Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Menara Kaca
Dengan tangan gemetar, papa Tasya membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan mutasi rekening digital dan jejak IP komputer internal bank mereka yang terhubung langsung dengan aliran dana ke perantara bernama Tony di distrik selatan. Bukti itu begitu teliti, bersih, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk mengelak.
Tasya melangkah mundur, matanya terbelalak menatap lembaran kertas yang menjadi vonis mati bagi kekuasaan finansial keluarganya. Pikiran Tasya seketika melayang pada sosok pelayan baru bernama Kirana—gadis yang kemarin menatapnya dengan ketenangan yang menakutkan. Apakah pelayan itu yang berada di balik semua ini?
"Mulai hari ini," Hendra melanjutkan tanpa ekspresi, "Seluruh saham Arseto Group di bank ini ditarik sepenuhnya. Kami juga telah mengambil alih hak pengelolaan aset logistik di sektor barat sebagai bentuk ganti rugi atas ketidaknyamanan di pelabuhan kemarin. Jika ada penolakan... Tuan Muda Adrian sendiri yang akan datang berkunjung ke rumah Anda malam ini."
Ancaman itu begitu halus namun mematikan. Menolak berarti mengundang iblis dunia bawah untuk datang dan meratakan seluruh sisa hidup mereka. Papa Tasya jatuh terduduk di kursi kebesarannya, menyadari bahwa ia telah kalah telak dalam permainan catur melawan sang penguasa baru keluarga Arseto.
---
Malam kembali turun menaungi Bukit Permai, membawa keheningan yang jauh lebih damai dibandingkan malam-malam sebelumnya. Badai besar telah berlalu, menyisakan kemenangan mutlak bagi Adrian dan konsolidasi kekuasaan yang semakin kokoh di tangannya.
Di dalam kamar utama lantai tiga, Adrian berdiri di depan jendela besar, menatap gemerlap lampu kota di bawahnya. Luka di rusuk dan bahunya hampir tidak terasa lagi, namun ada sesuatu yang lain yang kini terus mengusik pikirannya—sebuah kehadiran yang perlahan tapi pasti telah meruntuhkan dinding pertahanannya dari hari ke hari.
Pintu kamar terbuka pelan tanpa ketukan, sebuah kelancangan yang kini sudah menjadi hak istimewa yang tidak tertulis bagi satu orang saja di rumah ini.
Kirana masuk dengan membawa nampan berisi secangkir kopi jahe hangat. Seragam pelayannya tampak sangat rapi, dan wajah cantiknya memancarkan aura riang yang selalu berhasil mengusir kegelapan dari ruangan tersebut.
"Kopi jahe Anda, Tuan Muda Adrian," ujar Kirana dengan suara merdu, meletakkan cangkir di atas meja nakas. Ia tidak langsung mundur, melainkan berjalan mendekati Adrian dan berdiri tepat di samping pria itu, ikut menatap pemandangan kota.
Adrian tidak mengusirnya. Ia melirik Kirana dari sudut matanya, memperhatikan garis wajah gadis itu yang tampak begitu tenang di bawah temaram lampu kamar.
"Hendra baru saja kembali dari bank," ucap Adrian, suaranya rendah dan dalam. "Keluarga Tasya telah menyerahkan seluruh aset yang diminta tanpa perlawanan. Pengkhianatan mereka telah dipotong hingga ke akarnya."
"Itu berita yang bagus, Adrian," sahut Kirana lembut, menghilangkan sebutan 'Tuan Muda' untuk sesaat, sebuah keberanian murni yang membuat Adrian menoleh sepenuhnya ke arahnya.
Adrian membalikkan tubuhnya menghadap Kirana, menatap langsung ke dalam sepasang mata bulat yang cerdas itu. Dengan gerakan yang lambat namun penuh kepemilikan yang posesif, Adrian mengulurkan tangan kirinya, menyelipkan beberapa helai rambut Kirana ke belakang telinganya. Sentuhan jarinya yang hangat membuat Kirana sedikit menahan napas, namun matanya tetap mengunci pandangan Adrian tanpa ada rasa takut.
"Kau tahu, Kirana... tindakanmu beberapa hari ini telah mengubah banyak hal di rumah ini," ujar Adrian, suaranya bergetar tipis oleh emosi yang jujur. "Kau bukan lagi sekadar pelayan yang aku selamatkan di lorong gelap itu. Kau memiliki otak seorang penguasa dan keberanian yang sanggup mengimbangi kegelapanku."
Kirana tersenyum manis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang tulus dari lubuk hatinya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas dada bidang Adrian, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu selaras dengan detak jantungnya sendiri.
"Saya sudah mengatakannya pada Anda, Adrian," bisik Kirana, wajah cantiknya mendongak menatap sang penguasa dengan binar obsesi yang kuat. "Saya tidak takut pada kegelapan Anda, karena saya adalah wanita yang memilih untuk berjalan di dalamnya bersama Anda. Saya akan menjadi pelayan Anda di siang hari, dan menjadi sekutu terbaik Anda di malam hari untuk menguasai kota ini."
Adrian menatap bibir Kirana yang tersenyum menantang, dan kali ini, gengsinya yang setinggi langit akhirnya runtuh. Dengan gerakan yang tegas namun penuh kelembutan, Adrian menarik pinggang Kirana mendekat, mengunci gadis itu dalam pelukan posesifnya di bawah naungan langit malam Bukit Permai.