Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Langkah Menuju Kehidupan Baru
Hari-hari pertama sebagai pasangan suami istri terasa begitu damai bagi Laras dan Daffa. Mereka tidak terburu-buru untuk segera pindah ke tempat yang jauh, melainkan menyempatkan waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua dan kakek terlebih dahulu. Setiap pagi mereka selalu bangun lebih awal untuk membantu segala keperluan rumah, serta meluangkan waktu untuk berbincang dan mendengarkan nasihat-nasihat berharga dari orang tua mereka.
Suatu pagi saat sedang duduk bersama di beranda, Arga Muda menyampaikan sesuatu yang telah lama ia rencanakan.
“Kalian berdua telah membuktikan bahwa kalian mampu memikul tanggung jawab dengan baik. Sekarang saatnya kalian membangun kehidupan baru sesuai dengan apa yang kalian cita-citakan. Jangan ragu untuk pergi dan menata masa depan kalian sendiri, asalkan jangan pernah lupa jalan pulang ke sini.”
Daffa dan Laras saling berpandangan, lalu tersenyum penuh rasa terima kasih.
“Terima kasih atas kepercayaan dan pengertian Kakek serta Ayah Ibu. Kami akan selalu ingat nasihat itu,” ucap Daffa dengan tulus.
Beberapa hari kemudian, mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari kediaman Pratama, namun memiliki suasana yang tenang dan cukup luas untuk Sari juga. Rumah itu tidak dibangun dengan kemewahan yang berlebihan, melainkan dihias dengan penuh kasih sayang dan kesederhanaan yang menyenangkan hati.
Laras dengan senang hati mengatur setiap sudut rumah itu. Ia meletakkan buku kenangan leluhurnya di rak yang paling terlihat, agar selalu menjadi pengingat bagi mereka berdua. Sedangkan Daffa menyiapkan ruang khusus untuk Sari, lengkap dengan buku-buku dan tempat bermain yang nyaman, agar adiknya bisa tumbuh dengan gembira meski sudah tidak memiliki orang tua lagi.
“Rumah ini terasa begitu hangat, Kak. Terima kasih sudah memberikan tempat yang seindah ini untukku juga,” ucap Sari sambil tersenyum lebar saat melihat kamarnya yang baru.
“Ini juga rumahmu, Sari. Kita adalah satu keluarga, jadi semuanya milik kita bersama,” jawab Laras lembut sambil mengusap kepala gadis kecil itu.
Daffa pun kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya, namun kini ia tidak lagi bekerja sendirian dalam kesulitan. Ia memiliki Laras yang selalu mendukung setiap langkahnya, memberikan saran yang bijak, dan menjadi tempat pulang yang paling nyaman saat ia merasa lelah. Kadang Laras juga ikut membantunya dalam mengurus kegiatan bakti sosial yang dilakukan perusahaannya, sehingga kebaikan yang mereka lakukan semakin luas dirasakan oleh orang banyak.
Namun di tengah kesibukan mereka, mereka tidak pernah melupakan satu hal: meluangkan waktu khusus untuk saling berbicara dan berbagi perasaan. Setiap sore sebelum matahari terbenam, mereka selalu duduk bersama di halaman rumah, menceritakan apa saja yang mereka alami hari itu, baik yang menyenangkan maupun yang membutuhkan pendapat bersama.
“Dulu aku berpikir pernikahan hanyalah tentang menyatukan dua kehidupan,” ucap Laras suatu sore sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Tapi ternyata lebih dari itu. Ini tentang saling melengkapi apa yang kurang pada diri masing-masing.”
Daffa menggenggam tangan istrinya erat. “Benar. Tanpa kehadiranmu, mungkin aku tidak akan pernah sekuat ini. Kau adalah bagian terpenting dari segala keberhasilan yang aku raih sekarang.”
Kehidupan mereka berjalan tenang namun penuh makna. Tidak ada lagi kesedihan yang menyelimuti hati seperti dulu, hanya ada rasa syukur yang tumbuh setiap hari. Namun mereka juga sadar, bahwa kehidupan masih memiliki banyak hal yang akan datang, dan mereka siap menghadapinya bersama dengan hati yang lapang.
(Bersambung ke Bab 36) ✨