Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Eksekusi Mutlak dan Penebas Malam
Ruang staf di lantai dua yang sebelumnya menjadi tempat persembunyian hening, kini berubah menjadi panggung penyiksaan. Cahaya dari dua buah senter yang diletakkan sembarangan di atas meja menyinari pemandangan yang memuakkan.
Tiga pria berwajah beringas dengan tato yang mengintip dari balik kemeja kotor mereka sedang tertawa meremehkan. Di lantai, pria paruh baya yang sebelumnya memohon bantuan pada Do-Yoon kini terkapar bersimbah darah. Wajahnya lebam parah, dan ia memegangi perutnya sambil merintih kesakitan.
Dua wanita muda dari kelompok penyintas itu meringkuk berpelukan di sudut ruangan, gemetar ketakutan saat salah satu preman dengan rambut diwarnai pirang mendekati mereka sambil menyeringai mesum.
"Ayolah, jangan menangis begitu," goda si preman pirang, menarik rambut salah satu wanita hingga ia menjerit. "Di dunia yang lama, lintah darat seperti bos kalian itu bisa berbuat semaunya dengan uang. Tapi sekarang? Uang kertas kalian bahkan tidak bisa dipakai untuk mengelap pantat!"
Pemimpin kelompok preman itu—seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipinya—menendang rusuk pria paruh baya yang terkapar di dekat kakinya.
"Dengar baik-baik, tua bangka!" bentak pria kekar itu, suaranya menggema penuh keangkuhan. "Sistem memberiku Kelas Tingkat Langka: Petarung Tangan Besi! Aku membunuh tiga ekor monster di jalanan hanya dengan kepalan tanganku! Mulai sekarang, akulah hukum di tempat ini. Dan hukum mengatakan, wanita-wanita ini adalah pialaku malam ini!"
Ketiga preman itu tertawa lepas, mabuk oleh kekuatan absolut yang tiba-tiba jatuh ke pangkuan mereka. Pembangkitan telah menghapus batasan moral mereka, mengubah mereka dari sekadar penjahat jalanan menjadi pemangsa sejati.
Namun, tawa mereka terhenti saat suara langkah kaki yang tenang terdengar dari arah tangga darurat.
Tap... Tap... Tap...
Semua mata menoleh ke arah pintu ruang staf yang terbuka lebar. Dari balik bayang-bayang lorong yang gelap, dua sosok melangkah masuk ke dalam jangkauan cahaya senter.
Han Do-Yoon berjalan di depan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, menatap pemandangan di depannya dengan kebosanan yang mutlak. Di belakangnya, Yoo Ji-Ah melangkah ragu, tangan kanannya menggenggam erat gagang Pedang Panjang Besi Hitam yang masih berada di dalam sarungnya.
"Siapa kalian?!" bentak preman berambut pirang, menarik pisau lipat dari saku celananya.
Mata pria kekar sang pemimpin menyipit. Ia memperhatikan pakaian Do-Yoon yang relatif bersih meski ada bercak darah, lalu tatapannya beralih ke wajah cantik Ji-Ah dan pedang berkualitas tinggi di tangannya. Keserakahan seketika membutakan akal sehatnya.
"Oh, lihat apa yang kita punya di sini," seringai pria kekar itu, memamerkan gigi kuningnya. "Penyintas lain yang berlagak menjadi pahlawan kesiangan. Hei, Nak! Sergalkan pedang mainan gadismu itu dan tinggalkan dia di sini, maka aku akan membiarkanmu lari dengan kedua kakimu yang masih utuh."
Do-Yoon tidak menjawab. Ia berhenti di tengah ruangan, matanya yang kelam menyapu ketiga pria itu layaknya melihat tumpukan sampah yang menghalangi jalan.
Ia sedikit menoleh ke belakang, melirik Ji-Ah yang napasnya mulai memburu.
"Ji-Ah," panggil Do-Yoon pelan, namun suaranya cukup dingin untuk membekukan udara di ruangan itu. "Kau lihat dua kroco di sebelah kiri dan kanan? Mereka adalah ujian pertamamu. Bunuh mereka."
Ji-Ah tersentak. Meski ia sudah bersiap mental sejak di atap, dihadapkan langsung pada perintah untuk mencabut nyawa sesama manusia membuatnya ragu sejenak. Tangannya gemetar di atas gagang pedangnya.
"M-membunuh... manusia?" bisik Ji-Ah.
"Mereka bukan manusia lagi. Mereka adalah rintangan yang bernapas," sahut Do-Yoon tanpa ampun. "Jika pedangmu ragu, mereka yang akan merobek pakaianmu dan memperkosamu di atas meja itu. Tentukan pilihanmu sekarang."
Mendengar percakapan itu, para preman merasa diremehkan. Harga diri mereka sebagai 'Penguasa Baru' terkoyak.
"Sialan! Membunuh kami?! Beraninya kau!" teriak preman berambut pirang. "Habisi pria sombong itu, aku yang akan mengurus si wanita!"
Kedua anak buah preman itu menerjang maju secara bersamaan. Satu menggunakan pisau lipat, satu lagi memegang linggis besi. Mereka mungkin memiliki peningkatan atribut dasar dari Pembangkitan tingkat rendah, namun gerakan mereka hanyalah ayunan liar tanpa teknik.
Melihat mereka berlari ke arahnya dengan niat membunuh yang jelas, keraguan di mata Ji-Ah hancur. Bayangan akan adiknya yang tertidur di atap dan kengerian yang akan terjadi jika ia kalah membakar sisa-sisa kepolosannya.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Energi sihir berwarna hijau pucat mulai menyelimuti tubuhnya.
"Keahlian aktif: Langkah Angin."
WUSSH!
Bagi kedua preman itu, sosok Ji-Ah seolah menghilang tertiup angin. Dalam sekejap mata, gadis itu sudah berada di samping preman berambut pirang. Terdengar bunyi gesekan logam yang tajam saat Ji-Ah menarik Pedang Panjang Besi Hitam dari sarungnya dalam satu gerakan melingkar yang sempurna.
CRAT!
Bilah pedang yang dialiri sihir angin itu memotong leher sang preman pirang seolah membelah mentega hangat. Darah menyembur deras saat tubuh pria itu ambruk ke depan, kepalanya hanya tersambung oleh sebagian kulit.
Preman kedua yang memegang linggis terbelalak ngeri. Momentum larinya terhenti mendadak. Namun, sebelum ia bisa berbalik untuk melarikan diri, Ji-Ah memutar tubuhnya menggunakan tumit, mengarahkan ujung pedangnya lurus ke depan, dan menusukkannya tepat menembus jantung preman tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, dua nyawa manusia melayang di tangan sang calon Permaisuri Pedang.
Ji-Ah mencabut pedangnya. Darah segar menetes dari ujung bilah besi hitam itu. Gadis itu terhuyung mundur selangkah, menutupi mulutnya dengan punggung tangan yang gemetar. Perutnya bergejolak hebat merasakan sensasi memotong daging dan tulang manusia yang jauh berbeda dari membunuh monster. Ia menahan keinginan untuk muntah.
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' memuji ketegasan pedang Anda!]
[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' tertawa melihat pertumpahan darah antar manusia!]
Di tengah ruangan, pria kekar pemimpin preman itu mematung. Wajahnya yang beringas kini tergantikan oleh kengerian absolut. Dua anak buahnya dibantai dalam kedipan mata oleh seorang gadis muda. Kesombongannya hancur berkeping-keping.
"K-kelas macam apa yang dia miliki?!" batin pria kekar itu panik.
Tatapan pria itu beralih pada Do-Yoon yang masih berdiri santai tanpa mengubah posturnya sedikit pun. Jika gadis itu saja sekuat iblis, seberapa mengerikan pria yang memberinya perintah?
Ketakutan memicu insting bertahan hidup hewani dari sang pria kekar.
"JANGAN MEREMEHKANKU!" raung pria itu dengan putus asa. Ia mengaktifkan seluruh kemampuan dari Kelas Petarung Tangan Besinya.
Urat-urat nadi di leher dan kedua lengannya menonjol keluar. Kulit di sekitar lengan dan kepalan tangannya berubah menjadi sekeras batu karang. Ia melesat ke arah Do-Yoon dengan kecepatan penuh, mengayunkan tinju batunya lurus ke arah wajah pria tersebut.
Itu adalah pukulan berkekuatan penuh yang bisa menghancurkan tengkorak manusia biasa hingga berkeping-keping.
Namun, Han Do-Yoon hanya menguap bosan.
Saat tinju batu itu berjarak kurang dari satu jengkal dari wajahnya, Do-Yoon merentangkan tangan kanannya. Energi sihir berwarna hitam pekat, lebih gelap dari bayangan mana pun di ruangan itu, meletup keluar dan langsung memadat membentuk sebilah pedang panjang.
Ada kilauan perak tipis di sepanjang mata pisaunya—efek dari Batu Asah Malam Tak Berbintang.
"Keahlian Peningkat Pertahanan tingkat rendah. Betapa menyedihkannya," bisik Do-Yoon.
Hanya dengan gerakan membalikkan pergelangan tangan, Do-Yoon menebas pedang bayangannya ke atas.
SYRIIING!
Suara logam halus membelah udara terdengar jernih. Atribut Penembus Zirah sebesar 30% dari pedangnya, ditambah kekuatan absolut dari kelas Pewaris Ketiadaan, membuat kulit batu sang preman tidak memiliki arti sama sekali.
Lengan kanan pria kekar itu terpotong rapi dari siku hingga terlempar ke udara, memercikkan darah hangat ke lantai.
"AAAAAARRGHHH!"
Jeritan penderitaan yang memekakkan telinga meledak dari mulut pria kekar itu. Ia jatuh berlutut, memegangi puntung lengannya yang menyemburkan darah dengan sisa tangannya yang gemetar hebat. Matanya membelalak menatap Do-Yoon layaknya menatap sang maut itu sendiri.
"M-maafkan aku! Tolong! Aku tidak tahu kalian berdua adalah Pembangkit tingkat tinggi! Ampuni nyawaku!" pria itu memohon, menangis bersujud di genangan darahnya sendiri. Seluruh arogansinya menguap tanpa sisa.
Do-Yoon berdiri di hadapannya, ujung pedang bayangannya diarahkan tepat ke pangkal leher pria yang menangis itu. Tatapan matanya tidak memancarkan secercah pun empati atau belas kasihan.
"Tadi kau bilang, hukum dunia baru adalah yang kuat yang berkuasa, bukan?" ucap Do-Yoon dengan nada datar. "Kebetulan sekali. Aku sangat setuju dengan hukum itu."
Tanpa memberi kesempatan bagi preman itu untuk mengucapkan kata terakhirnya, Do-Yoon menusukkan pedang bayangannya lurus ke bawah, menembus leher hingga ke tulang belakang pria tersebut.
Tubuh kekar itu mengejang satu kali sebelum akhirnya ambruk menjadi mayat.
[Anda telah membunuh Pembangkit (Tingkat 3).]
[Sebagai hukum rimba Sistem, Anda mendapatkan sebagian Koin Emas yang dimiliki korban.]
[Anda mendapatkan 450 Koin Emas.]
Do-Yoon membubarkan pedang bayangannya kembali ke dalam ketiadaan. Ia tidak repot-repot menyerap bayangan mereka; tingkat para preman ini terlalu rendah untuk memberikannya poin pengalaman atau keahlian yang berguna.
Keheningan kembali menyelimuti ruang staf tersebut, hanya diisi oleh suara isak tangis tertahan dari para penyintas yang meringkuk di sudut.
Pria paruh baya yang babak belur itu berusaha menyeret tubuhnya mendekati Do-Yoon. Wajahnya penuh dengan air mata kelegaan.
"T-terima kasih... sungguh, terima kasih, anak muda," isak pria itu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Kalian menyelamatkan nyawa dan kehormatan kami. Kami berutang budi—"
"Tutup mulutmu," potong Do-Yoon tajam, membuat pria itu terdiam membeku.
Do-Yoon menatap kelompok penyintas itu dengan pandangan sedingin es. "Aku tidak turun ke sini untuk menyelamatkan kalian. Aku turun karena suara rengekan babi kalian mengganggu waktu tidurku di atas sana."
Do-Yoon berbalik, menatap Ji-Ah yang masih berdiri kaku menatap noda darah di tangannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Do-Yoon, nada suaranya sedikit melembut, meski hanya setitik.
Ji-Ah menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk. Ia membersihkan bilah pedangnya pada kemeja preman yang sudah mati, lalu menyarungkannya kembali. Sisa-sisa kepolosan masa kuliahnya telah terkubur di ruangan ini.
"Aku baik-baik saja," jawab Ji-Ah mantap.
Do-Yoon mengangguk puas. Ia kemudian menoleh kembali ke arah para penyintas untuk yang terakhir kalinya.
"Matahari akan terbit dalam beberapa jam lagi. Gelombang monster hari kedua akan sepuluh kali lebih ganas dari hari ini," ucap Do-Yoon, suaranya menggema sebagai peringatan mutlak. "Jika kalian masih terus berharap ada pahlawan yang akan datang menyelamatkan kalian setiap kali ada bahaya... sebaiknya kalian gunakan pisau dapur di bawah dan gorok leher kalian sendiri sekarang. Itu akan jauh lebih tidak menyakitkan daripada dicabik-cabik oleh monster."
Tanpa menunggu balasan apa pun, Do-Yoon berjalan melewati mayat-mayat tersebut, kembali menuju tangga darurat menuju atap.
jangan lupa hadir juga 😉