NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seharian Bersama Mu

Minggu pagi. Langit tampak cerah bersih tanpa awan. Sinar matahari yang hangat menyapa hamparan rumput di halaman rumah keluarga Baskara, membawa hawa segar yang membangkitkan semangat.

Satria baru saja selesai merapikan kerah kemeja putih lengannya yang sederhana, ketika suara sang ibu terdengar memanggil dari arah ruang tamu.

"Satria!" panggil Bu Ratna.

"Iya, Bu. Sebentar," sahut Satria seraya melangkah keluar dari kamar tidurnya.

"Sudah siap semuanya? Tidak ada berkas atau dompet yang tertinggal?" tanya Bu Ratna dengan senyum lembut, meneliti penampilan putranya yang tampak segar.

"Sudah siap, Bu," jawab Satria dengan anggukan mantap.

Bu Ratna menepuk lengan putranya pelan. "Agenda hari ini jangan terlalu dibawa tegang atau dipikirkan sebagai beban, ya. Anggap saja kamu sedang mengajak Naira jalan-jalan santai."

"Baik, Bu. Satria mengerti," ujar Satria, menyunggingkan senyum tipis.

Tak lama setelah itu, ponsel di dalam saku celana Satria bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari kontak bernama Naira Azzahra.

"Assalamualaikum, Mas. Aku sudah berangkat dari rumah bersama Ayah dan Ibu.✉️✉️"

Satria membaca rentetan kalimat itu selama beberapa detik sebelum jemarinya bergerak cepat mengetik balasan.

"Waalaikumsalam. Saya juga baru saja berangkat. Hati-hati di jalan.✉️✉️"

Satu jam kemudian...

Kedua belah keluarga akhirnya bertemu di sebuah gedung Wedding Organizer (WO) yang terletak di pusat kota, sebuah tempat yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh kerabat dekat mereka.

"Assalamualaikum, Pak Ridwan, Bu," sapa Pak Hasan hangat begitu mereka berpapasan di area lobi.

"Waalaikumsalam, Pak Hasan, Jeng Ratna. Wah, pas sekali jam datangnya," balas Pak Ridwan dengan senyuman ramah yang khas.

Setelah saling bertukar sapa singkat, seorang staf perempuan berseragam rapi dengan sigap menghampiri rombongan keluarga tersebut.

"Selamat pagi, Bapak, Ibu, Mas, dan Mbak. Perkenalkan, saya Rina," sapa staf tersebut dengan sikap takzim. "Hari ini agenda kita adalah mendiskusikan dan memilih konsep serta tema pernikahan yang diinginkan."

Pak Hasan tersenyum, lalu melirik ke arah Satria dan Naira. "Mbak Rina, kalau bisa, biarkan anak-anak saja yang menentukan dan memilih seluruh konsepnya."

"Betul, Mbak," timpal Pak Ridwan ikut mengangguk setuju. "Kami para orang tua di sini tugasnya hanya mendampingi dan menyetujui saja."

Mendengar keputusan itu, Satria dan Naira spontan saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak menyangka bahwa kedua orang tua mereka benar-benar memberikan kebebasan penuh dalam menentukan hari bahagia tersebut.

"Mas Satria dan Mbak Naira, silakan ikut saya ke ruangan sebelah," ajak Rina dengan ramah.

Staf WO tersebut membawa mereka ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh contoh maket dan album foto dekorasi pernikahan. Mulai dari tema modern minimalis, tradisional adat, hingga konsep taman outdoor yang dipenuhi oleh jajaran bunga putih.

"Kalau Mas Satria sendiri, sebenarnya lebih menyukai konsep yang bagaimana?" tanya Naira pelan, memecah kecanggungan di antara mereka sembari membalik halaman album foto.

Satria memperhatikan satu per satu contoh foto dekorasi dengan saksama. "Saya pribadi lebih menyukai konsep yang sederhana dan tidak terlalu mencolok."

Naira spontan menyunggingkan senyum kecil yang manis. "Aku juga sama, Mas."

"Bagaimana kalau konsep yang ini?" tunjuk Naira pada sebuah foto dekorasi pelaminan bernuansa putih gading, dipadukan dengan hiasan bunga baby's breath serta jajaran daun eucalyptus yang segar.

Satria mengamati detail foto tersebut selama beberapa saat sebelum mengangguk setuju. "Bagus. Kelihatannya tidak terlalu ramai dan tidak berlebihan."

"Berarti pilihan kita sama ya, Mas," ucap Naira dengan binar mata senang.

Rina yang berdiri di dekat mereka langsung tersenyum profesional. "Baik, kalau begitu kita catat tema soft elegant ini untuk dekorasi utamanya, ya."

Selanjutnya, mereka berpindah ke area ruangan pemilihan busana pengantin. Berbagai model gaun muslimah yang anggun dan setelan jas pengantin pria tampak berjajar rapi di dalam lemari kaca besar.

Naira berdiri di depan deretan gaun dengan raut wajah yang tampak kebingungan. "Bagus-bagus semua, jadi bingung memilihnya."

Satria yang sedari tadi berdiri memperhatikan gerak-gerik Naira akhirnya ikut membuka suara. "Coba kamu pilih gaun yang warna putih bersih itu."

Naira menoleh ke arah yang ditunjuk Satria. "Yang ini, Mas?"

"Iya. Kelihatannya modelnya sederhana dan potongannya pas," nilai Satria objektif.

Naira mengambil gaun tersebut dari gantungan, lalu melangkah masuk ke dalam ruang ganti dengan dibantu oleh staf. Beberapa menit berlalu, pintu geser ruang ganti perlahan terbuka.

Naira melangkah keluar dengan sangat anggun, mengenakan gaun putih panjang berhiaskan aksen renda sederhana di bagian dada dan pergelangan tangan. Langkah kakinya tampak sedikit ragu dan canggung.

"Bagaimana penampilannya, Mas?" tanya Naira lirih, menatap lurus ke arah Satria dengan jemari yang saling bertautan.

Satria yang biasanya berwajah datar dan sulit menunjukkan ekspresi, seketika itu juga langsung terpaku mematung di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Pandangan matanya seolah terkunci pada keanggunan sosok Naira.

Baru setelah Bu Ratna berdehem pelan di belakangnya, kesadaran Satria langsung tersentak kembali.

"Cocok," jawab Satria singkat, berdehem untuk menutupi salah tingkahnya.

Jawaban yang terlampau pendek itu seketika membuat pipi Naira merona merah.

"Cuma cocok saja, Sat?" goda Pak Hasan dari sofa tunggu, membuat Satria semakin salah tingkah. Doni mungkin akan menggoda habis-habisan di kantor jika mendengar jawaban kaku sahabatnya itu.

Satria mengusap tengkuknya, mencoba membetulkan kalimatnya. "Maksud saya... gaunnya sangat cantik. Sangat pas kamu kenakan."

Suasana di area baju pengantin itu langsung menjadi hening sejenak, sebelum akhirnya dipenuhi senyum-senyum penuh arti dari Bu Ratna dan Ibu Naira. Sementara itu, Naira buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan senyum dan rona merah di wajahnya.

"Terima kasih banyak, Mas," bisik Naira malu-malu.

Kini giliran Satria yang masuk ke ruang ganti untuk mencoba setelan jas. Ketika pintu terbuka dan Satria melangkah keluar mengenakan jas hitam formal yang dipadukan dengan kemeja putih bersih di dalamnya, giliran Naira yang tampak terdiam terpaku di tempat duduknya.

"Mas Satria..." panggil Naira pelan.

"Hm? Ada apa? Ukurannya kurang pas ya?" tanya Satria ragu, merapikan lengan jasnya.

"Setelan jas yang ini... sangat bagus dan gagah Mas kenakan," puji Naira tulus dengan senyum tulus.

Untuk pertama kalinya dalam hari itu, Satria menyunggingkan sebuah senyuman yang jauh lebih lebar dan lepas dari biasanya. "Kalau begitu, berarti penilaian kita sekarang sudah impas."

Naira terkekeh pelan mendengar gurauan itu. "Iya, Mas. Impas."

Rasa canggung dan dinding pembatas yang dulu sempat terasa begitu besar di antara mereka, kini perlahan-lahan mulai terkikis, berubah menjadi untaian obrolan-obrolan kecil yang terasa begitu hangat.

Menjelang siang hari, kegiatan mereka berlanjut ke area pemilihan barang seserahan. Mulai dari perlengkapan ibadah shalat, set perhiasan, kotak kosmetik, sepatu, tas, hingga kain batik tradisional bermotif indah dipilih satu per satu.

"Mas Satria," panggil Naira saat mereka berdiri di depan konter tas.

"Iya, ada apa?" sahut Satria menoleh.

"Barang seserahannya tidak usah terlalu banyak atau terlalu mewah, ya," pinta Naira lembut.

"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Satria heran.

Naira menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan begitu. Aku hanya kurang suka dengan segala sesuatu yang sifatnya berlebihan. Cukup beli yang benar-benar akan terpakai saja."

Satria menganggukkan kepalanya dengan gurat wajah setuju. "Kebetulan prinsip saya juga sama. Yang penting fungsinya cukup dan berkah."

Pak Hasan yang kebetulan berdiri tidak jauh di belakang mereka dan mendengar percakapan tersebut, langsung tersenyum bangga. "Syukurlah kalau begitu. Anak-anak kita ternyata memiliki jalan pikiran yang sejalan."

Sore harinya, agenda mereka berlanjut menuju toko percetakan mockup undangan pernikahan.

"Kalau model undangan dengan potongan minimalis ini bagaimana menurut Mas?" tanya Naira, menunjukkan sebuah sampel kartu undangan berwarna putih bersih dengan sentuhan tulisan tinta emas yang elegan.

Satria memperhatikan detail kertas undangan tersebut selama beberapa saat. "Sederhana, tetapi tetap terlihat elegan dan berkelas. Saya suka."

"Berarti kita sepakat memilih desain yang ini ya?" tanya Naira memastikan.

"Iya, pilih yang itu saja," jawab Satria mantap.

Tanpa mereka sadari sepenuhnya, hampir seluruh keputusan dan pilihan mereka sepanjang hari itu selalu berjalan selaras dan sama. Mulai dari pemilihan konsep dekorasi, busana pengantin, jenis hantaran, hingga desain kartu undangan. Seolah-olah, mereka berdua memang memiliki selera dasar yang tidak jauh berbeda.

✨✨✨✨

Matahari di ufuk barat mulai tenggelam, memancarkan semburat warna jingga yang indah. Agenda terakhir mereka hari itu adalah menentukan bentuk mahar pernikahan. Di sebuah toko perhiasan ternama, Satria dan Naira kini berdiri berdampingan di depan etalase kaca yang memamerkan kilauan cincin.

"Apakah ada model cincin yang paling kamu sukai di antara semua ini?" tanya Satria pelan, menatap Naira dari samping.

Naira menggelengkan kepalanya perlahan, lalu mendongak menatap sepasang mata tajam Satria dengan senyuman tulus. "Mas, dalam urusan mahar, aku sama sekali tidak melihat dari sudut pandang seberapa mahal atau mewahnya nilai barang tersebut."

"Lalu, apa yang kamu lihat?" tuntut Satria penasaran.

"Aku akan jauh lebih merasa bahagia dan bersyukur jika mahar itu dipilih dan diberikan dengan ketulusan hati yang murni dari Mas sendiri," tutur Naira dengan intonasi suara yang lembut namun sarat akan ketulusan.

Kalimat sederhana dari Naira itu seketika membuat Satria tertegun di tempatnya. Tatapan mata mereka kembali bertemu di udara, saling mengunci selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Satria merasakan ada letupan kehangatan yang menjalar di dadanya, diikuti oleh senyuman kecil yang terbit di bibirnya.

"Kalau memang begitu..." Satria mengalihkan pandangannya ke dalam etalase, lalu menunjuk sepasang cincin emas putih dengan desain polos yang sangat simpel namun kokoh. "...bagaimana jika kita memilih sepasang cincin yang ini?"

Naira memperhatikan cincin pilihan Satria tersebut, lalu sebuah anggukan pelan diberikan. "Indah dan kokoh. Persis seperti harapanku untuk pondasi rumah tangga kita nanti, Mas."

Ucapan itu terlontar dengan volume suara yang sangat pelan dari bibir Naira. Namun, efeknya sudah lebih dari cukup untuk membuat detak jantung Satria berdegup sedikit lebih cepat dan bertalu-talu dari biasanya.

Di perjalanan pulang, kedua belah keluarga memilih untuk naik ke dalam mobil masing-masing yang terparkir di area halaman gedung. Sementara itu, Satria dan Naira masih berdiri diam selama beberapa saat di area parkir luar yang mulai diterpa angin malam.

"Hari ini benar-benar sangat melelahkan ya, Mas," ucap Naira sembari mengembuskan napas panjang, merapikan tas selempangnya.

"Iya, cukup menguras tenaga," aku Satria jujur.

"Tapi..." Naira menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menoleh memandang Satria dengan senyuman paling cerah yang ia miliki malam itu. "...hari ini rasanya sangat menyenangkan."

Satria terpaku menatap senyuman itu, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya ikut setuju. "Iya. Saya juga berpikir hal yang sama."

Untuk pertama kalinya sejak awal perjodohan ini dimulai, tidak ada lagi rasa canggung yang mencekik atau kecemasan yang menguasai di antara interaksi mereka. Yang tersisa di area parkir malam itu hanyalah sebuah rasa nyaman yang mulai tumbuh subur, sedikit demi sedikit, seiring dengan waktu yang telah mereka habiskan bersama sepanjang hari.

Dan tanpa pernah mereka sadari sepenuhnya... hari minggu ini bukan hanya sekadar tentang urusan memilih baju pengantin, seserahan, mahar, atau tema dekorasi pelaminan belaka. Melainkan, menjadi hari di mana dua hati yang awalnya asing itu perlahan-lahan mulai saling memilih satu sama lain.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!