Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Dihujat
Pak Hasan masih terlihat emosi, tapi kini dia sudah duduk disamping Bu Aida. Kamil juga masih terlihat bingung, dia merasa serba salah, meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang marah, atau tetap berdiri di sana. Saat dirinya mau memutuskan meninggalkan kedua orang tuanya, Hakim kakak tertua dan istrinya_Sarah datang dengan wajah pias.
"Gawat Pa, kejadian tadi di pernikahan Kamil dan Raya viral. Keluarga kita dihujat." Hakim memperlihatkan media sosialnya.
Pak Hasan yang tadinya masih membara kini perlahan duduk di samping Bu Aida. Nafasnya masih berat, dadanya naik turun menahan emosi yang belum sepenuhnya reda. Sementara itu Kamil berdiri beberapa langkah dari mereka, wajahnya diliputi kebingungan. Kakinya seperti terpaku di lantai—ingin pergi, tapi juga tak punya keberanian meninggalkan kedua orang tuanya dalam keadaan seperti itu.
Baru saja ia hendak melangkah mundur, suara langkah tergesa terdengar dari arah pintu.
Hakim, kakak tertuanya, datang bersama sang istri, Sarah. Wajah keduanya pucat, napas mereka sedikit terengah, seolah habis berlari.
"Gawat, Pa…” suara Hakim terdengar tegang. "Kejadian tadi di pernikahan Kamil dan Raya… viral. Keluarga kita dihujat habis-habisan.”
Semua langsung menoleh.
"Viral?” ulang Bu Aida lirih, tangannya mulai gemetar.
Hakim tanpa banyak kata langsung menyodorkan ponselnya. Layar itu menampilkan video—detik-detik Kamil mengucapkan talak tepat setelah akad. Suara-suara tamu yang panik, Raya yang terdiam syok, hingga Pak Santoso yang rubuh… semuanya terekam jelas.
Bu Aida menatap layar itu dengan mata membesar. Jari-jarinya bergetar saat mulai menggulir kolom komentar.
Satu per satu kata-kata itu seolah menampar hatinya.
[Gak punya hati banget itu laki.]
[Baru akad langsung talak? Ini bukan manusia.]
[Kasihan banget si cewek… dihancurin di depan umum.]
[Keluarga cowoknya pasti sama aja. Gak punya adab.]
[Semoga dibalas setimpal!]
Nafas Bu Aida tercekat.
Komentar demi komentar semakin kejam.
[Ini penghinaan, bukan pernikahan.]
[Laki-laki kayak gini jangan dikasih kesempatan hidup enak!]
[Kasihan orang tua si perempuan… pasti hancur.]
[Jadi istri, jadi janda, langsung jadi yatim.]
[Ya Allah kasian banget. Moga keluarga laki-laki diadzab oleh Allah.]
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangannya tak lagi kuat memegang ponsel itu hingga sedikit gemetar.
"Ya Allah…” suaranya pecah. “Kenapa jadi seperti ini?”
Pak Hasan yang tadi diam, kini rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam ke arah Kamil—lebih dingin dari sebelumnya.
"Lihat…” ucapnya pelan tapi penuh tekanan. "Ini akibat dari perbuatan kamu.”
Kamil menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia melangkah mundur satu langkah, merasa seisi ruangan kini menekannya.
Hakim menghela napas panjang, wajahnya masih tegang.
"Bukan cuma itu, Pa…” lanjutnya. "Nama keluarga kita ikut terseret. Banyak yang mulai cari tahu siapa kita. Ini bisa berdampak ke bisnis, ke semuanya.”
Sarah yang sejak tadi diam, menatap Kamil dengan kecewa.
"Kamu gak cuma menghancurkan hidup Raya…” ucapnya lirih tapi menusuk. "Kamu juga menghancurkan nama baik keluarga ini.”
Sunyi.
"Makanya punya otak dipakai dikit Mil!" Hakim terlihat emosi.
Tak ada yang berani bicara lagi.
Tiba-tiba ponsel di tangan Bu Aida bergetar. Nama salah satu sahabatnya muncul di layar. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengangkat telepon itu.
"Ha… halo…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Belum sempat ia berkata banyak, suara di seberang langsung menyeruak, terdengar jelas penuh emosi.
"Jeng… saya gak nyangka keluarga kalian sesadis itu. Kalau memang dari awal gak niat menikahkan putranya, harusnya jangan disetujui. Jangan mempermalukan anak orang seperti itu!”
Bu Aida terdiam. Bibirnya bergetar.
"Padahal selama ini aku salut sama keluarga Jeng Aida… kalian itu dikenal baik, gak memandang harta, mau bermenantukan orang biasa. Tapi ini... ini keterlaluan, Jeng. Kasihan sekali itu anak perempuan, jadi istri langsung jadi janda. Kehilangan ayahnya pula.”
Setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris pelan.
Air mata Bu Aida jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
"I… iya… saya…” suaranya patah, tak sanggup melanjutkan.
Namun suara di seberang tak berhenti.
"Ini bukan cuma soal kalian lagi, Jeng. Ini sudah jadi pembicaraan semua orang. Nama keluarga kalian sekarang… benar-benar hancur.”
Deg.
Kalimat itu seperti menghantam tepat di dadanya.
Bu Aida terisak keras. Tangannya refleks memegang dada, seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat di sana.
"Sa… sakit…” lirihnya pelan.
Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. Nafasnya mulai tak beraturan, wajahnya memucat.
"Maaaa..” Hakim langsung bergerak cepat, menangkap tubuh ibunya yang mulai limbung.
Pak Hasan yang tadi masih diliputi amarah, kini langsung panik. “Aida!”
Sarah ikut mendekat, membantu menopang tubuh Bu Aida yang semakin lemah.
"Ma, tarik napas… pelan-pelan, Ma…” ucap Sarah panik.
Namun Bu Aida terus terisak, tangannya masih mencengkeram dada.
"Kenapa jadi seperti ini… Ya Allah… keluarga kita…” ucapnya terbata-bata di sela tangis.
Suasana di ruang tamu itu berubah mencekam dalam hitungan detik. Tangis tertahan, napas yang memburu, dan rasa bersalah yang menggantung di udara seolah menyesakkan dada siapa pun yang berada di sana.
Bu Aida tampak semakin lemah. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi, sementara air matanya terus mengalir tanpa bisa ia bendung. Tangannya mencengkeram dada, seakan ada beban berat yang menekan hatinya.
Pak Hasan yang melihat kondisi istrinya langsung panik. Tanpa pikir panjang, ia berseru tegas, suaranya bergetar namun penuh keputusan.
"Kita bawa mama ke rumah sakit! Hakim, siapkan mobil!"
"Baik, Pa!" Hakim menjawab sigap. Ia langsung berbalik, langkahnya cepat menuju meja tempat kunci mobil biasa diletakkan.
Namun belum sempat ia menjauh, suara lirih Bu Aida menghentikannya.
"Gak usah..." ucapnya terbata, napasnya tersengal. "Mama gak kuat... kalau harus dihujat netizen..."
Semua terdiam.
Kalimat itu jatuh seperti pisau, menorehkan luka yang lebih dalam dari sekadar sakit fisik. Bukan hanya tubuhnya yang lemah, tapi juga hatinya yang hancur karena malu dan tekanan.
Hakim menghentikan langkahnya. Ia menoleh ragu ke arah ayahnya.
Pak Hasan menghela napas panjang, rahangnya mengeras. Ia menatap istrinya dengan penuh rasa iba, lalu perlahan menggenggam tangan Bu Aida.
"Jangan khawatir," ucapnya pelan namun tegas, mencoba menenangkan. "Kita gak akan dihujat..."
Ia berhenti sejenak. Tatapannya perlahan bergeser, tajam menusuk ke arah Kamil yang berdiri membatu di sudut ruangan.
"...kita kan bukan bagian dari orang yang gak punya perikemanusiaan."
Kalimat itu terdengar dingin, penuh makna. Tidak perlu teriakan, tidak perlu amarah meledak—tatapan dan nada suaranya sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti.
Kamil menunduk. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, ia tidak mampu membalas satu kata pun.
Sementara itu, tangis Bu Aida pecah semakin keras. Bukan hanya karena sakit yang ia rasakan, tapi karena kenyataan pahit yang harus ia terima—bahwa luka terbesar dalam hidupnya justru datang dari anak yang ia lahirkan sendiri.
mantappp