Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Jangka Perunggu
Kabut ungu di langit Ouroboros-Prime berputar semakin cepat seiring dengan diangkatnya jangka perunggu raksasa oleh figur bertopeng Kala tersebut. Suara gemeretak dari menara-menara andesit di sekeliling mereka mendadak berubah ritme, beralih dari desing mekanis yang konstan menjadi dentuman berat yang seolah memukul genderang perang.
"Masuklah, para pencari jalan pulang," gema suara figur bertopeng batu itu, sebelum perlahan tubuhnya memudar, menyatu menjadi untaian asap belerang yang lenyap ditelan gerbang lengkung raksasa.
Arkananta menatap lorong labirin di depan mereka yang strukturnya terus bergeser. Setiap beberapa detik, blok batu andesit di dinding kiri akan bertukar tempat dengan blok di dinding kanan, menciptakan ilusi visual yang bisa membuat seorang akuntan publik sekalipun terkena vertigo instan.
"Pak Arkan, kelembapan udara di dimensi ini mendadak melonjak tajam," Kinanti bersuara, matanya menatap cemas ke arah indikator uap air imajiner yang ia rasakan di kulitnya. "Aroma melati busuk dari Kantil Sungsang milik Faksi Selo memang sudah hilang, tapi kabut ungu ini... dia membawa kelembapan murni dari sisa-sisa energi air bawah tanah gedung kita."
Arkan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu masuk labirin. Rahangnya mengetat. Di bawah pencahayaan langit ungu yang temaram, Kinanti bisa melihat sepasang mata hijau zamrud sang CEO mulai berkedip tidak stabil.
"Sial," umpat Arkan, suaranya mendadak naik satu oktav, kehilangan getaran baritonnya yang biasa mendominasi ruang rapat pleno. "Tegar sengaja memanipulasi arsitektur ruang ini agar membawa sifat fisik basemen B4 yang lembap. Sumpah kuno ini... mulai mengenali pemicunya."
"Pak? Pak Arkan? Jangan bilang kalau sekarang..." Kinanti panik. Ia buru-buru meraih pergelangan tangan Arkan untuk mengalirkan energi perak pelindungnya.
Namun, kali ini efek distorsi spasial dari Faksi Mangkubumi terlalu masif. Sifat fisik dimensi Ouroboros-Prime memaksa aturan magis kuno berjalan tanpa bisa diinterupsi oleh logika digital.
POP!
Sebuah letupan kecil terdengar, disertai kepulan asap tipis sewarna perak yang berbau seperti parfum mahal yang terbakar. Setelan kemeja hitam custom dan jas mewah puluhan juta rupiah milik Arkananta seketika mengempis, meluncur jatuh ke atas pasir merah karena kehilangan pengisinya.
Dari balik kerah kemeja yang kebesaran, muncul sebuah kepala bulat berbulu jingga cerah dengan telinga yang tegak berdiri. Arkananta Mahardika, sang CEO legendaris pemilik imperium bisnis multinasional, telah kembali bertransformasi menjadi seekor kucing oranye gembul.
"Meong..." (Artinya: "Sialan, ini benar-benar merendahkan harga diri korporat saya.")
Kinanti menghela napas panjang, merosot berlutut di atas pasir merah untuk memungut bosnya yang kini berwujud felid. "Waduh, Pak. Di Jakarta Bapak menakutkan dewan komisaris, di sini Bapak malah mirip bantal sofa berjalan."
Kucing oranye Arkan menatap Kinanti dengan pandangan mata hijau zamrud yang tajam—atau setidaknya, ia berusaha terlihat tajam. Masalahnya, wujud kucing oranye ini memiliki pipi yang terlalu tembam, membuat ekspresi marahnya justru terlihat seperti kucing yang sedang merajuk karena telat diberi makan siang.
"Meong! Meong-meong!" Arkan memprotes, kaki depannya yang pendek mencoba menunjuk ke arah kunci kuningan yang tergeletak di dalam saku jasnya yang mengosong.
"Iya, iya, saya tahu kita harus membawa kuncinya," ujar Kinanti santai. Ia meraih kunci kuningan berkepala badak tersebut, memasukkannya ke dalam ransel taktisnya, lalu menggendong kucing oranye Arkan ke dalam pelukannya.
Namun, di sinilah keanehan wujud kucing oranye Arkan mulai terjadi. Entah karena pengaruh energi Faksi Mangkubumi yang tidak stabil atau karena sifat alami ras kucing oranye yang terkenal memiliki kabel otak yang agak 'berbeda', jiwa CEO Arkan tampaknya mulai berbenturan dengan insting alami kucing lokal yang impulsif.
Saat Kinanti mulai melangkah memasuki lorong labirin batu, sebuah titik cahaya keperakan kecil—sisa dari energi manipulasi ruang Tegar—mendadak melintas dan memantul di dinding andesit di depan mereka.
Mata hijau Arkan seketika melebar sempurna. Pupil matanya membesar hingga menutupi seluruh warna hijaunya.
"Pak Arkan, fokus. Kita harus mencari jalan ke pusat menara—"
HAP!
Sebelum Kinanti menyelesaikan kalimatnya, kucing oranye Arkan mendadak melompat dari pelukan Kinanti dengan kekuatan penuh. Insting predator kucing oranyunya mengambil alih total kesadaran manusianya. Dengan kecepatan tinggi, kucing gembul itu berlari mengejar titik cahaya keperakan yang bergerak di dinding.
"Pak Arkan! Jangan dikejar! Itu cuma jebakan visual!" teriak Kinanti panik.
Arkan tidak peduli. Jiwa CEO-nya berteriak "Ini adalah anomali data yang harus dihancurkan!" sementara otak kucingnya berteriak "Tembak titiknya! Tangkap mainannya!".
Kucing jingga itu melompat tinggi, cakar-cakar kecilnya menempel pada dinding batu andesit yang licin. Ia berhasil menepuk titik cahaya tersebut, namun karena hukum fisika dimensi ini yang aneh, dinding tempat ia menempel mendadak berputar sembilan puluh derajat ke arah atas.
"Meong?!" Arkan tersentak saat tubuh gembulnya kini terbawa naik oleh blok batu yang bergerak vertikal, membuatnya bergelantungan dengan posisi terbalik seperti spiderman berbulu.
"Pak Arkan! Bertahan di sana!" Kinanti berlari mendekat.
Namun, sifat konyol ras kucing oranye tampaknya belum selesai merasuki sang CEO. Bukannya mencari pegangan yang aman, Arkan yang panik melihat ketinggian justru mulai melakukan gerakan memutar tubuh di udara, mencoba menangkap ekornya sendiri yang bergerak-gerak karena refleks keseimbangan. Akibatnya, cengkeraman cakarnya di batu lepas.
PLUK.
Tubuh gembul Arkan jatuh dengan sukses, mendarat tepat di dalam tas ransel taktis milik Kinanti yang untungnya dalam kondisi terbuka. Kepalanya menyembul keluar dari balik ritsleting, dengan selembar daun pakis hutan nempel di antara kedua telinganya, membuatnya terlihat seperti tentara gadungan yang sedang melakukan kamuflase yang sangat gagal.
"Meong..." (Artinya: "Jangan bicarakan kejadian ini pada siapapun di Jakarta, Kinanti. Ini perintah mutlak.")
Kinanti yang melihat bosnya terduduk pasrah di dalam ranselnya dengan muka cemberut dan daun di kepala akhirnya tidak bisa menahan tawa. Ia memukul bahunya sendiri pelan sambil terkekeh geli. "Tenang, Pak. Rahasia perusahaan aman bersama saya. Tapi jujur, posisi Bapak di dalam ransel ini membuat Bapak terlihat sepuluh kali lebih kompeten sebagai penasihat spiritual daripada sebagai CEO."
Arkan hanya bisa mendengus kecil, memejamkan matanya pasrah membiarkan dirinya digendong di dalam ransel seperti bayi kanguru, sementara Kinanti kembali fokus menatap koridor labirin yang ada di depan.
Dengan Arkan yang kini bertindak sebagai 'penumpang VIP' di dalam ranselnya, Kinanti melangkah lebih dalam ke dalam labirin Jangka Perunggu. Setiap kali mereka menemui jalan buntu yang disebabkan oleh pergeseran blok batu, Kinanti akan mengangkat tangan kanannya. Tanda perak di kulitnya akan memancarkan getaran yang membaca struktur 'batu kunci' dari dinding tersebut.
"Kalau menurut analisis pola geometris yang tadi saya lihat sebelum tablet saya mati," Kinanti berbicara sendiri, memandu langkahnya di antara lorong yang remang-remang, "Faksi Mangkubumi selalu menyembunyikan jalur utama di balik rotasi terkecil. Pak Arkan, tolong perhatikan jika ada balok batu yang putarannya berlawanan sendiri."
Kepala kucing Arkan menyembul dari ransel, matanya menyipit mengamati deretan dinding. Tiba-tiba, telinga jingganya bergerak ke arah kiri. Ia mendengarkan suara desing halus yang berbeda dari gemeretak mekanis menara utama.
"Meong! Meong!" Arkan menepuk bahu kiri Kinanti dengan cakar depannya yang lembut tanpa mengeluarkan kuku.
Kinanti menoleh ke arah yang ditunjuk oleh hidung merah muda Arkan. Di sana terdapat sebuah celah sempit di antara dua blok andesit besar yang tampaknya tidak bergerak sama sekali. Di atas celah tersebut, terukir simbol jangka perunggu yang saling silang dengan garis silsilah keluarga Mahardika.
"Bagus, Pak. Insting kucing oranye Bapak ternyata memiliki fungsi navigasi tingkat tinggi," puji Kinanti.
Mereka melangkah melewati celah sempit tersebut. Begitu tubuh mereka berhasil menembus dinding batu, atmosfer udara mendadak berubah lagi. Suara gemeretak labirin lenyap, digantikan oleh keheningan yang megah.
Mereka kini berdiri di sebuah pelataran terbuka yang sangat luas di dasar The Keystone Zenith—pusat dari seluruh Kota Menara Berputar. Di tengah pelataran, sebuah pilar cahaya perak raksasa melesat lurus menembus langit ungu menuju dua bulan sabit di atas sana. Di dalam pilar cahaya tersebut, terlihat ribuan baris kode silsilah kuno yang melayang-layang seperti kunang-kunang digital.
Namun, di depan pilar cahaya itu, telah berdiri Tegar Mangkubumi—bukan dalam wujud fisik manusianya yang kasual seperti di basemen B5, melainkan dalam wujud proyeksi astral raksasa setinggi lima meter, dengan kalung batu hitamnya yang kini memancarkan petir-petir kecil berwarna ungu.
"Kalian terlambat, Sang Singa dan sang Penjaga," suara proyeksi astral Tegar menggelegar, memicu guncangan hebat di seluruh pelataran batu. "Fondasi bumi Mahardika Tower sudah mulai saya runtuhkan dari sini. Dalam waktu lima menit, ruang bawah tanah Jakarta akan runtuh, dan kalian akan selamanya menjadi sejarah yang terkubur di dimensi fiksi ini!"
Kucing oranye Arkan di dalam ransel Kinanti langsung menegakkan tubuhnya, mengeluarkan geraman rendah (growl) yang sarat akan kemarahan manusiawi seorang Mahardika. Meskipun berwujud kecil dan konyol, jiwa sang penguasa SCBD siap untuk merebut kembali takhtanya dari sang arsitek pembangkang.