"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Manis di Meja Makan
Matahari baru saja terbenam di ufuk barat Jakarta, menyisakan langit malam yang mulai dihiasi lampu-lampu kota. Di dalam unit apartemennya, Elena sedang menatap pantulan dirinya di cermin besar. Malam ini, dia mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat yang elegan dengan potongan minimalis namun mewah, dipadukan dengan kalung mutiara putih yang melingkar indah di leher jenjangnya. Aura seorang wanita kelas atas memancar kuat dari dirinya.
"Mama, apakah kita benar-benar harus pergi ke rumah singa itu?" tanya Leon yang sudah rapi mengenakan setelan tuksedo mini berwarna hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu yang membuatnya tampak seperti pangeran kecil yang angkuh.
Lia, yang mengenakan gaun pesta merah muda senada, ikut mendekat dan menggandeng tangan Elena. "Iya, Mama. Aku tidak suka Nenek Rosa. Dia selalu menatapku seolah aku ini anak nakal kalau Papa sedang tidak ada di rumah."
Elena berlutut di hadapan kedua anak kembarnya, mengusap pipi mereka bergantian dengan tatapan penuh kelembutan namun terselip kilatan tekad yang tajam. "Kalian tidak perlu takut. Mama ada di sana, dan Papa kalian juga tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian. Malam ini, kita pergi untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita."
"Tenang saja, Mama. Aku sudah menyiapkan 'kejutan kecil' di dalam tabletku untuk nenek sihir itu," bisik Leon dengan senyuman miring yang sangat mirip dengan Arthur saat merencanakan akuisisi bisnis raksasa.
Kediaman utama keluarga Arkananta berdiri dengan megah di kawasan elit Menteng. Rumah bergaya kolonial mewah itu tampak benderang oleh cahaya lampu kristal. Namun bagi Elena, setiap sudut rumah ini hanya mengingatkannya pada rasa sakit, air mata, dan pengusiran kejam lima tahun lalu.
Ketika mobil sedan mewah Arthur berhenti di depan lobi utama, Arthur sendiri yang membukakan pintu untuk Elena. Pria itu terpaku sesaat melihat kecantikan Elena yang begitu berkelas malam ini. Dia mengulurkan tangannya, dan setelah ragu sejenak, Elena menyambutnya secara formal. Mereka melangkah masuk bergandengan tangan, diikuti oleh Leon dan Lia yang berjalan beriringan di belakang mereka.
Di dalam ruang makan yang luas, sebuah meja panjang dari kayu jati telah dipenuhi oleh berbagai hidangan mewah kelas dunia. Di ujung meja, duduklah Rosa Arkananta, ibu tiri Arthur. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun sutra mahal dengan perhiasan berlian yang berlebihan, mencoba mempertahankan keangkuhannya meskipun wajahnya tampak menegang saat melihat sosok Elena melangkah masuk.
"Rupanya tamu agung kita sudah datang," ucap Rosa dengan nada suara yang dibuat-manis namun sarat akan racun sindiran. Tatapannya beralih menatap Leon yang berjalan di samping Lia, dan matanya seketika membelalak panik. "Arthur... siapa anak laki-laki itu? Kenapa wajahnya..."
"Dia Leon, putra kandungku. Saudara kembar Lia," potong Arthur dengan suara baritonnya yang dingin dan tegas, langsung menduduki kursi utama di meja makan. Dia memberi kode agar Elena duduk di sisi kanannya, sementara Leon dan Lia duduk bersebelahan.
Rosa mengepalkan tangannya di bawah meja, wajahnya memucat. Kehadiran Leon adalah ancaman terbesar bagi posisinya di keluarga ini. Selama lima tahun dia meyakinkan Arthur bahwa Elena telah berselingkuh dan mandul, namun melihat Leon yang merupakan cetakan sempurna Arthur, semua kebohongannya terancam runtuh.
"Oh... jadi dia anak yang kamu sembunyikan, Elena?" Rosa tersenyum sinis, mencoba menyerang balik. "Memilih kembali ke sini setelah lima tahun... apakah uang dari Milan tidak cukup untuk menghidupimu, hingga kamu harus menggunakan anak ini untuk mengemis harta keluarga Arkananta lagi?"
Brak!
Arthur menghempaskan garpu emasnya ke atas piring porselen dengan keras, menimbulkan bunyi dentingan nyaring yang membuat seluruh pelayan di ruangan itu menahan napas ketakutan. Tatapan mata elang Arthur berkilat penuh ancaman berdarah dingin ke arah ibu tirinya. "Jaga bicaramu, Ibu. Elena kembali sebagai mitra bisnis utamaku dengan nilai proyek ratusan miliar. Dia tidak perlu mengemis sepeser pun dariku."
Elena sendiri tetap tenang. Dia menyesap air putihnya dengan anggun, lalu menatap Rosa dengan pandangan meremehkan. "Tuan putri tidak perlu repot-senang memikirkan keuangan saya, Nyonya Rosa. Lebih baik Anda memikirkan bagaimana cara menjelaskan laporan audit keuangan yayasan milik Anda yang mendadak minus puluhan miliar bulan ini."
Rosa tersentak, "Apa maksudmu?!"
Di bawah meja, Leon tersenyum puas. Jemari mungilnya dengan lincah bergerak di atas layar tablet pintar yang sengaja dia sembunyikan di atas pangkuannya. Leon telah berhasil meretas sistem audio dan proyektor pintar yang terpasang di ruang makan mewah tersebut.
"Lia, sekarang," bisik Leon dengan suara yang teramat lirih melalui alat komunikasi mikro di telinga adiknya.
Lia yang sudah dilatih oleh Leon langsung memasang wajah polos, lalu menumpahkan segelas jus jeruk ke arah gaun mahal Rosa dengan sengaja. "Ah! Maaf, Nenek! Lia tidak sengaja!"
"Heii!! Dasar anak sialan! Apa yang kamu lakukan pada gaun mahalku?!" bentak Rosa spontan dengan wajah yang berubah menjadi sangat mengerikan, topeng keibuannya lepas seketika akibat amarah yang meledak. Dia berdiri menjauh, mencoba membersihkan gaunnya dengan panik.
"Ibu! Jangan membentak putriku!" seru Arthur dengan nada yang mulai meninggi.
Di tengah kekacauan itu, Rosa yang emosinya sudah terpancing berbalik menatap Elena dengan penuh kebencian yang murni. "Ini semua pasti ajaran wanitmu yang tidak tahu diri ini, kan?! Sama seperti lima tahun lalu saat dia menjebakku! Seharusnya malam itu aku memastikan dia mati kelaparan di jalanan bersama anak-anak haramnya ini, agar dia tidak kembali dan mengacaukan hidupku!"
Suasana ruang makan mendadak hening seketika. Kata-kata Rosa bergaung dengan sangat jelas di setiap sudut ruangan.
Arthur membelalakkan matanya, napasnya tertahan. "Apa... apa yang kamu katakan, Ibu? Malam itu... kamu tahu di mana Elena berada?"
Rosa yang baru menyadari kalau dirinya keceplosan langsung menutup mulutnya dengan wajah pucat pasi. "B-bukan begitu, Arthur... Ibu maksudnya..."
Bzzz... Bzzz...
Tiba-tiba, layar proyektor besar yang terpasang di dinding ruang makan menyala dengan sendirinya. Sebuah rekaman suara dengan kualitas audio yang sangat jernih mulai berputar, memenuhi ruangan dengan suara yang sangat familier. Itu adalah suara Rosa dari lima tahun lalu, sedang berbicara dengan seorang dokter kandungan.
“Dokter, ini uang lima miliar rupiah. Buat dokumen palsu yang menyatakan bahwa Arthur Arkananta mandul, dan buat dokumen yang menyatakan Elena berselingkuh. Aku harus menyingkirkan wanita yatim piatu itu dari rumah ini sebelum dia melahirkan ahli waris utama!”
Suara rekaman itu berputar berulang kali bagai melodi kematian bagi Rosa.
Arthur bangkit dari kursinya dengan sentakan yang sangat kasar hingga kursi jati itu terguling ke belakang. Wajahnya yang rupawan kini mengeras, memerah padam oleh kemarahan yang luar biasa hebat. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, dan sepasang mata elangnya menatap Rosa seolah-olah ingin mencabik-cabik wanita paruh baya itu hidup-hidup.
"Jadi... selama ini semua itu benar-benar perbuatanmu, Ibu?!" suara Arthur bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena menahan badai murka yang siap menghancurkan apa saja. "Kamu memalsukan dokumen mandulku? Kamu memfitnah istriku?! Kamu yang membuatku membuang wanita yang paling aku cintai ke jalanan?!"
Rosa gemetar hebat, kakinya lemas hingga dia terduduk kembali di kursinya dengan wajah yang tidak lagi memiliki warna. "Arthur... dengarkan penjelasan Ibu... itu... itu semua demi masa depan perusahaan..."
"Cukup!!" bentak Arthur dengan suara menggelegar yang membuat seluruh isi rumah bergetar. Pria itu mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Dia berbalik menatap asistennya yang berjaga di pintu. "Evan! Panggil pihak kepolisian sekarang juga! Bawa seluruh dokumen korupsi yayasan dan bukti rekaman ini ke kejaksaan! Aku tidak ingin melihat wanita ini berada di dalam rumahku lagi dalam waktu sepuluh menit!"
"Baik, Tuan Besar!" jawab Evan dengan sigap, langsung menghubungi tim hukum dan kepolisian.
Elena yang melihat pemandangan itu perlahan bangkit berdiri. Dia berjalan mendekati Rosa yang sedang menangis histeris memohon ampunan pada Arthur. Elena menunduk, menatap wanita yang dulu telah menghancurkan hidupnya itu dengan senyuman kemenangan yang teramat dingin.
"Roda kehidupan itu berputar, Nyonya Rosa. Lima tahun lalu Anda membuang saya seperti sampah, dan malam ini... Anda sendiri yang akan merangkak masuk ke dalam sel tahanan," bisik Elena dengan nada yang teramat tenang namun mematikan.
Elena kemudian berbalik, menggandeng tangan Leon dan Lia dengan erat. Dia menatap Arthur yang berdiri dengan tubuh yang masih bergetar menahan penyesalan dan kemarahan. "Urusan kita di sini sudah selesai, Arthur. Terima kasih atas makan malamnya yang sangat... menghibur."
Elena melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang hancur berantakan itu bersama kedua anak kembarnya. Arthur hanya bisa menatap punggung Elena yang menjauh dengan tatapan yang penuh dengan kehancuran emosional. Dia telah berhasil menghancurkan musuh masa lalu mereka, namun dia tahu, jalan untuk mendapatkan kembali maaf dan cinta sejati dari Elena kini barulah benar-benar dimulai.