"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 13
Sentuhan dingin dinding kamar di punggung Amerta terasa kontras dengan ciuman Mahesa yang membakar dan menuntut. Rasa sesak dan keputusasaan perlahan berubah menjadi gelombang adrenalin yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa. Amerta tahu, jika ia menyerah malam ini, ia akan kehilangan dirinya sendiri selamanya di dalam rumah ini.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Amerta berhenti memukul dada Mahesa. Ia menggeser fokusnya, mengumpulkan seluruh kekuatannya pada kedua telapak tangannya, lalu mendorong bahu tegap Mahesa dengan satu sentakan mendadak yang memanfaatkan momentum kemiringan tubuh laki-laki itu.
Mahesa yang sedang terbuai oleh dominasinya sendiri tidak mengantisipasi perlawanan yang begitu terarah. Tubuhnya terhuyung mundur satu langkah, menciptakan jarak beberapa sentimeter. Tanpa membuang sedetik pun kesempatan, Amerta mengangkat tangan kanannya tinggi-high dan mengayunkannya sekuat tenaga.
Plak!
Suara tamparan yang nyaring menggema di dalam kamar, bersahutan dengan bunyi petir yang menggelegar di luar jendela.
Napas Amerta memburu. Telapak tangannya terasa panas dan gemetar. Di hadapannya, wajah Mahesa terenggang ke samping. Perlahan, laki-laki itu memutar kembali kepalanya. Sudut bibirnya yang sedikit memerah ditarik membentuk senyuman miring yang dingin—sebuah ekspresi yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan yang meledak-ledak. Tatapan mata birunya mengunci Amerta dengan intensitas yang sanggup membekukan darah.
"Kamu berani memukulku, Amerta?" desis Mahesa, suaranya luar biasa tenang, namun ketenangan itu justru menandakan badai yang jauh lebih besar sedang mengintai di baliknya.
"Sadar, Kak! Perbuatanmu ini menjijikkan!" teriak Amerta dengan suara serak, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. "Keluar dari kamarku sekarang! Keluar!"
Mahesa menatap Amerta selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ia tidak menyerang balik. Laki-laki itu hanya merapikan kerah kemeja sutra hitamnya yang berantakan dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh wibawa, seolah tamparan tadi sama sekali tidak melukai fisiknya, melainkan hanya meretakkan sisa-sisa kewarasannya.
"Menjijikkan?" Mahesa mengulang kata itu dengan kekehan rendah yang terdengar hampa. Ia melangkah mundur menuju pintu, lalu memutar anak kunci untuk membukanya. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh paruh wajah. "Nikmati malam terakhir kebebasanmu, Adikku sayang. Karena mulai besok, aturan di rumah ini bukan lagi milik Ayah atau Mama."
Brak!
Pintu ditutup dengan keras dari luar, meninggalkan Amerta yang langsung luruh ke lantai, menangis terisak dalam pelukan lututnya sendiri di bawah bayang-bayang ketakutan yang kian menebal.
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden tidak membawa kehangatan bagi Amerta. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan tatapan obsesif Mahesa dan aroma sandalwood bercampur alkohol selalu membuat jantungnya berdegup panik.
Pukul 07.30 WIB. Amerta bergegas menyandang tas kuliahnya. Hari ini ada ujian tengah semester yang sangat penting, dan ia harus segera keluar dari rumah ini sebelum bertemu dengan Mahesa di meja makan. Dengan langkah mengendap-endap, ia menuruni tangga lantai dua. Suasana rumah tampak begitu sepi, memicu rasa lega yang prematur di dadanya.
Namun, begitu Amerta sampai di depan pintu utama yang megah, langkahnya mendadak terhenti. Ia meraih gagang pintu dan mencoba memutarnya.
Terkunci.
Amerta mengerutkan kening. Biasanya, Bi Sumi sudah membuka pintu ini sejak subuh untuk membersihkan halaman depan. Amerta meraba bagian atas bingkai pintu, mencari kunci serep yang biasa digantung di sana. Kosong.
Rasa panik mulai merayap. Amerta berlari menuju pintu belakang yang menembus ke arah dapur dan taman. Hasilnya sama. Pintu itu dikunci rapat dari luar, bahkan gerendel besinya telah digembok dengan rantai tebal.
"Bi Sumi! Bi!" panggil Amerta dengan suara yang mulai gemetar. Ia mencari keberadaan kepala pelayan tersebut di area dapur, namun tidak menemukan siapa pun. Rumah mewah itu kosong melompong, menyisakan keheningan yang mencekam.
"Mencari ini?"
Sebuah suara bariton yang familier memecah kesunyian dari arah ruang makan. Amerta membalikkan tubuhnya dengan cepat. Di sana, Mahesa sedang duduk dengan santai di kursi kebesarannya, menikmati secangkir kopi hitam. Laki-laki itu sudah kembali rapi dengan kemeja kerja abu-abu, seolah-olah kejadian traumatis tadi malam sama sekali tidak pernah terjadi.
Di atas meja makan, tepat di samping cangkir kopinya, tergeletak sebuah gantungan berisi sekumpulan kunci rumah, ponsel milik Amerta, dan kartu identitas mahasiswa miliknya.
"Kak Esa... apa maksudnya semua ini?" Amerta melangkah mendekat dengan dada yang bergemuruh. "Kembalikan ponsel dan kunciku! Aku ada ujian jam 8 ini!"
Mahesa menyesap kopinya dengan tenang sebelum menatap Amerta. "Tidak ada kuliah untukmu minggu ini, Amerta. Kamu akan tetap berada di dalam rumah ini, bersamaku, sampai Mama dan Ayah mendarat di Jakarta."
"Kamu gila! Ini penculikan! Aku bisa melaporkanmu ke polisi!" teriak Amerta, amarahnya meluap mengalahkan rasa takutnya. Ia maju dan mencoba meraih ponselnya di atas meja, namun dengan gerakan kilat, tangan Mahesa mencengkeram pergelangan tangan Amerta dan menyentakkannya hingga gadis itu terduduk di kursi sebelahnya.
"Laporkan saja," tantang Mahesa, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Amerta. "Katakan pada polisi bahwa kakak tirimu mengurungmu di rumah mewah milik orang tuamu sendiri karena mengkhawatirkan keselamatanmu di luar sana. Menurutmu, siapa yang akan mereka percayai? Seorang mahasiswa yang histeris, atau CEO Dirgantara Group yang memegang kendali atas kota ini?"
Amerta menggelengkan kepala, air matanya kembali menggenang. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Kak? Apa salahku? Aku hanya ingin hidup tenang sebagai adikmu!"
"Sudah kukatakan tadi malam, aku tidak pernah menginginkan seorang adik!" bentak Mahesa, suaranya naik satu oktav, membuat Amerta tersentak mundur di kursinya. Cengkeraman Mahesa di pergelangan tangan Amerta melonggar, berubah menjadi usapan lembut yang justru terasa mengerikan.
"Selama sebulan ini, aku menahan diri. Aku memakai topeng sebagai kakak yang baik, yang acuh tak acuh, hanya agar Ayah tidak mencurigai apa pun. Tapi begitu Mama menelepon sore kemarin... aku sadar waktu yang kupunya tidak banyak. Jika mereka pulang, mereka akan menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis Ayah. Mereka akan membawamu pergi dari rumah ini, dari jangkauanku," lanjut Mahesa, matanya memancarkan kombinasi antara kegilaan dan keputusasaan.
"Jadi, sebelum hal itu terjadi, aku akan memastikan kamu terbiasa bersamaku. Di sini. Hanya ada aku dan kamu."
Amerta menarik tangannya dengan kasar dari usapan Mahesa. "Bi Sumi dan pak satpam di mana? Kamu memecat mereka?!"
"Aku meliburkan seluruh pelayan selama satu minggu ke depan dengan gaji penuh. Mereka tidak akan datang ke rumah ini sampai hari kepulangan orang tua kita," jawab Mahesa dingin seraya berdiri dari kursinya. Ia mengambil sekumpulan kunci dan ponsel Amerta, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
Mahesa berjalan menuju pintu depan, bersiap untuk pergi bekerja. Sebelum melangkah keluar melalui pintu khusus yang langsung menembus ke garasi dalam, ia menoleh kembali ke arah Amerta yang masih terpaku di ruang makan.
"Semua jendela lantai bawah sudah kupasang tralis besi berkunci tersembunyi. Wi-Fi rumah sudah dimatikan, dan semua saluran telepon kabel sudah diputus. Jangan mencoba kabur lewat balkon lantai dua jika kamu tidak ingin mematahkan kakimu sendiri," ujar Mahesa memberi peringatan dengan nada datar seolah sedang membacakan agenda rapat perusahaan. "Bahan makanan di kulkas cukup untuk satu minggu. Aku akan pulang setiap jam lima sore. Jadilah anak manis, Amerta."
Klik.
Pintu garasi mengunci secara otomatis dari luar, menyisakan suara mesin mobil sport milik Mahesa yang perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.
Amerta berlari ke arah jendela ruang tamu, menatap nanar melalui celah tralis besi yang kini mengurungnya layaknya seekor burung di dalam sangkar emas. Ia terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa ia kini sepenuhnya terisolasi dari dunia luar. Dalam kurun waktu tujuh hari ke depan, rumah mewah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan ini telah resmi berubah menjadi penjara pribadi yang dikendalikan oleh obsesi gelap Mahesa Dirgantara.
Bagian 5: Intrik di Balik Dinding Penjara
Hari pertama penyekapan berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Amerta. Tanpa ponsel, tanpa internet, dan tanpa interaksi manusia, waktu terasa berjalan sepuluh kali lebih lambat. Ia menghabiskan waktu dengan mondar-mandir di ruang tengah, mencoba mencari kelemahan dari struktur pertahanan yang dibuat oleh Mahesa.
Ia memeriksa setiap sudut jendela. Semuanya benar; Mahesa telah memasang kunci slot tambahan pada tralis besi yang membutuhkan anak kunci khusus untuk membukanya. Bahkan pintu darat menuju ruang bawah tanah pun telah dikunci rapat.
Ketika jam dinding menunjukkan pukul 16.45 WIB, kecemasan Amerta memuncak. Suara deru mobil di halaman depan menandakan bahwa sang predator telah kembali ke sarangnya.
Amerta memutuskan untuk mengunci diri di dalam kamarnya di lantai dua. Namun, ia tahu kunci kamarnya sudah tidak berguna karena Mahesa memegang kunci duplikat untuk seluruh ruangan di rumah ini. Ia menggeser sebuah meja belajar kecil ke depan pintu, mencoba membuat barikade sederhana untuk melindunginya malam ini.
Langkah kaki tegap Mahesa terdengar menaiki tangga. Langkah itu berhenti tepat di depan kamar Amerta.
Knob pintu bergerak.
Pintu terdorong sedikit, namun tertahan oleh meja belajar yang dipasang Amerta. Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik, sebelum terdengar suara helaan napas berat dari balik pintu.
"Amerta, buka pintunya. Aku membawa makan malam untukmu," panggil Mahesa, nadanya terdengar sangat sabar, kontras dengan fakta bahwa ia sedang mengurung adiknya sendiri.
"Pergi, Kak! Aku tidak mau makan!" teriak Amerta dari atas tempat tidur, menarik selimutnya hingga ke dada.
"Aku tidak suka mengulang perkataanku, Amerta. Buka pintunya, atau aku akan mendobrak pintu ini dan memastikan malam ini berjalan jauh lebih buruk daripada malam kemarin," ancam Mahesa, kali ini dengan nada dingin yang tidak menerima penolakan.
Mendengar ancaman itu, nyali Amerta menciut. Dengan tubuh gemetar, ia terpaksa turun dari tempat tidur dan menggeser kembali meja belajarnya. Begitu barikade itu tersingkir, pintu langsung terbuka lebar.
Mahesa berdiri di sana membawa sebuah paper bag berisi makanan dari restoran bintang lima. Matanya melirik ke arah meja belajar yang sempat digeser Amerta, lalu kembali menatap wajah pucat gadis itu.
"Anak pintar," puji Mahesa pelan. Ia melangkah masuk, meletakkan makanan di atas meja, lalu mendekati Amerta yang melangkah mundur ketakutan. Mahesa mengangkat tangannya, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menyelipkan seuntai rambut Amerta yang berantakan ke belakang telinganya.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan mogok makan. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Amerta. Hanya saja, caraku mungkin sedikit berbeda," bisik Mahesa dengan tatapan yang begitu pekat, membuat Amerta menyadari satu hal yang mengerikan: Mahesa tidak sedang bermain-main, dan seminggu ke depan akan menjadi pertarungan batin yang paling melelahkan dalam hidupnya untuk mempertahankan kewarasannya sebelum orang tua mereka kembali dan menyingkap seluruh kebenaran.