Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Keyakinan Ganjil
Mobil Alden melaju cepat menuju kawasan selatan kota. Tangannya mantap di setir, tapi pikirannya jauh dari tenang.
Laporan tentang Belvina terus berputar di kepalanya.
Bermain dengan anak-anak panti. Menggendong bayi yang menangis. Berbicara lama dengan kepala panti.
Ia tak tahu kenapa itu mengganggunya. Atau mungkin ia tahu, tapi tak mau mengakuinya.
Ia ingin melihat sendiri.
Melihat seperti apa wajah Belvina saat berada di tempat yang tak pernah cocok dengan wanita lama yang ia kenal.
Saat mobil memasuki gerbang panti, seorang pengurus buru-buru menghampiri.
“Tuan mencari Nyonya Belvina?”
Alden turun separuh badan dari mobil.
“Di mana dia?”
“Baru saja pulang sekitar sepuluh menit lalu.”
Otot rahangnya bergerak samar.
“Ke arah mana?”
Pengurus menunjuk jalan luar.
Alden langsung membanting pintu mobil dan memutar setir kembali.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.
“Tuan, Nyonya Belvina didekati empat pria di jalan sepi—”
Sorot Alden berubah tajam.
“Lokasi.”
Orang itu cepat menyebut titik jalan.
"Kalau terjadi sesuatu pada istriku…” Suara Alden rendah dan dingin. “...kau akan tahu akibatnya.”
Sambungan terputus. Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam.
Di tempat lain--
Mata Belvina bergerak menilai keempat pria itu satu per satu.
Dua di depan. Satu terlalu banyak bicara. Satu lagi tampak paling berani. Dua sisanya masih di dekat motor.
Ia menghela napas pendek.
“Tunggu sebentar.”
Keempat pria itu saling pandang, lalu tertawa.
Belvina berbalik menuju bagasi mobil.
“Wah, nurut juga,” ejek salah satu dari mereka.
“Takut kali.”
Belvina membuka bagasi tanpa tergesa. Tangannya masuk ke kompartemen bawah, lalu menarik keluar kunci roda berbahan besi.
Belvina menutup bagasi pelan.
Ia berbalik sambil menggenggam kunci roda di tangan. Besi itu berayun ringan di sisi pahanya.
Para lelaki itu justru makin mendekat.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil berhenti mendadak.
Pria suruhan Alden turun cepat, berniat menolong. Namun langkahnya terhenti di samping pintu mobil.
Nyonya mudanya berdiri tenang di tengah jalan, kunci roda tergenggam di tangan.
Senyum terukir di wajahnya.
Bukan senyum takut. Bukan pula senyum ramah.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan tempat menyalurkan kekesalan.
Entah kenapa, pria itu tidak melihat seorang wanita yang sedang terancam.
Ia justru berhenti melangkah. Rasa penasaran muncul lebih dulu.
Dan keyakinan ganjil... bahwa empat pria itulah yang sebentar lagi akan celaka.
“Wah,” salah satu pria menyeringai. “Aku suka yang galak.”
Belvina memiringkan kepala sedikit. “Bagus.”
Detik berikutnya—
Brak!
Ujung besi menghantam lutut pria terdepan hingga ia roboh sambil menjerit.
Tiga lainnya membeku.
Belvina sudah bergerak lagi. Sikutnya menghajar rahang pria kedua sampai kepalanya terlempar ke samping.
Tumit sepatunya menendang perut pria ketiga hingga tubuhnya mundur menabrak motor.
Pria terakhir baru hendak maju sambil menghunus pisau ketika Belvina memutar kunci roda dan menghantam punggung tangannya keras.
“Aaargh!”
Pisau terlepas dan jatuh beradu dengan aspal.
Belvina tak memberi celah. Saat pria itu membungkuk memegangi tangan, lututnya melesat ke perut lawan.
Tubuh pria itu terlipat.
Satu ayunan terakhir menghantam bahunya telak hingga ia ambruk di jalan.
Tak jauh dari sana, orang suruhan Alden hanya bisa menatap tak percaya.
Sosok wanita itu masih tegak di antara empat tubuh yang bergelimpangan.
Ia sempat teringat instruksi Alden.
Jaga Belvina.
Di momen ini, perintah itu mendadak terasa lucu. Yang perlu dijaga sepertinya justru orang lain dari Nyonya mudanya.
Beberapa detik kemudian, mobil hitam lain berhenti tajam tepat di belakangnya.
Pintu terbuka keras.
Alden turun dengan wajah gelap. Arah matanya langsung tertuju pada anak buahnya yang malah berdiri diam.
“Apa yang kau—”
Kemarahan itu terputus.
Di depannya, Belvina berdiri sambil memegang besi. Rambut sedikit berantakan. Napas tenang.
Empat pria terkapar di jalan seperti karung rusak.
Alden melihat pemandangan itu cukup lama. Untuk sesaat, bahkan ia tak berkata apa-apa.
Belvina berbalik menuju bagasi mobilnya sambil membawa kunci roda.
Di saat yang sama, Alden refleks bergerak cepat dan bersembunyi di balik mobil milik orang suruhannya.
Gerakan itu begitu mendadak hingga pria suruhannya menoleh bingung.
"Tuan.. sedang sembunyi?"
Alden memberi tatapan tajam tanpa bicara, seolah melarang satu komentar pun keluar.
Pria itu langsung menegakkan badan.
Belvina melangkah mendekat ke bagasi tanpa tergesa.
Matanya sempat menyapu ke arah pria suruhan Alden yang berdiri kaku di pinggir jalan. Seolah menyadari ada sesuatu yang ganjil.
Namun ia tak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan kunci roda ke dalam bagasi, lalu menutupnya pelan.
Setelah itu, Belvina berbalik dan berjalan menuju salah satu motor yang tergeletak di sisi jalan.
Motor tua dengan bodi ramping dan knalpot panjang—RX-King.
Belvina menegakkan motor itu, lalu duduk di atas joknya dengan tenang. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh pada mereka.
“Pinjam dulu.”
“Woi—!” salah satu berteriak lirih sambil memegangi lutut.
Tapi tangan Belvina sudah memutar kunci kontak.
Kaki kanannya menginjak pedal starter beberapa kali hingga mesin menyala.
Greng!
Suara mesin meraung kasar.
Tangan kirinya menarik kopling, lalu ujung kakinya menekan gigi satu.
Belvina menoleh santai ke arah para pria yang merintih.
“Terima kasih sudah datang.”
Keempat lelaki itu masih terkapar di aspal, menatap Belvina dengan campuran ngeri dan dendam.
Setelah itu, Belvina memutar gas perlahan dan motor pun melesat maju.
Dari balik tempat sembunyi, Alden akhirnya keluar perlahan. Matanya masih tertuju ke arah Belvina pergi.
Pria suruhannya bergumam tak percaya.
“Nyonya... bisa naik motor begitu?”
Alden tak menjawab.
Di kejauhan, Belvina yang melaju di jalan raya menggigit bibir menahan senyum kecil.
“Untung dulu pernah belajar dari satpam panti.”
Di belakang sana, empat pria yang terkapar mulai mengumpat bersahutan.
“Motor gueee!”
“Sialan tuh cewek!”
“Pinggang gue patah duluan, goblok!”
Alden mengalihkan pandangan pada mereka sebentar, lalu berkata dingin pada orang suruhannya,
“Urus mobil Nyonya. Dan urus tikus-tikus itu.”
Alden terdiam sesaat sebelum menambahkan,
“Dan cari tahu... sejak kapan istriku bisa melakukan semua itu.”
“Baik, Tuan.”
Alden berbalik menuju mobilnya sendiri. Ia masuk, lalu membanting pintu.
Beberapa detik kemudian, mesin meraung dan mobil melesat menyusul.
Di depan sana, Belvina membelah jalan dengan motor tua itu.
Angin menerpa rambutnya. Bibirnya terbuka dalam senyum lebar.
Ia menyalip satu mobil, lalu dua kendaraan lain tanpa ragu.
“Ah... sudah lama sekali.”
Matanya berbinar.
“Seruuuu!”
Tangannya memutar gas lebih dalam.
Motor melesat kencang ke depan.
Jauh di belakang, Alden menatap siluet wanita itu dari balik kaca depan.
Wajahnya menegang sesaat.
“Siapa sebenarnya wanita yang kunikahi?”
-
...✨"Yang kabur hari itu bukan hanya motor tua di depan sana, tapi jawaban atas siapa sebenarnya Belvina."✨...
.
To be continued
orang suruhan Alden saja melongo tidak percaya dengan Nonyanya.
Alden sendiri masih bertanya tanya siapa Belvina sebenarnya,,,ia adalah Dina wanita tangguh yang tidak bisa di tindas
kasih kejutan yg lainnya terutama untuk Kunti bogel biar mingkem dia