Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.
Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.
Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Rutinitas Primata Cerdas
Hari keenam di dungeon. Dalam hari keenam ini, Ardius mengalami perkembangan dalam latihan mana eksternal. Kemampuannya dalam mengendalikan fokus telah meningkatkan dari sebelumnya. Saat mendapatkan sinyal dari batu hitam, Ardius sudah dapat mengatasi hal tersebut bahkan inti mana yang berada dalam dirinya sudah mulai mampu menyerap mana alam meski tidak sebanyak batu biru. Tinggal menghitung hari lagi baginya untuk menguasai kemampuan tersebut.
Hari itu setelah Profesor Gilbert pergi, Ardius memutuskan hari ini dia tidak akan menggunakan waktunya yang panjang untuk belajar. Seperti apa yang dia rencanakan sebelumnya, Ardius ingin mencoba mengamati para primata di lantai lima yang dia lihat sebelumnya.
Tanpa membuang banyak waktu, Ardius langsung pergi menuju hutan. Sesampainya di dalam hutan, Ardius menyusuri kembali jalan dimana dia memperhatikan para primata itu sebelumnya.
Saat tengah berjalan, Ardius mendengar suara aneh di balik semak-semak. Tak hanya itu, dia juga mendengar suara teriakan hewan yang ketakutan. Lantas Ardius langsung pergi mengecek semak tersebut.
Sesampainya dia di semak sana, matanya melihat seekor anak primata dungeon hendak dimangsa oleh seekor serigala dungeon yang memiliki dua ekor tajam seperti tombak. Primata kecil itu ketakutan, dia meringkuk di tanah sambil mengucurkan air mata. Sementara serigala itu membuka mulutnya lebar-lebar, siap untuk melahapnya dalam sekali buka mulut.
Tepat sebelum taring tajam serigala dungeon itu hampir mengakhiri nyawa anak primata tersebut, sebuah bilah melayang secara vertikal dari bawah ke atas yang membuat kepala serigala itu terpenggal secara seketika.
Anak permata itu terkejut bukan main. Matanya yang terbuka lebar mendapati sesosok makhluk berkaki dua sepertinya yang memiliki tubuh tinggi yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Ardius menatap tubuh serigala tersebut yang sudah tergeletak dengan kepala yang terlepas. Dia kebersihan bilah katana miliknya menggunakan daun sebelum menyarungkannya kembali. Matanya menoleh ke arah primata kecil itu yang ketakutan melihatnya.
Sebagai bentuk pertahanan naluriah, primata kecil itu memperlihatkan taringnya serta mengeluarkan suara untuk menakut-nakuti Ardius. Tentunya pria itu tidak merasa takut, bagaimana juga yang diharapkannya hanyalah seekor primata kecil. Mudah baginya jika dia memiliki niat untuk menghabisi makhluk kecil itu.
Mata Ardius menganalisa makhluk kecil tersebut. Ia mendapati jika terdapat cakaran besar di kedua kakinya yang membuat hewan kecil itu lumpuh. Ardius mulai jongkok, turun ke bawah untuk memperhatikannya dari dekat.
Sang primata kecil terus mengoceh, lebih keras dan liar. Tangan kanan Ardius mengarah kepadanya, bukan untuk mencelakai tapi untuk mengobatinya.
"Heal!" gumamnya lalu muncul lingkaran sihir hijau di depannya.
Seketika luka di kecil itu pulih. Primata itu kebingungan, namun juga merasa bahagia. Dia dapat kembali berdiri, namun tidak langsung pergi. Kepalanya mendongak ke atas, memperhatikan Ardius dengan tatapan analisa diikuti dengan instingnya. Ia mengetahui jika makhluk besar di depannya bukanlah makhluk yang jahat.
"Sekarang kau boleh pergi teman kecil!" ucap Ardius sebelum kembali berdiri.
Tepat saat Ardius hendak pergi, tiba-tiba jubah akademi miliknya duduk oleh primata kecil tersebut. Dia kembali menoleh, kali ini dia melihat hewan tersebut melompat-lompat dengan girang. Tangannya menunjuk ke suatu arah sembari mengeluarkan ocehan yang seolah mengatakan untuk mengikutinya.
"Jangan bilang... kau ingin aku ikut?" gumam Ardius, menatap hewan kecil itu yang kini menepuk dadanya bangga, lalu kembali melompat naik ke batang pohon.
Ardius mengikuti dengan tenang. Ia menaiki batang-batang pohon lebar itu sambil terus melihat si primata kecil yang memanjat jauh lebih cepat. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di bagian tengah pohon, tepat di sebuah jembatan batang-batang alami yang menyambungkan ke pohon-pohon lainnya.
Seperti yang Ardius lihat sebelumnya, bany,ak lubang-lubang di tengah batang pohon-pohon raksasa yang berfungsi sebagai tempat tinggal para primata. Batang-batang pohon raksasa yang menyatu dengan batang pohon lain menjadi sarana jalanan bagi berbagai primata yang tinggal
Beberapa menit berjalan bersama si kera kecil itu di atas batang pohon, puluhan pasang mata menatap tajam. Beberapa memekik. Anak-anak kera berlari sembunyi ke pelukan induknya. Tiga primata dewasa dengan tubuh besar segera maju dengan postur waspada. Salah satunya mengentakkan tongkat kayu ke lantai jembatan, menciptakan suara getaran seperti peringatan.
Ardius tidak mengangkat pedangnya. Dia tetap diam di tempat. Tangannya perlahan terangkat—bukan untuk bertarung, tetapi untuk menunjukkan dia tak membawa niat jahat. Kera kecil itu meloncat ke depan, menghalangi primata besar itu sambil menunjuk ke arah Ardius dan mengoceh keras, seolah menjelaskan apa yang telah terjadi.
Primata besar itu melirik si kecil, lalu memandangi Ardius dari kepala sampai kaki. Ketegangan terasa pekat selama beberapa detik sebelum akhirnya ketiga primata dewasa itu mundur. Suasana yang semula tegang, berubah menjadi tenang. Meskipun masih waspada, mereka tidak lagi menyerang.
Kera kecil menarik tangan Ardius dan membawanya pergi menuju sebuah lubang besar di salah satu pohon. Di sana, seekor primata berukuran sedang namun penuh dengan bulu putih duduk bersila. Ia mengenakan hiasan dari buah kering dan kulit kayu di lehernya. Dengan tenang, ia menatap Ardius. Tangannya membentuk gerakan-gerakan kompleks—seperti bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan makhluk tinggi di depannya.
Ardius dibuat terheran-heran dan tertegun. Alih-alih menggunakan ocehan yang tak jelas untuk dimengerti, tetua kera itu justru menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengannya. Mereka lebih cerdas dari yang Ardius kira.
Mata pemuda tersebut tak berkedip. Dia fokus mencerna setiap gerakan yang dilakukan oleh sang tetua kera. Ardius mengetahui apa yang ingin disampaikan olehnya. Tetua kera tersebut bertanya siapa dia dan apa tujuannya datang kemari.
Pemuda tersebut membalas dengan bahasa isyarat. Melalui gerakan tangan dan ekspresi wajah, dia menjelaskan bahwa dia adalah makhluk bernama manusia dan tujuannya datang bukan untuk berniat jahat melainkan untuk berinteraksi dan mengobservasi dari dekat para kera di hutan ini.
Wajah tetua kera membuat senyuman seakan puas mengetahui jika Ardius tak berniat jahat. Matanya melirik ke arah kera kecil tadi. Kera kecil segera memahami apa yang ingin disampaikan olehnya dan dia segera pergi dari sana.
Tetua kera berjalan keluar diikuti oleh Ardius di belakang Mereka berdua berjalan di atas batang pohon raksasa yang bercabang-cabang. Beberapa kera berkumpul di batang-batang lain sambil memperhatikan ke arah mereka, bahkan banyak juga kera dari spesies lain yang memperhatikan.
Jari tetua kera mengarah ke arah sekumpulan kera berbulu lebat berwarna cokelat. Dia mendengus mengeluarkan suara "Baras... Baras!!"
Tanpa berpikir panjang, Ardius langsung mengetahui apa maksud ucapannya. Kera-kera berbulu lebat itu memiliki spesies bernama Baras dan tetua kera tersebut adalah kera yang saat ini di sampingnya.
Spesies bertubuh tinggi dengan ekor panjang bernama Lagar dan spesies bertubuh besar, berotot, dan berbulu putih bernama Gragor. Ketiga spesies hidup berdampingan dan saling membutuhkan satu sama lain dan setiap spesies memiliki pemimpin masing-masing.
Beberapa jam berlalu. Kera-kera itu memulai sebuah ritual.
Mereka bernyanyi dengan suara rendah bergema. Mereka menari di sekeliling lingkaran, menabuh batang-batang kayu, menciptakan ritme yang dalam dan aneh. Kera kecil yang tadi bersama Ardius ikut menari di tengah, menunjuk Ardius berulang kali, seolah memperkenalkannya.
Ardius hanya duduk diam dan memperhatikan. Sekelilingnya terdapat banyak buah yang diletakkan dalam wadah besar. Dalam diam, dia mengamati dengan sangat terkesan.
"Mereka ini... lebih dari sekadar hewan. Mereka punya struktur, sistem kehidupan, bahkan budaya dalam menyambut tamu..."
Ia mengeluarkan buku catatannya dari dalam jubah, lalu mulai menulis. Menggambar skema tempat tinggal mereka dan mencatat jenis interaksi dan hal-hal penting yang dia dapatkan. Ardius merasa sangat beruntung karena kehadirannya disambut dengan baik.
Waktu berlalu, para kera sepenuhnya menganggap Ardius sebagai tamu. Beberapa anak kera bahkan mendekatinya, menyentuh pedangnya, dan mencoba meniru postur duduknya. Salah satu primata besar dari spesies Gragor bahkan menyodorkan buah bulat berduri yang tampaknya menjadi makanan khas mereka.
Berpindah ke akademi Mysticorum. Sore itu, Axel berjalan keluar dari aula latihan. Baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara tak asing memanggilnya dari samping.
"Axel..."
Dia menoleh. Terlihat Arlena yang membawa banyak buku menghampirinya.
"Hai Arlena! Kau mau kamana dengan tumpukan buku sebanyak itu?" tanya Axel memulai percakapan.
"Profesor Gilbert meminjam bangak bu,ku dari perpustakaan dan menyuruhku untuk membawakannya ke ruangannya," jawab Arlena. Tubuhnya berusaha untuk tetap seimbang supaya buku-buku di tangannya ridak berjatuhan.
"Kurasa kau kesulitan." Axel berjalan mendekatinya lalu mengambil beberapa buku darinya. "Biar aku membantumu!"
"Terima kasih, tapi apa kau tidak akan terlambat bekerja?"
"Tidak usah khawatir! Hari ini aku mengambil cuti."
Keduanya berjalan bersama-sama di tengah jalanan sekolah yang sudah sepi. Keduanya hening sesaat, tak ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan sampai akhirnya Arlena membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan.
"Aku baru sadar, akhir-akhir ini aku jarang melihat Kakak dengan kalian berdua. Apa dia baik-baik saja?"
Axel tak langsung menjawab. Dia menoleh ke arah Arlena lalu membalas, "Beberapa hari yang lalu, Profesor Gilbert datang ke rumah kami saat jam pelajaran. Dia berbincang-bincang dengan Paman Arba untuk meminta izin supaya Ardius dapat dia latih selama dua minggu di dalam dungeon."
"Begitu ya... pantas saja aku tidak melihatnya bersama kalian beberapa hari ini. Jadi dia ada di dungeon ya," gumam Arlena.
"Tahu apa yang paling menjengkelkan? Si bodoh itu tidak mengatakan apapun kepada kami. Rasanya seperti badai yang tiba-tiba muncul di hari yang panas." Axel menggerutu dengan kesal.
Arlena tersenyum. "Perumpamaanmu cukup aneh untuk menggambarkannya."
"Yah, setidaknya kali ini dia tidak sendirian di dungeon. Tapi tetap saja, aku penasaran dia sedang apa sekarang. Bertarung? Belajar? Atau tidur di atas batu sambil melamun seperti biasanya."
Senyum di wajah Arlena semakin lebar. "Kau tahu, dari semua murid di akademi ini, hanya kalian berdua yang bisa mengimbangi sikap anehnya."
"Jika kau bertanya ke Luna, dia akan bilang aku adalah yang paling aneh," sahut Axel cepat, disambut tawa pelan Arlena.
Langkah mereka seperti tak terasa. Candaan dan obrolan sepanjang perjalanan seolah membuat waktu terpotong. Mereka kembali sadar saat berada di hadapan pintu ruangan Profesor Gilbert.
Tepat sebelum Axel mengetuk pintu, sebuah suara menyuruhnya untuk masuk ke dalam. Tanpa berlama-lama, Axel dan Arlena masuk ke ruangan tersebut. Keduanya disambut oleh Profesor Gilbert yang duduk di bangkunya yang dipenuhi tumpukan kertas. Tatapannya fokus membaca salah satu kertas dengan begitu serius.
Setelah menaruh buku-buku di meja tamu, mereka berdua tak langsung pergi. Sebaliknya, mereka berdua tetap diam di ruangan sambil menunggu Profesor Gilbert selesai dengan tugasnya. Tak lama berselang, Profesor Gilbert akhirnya berhenti membaca lalu meletakkan kertas tersebut di atas tumpukan kertas lainnya.
"Jadi... apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Profesor sambil meneguk secangkir teh hangat.
Axel maju satu langkah. "Bukan masalah serius kok. Saya hanya ingin tahu kondisi teman saya di dungeon sana."
"Tidak perlu khawatir! Beberapa hari ini, dia berlatih dengan sangat serius. Hari ini dia bilang jika dia akan melakukan observasi terhadap spesies kera yang ada di dalam dungeon."
Axel tersenyum lebar. Sangat puas akan jawabannya. "Ya kurasa sebaiknya aku tidak mengkhawatirkannya lebih jauh. Karena bagaimanapun juga si bodoh bukan hanya baik-baik saja, mungkin besok-besok dia akan membuat rusuh seisi dungeon dan mengajak ribut monster-monster di sana!"
Arlena dan Profesor Gilbert tertawa usai mendengar candaan konyol dari Axel. Namun apa yang dia katakan memang benar. Tidak perlu mengkhawatirkannya lebih jauh karena bagaimanapun juga yang mereka bicarakan adalah Ardius.