NovelToon NovelToon
In Between

In Between

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Office Romance / Tamat
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: PrettyDucki

Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.

Namun hidup punya selera humor yang aneh.

​Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.

Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

Pukul 17.43, lantai 35 sudah sepi.

Mila sedang memasukkan dokumen terakhir ke laci mejanya ketika aroma parfum Arya menyapa udara di sekitarnya.

"Mila."

"Saya mau pulang, Pak." Ia menarik risleting tasnya tanpa menatap Arya. "Kalau ada yang perlu disampaikan, besok aja di jam kantor."

"Bukan soal pekerjaan."

"Pak Arya." Mila akhirnya mengangkat wajahnya. Ekspresinya datar, namun matanya menyimpan lelah yang jauh lebih dalam daripada sekadar tuntutan kerja. "Saya capek. Saya mau pulang."

Arya tidak bergeming. Kedua tangannya terbenam di saku celana, berdiri dengan postur kokoh seseorang yang telah memaku keputusannya. "Lima menit."

"Nggak."

"Please--"

Namun Mila sudah menyampirkan tas di bahunya, melangkah lebar melewati Arya seolah pria itu hanyalah bagian dari furnitur kantor yang tidak bernyawa.

.

.

Di lobi, langkah Mila terhenti.

Di luar sana, langit seolah runtuh. Hujan deras menghantam aspal hingga menciptakan kabut putih yang memburamkan jarak pandang. Kilat menyambar jauh di sana, guntur menyusul beberapa detik kemudian.

Mila mengeluarkan ponsel dan mulai mencari taksi online.

Aplikasi pertama : Tidak ada driver tersedia di area Anda.

Aplikasi kedua : Sama.

Ia mencoba lagi. Sama.

"Aku anter pulang ya." Suara Arya terdengar tepat di belakang bahunya.

Mila tidak menjawab. Ia berdiri mematung di depan pintu kaca, menatap hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.

"Kok nggak ada yang mau, sih?" gumamnya lirih kepada diri sendiri.

Arya diam, namun ia tetap di sana. Berdiri satu langkah di belakang Mila, sedikit menjaga jarak agar tidak diusir, tapi cukup dekat untuk menawarkan bantuan walau tidak diminta.

Dua puluh menit.

Empat puluh menit.

Satu jam.

Genangan di trotoar sudah setinggi mata kaki. Beberapa rekan kantor yang terjebak mulai berdatangan ke lobi, bergerombol dalam diam, sesekali melirik ke langit seolah bernegosiasi.

Satu jam empat puluh menit.

Hampir dua jam.

Mila membuka aplikasi untuk keempat belas kalinya. Hasilnya masih sama.

​Ia memejamkan mata sejenak, menghitung sampai sepuluh, sebuah ritual sebelum ia menyerah pada pilihan yang paling ia benci.

"Masih nggak mau pulang sama aku?" tanya Arya, suaranya tenang, tanpa nada mengejek.

Mila membuka mata, menatap hujan, lalu menatap layar ponselnya yang redup.

"Aku cuma antar sampai depan kos. Nggak lebih."

Mila menggenggam tali tasnya semakin erat. Kakinya pegal, kepalanya pusing, perutnya agak mual karena efek postinor. Dan hujan di luar tidak peduli dengan semua itu.

"Oke," gumamnya lemah.

.

.

Mobil keluar dari basement dan langsung disambut amukan air. Wiper bekerja keras menyapu kaca, namun lampu-lampu kota tetap terlihat seperti coretan cahaya yang luntur.

Jalanan macet total. Jakarta berubah menjadi kolam raksasa tempat ribuan orang terjebak dalam mobil masing-masing.

Mila duduk di kursi penumpang dengan tangan terlipat rapat di pangkuan. Punggungnya tegak, matanya terpaku pada jendela. Ia sudah bersumpah tidak akan ada kata yang keluar.

Beberapa menit pertama berjalan sesuai rencana. Namun keheningan di dalam kabin mobil itu justru terasa lebih bising daripada badai di luar sana. Radio mati. Hanya ada detak wiper yang ritmis.

"Aku perlu cerita sesuatu," tiba-tiba suara Arya memecah hening.

Mila tidak bergeming. Pandangannya masih tertuju pada lampu rem mobil di depan yang memerah dalam hujan.

"Tentang kenapa aku pergi dulu. Mungkin kamu sudah nggak peduli. Tapi aku merasa harus ngomong ini. Sekarang. Sebelum aku kehilangan nyali lagi."

Mila merasakan denyut aneh di dadanya, tapi ia tetap membatu.

"Papa kamu..." Arya menjeda, suaranya sedikit serak, "...pernah kenal sama bundaku."

Sesuatu bergeser di dalam hati Mila. Tapi ia tidak menoleh. Jarinya tergenggam di atas pangkuan.

Kemudian Arya melanjutkan.

Pria itu bicara dengan nada datar, tipe suara seseorang yang sudah melatih dirinya bertahun-tahun agar tidak tenggelam saat menceritakan tragedi.

Ia bercerita tentang pertemuan mereka yang kebetulan di kafe. Tentang sepatu asing di depan pintu kontrakan yang pura-pura tidak ia lihat. Tentang pagi ketika ia melihat siapa yang keluar dari rumahnya saat ia duduk di warung kopi seberang jalan.

Tentang Om Todi yang datang ke kosnya dengan nada pebisnis yang sedang melakukan transaksi, bukan seorang laki-laki yang tertangkap basah.

"Putus sama Mila. Jangan ceritakan apapun. Biaya pengobatan ibumu akan saya tanggung."

Arya bercerita tentang malam di bandara. Tentang pesan terakhir dari Mila di ponselnya yang tidak pernah sanggup ia balas. Ia bicara sampai tuntas, lalu hening kembali menyergap.

Di luar, lampu merah masih menyala. Hujan tidak berubah.

"Maaf kalau kedatanganku bikin semuanya jadi lebih sulit." Arya berbisik pelan. "Tapi aku nggak bisa bilang aku menyesal ketemu kamu lagi, Mila. Aku masih sayang sama kamu."

Hening itu terasa abadi. Sampai akhirnya Mila menoleh.

​Matanya basah, tapi tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada pengampunan. Yang ada hanyalah luka yang sudah mengeras menjadi amarah.

"Kamu nggak malu?"

Arya tertegun.

"Desember 2014." Mila menyebut tanggal itu seperti mengeja sebuah vonis. "Tahun yang sama waktu Papa mulai sering pulang malam. Tahun yang sama waktu Mama mulai mengurung diri di kamar untuk nangis. Tahun yang sama saat keluarga kami hancur pelan-pelan."

Rahang Arya mengeras.

"Aku kelas dua belas waktu itu, Bimo masih SD. Mama nggak kerja, Papa pergi gitu aja," suara Mila meninggi, bergetar namun penuh kendali. "Dan kamu juga pergi."

"Mila--"

​"Kamu pergi ke Singapura. Kuliah di kampus bagus, kerja di McKinsey, dan sekarang duduk di sini dengan mobil mahal." Mila menatapnya tajam. "Kamu tumbuh dengan sangat baik, Arya. Sementara aku dan Bimo tumbuh dengan ibu yang harus kerja serabutan supaya kami bisa sekolah. Aku harus kerja sejak usia delapan belas karena nggak ada pilihan lain. Bahkan setelah semua itu, kami tetap kekurangan dan masih harus menahan malu dengan hidup dari belas kasihan keluarga."

Tangan Arya mencengkeram setir. "Aku tau. Aku tau itu nggak adil. Aku--"

​"Kamu dan ibu kamu," Mila memotong, suaranya kini pecah karena tangis. "Kalian merampas Papa dari hidup kami. Kalian merampas hak aku dan Bimo untuk punya masa depan yang layak. Dan sekarang kamu duduk di sini, bilang masih sayang sama aku?"

"Mila, aku nggak bermaksud--"

"Kalian menjijikkan."

Dua kata itu jatuh seperti pisau. Tanpa teriakan dramatis, namun efeknya jauh lebih menghancurkan bagi Arya.

"Aku ngerasa jijik sama kamu dan ibu kamu yang pelacur itu." Mila meraih gagang pintu. "Aku bahkan lebih jijik sama diriku sendiri karena sempat..." Ia berhenti sejenak, napasnya memburu. "...karena sempat ngerasain sesuatu lagi untuk kamu."

Pintu terbuka.

Hujan langsung menghambur masuk, membasahi dashboard dan jok kulit mobil dalam sekejap. Sebelum Arya sempat mencegah, Mila sudah keluar, menghilang ditelan derasnya air. Lalu pintu dibanting dengan dentuman yang memekakkan telinga.

.

.

Sampai dua puluh menit kemudian Arya masih duduk termenung sendirian di mobilnya.

Setengah dari interiornya masih basah. Di luar, siluet Mila sudah hilang di antara orang-orang yang bergegas di bawah payung dan cahaya lampu yang berpendar di genangan.

Ia masih menatap titik terakhir saat Mila menghilang. Kini yang tersisa hanya hujan dan suara wiper yang masih bergerak.

Tangannya masih di setir.

Lalu ia menutup matanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak sebelas tahun, Aryasthana Pradipta menangis.

Bukan hanya karena ia merasa bersalah akibat menyelamatkan ibunya, dan tanpa sadar menenggelamkan keluarga Mila.

Tapi karena ia baru sepenuhnya mengerti seberapa besar kerusakan yang ia tinggalkan dan betapa kesadaran itu datang terlambat padanya.

...***...

1
🌺⃟ SasMaya
Ceritanya kerennn guys... aku bener-bener terhanyut sama tokoh-tokohnya, berasa masuk ke dlm dunia mereka ✨

Rekomend...
tetep semangat Author, di tunggu karya terbarunya, yang lebih bombastis, membawaku ke duniamu 🤭
🌺⃟ SasMaya
emng laki-laki matang yang pengertian Arya ini...
🌺⃟ SasMaya
boleh mil, kamu kan istrinya 😆
🌺⃟ SasMaya
Weewww 🤭
🌺⃟ SasMaya
kalau nikah gini emng sedih tau, biar kata udah di tahan-tahan juga... mana keadaan mila yang kaya begitu...
🌺⃟ SasMaya
bener kata Bimo ... soalnya aku juga ngundang mantan dulu tapi dia ga Dateng .. bahkan sampe cuti kerja hari itu wkwkwk🤣🤣🤣
PrettyDuck: patah hati berat kak mantanmu 🥴
total 1 replies
🌺⃟ SasMaya
iya... aku juga penasaran
🌺⃟ SasMaya
si Damian emng paling-paling ya...
kira-kira Tyas di undang ga ya 🫠
🌺⃟ SasMaya
Mayan banyak ngundangnya walau persiapannya buru-buru
Rain Aricia
Entahlah, aku pun jadi pusing sama kehidupan kalian☺️
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Rain Aricia
Kau pun juga salah, dah tau istri hamil malah cari gara2.
Rain Aricia
Halahh kalian berdua ini. Ga ekspek aku klo sampe kek begini. Masa lalu kalian ga ada yg beres dah perasaan😭😭
Rain Aricia
Mana ada, emang kalau dia nikah sama mu dia bakalan bahagia? Gak Tyas, malahan dijulitun emakmu dia habis2an. Setidaknya dia ngakui kesalahannya klo dia hamidun
Rain Aricia
Ga tau apa2 malah ngata2in seenaknya.
Rain Aricia
Jadi maksudmu apa?🙄
🌺⃟ SasMaya
keren loh bro Arya ini ... gentle man
🌺⃟ SasMaya
Duarrr... ini mamak-mamak kaya kena petir di siang bolong
🌺⃟ SasMaya
kata mamak Mila: "Oohh... pantas saja Mila putus dengan Tyas." 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
syok lah pasti ... 😆
🌺⃟ SasMaya
klise sekali kalau di dunia nyata .... kelahiran prematur, tapi bobot bayi normal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!