Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Malam Tiba Dan Pikiran Muncul
Malam semakin larut, merayap dalam keheningan yang menyesakkan di dalam kamar tidur utama kediaman Oliver Jones. Udara malam terasa dingin, menyusup melalui celah-celah kaca jendela yang retak akibat ledakan hebat beberapa jam lalu. Di luar, garis-garis garis polisi dan sisa abu kebakaran masih meninggalkan jejak kehancuran yang nyata. Namun, kekacauan di luar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai yang berkecamuk di dalam batin Anjani Direja.
Anjani berbaring di atas tempat tidur king-size, matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Bayangan mobil yang meledak, tamparan sadis dari Adele, serta kemarahan luar biasa yang ditunjukkan oleh Tuan Jones dan Vivian terus berputar-putar di kepalanya seperti film horor yang tak ada ujungnya.
Ia memiringkan tubuhnya, lalu kembali berbalik. Desahan napasnya yang berat memecah kesunyian kamar. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Oliver yang memutus hubungan dengan keluarganya sendiri demi membelanya. Rasa bersalah yang teramat besar menghujam ulu hatinya, menggerogoti ketenangan yang selama ini setengah mati ia bangun.
"Aku yang menjadi sumber kehancuran ini..." gumam Anjani lirih pada dirinya sendiri. Air mata hangat kembali menetes, membasahi bantal yang ia tiduri.
Di mata Anjani, Oliver adalah penyelamat, pria terhormat yang memiliki segalanya—kekayaan, status sosial di tingkat global, dan masa depan yang cerah di London. Namun, sejak pria itu memilih untuk menikahinya, Oliver kehilangan segalanya dalam waktu singkat: orang tuanya berbalik menjadi musuh, garis keturunan keluarganya terputus secara sepihak, dan nyawa mereka berdua kini berada di ujung tanduk akibat teror membabi buta dari seorang wanita gila bernama Dara Mitha Dahayu.
****
"Seandainya aku tidak pernah menerima lamarannya... seandainya aku memilih pergi jauh sejak awal, semua ini tidak akan pernah terjadi,” batin Anjani meratapi nasib. Ia merasa dirinya seperti kutukan yang membawa malapetaka bagi siapa pun yang berani mendekatinya.
Gerakan gelisah Anjani yang terus-menerus berguling ke kanan dan ke kiri akhirnya membangunkan pria di sampingnya. Oliver Jones membuka matanya. Ia tidak merasa terganggu; sebaliknya, hatinya langsung bergeming begitu menyadari bahwa wanita yang sangat dicintainya itu sedang menangis dalam diam.
Tanpa bersuara, Oliver mengulurkan tangan kekarnya, melingkarkan lengan hangatnya di pinggang Anjani, lalu menarik tubuh wanita itu untuk mendekat ke dalam pelukannya. Aroma khas tubuh Oliver yang menenangkan langsung menyelimuti indra penciuman Anjani, namun pelukan itu justru membuat bendungan air mata Anjani semakin jebol.
"Hei..." suara serak khas bangun tidur terdengar sangat lembut di telinga Anjani. Oliver mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. "Kau belum tidur, Jani? Sudah jam berapa ini?"
Anjani tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Isakannya pecah, berubah menjadi tangisan pilu yang selama ini ia tahan di balik ketegarannya di depan orang banyak. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Oliver, mencengkeram erat kemeja tidur pria itu seolah-olah itu adalah satu-satunya pegangan di dunia yang mau runtuh ini.
"Oliver... maafkan aku..." ucap Anjani terbata-bata di sela tangisannya. Tubuhnya bergetar hebat. "Maafkan aku..."
Oliver mengerutkan keningnya. Ia menegakkan sedikit tubuhnya, menyalakan lampu tidur kecil di sisi ranjang, lalu menangkup wajah Anjani dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya dengan lembut menghapus jejak air mata yang membanjiri pipi wanita itu.
"Untuk apa kau meminta maaf, Anjani? Katakan padaku, apa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Oliver, tatapan mata birunya memancarkan ketulusan yang begitu dalam, tanpa ada secercah pun rasa menyesal atau kesal.
Anjani mendongak, menatap mata suaminya dengan pandangan yang menyiratkan kepedihan yang luar biasa. Sudut bibirnya yang masih sedikit membiru akibat tamparan Adele menjadi saksi bisu dari penderitaan yang ia terima karena berada di sisi pria ini.
"Aku melihat keluargamu hancur malam ini, Oliver..." suara Anjani parau, nyaris tak terdengar. "Ayah dan ibumu membenciku. Mereka menganggapku sebagai wanita sial, pembawa malapetaka yang merusak hidupmu. Dan benar kata Adele... karena aku, posisimu di keluarga Jones musnah. Karena aku, kau membuang masa depanmu di London. Aku merasa sangat bersalah... Aku merasa menjadi beban yang mengerikan untukmu."
****
Mendengar kata-kata itu, raut wajah Oliver berubah. Alisnya yang tegas sedikit mengendur, bukan karena marah kepada Anjani, melainkan karena rasa sakit yang ia rasakan saat tahu wanita yang dicintainya menanggung beban seberat itu sendirian di dalam kepalanya.
Oliver menggelengkan kepalanya pelan. Ia menatap Anjani lekat-lekat, lalu mencium kedua kelopak mata wanita itu yang basah oleh air mata.
"Dengarkan aku, Anjani. Lihat aku," ujar Oliver dengan suara yang sangat tegas namun penuh kelembutan. Ia memegang kedua bahu Anjani, memaksa wanita itu untuk fokus sepenuhnya kepadanya.
"Apa yang terjadi antara aku dan keluargaku bukan karena kau," lanjut Oliver dengan intonasi yang tidak bisa dibantah. "Itu adalah pilihanku. Sejak hari pertama aku memutuskan untuk meninggalkan London dan membangun hidup di negeri ini, aku sudah muak dengan aturan-aturan dingin mereka yang menilai segalanya berdasarkan tahta, uang, dan status sosial. Mereka tidak pernah mengerti apa itu cinta sejati, Jani. Mereka hanya mengerti tentang bisnis."
Oliver menarik napas dalam-dalam, menatap sudut bibir Anjani yang terluka dengan kilatan amarah yang kembali tersulut di matanya, sebelum kembali menatap manik mata sang istri.
"Dan tentang Adele... serta ucapan orang tuaku? Buang jauh-jauh pikiran bodoh itu dari kepalamu. Aku tidak peduli dengan perusahaan Jones Group. Aku tidak butuh kekayaan mereka jika harganya adalah harus hidup dengan wanita pilihan mereka yang sombong dan kejam. Kehilangan mereka bukanlah sebuah hukuman bagiku, Jani. Itu adalah kebebasan."
Anjani tertegun. Air matanya masih mengalir, namun ketegangan di dadanya sedikit demi sedikit mulai mencair mendengar kejujuran yang mutlak dari pria di hadapannya.
"Tapi... bagaimana dengan teror ini, Oliver?" bisik Anjani lemah. Suaranya bergetar saat bayangan Dara kembali melintas di benaknya. "Dara... wanita itu sudah gila. Dia meledakkan rumah ini, dia mengincar nyawa kita, dia tidak akan pernah berhenti sebelum salah satu dari kita mati. Aku takut... bukan untuk diriku sendiri, tapi aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu karenaku."
****
Mendengar nama Dara disebut, ekspresi Oliver berubah menjadi dingin dan penuh tekad. Ia tahu bahwa ancaman itu nyata. Pemboman pelataran rumah mereka malam tadi adalah bukti bahwa Dara tidak main-main dengan sumpahnya.
Oliver menarik Anjani kembali ke dalam dekapannya, memeluk tubuh wanita itu dengan erat, memberikan rasa aman yang selama ini dirampas oleh ketakutan.
"Aku tahu dia berbahaya, Jani. Aku tahu wanita itu sudah kehilangan akal sehatnya," kata Oliver sambil mengelus rambut panjang Anjani dengan penuh kasih. "Tapi biarkan aku yang menghadapi iblis itu. Kau tidak sendirian lagi. Ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, apalagi merenggut kebahagiaan yang sudah kita perjuangkan setengah mati untuk mendapatkannya."
Anjani memejamkan matanya, membiarkan kehangatan tubuh Oliver meresap ke dalam tulang-tulangnya. Untuk pertama kalinya setelah malam yang penuh teror itu, rasa sesak di dadanya mulai berkurang. Ia menyadari bahwa seburuk apa pun badai yang datang dari luar—baik itu dari keluarga Jones yang angkuh maupun dari dendam membara seorang Dara Mitha Dahayu—ia memiliki seorang pria yang rela membakar seluruh dunianya demi melindunginya.
"Janji padaku, Oliver... kita akan melewati semua ini bersama-sama," bisik Anjani lirih di dada suaminya.
"Aku berjanji, Jani," jawab Oliver mantap, mengecup kening istrinya untuk kesekian kalinya.
"Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Sampai akhir."
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....