NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis

​Sisa-sisa ketegangan emosional pasca-pengusiran Kinara dan Heyden masih menggantung pekat di dalam ruang tengah lantai satu rumah mewah Menteng. Pijar kuning dari lampu gantung bergaya industrial memproyeksikan bayangan-bayangan kaku yang panjang di atas lantai marmer kelabu. Keheningan yang hampa dan sunyi merayap begitu cepat, membelenggu dua insan yang masih berdiri membisu di dekat meja konter dapur. Sisa aroma hujan badai yang mendinginkan aspal di luar jendela berpadu samar dengan keharuman teh melati hangat yang mulai mendingin di atas meja.

​Kyle Ernest berdiri mematung di tengah ruangan. Punggung tegapnya tampak sedikit bergetar, memikul beban berat dari runtuhnya ilusi keindahan cinta masa lalu yang malam ini dihancurkan tanpa sisa oleh kelicikan Kinara. Sepasang mata kelabunya yang biasa memancarkan aura es kini meredup, menyisakan kerapuhan mendalam yang coba ia sembunyikan di balik kepalan tangannya yang mengeras di saku celana. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Nadine Lavena yang sedang merapikan celemek masak katun putihnya dengan gerakan yang luar biasa tenang.

​"Mengapa kamu tidak menunjukkan reaksi panik, marah, atau mencoba menjelaskan dirimu saat pria berandalan itu menerobos masuk dan mencoba menyentuh tubuhmu secara paksa tadi, Nadine?"

​Suara berat itu terdengar sangat rendah dan serak, menyiratkan ego seorang pria berkuasa yang mendadak terusik oleh ketidakhadiran kepanikan dari wanita di hadapannya.

​Nadine menghentikan gerakan tangannya pada tali celemek, melipatnya dengan presisi sebelum meletakkannya di atas meja konter. Ia mendongak, membalas tatapan Kyle dengan sepasang mata indahnya yang memancarkan ketenangan mutlak tanpa ada sedikit pun riak emosi sentimentil di dalamnya.

​"Tuan Ernest yang terhormat, saya adalah seorang wanita yang selalu mengedepankan logika berpikir yang rasional dan efisiensi tindakan profesional di dalam kehidupan harian saya. Sejak awal mula saya mengendus adanya indikasi konspirasi kelicikan murah yang direncanakan oleh wanita tulus Anda dan mantan tunangan saya melalui sadapan frekuensi telepon kemarin, alokasi energi saya tidak saya gunakan untuk melakukan tindakan dramatis yang tidak berguna seperti menangis atau berteriak ketakutan."

​Kyle melangkah maju dua tindak mendekati posisi Nadine. Aura mengintimidasinya kembali merayap keluar, namun kali ini bercampur dengan rasa frustrasi yang kental melihat betapa kokohnya dinding es ketidakpedulian yang melingkupi tubuh Nadine.

​"Kamu sudah mengetahui seluruh rencana jebakan fitnah itu sejak kemarin malam, Nadine? Dan kamu sengaja membiarkan pria kotor itu masuk ke dalam rumah pernikahan kita hanya demi bisa menggunakan sistem kamera keamanan untuk membalikkan perangkap mereka dan menghancurkan posisi Kinara di depan mataku secara telak?"

​Nadine menarik sudut kirinya ke atas, menampilkan seulas senyuman tipis yang sarat akan kecerdikan tingkat tinggi di sela-sela wajah anggunnya.

​"Tentu saja, Pak Kyle. Metode serangan balik yang memanfaatkan energi ofensif dari pihak lawan untuk menghancurkan diri mereka sendiri secara legal di depan mata hukum adalah sebuah strategi bisnis yang teramat efisien dan bersih tanpa perlu mengotori tangan saya sendiri. Saya melakukan semua tindakan taktis itu murni untuk melindungi reputasi nama baik saya dan mengamankan keberlangsungan hak saldo rekening tabungan harian saya sebesar seratus juta rupiah yang tertera dengan jelas di pasal kedelapan kontrak pernikahan kita agar tidak terganggu oleh fitnah murahan dari wanita ular Anda itu."

​Mendengar penuturan yang begitu dingin, kalkulatif, dan murni transaksional dari bibir Nadine, dinding keangkuhan di dalam dada Kyle rasanya mendadak mengalami keretakan yang hebat untuk pertama kalinya. Pria itu menatap Nadine dengan tatapan yang dipenuhi perpaduan rasa frustrasi, kekesalan mendalam, sekaligus ketertarikan emosional yang kian membara yang tidak bisa lagi ia sangkal di dalam hatinya yang paling dalam.

​Kyle menyadari dengan sangat pahit malam itu bahwa Nadine benar-benar menganggap dirinya, ketampanan fisiknya yang dikagumi banyak wanita, dan kekuasaan besarnya di Ernest Group murni sebagai bagian dari mitra bisnis di atas kertas kontrak yang tidak bernilai sentimental sedikit pun.

​Atmosfer ketenangan semu yang selama dua bulan ini menyelimuti rumah mewah Menteng akhirnya runtuh sepenuhnya secara total pasca-insiden tersebut. Kehadiran Kinara yang awalnya menempati kamar tamu lantai bawah memang telah lenyap dari pekarangan rumah, namun dampak kerusakan emosional dan gejolak posesifitas yang tersulut di dalam dada Kyle Ernest justru memicu sebuah badai konflik baru yang jauh lebih intim dan berbahaya di antara dirinya dan Nadine.

​Puncaknya terjadi pada suatu sore hari yang mendung, tepat tiga hari setelah pengusiran kotor tersebut. Nadine baru saja melangkah memasuki lobi utama rumah setelah menghabiskan waktu luangnya di luar untuk berbelanja beberapa keperluan bahan makanan segar untuk hidangan makan malam. Kantong kertas cokelat berisi sayuran segar, beberapa ikat daun basil, dan buah-buahan digenggamnya erat.

​Suasana di dalam rumah besar itu terasa teramat sunyi seperti biasa, namun intuisi ketajaman Nadine mendadak merasakan ada getaran atmosfer yang salah di lantai dua. Aroma kayu manis dan pinus dari pembersih lantai yang biasa menenangkan hatinya kini tertutup oleh kehadiran sesuatu yang melanggar batas aturan main mereka.

​Nadine berjalan menaiki anak tangga marmer satu demi satu dengan langkah kaki yang tenang menuju sayap bagian barat lantai dua untuk meletakkan kantong kertas belanjaannya di kamar tidur pribadinya. Namun, begitu langkah kakinya tiba di koridor depan kamarnya, sepasang mata indah milik Nadine mendadak menajam dengan sangat dingin.

​Daun pintu kayu jati ruang pribadinya berada dalam kondisi terbuka lebar. Seberkas aroma harum maskulin yang sangat pekat dari parfum wood and amber milik Kyle menguar kuat dari arah dalam kamar.

​Nadine mendorong pintu kamarnya perlahan tanpa menimbulkan suara berisik. Pemandangan visual yang terpampang nyata di dalam ruangan seketika membuat seluruh otot tubuh anggunnya menegang kaku dipenuhi penekanan amarah logika yang luar biasa hebat.

​Di atas permukaan seprai sutra abu-abu mewah miliknya sebuah wilayah privasi mutlak dan suci yang dilindungi secara hukum kontrak oleh keberadaan pasal ketiga perjanjian mereka Kyle Ernest sedang duduk bersandar di tepi ranjang dengan postur tubuh maskulinnya yang tegap, membelakangi arah pintu masuk. Pria itu tampak mengenakan pakaian rumah santainya, namun sepasang mata tajam kelabunya sedang menatap lurus ke arah beberapa berkas dokumen pribadi milik Nadine yang tergeletak di atas meja rias dengan pandangan posesif yang teramat kental.

​{Pasal ketiga kontrak: Kamar tidur masing-masing merupakan ruang pribadi yang memiliki privasi penuh dan dilarang keras dimasuki tanpa izin pemilik kamar! Dan sekarang... Anda dengan berani melangkah masuk dan mengotori batas suci ruang istirahat saya dengan keangkuhan posesif Anda, Tuan Ernest?!}

​Sifat dasar Nadine yang teramat tegas, keras kepala, dan sama sekali tidak suka dilanggar wilayah batasannya oleh siapa pun seketika bangkit memuncak sepenuhnya di dalam dadanya. Wanita berparas unik itu melangkah masuk ke dalam kamar dengan ketukan langkah sepatu hak tingginya yang sengaja diperkeras di atas lantai, menimbulkan bunyi dentuman yang memotong keheningan ruangan dalam sekejap.

​Tak! Tak! Tak!

​"Anda secara sadar telah melakukan tindakan pelanggaran hukum wanprestasi tingkat tinggi terhadap kesepakatan pasal ketiga kontrak pernikahan kita sore ini, Tuan Ernest yang terhormat. Silakan angkat kaki kotor Anda dari atas permukaan tempat tidur pribadi saya dalam waktu tiga detik sebelum saya melayangkan tuntutan denda kompensasi pelanggaran privasi tambahan ke meja sekretaris Anda."

​Suara Nadine terdengar sangat datar, dingin sedingin es utara, memancarkan ketegasan mutlak tanpa ada rasa takut sedikit pun terhadap otoritas besar Kyle.

​Kyle membalikkan tubuh tegapnya dengan perlahan. Ia berdiri menjulang tepat di hadapan Nadine dengan sepasang mata kelabunya yang memancarkan kilat rasa frustrasi, obsesi posesif yang kian membara, dan keangkuhan pria tsundere yang sudah tidak mampu lagi menahan sekat emosinya yang retak sejak insiden kemarin. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Nadine dari jarak yang sangat dekat, mengunci pergerakan wanita itu dengan aura intimidasinya yang teramat pekat.

​"Aku tidak peduli lagi dengan aturan konyol di dalam pasal ketiga atau seluruh lembaran kertas kontrak pernikahan sialan itu sore ini, Nadine Lavena!"

​Suara berat Kyle terdengar rendah, bergetar hebat dipenuhi gejolak emosi posesifitas mutlak yang meluap-luap dari dalam dadanya. Pria es itu memajukan tubuh maskulinnya, menantang batas kenyamanan Nadine hingga hembusan napas hangatnya menyentuh permukaan kulit dahi Nadine.

​"Rumah megah ini adalah milikku, dan seluruh ruang di bawah atap ini berada di bawah otoritas kekuasaanku! Aku sudah muak melihat ketidakpedulianmu yang menganggap diriku murni sebatas partner bisnis berbayar seratus juta sebulan! Aku adalah suamimu yang sah secara hukum, Nadine! Dan mulai sore ini... aku yang akan menentukan di mana batas ruang tidurku berada di dalam rumah ini!"

​Konflik utama yang sesungguhnya di antara sepasang manusia yang sama-sama memiliki hati sedingin es dan keras kepala itu akhirnya resmi meledak sepenuhnya di dalam kamar tidur lantai dua. Nadine menatap wajah tampan Kyle dengan senyuman cerdiknya yang teramat dingin dan tajam, berdiri tegak tanpa mundur satu inci pun. Ia siap menggunakan seluruh kecerdikan dan kelicikan otaknya untuk melawan balik keangkuhan posesif pria es tersebut tanpa ada niat untuk mengalah satu inci pun dalam permainan papan catur takdir mereka yang kini semakin rumit dan berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!