Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu malam bagian 1
"Ingat," lanjut Alden sembari berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti dentuman jantung Aleta sendiri.
"Mulai malam ini, tidak ada lagi kata 'pulang' ke rumah ibumu. Rumah ini adalah tempat tinggalmu. Dan mulai besok, semua orang di kota ini akan tahu kalau kamu adalah tunanganku yang sah."
Alden berhenti tepat di depan Aleta. Ia meletakkan gelasnya di meja nakas, lalu dengan sangat perlahan, ia menarik napas panjang dan menatap Aleta dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa diam saja? Kamu takut?" bisik Alden sambil menelusuri garis wajah Aleta dengan jari telunjuknya, membuat gadis itu memejamkan mata rapat-rapat karena tidak sanggup menatap mata pria di depannya.
"Seharusnya kamu merasa beruntung. Di luar sana, banyak wanita yang akan melakukan apa saja untuk berada di posisi kamu saat ini."
Aleta masih terdiam, tubuhnya gemetar halus. Ia merasa seolah-olah udara di dalam kamar itu menipis, membuatnya semakin sulit untuk sekadar bernapas.
Alden mengambil gelas kristal yang tadi diletakkannya di nakas. Cairan berwarna bening di dalamnya sedikit bergoyang saat ia mengayunkannya perlahan. Ia berjalan mendekat ke arah Aleta, langkahnya lambat, seolah sedang menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari wajah gadis itu.
"Minum ini," perintah Alden dengan nada yang datar namun mutlak. Ia menyodorkan gelas tersebut tepat di depan wajah Aleta.
"Kamu terlihat sangat tegang. Ini akan membantumu lebih rileks."
ia menatap gelas itu, lalu beralih menatap mata Alden dengan penuh keraguan.
"A-apa ini?" suaranya hampir tidak terdengar, parau karena menahan tangis yang tertahan sejak tadi.
Alden terkekeh kecil, sebuah suara tawa rendah yang tidak mencapai matanya.
"Hanya minuman untuk merayakan pertunangan kita, Aleta. Jangan berlebihan dengan imajinasimu. Aku tidak punya alasan untuk menyakitimu malam ini, selama kamu tahu cara bersikap manis."
🌍🌍🌍
Alden menekan gelas itu lebih dekat ke bibir Aleta, memaksa gadis itu untuk menerima pemberiannya.
"Ayo. Minum sedikit. Setelah itu, kamu bisa istirahat. Kamu pasti lelah karena sudah menjadi 'bintang' yang luar biasa sepanjang malam ini, bukan?"
Aleta tahu bahwa menolak akan memancing amarah Alden yang lebih besar, tapi ada insting yang menjerit di dalam kepalanya untuk waspada. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia perlahan mengambil gelas tersebut dari tangan Alden. Jari-jarinya bersentuhan dengan tangan dingin pria itu, sensasi yang membuatnya merinding seketika.
Alden melipat tangannya di dada, berdiri tegak di depan Aleta dengan tatapan yang mengunci, menunggu gadis itu mematuhi instruksinya.
"Habiskan. Aku ingin melihatmu tenang sebelum kita membicarakan rencana kita ke depan."
Aleta menatap permukaan minuman itu, lalu dengan napas yang tertahan, ia mendekatkan bibirnya ke pinggiran gelas. Ia tidak punya pilihan lain—di rumah ini, perintah Alden adalah hukum yang mutlak, dan pembangkangan hanya akan membawanya pada konsekuensi yang lebih kelam.
Begitu cairan itu menyentuh lidahnya dan meluncur masuk ke tenggorokannya, Aleta langsung merasakan sensasi yang asing. Rasanya sedikit pahit dengan aroma yang menusuk, berbeda dengan minuman pesta biasa yang pernah ia cicipi. Belum sempat ia menelan semuanya, sebuah rasa tidak enak—seperti kecemasan yang tiba-tiba meluap menjadi ketakutan fisik—menjalar dari perutnya.
Jantung Aleta berdegup kencang, seolah ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dirinya. Ia segera menjauhkan gelas itu dari bibirnya, tangannya gemetar hebat hingga gelas kristal itu berdenting pelan saat beradu dengan giginya.
"Alden..." gumam Aleta, suaranya kini terdengar lebih tipis dan sedikit tidak fokus. Pandangannya mulai terasa berat, dan cahaya lampu kamar yang hangat perlahan mulai tampak sedikit berbayang di tepian penglihatannya.
Alden tidak menunjukkan reaksi terkejut. Sebaliknya, ia mengambil kembali gelas itu dari tangan Aleta dengan gerakan yang sangat tenang, hampir lembut. Ia menatap Aleta yang kini mulai goyah, dengan seringai tipis yang tidak bisa lagi Aleta artikan sebagai kebaikan.
"Kenapa? Rasanya aneh?" tanya Alden dengan nada yang terdengar seperti sedang merawat seseorang yang sakit. Ia mendekat, tangannya yang kuat memegang bahu Aleta, menahan tubuh gadis itu agar tidak limbung ke lantai.
"Apa... apa yang kamu kasih ke aku?" tanya Aleta lagi, kali ini kata-katanya mulai terasa tidak jelas. Rasa kantuk yang sangat hebat tiba-tiba menyerangnya, seolah-olah seluruh energinya disedot paksa dalam hitungan detik.
Alden menunduk, berbisik di telinga Aleta, suaranya terdengar jauh namun sangat jelas dalam kesadaran Aleta yang mulai meredup.
"Hanya obat penenang, Aleta. Aku tidak mau kamu berteriak atau membuat keributan malam ini. Aku ingin kita memiliki waktu yang tenang, tanpa ada gangguan, tanpa ada perlawanan."
Tubuh Aleta terasa semakin berat. Ia mencoba untuk tetap berdiri tegak, namun kekuatannya benar-benar terkuras. Ia bisa merasakan kesadarannya seperti sedang ditarik masuk ke dalam kegelapan yang pekat. Hal terakhir yang ia ingat sebelum dunianya benar-benar tenggelam adalah tangan dingin Alden yang merangkul pinggangnya, memegangnya dengan posesif saat ia akhirnya jatuh lemas dalam pelukan pria itu.
"Tidurlah, Aleta," bisik Alden dengan nada yang mematikan.
🌍🌍🌍
Alden menatap wajah Aleta yang kini terlelap, napasnya terdengar teratur namun berat akibat efek obat penenang tersebut. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani barang paling berharga dan rapuh di dunia, ia membaringkan tubuh Aleta di atas kasur king size yang empuk.
Gaun pesta yang tadi dikenakan Aleta tampak berantakan, menumpuk di sekitar tubuhnya. Alden berdiri di samping ranjang, menatap gadis itu cukup lama dalam diam. Seringai dingin yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca—antara rasa puas yang menang dan obsesi yang semakin liar.
Ia merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Aleta, menyisipkannya ke belakang telinga gadis itu dengan sentuhan yang sangat pelan. Jari-jarinya kemudian berhenti sejenak di rahang Aleta, mengusapnya dengan ibu jari.
"Akhirnya," bisik Alden, suaranya sangat rendah hingga hampir tidak terdengar di tengah keheningan kamar.
"Kamu sudah di sini, di kamarku, di rumahku. Tidak ada lagi yang bisa membawa kamu pergi dariku."
Alden menarik selimut sutra hingga sebatas bahu Aleta, menutup tubuh gadis itu rapat-rapat. Ia kemudian berjalan memutari sisi ranjang, mematikan lampu utama dan menyisakan satu lampu tidur temaram yang membuat ruangan itu tampak semakin intim sekaligus mengisolasi.
Ia kembali duduk di tepi ranjang, tepat di samping Aleta. Alden tidak beranjak; ia membiarkan tangannya tetap berada di dekat Aleta, sesekali membelai punggung tangan gadis itu yang kini terasa dingin.
Di luar, malam semakin larut. Rumah megah itu kini sepenuhnya milik mereka berdua. Tidak ada lagi ancaman dari Felicia, tidak ada lagi gangguan dari pihak luar. Bagi Alden, dunia luar sudah berhenti berputar; yang tersisa hanyalah rencana-rencana yang telah ia susun rapi di kepalanya untuk hari esok, di mana Aleta akan terbangun dan menyadari bahwa tidak ada lagi jalan pulang yang tersisa untuknya.
Alden menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, terus menatap wajah Aleta yang terlelap dengan tatapan yang tidak akan pernah mau melepaskan. Ia menunggu, menikmati momen di mana ia merasa benar-benar memiliki segalanya, perlahan matanya mulai berat.
🌍🌍🌍
Aleta tersentak saat matanya terbuka lebar di tengah kegelapan. Kesadarannya kembali secara tiba-tiba, namun tubuhnya terasa seberat timah. Saat ia mencoba menarik napas, dadanya terasa sesak karena tekanan beban di atasnya.
Sebuah lengan yang kokoh dan berat melingkari pinggangnya dengan posesif, menariknya begitu rapat hingga punggungnya bersentuhan langsung dengan dada Alden yang bidang. Aleta bisa merasakan hembusan napas teratur pria itu tepat di tengkuknya.
Seluruh tubuh Aleta menegang seketika. Sensasi dingin merambat dari ujung kepala hingga kakinya saat realitas menghantamnya; ini bukan mimpi buruk, ini adalah kenyataan. Ia ingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur—minuman itu, perintah Alden, dan keputusasaan yang kini mengurungnya di kamar ini.
Ia mencoba bergerak sedikit, ingin melepaskan diri dari dekapan itu, cengkeraman lengan Alden justru mengencang seolah pria itu merasakannya bahkan dalam tidurnya.
Dua dini hari.
Suasana kamar benar-benar sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar sangat keras di telinga Aleta, seolah menghitung setiap detik kebebasannya yang kian menipis. Aleta menahan napas, berusaha sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Alden bisa mendengarnya.
Ia menolehkan kepalanya sedikit ke belakang dengan sangat hati-hati, mencoba melihat wajah pria yang kini menjadi "pemiliknya". Dalam temaram cahaya lampu tidur, wajah Alden tampak tenang dan damai, kontras sekali dengan kekejaman yang ia lakukan bagi Aleta, ketenangan itu justru terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.
Aleta menahan napas, berusaha agar jantungnya yang berpacu kencang tidak membangunkan pria di belakangnya. Dengan gerakan yang sangat lambat—setiap pergerakan terasa seperti merangkak di atas pecahan kaca—ia mulai menggeser lengan Alden yang melingkari pinggangnya.
Setiap milimeter yang ia tempuh terasa menyiksa. Saat tangan Alden bergeser sedikit, napas pria itu terdengar sedikit tidak beraturan, membuat Aleta membeku selama beberapa detik, takut jika Alden tiba-tiba terjaga.
Setelah perjuangan yang terasa seperti selamanya, Aleta berhasil meloloskan diri dari dekapan itu. Ia turun dari tempat tidur dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Ia berdiri mematung di sisi ranjang, matanya menatap Alden yang masih terlelap. Pria itu tampak begitu tenang.
Tanpa membuang waktu, ia mulai mencari pintu kamar, dan harus segera menemukan pintu. Aleta sedikit kesusahan karna pencahayaan yang lumayan gelap dan gaunya yang begitu lebar, saat ia melangkah menuju pintu utama kamar, ia teringat sesuatu—Alden tadi menutup pintu dengan suara klik yang berat, menandakan pintu itu mungkin terkunci.
🌍🌍🌍
Aleta mengendap-endap menuju pintu. Dengan tangan yang gemetar, ia mencoba memutar knop pintu dengan sangat perlahan.
Srekk...
Pintu itu berderit sedikit. Aleta berhenti lagi, menoleh ke belakang. Alden masih bergeming.
Ia memutar knop pintu itu sepenuhnya dan menariknya. Pintu itu terbuka sedikit. Aleta mendesah lega, namun hatinya kembali mencelos saat menyadari di balik pintu itu terdapat lorong rumah yang gelap dan panjang, di mana bisa saja ada penjaga yang sedang berjaga.
Ia menoleh ke arah meja nakas, mencari benda apa pun yang bisa ia gunakan untuk membela diri jika ia tertangkap, atau setidaknya sesuatu yang bisa membantunya membuka kunci atau jendela. Matanya tertuju pada kunci pintu utama yang tergantung di sana—atau mungkin ponsel Alden yang tergeletak di atas meja.
Aleta harus memilih: apakah ia akan mencoba membuka pintu yang mungkin dijaga, atau mencoba mencari jalan keluar melalui balkon kamar?
Saat ia melangkah ke arah jendela, suara samar dari arah ranjang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Mau ke mana, Aleta?"
Suara itu berat, serak, dan penuh peringatan. Alden belum benar-benar tidur. Pria itu kini sudah memutar tubuhnya, menatap Aleta dari balik kegelapan dengan mata yang berkilat tajam.
🌍🌍🌍
Jangan lupa like yaaa😉