Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Halaman Angin Mati dan Sudut Berdebu
Asrama Murid Luar Sekte Daun Angin terletak di lereng tengah gunung. Berbeda dengan area pelayan yang kumuh, tempat ini dipenuhi oleh bangunan bergaya pagoda yang megah, taman-taman dengan kolam teratai spiritual, dan formasi pengumpul Qi yang membuat udara terasa sangat segar.
Namun, kedatangan Awan merusak pemandangan indah tersebut.
Saat ia berjalan melintasi taman utama dengan jubah birunya dan pedang Kayu Besi Hitam menonjol di punggung, ratusan pasang mata menatapnya dengan permusuhan yang tak disembunyikan. Bisik-bisik tajam terdengar dari setiap sudut.
"Itu dia... manusia fana yang menghancurkan tangan Kakak Senior Wu."
"Lihatlah kesombongannya. Dia pikir mengenakan jubah biru bisa menutupi bau lumpur dari darah fananya."
"Jangan menatap matanya. Kudengar dia adalah siluman yang menyamar."
Awan tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan. Langkahnya stabil. Hinaan mereka tidak lebih dari hembusan angin lalu bagi telinganya yang sudah terbiasa mendengar caci maki Mandor Zhu selama setengah tahun.
Ia tiba di depan Paviliun Urusan Asrama. Di dalam, seorang pria paruh baya dengan kumis melintang sedang duduk menghisap pipa tembakau. Ia adalah Tetua Sun, pengurus logistik dan pembagian kamar Murid Luar.
Awan meletakkan plakat besinya di atas meja. "Murid Awan, melapor untuk mengambil tempat tinggal dan jatah bulanan."
Tetua Sun melirik plakat itu, lalu menatap Awan dengan raut wajah jijik, seolah baru saja melihat lalat mati di mangkuk nasinya. Sebagai seseorang yang juga bermarga sama dengan beberapa murid yang pernah dikalahkan Awan, Tetua Sun tidak memiliki simpati sedikit pun.
"Jadi kau si kera fana yang membuat kekacauan di turnamen," Tetua Sun mendengus, menghembuskan asap tembakau ke wajah Awan. Awan bahkan tidak berkedip menahan asap tersebut.
"Baiklah. Karena kau secara teknis adalah Murid Luar, aku harus memberimu fasilitas." Tetua Sun melempar sebuah kunci kuningan berkarat dan sebuah kantong kecil ke atas meja.
"Jatah bulananmu: Sepuluh Batu Roh tingkat rendah dan tiga Pil Pengumpul Qi. Dan untuk tempat tinggalmu... Halaman Nomor 44, di Ujung Tebing Barat. Pergilah dan jangan membuat keributan di wilayahku."
Beberapa Murid Luar yang sedang mengantre di belakang Awan tertawa tertahan.
"Halaman 44? Bukankah itu Halaman Angin Mati?" bisik seorang murid.
"Ya. Tempat itu berada di ujung tebing tempat angin bertiup sangat kencang ke arah bawah. Energi Qi di sana selalu hancur tersapu angin. Tidak ada kultivator yang bisa bermeditasi di sana. Tetua Sun benar-benar memberinya tempat pembuangan sampah!"
Awan mengambil kunci dan kantong kecil itu tanpa protes. Ia tahu Pil Pengumpul Qi tidak berguna baginya, tetapi Batu Roh bisa digunakan sebagai mata uang untuk membeli daging berkualitas tinggi dan ramuan penguat otot di kota bawah gunung.
"Terima kasih, Tetua," ucap Awan datar, lalu berbalik pergi.
Sikap dingin Awan justru membuat Tetua Sun menggertakkan giginya kesal. Ia berharap pemuda fana itu marah dan memprotes, sehingga ia punya alasan untuk menghukumnya. Namun, Awan terlalu tenang untuk dipancing.
Halaman Angin Mati memang pantas mendapat namanya.
Tempat itu berjarak beberapa mil dari pusat asrama, terletak tepat di bibir jurang yang curam. Sebuah gubuk kayu reyot berdiri di tengah halaman yang dipenuhi rumput liar setinggi pinggang. Angin gunung berhembus turun dari puncak menuju jurang dengan kecepatan yang konstan dan mengerikan, menciptakan suara lolongan seperti hantu yang kelaparan.
Udara di sini sangat tipis akan Qi Spiritual karena terus-menerus disapu oleh arus angin ke dasar tebing. Bagi kultivator, ini adalah neraka.
Namun bagi Awan...
Ia berdiri di tengah halaman, membiarkan angin kencang itu menghantam tubuhnya. Jubah birunya berkibar hebat. Ia bisa merasakan tekanan angin itu layaknya tangan-tangan tak kasat mata yang mencoba mendorongnya jatuh ke jurang.
Seulas senyum tipis terukir di wajah Awan.
"Gravitasi buatan," gumamnya puas. "Angin ini terus memberikan beban sekitar dua puluh kilogram pada tubuh. Tempat yang sempurna."
Awan segera menaruh barang-barangnya di dalam gubuk. Alih-alih membersihkan rumput liar dengan sabit, ia menggunakan area halaman itu untuk menguji batas tubuh barunya setelah menelan Pil Pemecah Batas.
Ia memasang kuda-kuda, menggeser pinggulnya, dan mulai mengayunkan tangannya, memotong rumput-rumput tinggi itu menggunakan serangan udara kosong dari Seni Pedang Dasar Angin Jatuh. Ledakan udara dari ayunan ototnya meratakan halaman itu dalam waktu kurang dari setengah jam, mengubah ilalang menjadi debu. Tubuhnya terasa ringan, kuat, dan luar biasa padat.
Setelah merapikan tempat tinggal barunya, Awan memiliki satu tujuan lagi sebelum hari gelap: Paviliun Kitab.
Paviliun Kitab Sekte Daun Angin adalah bangunan tertinggi ketiga di sekte tersebut. Berbentuk menara segi delapan, bangunan ini menyimpan puluhan ribu teknik bela diri, sihir, dan rahasia kultivasi yang dikumpulkan selama ratusan tahun.
Hanya dengan menunjukkan plakat Murid Luar, Awan diizinkan masuk ke Lantai Pertama.
Bagian dalam paviliun itu dipenuhi oleh rak-rak kayu gaharu yang harum. Gulungan perkamen dan gulungan giok bercahaya tersusun rapi. Murid-murid luar tampak duduk bersila di berbagai sudut, memejamkan mata, mengalirkan Qi mereka ke dalam giok untuk menyerap informasi langsung ke dalam pikiran.
Awan berjalan menyusuri rak-rak tersebut.
Teknik Pedang Api Terbang. (Syarat: Alam Pengumpul Qi Tingkat Tiga, Afinitas Api).
Langkah Bayangan Air. (Syarat: Alam Pengumpul Qi Tingkat Empat, Afinitas Air).
Seni Napas Penyu Batu. (Syarat: Meridian utama terbuka penuh).
Semua teknik di tempat ini bersinar dengan aura spiritual, dan semuanya... menolak Awan. Saat Awan menyentuh salah satu gulungan giok, benda itu tidak merespons sama sekali. Tanpa Qi untuk membuka segelnya, giok-giok informasi itu tak lebih dari sekadar batu hiasan bagi Awan.
Ia berjalan semakin dalam, melewati rak-rak yang populer, hingga akhirnya tiba di sudut paling belakang Lantai Pertama.
Area ini gelap, berdebu, dan sarang laba-laba menghiasi langit-langitnya. Rak di sudut ini tidak berisi gulungan giok ajaib, melainkan buku-buku kuno dari perkamen kulit hewan dan kertas bambu biasa. Ini adalah area Buku Fana.
Sekte Daun Angin menyimpan teknik-teknik bela diri fana hasil rampasan dari kerajaan-kerajaan manusia di masa lalu. Bagi kultivator, buku-buku ini dianggap sebagai rongsokan karena tidak bisa menembus hukum alam dan hanya mengandalkan tenaga fisik. Tak ada satu pun murid yang mau membuang waktu membacanya.
Mata Awan berbinar. Di sinilah letak harta karun yang sesungguhnya baginya.
Ia mulai membersihkan debu dari buku-buku tersebut dan membacanya dengan cepat. Ia mencari teknik yang bisa melengkapi kelemahannya. Awan sudah memiliki kekuatan destruktif yang mengerikan dan ketahanan fisik setara monster, tetapi saat bertarung melawan Wu Jian, ia menyadari satu hal: pergerakannya terlalu kaku.
Langkah Kilat Fana yang ia gunakan untuk melesat maju hanyalah ledakan otot mentah. Gerakan itu hanya bisa lurus ke depan, menghancurkan lantai, dan sangat menguras tenaga. Ia butuh teknik langkah (footwork) yang sistematis.
Setelah dua jam mengobrak-abrik rak berdebu itu, tangannya berhenti pada sebuah buku usang bersampul kulit binatang berwarna abu-abu. Judulnya hampir pudar:
[Seni Langkah Besi Jatuh]
Awan membuka halaman pertamanya. Kata pengantar di buku itu langsung menarik perhatiannya:
"Bagi mereka yang tidak diberkati oleh sayap angin, bumi adalah satu-satunya pijakan. Langkah Besi Jatuh tidak membuat tubuhmu menjadi ringan, melainkan membuatmu sepuluh kali lebih berat. Dengan menyatukan pusat gravitasi ke inti bumi, setiap langkah adalah jangkar, setiap tolakan adalah ledakan. Membutuhkan kekuatan tulang kaki yang mampu menahan beban ribuan kati. Pemula akan hancur lututnya. Ahli akan membelah tanah."
Awan tersenyum lebar.
Teknik peringanan tubuh (Qinggong) pada umumnya berusaha melawan gravitasi dengan Qi agar tubuh seringan kapas. Namun Langkah Besi Jatuh justru sebaliknya. Teknik ini mengajarkan cara memanipulasi titik berat tubuh, meminjam kekuatan gravitasi itu sendiri, dan menggunakan daya tolak bumi untuk menghasilkan pergerakan jarak dekat yang sangat cepat, berat, dan mustahil digoyahkan oleh angin sekencang apa pun.
Bagi manusia biasa, mempraktikkan ini akan menghancurkan tulang kering dan lutut mereka karena tekanan fisiknya terlalu brutal. Tapi bagi Awan, yang tulang dan organ dalamnya baru saja dipadatkan oleh energi liar Pil Pemecah Batas? Ini adalah teknik yang dibuat khusus untuknya!
Awan segera membawa buku tersebut ke meja administrasi di dekat pintu keluar.
Penjaga perpustakaan, seorang murid senior yang setengah tertidur, membuka sebelah matanya. Ia melihat Awan menaruh buku usang bersampul kulit binatang di atas mejanya.
"Seni Langkah Besi Jatuh?" murid senior itu membaca judulnya dengan nada geli. Ia menatap Awan. "Buku rongsokan dari dunia fana. Kau bahkan tidak perlu menukarkan poin kontribusi sekte untuk ini. Bawa saja. Kau bebas meminjamnya selama sebulan."
"Terima kasih," kata Awan, memasukkan buku itu ke balik jubahnya.
Saat Awan berbalik untuk pergi, murid senior itu tertawa pelan. "Hei, Murid Pelayan yang naik pangkat. Bermain-main dengan teknik fana mungkin memberimu satu kemenangan beruntun karena kejutan. Tapi bulan depan adalah Ujian Reruntuhan Lembah Angin. Semua Murid Luar akan dikirim ke sana untuk berburu siluman dan mencari pencerahan."
Murid senior itu tersenyum dingin. "Di sana, tidak ada wasit yang akan menghentikan pertarungan. Dan tidak ada aturan yang melarang 'kecelakaan' yang merenggut nyawa. Sebaiknya kau gunakan Batu Rohmu untuk membeli peti mati yang bagus."
Langkah Awan terhenti sebentar di ambang pintu. Ia tidak menoleh ke belakang, melainkan hanya menatap langit senja yang mulai gelap.
"Saya lebih suka membuat peti mati dari kayu yang saya belah sendiri," jawab Awan santai, lalu berjalan keluar meninggalkan Paviliun Kitab, membelah angin malam menuju Halaman Angin Mati.