NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Aku rasa kita perlu istirahat sebentar," ucap Pak Baskoro tiba-tiba, memecah konsentrasi

Nadira.

"Rapat ini terlalu panas. Clarissa, kau dan Dinda, pergi ke ruangan sebelah dan

selesaikan masalah kalian. Kami tidak mau ada pertengkaran keluarga saat kami sedang

membahas uang."

Nadira mengangguk kaku, merasa lega sekaligus cemas dengan

perintah itu. Ia berdiri dan berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Dinda yang menatapnya dengan curiga.

Saat mereka berada di ruang tunggu yang sepi, Nadira segera meraih amplop di atas meja itu sebelum Dinda sempat melihatnya.

"Apa itu?" tanya Dinda tajam. "Ini urusanku dengan kakek," jawab Nadira cepat, menyembunyikan amplop itu di balik punggungnya.

Napasnya berat saat ia memegang amplop itu. Ini adalah kunci dari segalanya, atau

mungkin akhir dari segalanya. Ia harus memilih, membuka amplop itu sekarang dan

mengambil risiko, atau terus berpura-pura sampai rapat selesai. Namun, melihat tatapan Dinda yang seperti predator yang siap menerkam, Nadira tahu ia tidak punya banyak waktu.

Ia menarik napas panjang, membulatkan tekad. Ia harus tahu apa yang tertulis di dalam surat itu sebelum melangkah lebih jauh.

"Maafkan aku, kakek," bisiknya pelan. Ia segera bergerak menuju pintu ruang rapat, melangkah masuk kembali dengan tekad yang baru, siap menghadapi konsekuensi dari apa pun yang tertulis di atas kertas itu dan mengubah arah nasibnya selamanya.

Ruangan rapat yang luas itu tiba-tiba terasa sesak oleh aroma parfum mahal dan kopi

yang sudah dingin. Pintu kayu jati berukir itu didorong dari luar dengan satu tangan,

mengeluarkan bunyi berderit panjang yang sengaja dibiarkan terbuka lebar. Arus udara

dari koridor langsung masuk, mengusik tumpukan kertas di meja utama.

Seisi ruangan menoleh serentak, mata mereka melebar saat melihat sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruang yang penuh tekanan tersebut.

Suara gesekan sol sepatu kulitnya di atas lantai marmer terdengar sangat nyaring,

menembus keheningan peserta rapat yang tegang. Nadira, yang kini menduduki tubuh

Clarissa, berjalan melangkah mantap menuju ujung meja. Ia bisa merasakan gelombang

kebencian dan rasa heran yang menguar dari para anggota dewan direksi.

Beberapa dari mereka berbisik pelan, mengomentari keberanian wanita yang selama ini dianggap sebagai pengkhianat keluarga itu untuk muncul di depan umum.

Ia mengabaikan tatapan sinis yang tertuju padanya. Bahkan saat pria tua di sudut ruangan, Pak Baskoro, meludah pelan ke lantai sebagai tanda ejekan, Nadira tidak menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke depan, membiarkan punggungnya tetap tegak dan dagu terangkat sedikit.

Kehadiran sosok Clarissa selama ini memang selalu memicu skandal, tapi hari ini, Nadira datang dengan misi yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan reputasi.

Clarissa, atau Nadira di dalam tubuhnya, akhirnya duduk di kursi utama. Suara berderit dari kaki kursi besi itu memecah konsentrasi semua orang. Ia menyilangkan kaki dengan

angkuh, siku kirinya bersandar di meja, dan jari-jari panjangnya menepukkan ujung pulpen ke atas kertas putih. Postur ini biasanya dianggap sebagai arogansi khas Clarissa, tapi bagi Nadira, ini adalah perisai untuk menyembunyikan betapa cepatnya detak jantungnya saat ini.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan, menusuk tajam ke arah setiap orang yang berani menatapnya. Ia menatap Pak Baskoro lebih lama, hingga pria tua itu akhirnya memilih untuk menunduk dan memainkan manset kancing bajunya.

Suasana ruangan terasa mengental, seolah Nadira sengaja menahan napas semua orang hanya dengan kehadiran matanya. Ia ingin meruntuhkan mental lawan bicara sebelum pertarungan kata-kata dimulai, memastikan mereka tahu siapa yang memegang kendali atas warisan besar itu.

Ia berhenti tepat di depan kursi kosong yang biasanya diduduki oleh mendiang ayah

mereka. Menarik napas dalam-dalam, Nadira merasakan udara dingin masuk ke

paru-parunya. Ia mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu kencang sejak ia

membuka pintu tadi. Tangan kanannya gemetar sedikit di bawah meja, tapi ia segera

mengepalkannya kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Hari ini adalah panggung utamanya.

"Saya tahu apa yang ada di pikiran kalian semua," suara Nadira keluar, rendah namun

sangat jelas di telinga seluruh hadirin.

"Kalian berpikir saya hanya akan duduk di sini sambil menunggu dana warisan habis dan lari ke luar negeri." Ia berhenti sejenak, melihat reaksi wajah mereka yang mulai memerah karena tertahan amarah.

Hari ini, ia harus menunjukkan bahwa dirinya bukan lagi sosok yang mudah dipermainkan oleh siapa pun, terutama oleh kerabat yang hanya menginginkan uangnya. Keputusan telah diambil sejak malam sebelumnya, saat ia melihat dokumen-dokumen rahasia di brankas ayah tirinya.

Ia siap menghadapi segala risiko yang mungkin menghadang di depan mata, termasuk pengusiran atau gugatan hukum dari saudara-saudaranya. Nadira menatap tajam ke arah pintu ruang kerja yang tertutup di ujung sana, memastikan tidak ada satu pun orang suruhan Dinda yang bersembunyi untuk mengganggu fokusnya.

Ia akan memenangkan pertarungan ini dengan siasat yang tidak pernah terpikirkan oleh Dinda.

"Buka dokumen perjanjian warisan itu," perintah Nadira kepada sekretaris yang gemetar di sudut ruangan.

"Saya ingin membacanya sendiri, di depan kalian semua." Ia melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya, menghitung mundur waktu sebelum ledakan amarah dari saudara-saudaranya dimulai. Ini bukan lagi sekadar masalah harta, tapi tentang identitasnya yang harus bertahan hidup di dalam tubuh yang dibenci oleh semua

orang ini. Ia tidak akan mundur selangkah pun.

Dinda berdiri dari kursinya sebelum direktur utama sempat mempersilakan. Seringai tipis

yang biasa ia sembunyikan kini mengembang di bibirnya. Ia menyambar mikrofon dengan

gerakan tajam, jarinya hampir tersangkut kabel yang melilit di panggung. Ruangan rapat yang luas itu langsung terasa menyempit.

"Laporan ini indah di atas kertas," suara Dinda memotong keheningan, nadanya penuh

tuduhan.

"Tapi saya minta bukti nyata. Angka-angka ini terlalu rapi untuk perusahaan yang

sedang merugi." Ia menatap tajam ke arah Nadira, atau lebih tepatnya, ke arah tubuh

wanita jahat yang kini ditinggali Nadira.

Para pemegang saham di barisan depan mulai bergerak gelisah. Arga, yang duduk di

sebelah kiri, menegakkan punggungnya. Nadira merasakan telapak tangannya berkeringat dingin di balik kain sutra baju yang dikenakannya. Ia harus membalas, tapi otaknya sedang menyesuaikan diri dengan memori asing tentang angka-angka tersebut.

Clarissa tidak memberi jeda.

"Margin keuntungan di divisi utara naik lima puluh persen dalam sebulan? Siapa yang percaya?" tanya Dinda dengan nada mengejek.

"Atau mungkin ini hanya ilusi akuntansi untuk menutupi lubang yang kalian buat?" Bisikan di antara tamu undangan makin keras, menciptakan tekanan yang nyaris fisik di udara ruangan ber-AC itu.

Nadira menghela napas panjang dan pelan. Ia menatap mata Dinda yang berkilat ambisi.

Jika ia terbawa emosi, warisan dua ratus triliun itu akan hilang sebelum ia sempat

menyentuhnya. Ia menarik tangannya dari meja, membiarkan gelang berliannya beradu

pelan, menciptakan suara ritmis untuk menenangkan diri.

"Kamu pikir aku akan menaruh masa depan keluarga ini pada angka palsu, Dinda?"

Nadira akhirnya bicara. Suaranya rendah, namun jelas terdengar ke seluruh ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!