NovelToon NovelToon
Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi Dian

​"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."

​Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.

​Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.

​Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Paris dan Dua Penumpang Gelap

Kehidupan di Mansion Utama Arkananta perlahan mulai menemukan ritme kedamaian yang baru. Dengan Seline Wijaya yang kini meringkuk di balik jeruji besi dan seluruh sisa-sisa konspirasi masa lalu yang telah dibersihkan oleh pihak kepolisian, atmosfer di dalam benteng mewah tersebut terasa jauh lebih ringan dan hangat.

​Sore itu, di dalam ruang kerja pribadinya yang megah, Arthur Arkananta sedang menatap layar tabletnya. Namun, kali ini fokusnya bukan pada grafik saham atau laporan akuisisi perusahaan, melainkan pada sebuah brosur digital penerbangan kelas satu maskapai Air France dan reservasi sebuah kastil pribadi mewah di pinggiran kota Paris.

​Arthur menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, sebuah senyuman tipis terukir di wajah tampannya. Sudah lima tahun dia merenggut kebahagiaan Elena, dan setelah momen lamaran publik yang menggemparkan kemarin, Arthur merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menebus waktu-waktu yang hilang. Dia ingin membawa Elena dalam sebuah perjalanan romantis berdua saja ke Paris—kota mode yang selalu ingin dikunjungi Elena sejak dulu.

​"Semua akomodasi sudah siap, Tuan Besar," lapor Evan yang berdiri di depan meja kerja dengan tabletnya sendiri. "Penerbangan dijadwalkan besok malam jam sembilan. Sesuai perintah Anda, perjalanan ini bersifat sangat rahasia. Nyonya Besar William akan menjaga Tuan Muda Leon dan Nona Muda Lia di mansi selama kalian pergi."

​"Bagus," jawab Arthur dengan nada puas, matanya berkilat penuh antisipasi. "Pastikan Elena tidak mengetahui detail ini sampai kita tiba di bandara. Aku ingin memberikan kejutan terbaik untuknya."

​Namun, Arthur yang genius dalam dunia bisnis melupakan satu fakta krusial: di bawah atap yang sama dengan dirinya, tinggal seorang bocah berusia empat tahun yang memiliki kemampuan meretas setara dengan agen intelijen tingkat tinggi.

​Di saat yang bersamaan, di dalam kamar bermain anak yang luas, Leon duduk bersila di atas karpet bulu dengan laptop dewa pemberian Arthur yang menyala di pangkuannya. Di sampingnya, Lia sedang asyik menyuapi boneka kelincinya dengan biskuit, sesekali melirik ke arah layar laptop kakaknya yang dipenuhi barisan kode digital berkedip.

​"Leon, apa yang sedang kamu lihat?" tanya Lia dengan suara imutnya, penasaran.

​"Pria tua itu sedang merencanakan sesuatu yang mencurigakan, Lia," balas Leon, sepasang mata elang mininya menyipit tajam. "Dua jam yang lalu, ada enkripsi data keluar dari server ruang kerja Papa menuju maskapai penerbangan internasional dan sebuah hotel mewah di Prancis. Dia memesan dua tiket first-class dan satu paket makan malam romantis di Menara Eiffel."

​Lia membelalakkan mata bulatnya, langsung menjatuhkan boneka kelincinya. "Papa mau pergi ke Paris? Bersama Mama? Lalu kita tidak diajak?!"

​"Tepat sekali. Pria tua itu berniat meninggalkan kita bersama Kakek Buyut yang suka memaksa kita makan sayur itu, sementara dia bersenang-senang dengan Mama di Eropa," dengus Leon penuh keangkuhan yang menggemaskan. "Sangat tidak adil. Tapi dia meremehkan radar digitalku."

​Jemari mungil Leon bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Dalam waktu kurang dari lima menit, Leon berhasil membobol sistem manifes penerbangan rahasia yang dibuat oleh Evan. Dengan beberapa ketukan tak acuh, Leon mengubah jumlah pesanan tiket dari dua menjadi empat, memasukkan data paspor miliknya dan Lia ke dalam sistem, sekaligus meretas manifes hotel untuk mengubah kamar suite romantis menjadi family suite berukuran raksasa lengkap dengan fasilitas taman bermain mikro di dalamnya.

​"Selesai," ucap Leon dengan senyuman miring yang sangat mirip dengan Arthur saat memenangkan tender triliunan rupiah. "Besok malam, kita akan memberikan kejutan balik yang tidak akan pernah dia lupakan."

​Lia langsung bertepuk tangan riang. "Horeee! Jalan-jalan ke Paris bersama Mama dan Papa!"

​Malam berikutnya, suasana di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tampak cukup lengang di area ruang tunggu eksklusif First Class. Elena berjalan di samping Arthur dengan wajah yang dipenuhi rasa heran. Malam ini, Arthur mendadak mengajaknya pergi dengan alasan ada pertemuan bisnis mendadak yang mendesak di luar kota, namun Elena tidak menyangka bahwa 'luar kota' yang dimaksud adalah terminal internasional.

​"Arthur, bisakah kamu jelaskan sekarang kita mau ke mana sebenarnya?" tanya Elena, menghentikan langkahnya dan menatap Arthur dengan tangan terlipat di depan dada. "Kenapa Evan menyiapkan koper besar untukku?"

​Arthur tersenyum sangat menawan, melangkah mendekat dan menggenggam kedua tangan Elena dengan lembut. "Kita akan ke Paris, Elena. Hanya kita berdua. Aku ingin menebus lima tahun waktu kita yang hilang, menikmati malam di Prancis tanpa gangguan bisnis atau siapa pun. Anggap saja ini sebagai bulan madu kedua kita."

​Wajah cantik Elena seketika merona merah mendengar ucapan blak-blakan Arthur. Ada rasa hangat dan bahagia yang menggelitik dadanya. "Kamu... benar-benar penuh kejutan, Arthur."

​"Tentu saja. Dan penerbangan kita akan segera bersiap," ucap Arthur bangga, menuntun Elena melangkah masuk ke dalam kabin pesawat first-class yang sangat mewah dan privat.

​Namun, begitu pintu kabin first-class pribadi mereka terbuka, langkah Arthur seketika membeku di tempat. Senyuman penuh kemenangan di wajah rupawannya menguap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi syok yang luar biasa.

​Di atas dua kursi sleeper-bed mewah kelas satu yang super luas, tampak dua sosok mungil yang sangat familier sedang duduk manis. Lia mengenakan bando telinga kelinci berwarna merah muda sambil memegang segelas jus jeruk dengan santai, sementara Leon duduk di sebelahnya dengan laptop yang menyala di pangkuan dan topi hitamnya yang terpasang terbalik.

​"Selamat malam, Papa. Selamat malam, Mama," ucap Lia melambaikan tangan mungilnya dengan ceria. "Penerbangan ke Paris sangat lama, jadi Lia sudah meminta pramugari menyiapkan bantal ekstra!"

​Elena membelalakkan matanya, lalu sedetik kemudian tawa merdunya pecah memenuhi kabin pesawat. Dia menutup mulutnya, menatap Arthur yang kini berdiri mematung dengan wajah yang mendadak berubah menjadi gelap gulita.

​"Leon... Lia... Kenapa kalian bisa ada di sini?!" suara bariton Arthur bergetar menahan gejolak antara gemas, kesal, dan tidak percaya. Dia langsung menoleh ke arah Evan yang berdiri di luar kabin dengan wajah yang sama pucatnya. "Evan! Bagaimana bisa anak-anakku masuk ke dalam manifes penerbangan rahasia ini?!"

​"M-Maaf, Tuan Besar... saya sudah memeriksa sistemnya sejam yang lalu dan semuanya normal... saya tidak tahu bagaimana..." Evan terbata-bata ketakutan.

​Leon mendongak dari layar laptopnya, menatap Arthur dengan pandangan dingin dan angkuh yang setara. "Jangan salahkan asisten Anda yang tidak kompeten itu, Tuan Arthur. Firewall sistem maskapai ini terlalu mudah ditembus. Jika Anda ingin pergi berkencan dengan Mamaku, setidaknya belajarlah untuk mengunci log data Anda dengan enkripsi militer yang lebih layak."

​Arthur memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Rencana bulan madu romantis berdua saja di kota Paris yang sudah dia rancang dengan sempurna selama berhari-hari, kini hancur lebur dalam sekejap menjadi liburan keluarga berkat kegeniusan anak balitanya sendiri. Sang CEO garang itu benar-benar tidak berkutik di depan versi mini dirinya.

​Elena berjalan mendekat, menepuk bahu Arthur dengan sisa-sisa tawa di wajah cantiknya. "Sudahlah, Arthur. Lagipula, liburan bersama anak-anak tampaknya akan jauh lebih menyenangkan daripada sekadar makan malam romantis yang membosankan."

​Elena kemudian melangkah maju dan memeluk kedua anak kembarnya dengan penuh kasih sayang, meninggalkan Arthur yang hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah. Pria itu perlahan duduk di kursi kosong di seberang Leon, menatap putranya dengan binar mata yang campur aduk antara kesal dan rasa bangga yang luar biasa besar.

​"Baiklah, kalian menang kali ini," gumam Arthur, sudut bibirnya akhirnya terangkat membentuk senyuman pasrah yang hangat. Pesawat jet mewah itu mulai bergerak perlahan di landasan pacu, membawa keluarga Arkananta yang kini telah utuh melesat menembus awan menuju petualangan baru yang penuh tawa di kota Paris.

1
Indah Wahyuni
bagus ceritanya, alurnya tidak bertele-tele, penokohannya kuat. tinggal bertumbuh dan berkembang SJ authornya.
Dian Pertiwi: Baik siap kakak Terimakasih atas masukannya dan penilaian nya 🙏🏻🥰😘🩷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!