Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Maut Sang Penculik
Deru mesin mobil van abu-abu kusam itu perlahan-lahan meredup, digantikan oleh suara deburan ombak laut yang menghantam dinding-dinding beton dermaga tua yang sudah telantar bertahun-tahun. Kawasan pelabuhan mati di wilayah ujung timur kota ini adalah distrik tak bertuan yang dipenuhi oleh gudang-gudang kontainer kosong berkarat, tempat yang sangat sempurna untuk menyembunyikan sebuah kejahatan dari radar pihak berwajib.
Di dalam salah satu gudang tua berkosong dengan atap seng yang bocor, Keyra perlahan-lahan mulai membuka sepasang kelopak matanya yang terasa luar biasa berat. Efek samping dari obat bius kloroform dosis tinggi membuat kepalanya terasa berdenyut sangat hebat, pandangan matanya masih sedikit buram, dan tenggorokannya terasa teramat kering bagai terbakar.
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, Keyra tersentak kaget. Ia menyadari bahwa tubuh rampingnya saat ini tengah terduduk di atas sebuah kursi kayu tua, dengan kedua tangan dan pergelangan kakinya yang terikat sangat erat menggunakan tali tambang rami yang kasar. Setiap kali ia mencoba bergerak, tali itu langsung bergesek tajam, menggores kulit pergelangan tangannya hingga memerah pedih.
"Ah... kamu akhirnya bangun juga, Keyra," sebuah suara pria yang sangat familier terdengar dari arah kegelapan sudut gudang.
Keyra mendongak dengan napas yang memburu cepat. Dari balik bayang-bayang pilar beton, langkah kaki sepatu pantofel yang berdebu melangkah maju mendekatinya. Sosok itu adalah Arkan Kenneth. Pria itu berdiri di hadapan Keyra sembari menggenggam sebuah ponsel pintar di tangan kanannya. Wajah tampan Arkan yang biasanya selalu tampak rapi dan berwibawa kini terlihat sangat kuyu, acak-acakan, dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kegilaan dan keputusasaan yang mendalam.
"Arkan...?" bisik Keyra, suaranya terdengar serak dan bergetar hebat. "Apa-apaan ini?! Jadi... kamu yang menyuruh preman-preman itu untuk menculikku?!"
Arkan terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang terdengar sangat mengerikan di dalam kesunyian gudang kosong tersebut. Pria itu berlutut di hadapan Keyra, mencengkeram dagu ramping Keyra dengan jemari tangannya yang dingin, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang memerah.
"Aku tidak punya pilihan lain, Keyra! Ini semua salahmu dan suami barumu yang arogan itu!" bentak Arkan mendadak histeris, melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Keyra sedikit terlempar ke samping. "Gara-gara Devan Alister, seluruh aset Keluarga Kenneth disita! Ayahku sekarang membusuk di sel isolasi, dan namaku hancur total di dunia bisnis! Aku dikepung utang ratusan miliar rupiah! Jika aku tidak melakukan tindakan nekat ini, maka besok pagi aku yang akan diseret ke penjara!"
Keyra menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa muak dan iba yang mendalam. Pria di hadapannya ini benar-benar telah kehilangan seluruh akal sehat dan moralnya demi harta duniawi. "Kamu sudah gila, Arkan! Tindakanmu ini tidak akan menyelamatkan keluargamu, melainkan justru akan mempercepat kematianmu sendiri! Kamu tidak tahu seberapa mengerikannya Devan Alister jika dia mengamuk?!"
"Aku tahu betul seberapa kuatnya Devan Alister, Keyra! Justru karena aku tahu dia sangat mencintaimu secara gila-gilaan, makanya aku menjadikanmu sebagai kartu as terakhirku!" seru Arkan sembari berdiri tegak, membalikkan tubuhnya dan mulai menekan tombol panggilan video (video call) ke sebuah nomor kontak VIP yang sudah ia dapatkan dari jaringan distrik hitam.
Sementara itu, di dalam mobil limosin mewah yang tengah melesat membelah jalanan protokol kota dengan kecepatan di luar batas wajar, Devan Alister duduk di kursi belakang dengan tubuh yang tegang sempurna bagai tali busur yang siap lepas. Di kanan-kiri dan belakang mobilnya, barisan sepuluh mobil SUV hitam berisi ratusan pasukan elit Alister Group bergerak mengiringi jalurnya, memicu kepanikan massal di sepanjang jalan raya kota.
Wajah Devan tampak sangat dingin, sepasang mata elangnya berkilat merah pekat memancarkan aura membunuh yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Di tangannya, sebuah ponsel pintar khusus mendadak bergetar hebat dan mengeluarkan bunyi dering yang nyaring, memunculkan sebuah panggilan video dari nomor yang tidak dikenal.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Devan langsung menggeser layar dan menerima panggilan tersebut.
Layar ponsel itu seketika menampilkan visual interior sebuah gudang kosong yang remang-remang. Dan di sana, tepat di tengah layar, Devan bisa melihat dengan sangat jelas sosok Keyra yang sedang terikat erat di atas kursi kayu dengan wajah pucat dan sudut bibir yang tampak sedikit memar. Di samping Keyra, berdiri Arkan Kenneth yang tengah mengarahkan kamera ponsel sembari tersenyum miring penuh kemenangan.
Brak!!!
"Arkan Kenneth, keparat!!!" raung Devan Alister dengan suara baritonnya yang menggelegar dahsyat, mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga layar antigoresnya retak menjadi serpihan halus di bawah tekanan jemari kekarnya. Urat-urat di leher tegas Devan menegang sempurna, dan seluruh pasokan kewarasan di otaknya seketika putus lenyap melihat wanitanya disekap seperti itu. "Berani sekali tangan kotormu menyentuh seujung kuku pun dari tubuh istriku! Aku bersumpah demi nama Alister, aku akan memotong-motong kedua tanganmu dan memberi makan anjing jika kamu tidak melepaskannya sekarang juga!"
"Hahaha! Jangan berteriak mengancamku, Tuan CEO yang terhormat!" sahut Arkan dari seberang panggilan video, suaranya terdengar sangat puas bisa melihat seorang penguasa kota seperti Devan Alister bertekuk lutut dalam kepanikan di hadapannya. Arkan mendekatkan kamera ponselnya ke wajah Keyra, lalu meletakkan ujung pisau lipat kecil yang tajam tepat di depan urat leher jernih Keyra. "Sekarang, hidup dan mati ratumu berada sepenuhnya di dalam kendali tanganku, Devan! Jika kamu melakukan satu saja gerakan gegabah, atau mencoba mengerahkan pasukan elitmu untuk mengepung tempat ini... aku pastikan pisau ini akan merobek leher indahnya sebelum pasukanmu sempat menginjakkan kaki di gerbang depan!"
Napas Devan memburu sangat cepat, detak jantungnya berdegup gila karena ketakutan luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya—ketakutan akan kehilangan Keyra. "Apa yang kamu inginkan, Arkan?! Sebutkan nomor nominalnya, dan aku akan memberikan semua yang kamu mau sekarang juga! Jangan sentuh Keyra!"
"Sederhana saja, Devan," ucap Arkan dengan nada suara yang berubah menjadi sangat dingin dan penuh tuntutan. "Pertama, instruksikan pengacaramu untuk mencabut seluruh tuntutan hukum dan membebaskan ayahku dari penjara dalam waktu dua jam dari sekarang. Kedua, kembalikan seluruh hak kelola Pelabuhan Barat dan cairkan dana tunai sebesar seratus miliar rupiah ke rekening perusahaan cangkangku di luar negeri. Dan yang ketiga... kamu harus datang ke gudang kosong nomor 04 di pelabuhan mati ujung timur sendirian tanpa membawa satu pun pengawal atau senjata api! Aku akan mengirimkan koordinat lokasinya sekarang. Ingat Devan, datang sendiri, atau kamu hanya akan menjemput jasad istrimu yang sudah mendingin!"
Klik.
Sambungan panggilan video tersebut seketika diputus secara sepihak oleh Arkan, menyisakan layar ponsel Devan yang kembali berubah menjadi gelap.
Suasana di dalam kabin mobil limosin mewah itu mendadak berubah menjadi sangat hening mencekam, dengan tekanan udara yang terasa begitu berat hingga membuat Leon yang duduk di kursi depan hampir tidak berani untuk sekadar bernapas.
Devan Alister perlahan menurunkan ponselnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang tidak lagi memancarkan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan sebuah ketenangan yang teramat dingin, sunyi, dan mematikan—ketenangan khas seorang predator kasta tertinggi yang sudah siap untuk merobek dan menghancurkan mangasanya tanpa sisa.
"Leon," desis Devan, suara baritonnya yang berat terdengar begitu rendah, serak, dan bergetar hebat menahan badai kegilaan di dalam dadanya. "Putar arah mobil sekarang juga. Kita menuju ke pelabuhan mati ujung timur. Dan pastikan tim penembak jitu (sniper) jarak jauh divisi satu sudah mengambil posisi di atas atap gudang sebelum aku tiba di lokasi kejadian. Hari ini... aku sendiri yang akan mengakhiri silsilah keturunan dari Keluarga Kenneth dari muka bumi ini."