sateh!!! modar aing mah saputeran ge badag ku bujur.. pi omongeun wae kahim!!! /Bomb//Bomb//Bomb/
Arni Arlinawati pratiwi
eta si fu'ad kana pi omongeun we hirup na teh di atret gera biwir na..! /Skull/
Arni Arlinawati pratiwi
setajam silet meureun ka raheut getihan ceurik we.. 🤣🤣🤣
Arni Arlinawati pratiwi
yakin ieu mah nga osisan kelas hiji Sd nya, yakin da.. 😄
Arni Arlinawati pratiwi
kela berbahaya.. di eusian bom nya thor? 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!