NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

cerita sedang bermasalah, tidak bisa dibaca dulu
------

Lucy seorang Dewi rubah melarikan diri dari hukuman sang dewa pertama. dengan mengubah kucing nya menjadi sebuah sistem untuk membantu pelariannya. dunia yang berbeda-beda dan tujuan yang juga berbeda-beda. sang Dewi lebih mementingkan inti jiwa mereka dan tidak peduli apakah mereka laki-laki atau perempuan. (tidak ada unsur LGBT)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewi Rubah Membuat Ulah

Ruangan itu memancarkan kemegahan yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh istana raja manusia mana pun. Tujuh singgasana menjulang membentuk setengah lingkaran, masing-masing dihuni oleh sosok dengan aura ilahi yang begitu kuat hingga udara di sekitarnya bergetar. Di tengah-tengah, berdiri seorang gadis berambut biru panjang tergerai hingga menyentuh lantai marmer putih bercahaya. Kesembilan ekornya dengan perpaduan warna biru dan putih bergerak-gerak gelisah, mencerminkan situasi yang sama sekali tidak nyaman.

Lucy, Dewi Rubah, berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya yang sebiru lautan menatap satu per satu saudara-saudaranya dengan ekspresi bosan yang nyaris tidak disembunyikan. Bukan pemandangan baru baginya. Sudah entah ke berapa kali dia dipanggil menghadap hanya karena laporan-laporan menyebalkan dari para pengamat alam manusia.

"Lucy," suara berat itu menggema, membuat seluruh ruangan berhenti bergetar sejenak.

Arkan, sang penguasa dunia dan dewa tertinggi, menatapnya dari singgasana tertinggi. Mata abu-abunya seperti badai yang siap menerjang. Rambut peraknya yang panjang diikat setengah ke belakang, menampilkan wajah tegas yang diukir oleh ribuan tahun kebijaksanaan sekaligus kekejaman.

Lucy mendesah pelan. "Ada apa lagi, Kakak Pertama? Aku sedang sibuk, tahu."

"Sibuk?" Suara Arkan kini mengandung nada yang lebih rendah, lebih berbahaya. "Sibuk bergaul dengan manusia laki-laki? Sibuk mengisap sensasi kehidupan mereka?"

Di singgasana kedua, kakak perempuan mereka yaitu Dewi Kecantikan menghela napas. Rambut emasnya berkilauan bahkan tanpa cahaya. "Lucy, kau tidak bisa terus seperti ini. Sudah tiga kali dalam satu bulan terakhir kau dilaporkan."

"Tiga kali?" Lucy mengangkat alis, bibirnya membentuk senyum kecil yang centil. "Kupikir lebih dari itu. Apa para pengamat itu kurang kerjaan sampai menghitung semua urusanku?"

Kakak ketiga, Dewi Keberuntungan, menutup mulutnya menahan tawa. Tapi begitu Arkan melirik, dia langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk memainkan untaian benang keberuntungan di tangannya.

Kakak keempat, Dewa Kesialan, hanya memutar bola matanya malas. Wajahnya yang dingin dengan rambut hitam legam tidak menunjukkan emosi apa pun. Gelas yang dari tadi dia ingin ambil selalu jatuh dan kadang terlempar.

Kakak kelima, Lucian sang Raja Neraka, dengan postur anggun bersayap hitam, menggeleng pelan.

Kakak keenam, Uriel sang Raja Surga, yang bersayap putih bersih, menghela napas panjang.

Sementara kakak ketujuh, Dewi Penyembuhan, sibuk menggerutu karena tanpa sengaja menjatuhkan cangkir tehnya sendiri.

Hanya kakak ketujuh yang menatap Lucy dengan kekhawatiran tulus. Tapi mulutnya tetap terkatup rapat. Tidak ada yang berani bicara ketika Arkan sudah mengeluarkan suara.

Di alam Dewa-dewi, hanya mereka yang memiliki kekuatan dahsyat yang memiliki nama. Nama itu diberikan saat mereka dilatih beberapa ribu tahun dan akan muncul sendiri.

"Kau tidak menyangkalnya," kata Arkan, lebih merupakan pernyataan daripada pertanyaan.

Lucy mengibaskan ekornya. "Kenapa aku harus menyangkal? Memangnya siapa yang dirugikan? Mereka para manusia laki-laki itu, mereka bahagia. Aku juga bahagia. Saling menguntungkan, bukan?"

"Harga dari 'kebahagiaan' itu adalah sensasi kehidupan mereka yang kau serap!" Suara Arkan meninggi, menyebabkan beberapa lilin ilahi di sudut ruangan padam seketika. "Kau tahu itu melanggar aturan! Interaksi dengan manusia boleh, tapi menyerap esensi kehidupan mereka untuk memuaskan kelaparanmu, itu sudah melampaui batas!"

Lucy memutar matanya — sebuah gerakan kecil yang sangat tidak sopan dan sangat sengaja dia lakukan. "Ah, jadi aturannya boleh main-main, tapi tidak boleh makan? Itu seperti menyuruhku memasak tapi tidak boleh mencicipi. Kejam sekali."

Dewi Kecantikan mendesis pelan. "Lucy, jagalah mulutmu."

"Apa? Aku hanya jujur." Lucy mengangkat bahu, gerakan yang membuat rambut birunya bergoyang anggun meskipun situasinya sama sekali tidak mendukung. "Lagipula, Kakak Pertama, kau sendiri yang memberiku sifat ini. Aku gabungan dari kalian. Aku membawa kecantikan dari Kakak Kedua, keberuntungan dari Kakak Ketiga, dan kesialan dari Kakak Keempat. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik pada manusia? Mereka makhluk yang paling menarik di seluruh ciptaan!"

"Itu bukan alasan."

"Lalu apa? Haruskah aku duduk diam di alam dewa-dewi sambil minum teh dan melihat bunga bermekaran? Membosankan." Lucy mendengus. "Aku bukan Uriel yang bisa betah berlama-lama di surga."

Uriel sang Raja Surga menghela napas panjang. "Aku tidak ikut campur dalam masalah ini, Lucy. Jangan menyeretku."

"Tentu saja kau tidak akan ikut campur." Lucy menatapnya dengan seringai kecil. "Kalian semua tidak pernah ikut campur. Kalian hanya akan duduk di sana, mengangguk-angguk seperti burung merpati, lalu memohon pada Kakak Pertama agar hukumannya tidak terlalu berat untukku. Itu pun kalau kalian berani bicara."

Keheningan menyelimuti ruangan. Perkataan Lucy terlalu tepat sasaran.

Arkan bangkit dari singgasananya. Gerakan itu sendiri sudah cukup untuk membuat lantai marmer bergetar. Langkahnya berat, terukur, saat dia berjalan mendekati Lucy. Dengan tinggi hampir dua meter, dia menjulang di atas tubuh mungil adik bungsunya.

"Lucy, Dewi Rubah," suaranya kini pelan, tapi setiap katanya menusuk seperti belati. "Karena pelanggaran berulang yang kau lakukan, aku menjatuhkan hukuman: kau akan dikurung di Kastil Penghukuman selama sepuluh abad waktu alam dewa-dewi."

Mata Lucy membelalak. Untuk pertama kalinya, ekspresi bosannya retak. "Sepuluh abad?! Itu... itu sama dengan seribu tahun waktu manusia! Aku bisa mati kebosanan di sana!"

"Itulah intinya," jawab Arkan dingin.

Lucy menoleh cepat ke arah saudara-saudaranya. "Kakak Ketujuh! Kakak Ketujuh, katakan sesuatu! Bukankah kau dewi penyembuhan? Sembuhkanlah sifat Kakak Pertama yang kejam ini!"

Dewi Penyembuhan membuka mulut, tapi di bawah tatapan tajam Arkan, kata-katanya lenyap. Dia hanya bisa menatap Lucy dengan iba dan menggeleng pelan.

"Kakak Kedua!" Lucy beralih. "Kita sama-sama cantik! Masa kau tega melihat aku terkurung? Nanti kulitku bisa kusam di tempat gelap!"

Dewi Kecantikan menghindari tatapannya, pura-pura memperbaiki lipatan gaun emasnya yang sebenarnya sudah sempurna.

"Kakak Ketiga! Aku bawakan keberuntungan untukmu, ingat? Tanpa aku, kau akan bosan!"

Dewi Keberuntungan menggigit bibir, air mata nyaris menetes, tapi dia tetap tidak bicara.

"Kakak Kelima! di alam neraka mu pasti lebih menarik dari kastil itu! Biarkan aku tinggal di alam nerakamu saja kalau begitu!"

Lucian sang Raja Neraka menatapnya datar. "Alam bukan tempat wisata, Lucy."

"Kakak Keenam, Uriel!"

"Aku akan mendoakanmu," jawab Uriel cepat, hampir seperti bergumam.

"Kakak Keempat! Ini semua salahmu! Kalau kau tidak memberiku sifat sial yang membuatku tidak bisa bertahan dari segala hal, sekarang aku benar-benar sial!!"

Dewa kesialan, yang baru saja berhasil mengambil cangkir tehnya, langsung menjatuhkannya lagi begitu mendengar tuduhan itu. "A-apa? Kenapa jadi salahku?!"

"SUDAH CUKUP!"

Bentakan Arkan membuat seluruh ruangan berguncang. Retakan kecil muncul di meja marmer di depannya. Kakak-kakak Lucy langsung membeku, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Arkan mengangkat tangannya. Dari bayangan di sudut ruangan, muncul seekor kucing hitam besar dengan mata kuning menyala. Kucing itu berjalan dengan anggun, ekornya terangkat tinggi, dan di lehernya tergantung sebuah liontin emas — tanda bahwa dia adalah kucing penjaga Kastil Penghukuman.

"Bawa dia," perintah Arkan.

Lucy menatap kucing itu, lalu kembali ke saudara-saudaranya. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Hanya tatapan iba dan doa-doa diam yang terpancar dari mereka. Bahkan dalam keheningan, Lucy bisa merasakannya — tatapan kakak-kakaknya yang hanya bisa berdoa untuk keselamatannya, tidak lebih.

Kucing penjaga itu melangkah mendekat dan, tanpa suara, memberi isyarat agar Lucy mengikutinya.

Dengan langkah gontai yang dibuat-buat dramatis, Lucy mengikuti kucing hitam itu keluar dari ruang pengadilan. Pintu besar di belakangnya tertutup dengan suara berat, meninggalkan enam dewa-dewi yang masih membeku di singgasana masing-masing.

Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang berani.

1
happjlyou
lanjut thorrr ceritanya ngga kalah menarikkkk setelah baca 2 novel yg lain
happjlyou
thor knp novel yang terlahir kembali menjadi miliarder blm up juga/Sob/pdhl udah tak tunggu tunggu dari idul adha kmarin huhuhu
happjlyou: okeyy thor, semangat yaa TKA nya semoga dapat nilai terbaik/Scream//Drool/
total 2 replies
shinobu
aku gak sampai gerti de sama alurnya ceritanya🤔🤔🤔
Liliana: maaf ya atas kesalahan cerita nya, terdapat kesalahan oleh author dan editor dalam pengiriman cerita. kemungkinan akan di muat ulang dan diperbaiki 🙏
total 1 replies
shinobu
jalan cerita sangat aneh de 🤔
Rio Armi Candra
ideeeeeeem... lagiiiiiiiii wooooy min

min... bangun woy.. ente kesurupan pisang goreng tepung tapioka ya 🤣🤣🤣
Rio Armi Candra
satu kata buat admin... ideeeeeeem.🤣🤣🤣.
ngopi napa min 🤣🤣🤣
Rio Armi Candra
yaaaahhh... admin nya ngantuk nich, bab nya di ulang dua kali..🤣🤣🤣🤭
Liliana: maaf ya, author nya ke kirim 2x😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!