Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. kota tujuh bintang
Nova membuka kedua matanya sepenuhnya, tetapi selama beberapa detik ia hanya mampu menatap wajah Yun Xi yang berada begitu dekat dengannya. Gadis itu masih berlutut di samping tubuhnya dengan satu tangan menempel tepat di atas dada Nova, sementara tangan lainnya memegang sebuah jarum giok berwarna hijau yang memancarkan energi kehidupan sangat lembut.
Jarak wajah mereka bahkan tidak lebih dari satu lengan, cukup dekat hingga Nova dapat melihat dengan jelas bulu mata panjang Yun Xi yang sedikit bergetar karena terkejut. Entah karena baru saja sadar atau tubuhnya masih terlalu lemah, pikiran Nova mendadak kosong dan tidak mampu menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan situasi aneh tersebut.
Yun Xi juga tidak bergerak, keduanya hanya saling menatap.
Akhirnya, wajah Yun Xi perlahan memerah hingga ke telinganya. Gadis itu buru-buru menarik tangannya dari dada Nova, kemudian berdiri terlalu cepat hingga hampir kehilangan keseimbangan.
"K-Kau sudah sadar!"
Nova berkedip beberapa kali sebelum mencoba bangkit. "Sepertinya begitu."
Namun baru saja tubuhnya terangkat beberapa sentimeter, rasa lemah langsung menyebar dari dantiannya menuju seluruh anggota tubuh. Kedua lengannya kehilangan tenaga dan tubuhnya hampir kembali jatuh ke tanah, tetapi Yun Xi yang berada paling dekat dengannya secara refleks bergerak maju dan menangkap bahunya.
Akibatnya, Nova justru jatuh sedikit ke depan, wajahnya berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajah Yun Xi.
Mata gadis itu langsung membesar, Nova pun membeku. Di dalam lautan jiwa, Tian Long terdiam selama dua detik sebelum suara tawanya meledak begitu keras.
"Hahahahaha! Anak muda! Aku menarik kembali seluruh perkataanku sebelumnya! Sepertinya menghabiskan energi spiritual sampai pingsan merupakan teknik pendekatan wanita yang cukup hebat!"
Wajah Nova langsung memerah. "Kakek tua, sebaiknya kau diam!"
Yun Xi yang tidak mengetahui percakapan di dalam lautan jiwa Nova justru semakin bingung ketika melihat perubahan ekspresi pemuda itu.
"Kakek tua?"
Nova tersadar.
Ia segera berdeham kecil sebelum perlahan menjauhkan tubuhnya. "Tidak ada. Aku hanya... masih sedikit pusing."
Yun Xi menyipitkan matanya penuh kecurigaan. "Benarkah?"
"Benar."
"Kenapa wajahmu memerah?"
"Efek kehabisan energi spiritual."
Yun Xi terdiam beberapa saat.
Sebagai murid Sekte Bunga Akar Abadi yang memiliki pengetahuan luas tentang pengobatan, tentu saja ia mengetahui bahwa kehabisan energi spiritual sama sekali tidak menyebabkan wajah seseorang memerah seperti itu. Namun melihat Nova tetap mempertahankan ekspresi seriusnya, gadis itu akhirnya memilih tidak membongkar kebohongan tersebut.
"Hmph."
Ia mengeluarkan sebuah pil hijau muda dari cincin penyimpanannya dan menyerahkannya kepada Nova.
"Telan ini."
Nova menerima pil tersebut, beberapa saat ia menatap pil itu. Ada ribuan pil serupa di dalam gelang penyimpanannya bahkan tingkatannya lebih tinggi lagi. Meskipun begitu, ia tetap menerimanya.
"Pil Pemulih Meridian."
"Meridianmu mengalami tekanan cukup besar. Jika kau terus memaksakan diri seperti tadi, suatu hari nanti kau benar-benar akan menghancurkan jalur energimu sendiri."
Nada suara Yun Xi terdengar sedikit kesal, tetapi Nova dapat menangkap kekhawatiran tersembunyi di balik perkataannya.
Ia tersenyum kecil. "Terima kasih."
Yun Xi memalingkan wajahnya. "Aku hanya tidak ingin orang yang telah menyelamatkanku mati sebelum aku sempat membalas kebaikannya."
Dari kejauhan, Yan Mei yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya tidak mampu menahan diri.
"Ehem!"
Nova dan Yun Xi langsung menoleh.
Yan Mei berdiri bersama Lin Xue, Gu Shen, dan Qin Yu beberapa meter dari mereka. Gadis pemanah itu menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil memperlihatkan senyum aneh.
"Apakah kami boleh mendekat sekarang?"
Yun Xi mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada."
Yan Mei tersenyum semakin lebar. "Kami hanya takut mengganggu proses pemeriksaan yang sangat... dekat."
Wajah Yun Xi langsung memerah. "Yan Mei!"
"Hahahaha!"
Gu Shen tertawa keras hingga memegang perutnya.
Bahkan Qin Yu yang biasanya terlihat tenang menutup sebagian wajahnya dengan kipas giok, meskipun sudut bibirnya jelas terangkat. Lin Xue sendiri hanya menggelengkan kepala pelan sebelum berjalan mendekati Nova.
"Bagaimana keadaanmu?"
Nova mencoba merasakan kondisi tubuhnya. Pil yang diberikan Yun Xi telah mulai bekerja, mengalirkan energi hangat melalui meridian yang sebelumnya terasa panas dan nyeri meskipun hanya sedikit. Rune emas di dalam dantiannya juga masih berputar perlahan, terus menarik energi spiritual dari lingkungan tanpa perlu ia kendalikan.
"Masih terasa lemah."
Nova menghela napas.
"Tapi tidak ada luka serius."
Lin Xue terlihat sedikit lega. "Kita akan beristirahat di sini sampai besok pagi."
"Tidak perlu."
Nova menggelengkan kepala. "Kita sudah terlalu lama berada di lembah ini."
Tatapannya beralih menuju pilar batu kuno yang kembali tersegel. Meskipun aura mengerikan dari makhluk Era Kekacauan Kuno telah menghilang, ia tetap merasakan perasaan tidak nyaman setiap kali melihat pilar tersebut.
Pemimpin Lembah Iblis Hitam berhasil melarikan diri. Itu berarti keberadaan mereka telah diketahui.
Dan kemungkinan besar...
Musuh berikutnya akan jauh lebih siap.
"Kita pergi sekarang," ucap Nova.
Lin Xue ingin membantah, tetapi setelah melihat keseriusan di wajah Nova, ia akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah."
Rombongan segera meninggalkan lembah sebelum malam benar-benar turun. Karena kondisi Nova belum pulih sepenuhnya, kecepatan perjalanan mereka sedikit lebih lambat dibanding sebelumnya.
Yun Xi beberapa kali berjalan di dekat Nova dengan alasan ingin memastikan kondisi meridiannya tetap stabil, sesuatu yang tentu saja menjadi bahan tatapan penuh arti dari Yan Mei.
Setiap kali Yan Mei tersenyum aneh, Yun Xi akan langsung memelototinya. Namun hal itu justru membuat gadis tersebut semakin senang.
Nova sendiri memilih berpura-pura tidak melihat apa pun. Sementara Tian Long terus tertawa di dalam lautan jiwanya.
Tiga hari kemudian...
Sebuah dataran luas akhirnya terbentang di hadapan rombongan Nova.
Di ujung cakrawala berdiri sebuah kota raksasa yang ukurannya beberapa kali lebih besar dibanding Kota Yunfeng. Tujuh menara tinggi menjulang mengelilingi kota, masing-masing memiliki kristal berbentuk bintang di bagian puncaknya.
Cahaya dari ketujuh kristal tersebut saling terhubung di udara, membentuk sebuah formasi raksasa yang menyelimuti seluruh wilayah kota.
Nova menghentikan langkahnya.
"Jadi itu..."
Lin Xue tersenyum tipis. "Kota Tujuh bintang."
Yan Mei langsung mengangkat kedua tangannya dengan penuh semangat. "Akhirnya! Aku ingin mandi dengan benar dan tidur di atas tempat tidur!"
Gu Shen meliriknya. "Bukankah kau mandi di kolam spiritual beberapa hari lalu?"
Yan Mei langsung menendang kakinya.
"Aduh!"
"Diam!"
Nova tertawa kecil melihat pertengkaran mereka.
Namun Yun Xi yang berdiri di sampingnya justru menunjukkan ekspresi berbeda. Tatapannya tertuju kepada tujuh menara yang mengelilingi Kota Bintang Tujuh.
"Aneh..."
Nova menoleh. "Ada apa?"
Yun Xi tidak langsung menjawab.
Ia mengangkat tangan kanannya dan membentuk segel kecil. Cahaya hijau zamrud muncul di ujung jarinya sebelum berubah menjadi seekor kupu-kupu energi.
Kupu-kupu itu terbang menuju Kota Tujuh bintang.
Namun baru beberapa ratus meter...
Puff!
Kupu-kupu energi tersebut hancur, ekspresi Yun Xi langsung berubah.
"Formasi kota menolak teknik pelacak."
Lin Xue mengerutkan kening. "Bukankah itu normal?"
Yun Xi menggelengkan kepala. "Tidak."
"Teknik Kupu-Kupu Roh milik Sekte Bunga Akar Abadi bukan teknik berbahaya. Hampir seluruh kota besar di wilayah barat mengizinkannya melewati formasi pertahanan."
Ia menatap Kota Bintang Tujuh dengan serius.
"Kecuali..."
"...kota sedang berada dalam keadaan tertutup."
Suasana rombongan langsung berubah, Gu Shen menggenggam tombaknya.
"Tertutup?"
Qin Yu membuka kipas gioknya perlahan. "Tetapi gerbang kota masih terbuka."
Semua orang menatap ke depan.
Benar.
Gerbang Kota Tujuh bintang terbuka lebar, ratusan kultivator terlihat keluar masuk seperti biasa. Pedagang, pengembara, bahkan kereta binatang spiritual terus melewati gerbang tanpa hambatan.
Semuanya terlihat normal.
Nova menyipitkan mata. "Kakek tua."
Tidak ada jawaban, Nova sedikit mengernyit.
"Tian Long?"
Tetap tidak ada jawaban, perasaan buruk langsung muncul di dalam hatinya.
Sejak meninggalkan lembah, Tian Long hampir tidak pernah berhenti berbicara atau mengejeknya. Namun sekarang naga kuno itu mendadak diam.
Nova memusatkan kesadarannya ke lautan jiwa.
Di sana... Tian Long berdiri dalam wujud manusianya, wajah lelaki tua itu sangat serius.
Sepasang matanya menatap lurus menuju Kota Bintang Tujuh melalui pandangan Nova.
"Aku mengenali aura ini."
Nova terdiam. "Aura apa?"
Tian Long tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar berat.
"Aura kematian."
Nova membeku. Di dunia luar, Lin Xue mulai berjalan menuju gerbang kota.
"Ayo."
Namun Nova langsung mengangkat tangannya.
"Tunggu."
Semua orang berhenti, Nova menatap Kota Tujuh bintang.
Rune emas di dalam dantiannya tiba-tiba berputar lebih cepat.
Wuuung...
Tanpa sadar, cahaya keemasan sangat tipis muncul di kedua mata Nova. Dan saat itulah...
Pemandangan di hadapannya berubah, para pedagang yang berjalan menuju gerbang masih tersenyum.
Para kultivator masih berbicara, kereta binatang spiritual masih bergerak. Namun di bawah cahaya keemasan mata Nova...
Tidak ada bayangan di bawah kaki mereka.
Jantung Nova berdegup keras.
"Kalian..."
Nova menggenggam Oceanus Crown Blade.
"...jangan masuk ke kota."
Yan Mei menatapnya bingung. "Kenapa?"
Nova tidak menjawab, tatapannya perlahan terangkat menuju salah satu menara Kota Tujuh bintang.
Di puncak menara ketujuh... berdiri seorang pria berjubah hitam. Wajahnya tertutup topeng. Namun Nova langsung mengenali sosok tersebut.
Pemimpin Lembah Iblis Hitam yang melarikan diri.
Pria itu menatap Nova dari kejauhan. Kemudian...
Perlahan mengangkat tangannya, senyum dingin terlihat di balik topengnya.
"Selamat datang..."
Suaranya tiba-tiba menggema langsung di dalam kepala Nova.
"...di Kota Orang Mati."
Pada saat bersamaan, gerbang raksasa Kota Tujuh bintang menutup dengan suara menggelegar.
BUUUUUUM!
Dan ratusan kultivator yang sejak tadi berjalan di depan mereka... berhenti secara bersamaan. Ratusan kepala perlahan berputar, menghadap Nova dan rombongannya dengan senyum yang sama.