Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Sudah 3 hari ini Arka dirawat di rumah sakit. Kemarin saat Zea tanya pada Dokter yang melakukan kunjungan, katanya jika hari ini tak ada keluhan apapun, siang hari Arka sudah boleh pulang.
Sejak Arka dirawat, Naka tak pernah meninggalkan rumah sakit dalam waktu yang lama, kalau pergi pun, selalunya ada Rizal atau Vira yang menemaninya disini, membuat ia serasa tak bisa berkutik, diawasi terus.
"Bu, Ibu," Arka menepuk lengan Ibunya saat wanita yang duduk di sebelahnya itu tak kunjung menyahut saat dipanggil.
"I, iya, Nak," Zea yang sedang melamun terperangah. "Ada apa?"
"Hari ini aku udah boleh pulang ya, Bu?"
"InsyaAllah."
"Yey!!" Arka terlihat girang. "Apa kita langsung pulang ke rumah, Bu? Aku ingin sekolah."
"Iya, kita langsung pulang," Zea melirik Naka yang duduk di sofa, tampak sibuk dengan laptopnya. Ia perhatikan sejak beberapa jam yang lalu, Naka begitu fokus pada laptopnya, mungkin sedang bekerja.
"Bu, apa nanti kita pulang diantar Om Bos pakai mobil?"
Zea tersenyum kecut, "Entahlah," ia mengedikkan bahu.
"Om Bos, Om Bos," panggil Arka.
"Arka, shutt!" Zea menempelkan telunjuk di bibir.
"Iya Arka, ada apa?" tanya Naka, mengalihkan pandangan dari leptop pada Arka.
Zea kembali mengisyaratkan Arka untuk diam. Ia tak mau Arka membahas soal kepulangan dengan Naka. Ia sudah merencanakan pulang diam-diam.
Melihat isyarat Ibunya, Arka jadi ragu untuk bicara.
"Ada apa, Arka?" Naka kembali bertanya. "Mau sesuatu?"
"Eng, enggak, gak jadi," Arka menunduk, pura-pura sibuk dengan mainan robot-robotan yang kemarin dibelikan Vira.
Naka yang tadi sempat melihat Zea memberi isyarat pada Arka untuk diam, meletakkan laptop ke atas sofa, beranjak mendekati Arka. "Ada apa?"
"Gak ada apa-apa," Zea yang menyahuti.
"Arka," Naka mengusap puncak kepala Arka. "Bohong dosa gak?"
Arka mengangguk pelan.
"Ada apa?" Naka kembali bertanya untuk kesekian kalinya.
"Gak ada apa-apa," sahut Zea cepat dengan ekspresi kesal karena Naka terkesan memaksa.
"Aku nanya Arka," Naka ikutan menatap Zea kesal.
"Kata Ibu, nanti aku udah boleh pulang," ujar Arka pelan. "Apa nanti Om Bos akan nganterin aku dan Ibu pulang ke Jombang, pakai mobil?"
Naka melirik Zea, memperhatikan wajah kesal wanita itu.
"Sementara, kamu dan Ibu kamu tinggal di apartemen Om dulu aja."
"Enggak!" sahut Zea cepat, bangkit dari duduknya, menatap Naka tajam. "Arka sudah bolos lama, dia harus sekolah. Kami akan pulang malam nanti, dengan bus."
"Aku bilang disini ya disini!" Naka tak mau kalah.
"Aku bilang enggak ya enggak."
"Disini"
"Enggak."
Naka mencengkeram lengan Zea, berbisik di telinganya. "Aku sedang menunggu hasil tes DNA."
Mata Zea langsung membulat sempurna, mulutnya menganga. Sementara Arka, anak itu penasaran dengan apa yang dibisikkan Naka pada ibunya.
"Sebelum hasilnya keluar, kalian gak boleh kemana-mana. Ingat Ze, kalau terbukti Arka anakku, mau kamu sembunyi di bulan atau di Mars, tetap aku kejar."
"Gak usah ngancem!" Zea menarik lengannya kasar, membuang nafas berat lalu kembali duduk di tempat semula, kursi yang ada di sebelah ranjang Arka.
Arka bingung, Ibunya dan Naka terlihat seperti orang yang sedang bertengkar, namun ia tak tahu apa yang mereka perdebatkan.
Naka kembali ke sofa, menjatuhkan bobot tubuhnya disana. Mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya untuk melihat jam. Dokter bilang, siang ini hasil tes DNA keluar.
"Bu, kita jadi pulang gak?" Arka kembali memastikan. Namun bukan jawaban yang dia dapat, melainkan ibunya yang tengah melamun, terlihat gelisah. "Bu, kita jadi pulang gak?" tanyanya agak keras.
"Enggak!" Bukan Zea, tapi Naka yang menjawab. "Arka dan Ibu sementara tetap di Jakarta."
Zea meremat celananya, bingung harus dengan cara apa lepas dari Naka. Kemarin Naka bilang dia mau menikah, bukan cemburu, tapi takut Naka mengambil Arka untuk dirawat dengan istrinya.
Melihat pesan dari petugas lab, Naka langsung bangkit dari duduknya. Ternyata hasilnya keluar lebih cepat dari perkiraan siang nanti. "Aku mau keluar sebentar. Gak usah ada niatan untuk kabur, percuma." Ia keluar setelah memberikan ancaman.
Dengan langkah panjang, Naka bejalan menuju tempat pengambilan hasil tes DNA. Sepanjang jalan, jantungnya berdebar kencang. Ia bukan tipe penyayang anak-anak, tapi entah kenapa, rasanya beda saja saat dengan Arka. Ia menyayangi anak itu. Mungkinkah itu adalah ikatan batin seorang ayah dan anak?
Di ruang rawat, Zea mondar-mandir tak jelas, gelisah memikirkan apa yang akan dilakukan Naka saat status Arka terbongkar. Ingin kabur, sepertinya tak mungkin, Naka pasti sudah menyuruh seseorang mengawasinya di luar.
"Ibu kenapa?" tanya Arka yang bingung melihat ibunya mondar-mandir.
"Gak papa, Nak," Zea mengulum senyum, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Arka.
Ceklek
Jantung Zea rasanya mau melompat mendengar suara pintu dibuka. Mungkinkah itu adalah Naka yang membawa hasil tes DNA.
"Pagi Arka."
Zea bernafas lega melihat Dokter dan Suster yang masuk.
"Gimana badannya Arka, sudah enak? Udah gak ada yang sakit?" tanya Dokter sambil memeriksa dada Arka dengan stetoskop.
"Dok, apa anak saya sudah boleh pulang?" Zea tampak yak sabaran.
"Boleh kalau sudah ingin pulang, kondisi Arka insyaallah sudah bagus." Ia lalu meminta suster melepas infus Arka.
"Silakan urus administrasi di depan ya, Bu. Setelah itu, adek Arka sudah boleh pulang," Suster menjelaskan.
"I, iya." Ekspresi wajah Zea langsung keruh mendengar kata administrasi.
Setelah Dokter dan Suster pamit, Zea memikirkan apa yang harus dia gunakan untuk membayar administrasi. Namun saat masih belum mendapatkan solusi, Naka sudah datang. Laki-laki yang terlihat emosi itu, mendekati, lalu menarik lengannya menjauhi ranjang.
"Jelaskan ini!" sentaknya. Menarik tangan Zea, meletakkan hasil tes DNA di atas telapak tangannya.
pasti sulit bagi zea membuat keputusan....
di tukar teflon?
emak2 emang gitu naka.....