Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 7
Lampu gawat darurat RS YPK Mandiri memancarkan cahaya merah yang pudar di bawah gerimis malam. Di balik tirai pembatas, aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman. Tsania terbaring lemah di atas brankar metalik, jarum infus sudah tertancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan penurun panas yang dingin menembus pembuluh darahnya.
Di samping tempat tidur, Raihan seorang arsitek lanskap independen yang malam itu sedianya punya janji temu bisnis di area Pratama Tower berdiri dengan wajah cemas. Ia mengusap wajahnya yang kasar, menatap prihatin pada sosok wanita di hadapannya. Dokter jaga melangkah mendekati Raihan seraya memegang papan klip medis.
"Mas keluarga dari pasien?" tanya Dokter seraya menyesuaikan letak stetoskopnya.
"Bukan, Dok. Saya... orang yang kebetulan menemukan beliau pingsan di depan Pratama Tower," jawab Raihan jujur. "Bagaimana kondisinya?"
Dokter menghela napas berat, menatap lembar grafik suhu tubuh Tsania. "Demamnya sangat tinggi, mencapai 39,8 derajat celcius. Ditambah lagi ada hipotermia ringan dan kelelahan fisik yang ekstrem. Baju yang menempel di tubuhnya tadi sempat basah kuyup?"
"Saya kurang tahu, Dok. Karena saya menemukan dia saat hampir pingsan di lobby," sahut Raihan.
"Sistem imunnya drop total. Paru-parunya berisiko terkena infeksi kalau tidak segera ditangani. Dia harus dirawat inap setidaknya dua atau tiga hari ke depan," jelas Dokter tegas.
"Tolong urus administrasi pendaftarannya di depan ya, Mas."
"Baik, Dok. Lakukan saja semua tindakan terbaik untuk beliau," ujar Raihan tanpa ragu.
Setelah Dokter berlalu, Raihan melangkah mendekati brankar. Kelopak mata Tsania bergerak-gerak gelisah sebelum akhirnya terbuka pelan. Pandangan wanita itu kabur, namun ia bisa merasakan bayangan tinggi seorang pria di sampingnya.
"PPak Arsen...?" lirih Tsania sangat pelan, suara seraknya nyaris tak terdengar. Raihan membungkuk sedikit, suaranya terdengar lembut menenangkan.
"Bukan. Saya Raihan, Mbak. Jangan banyak bergerak dulu, Anda ada di rumah sakit sekarang."
Tsania mengedipkan matanya perlahan. Kesadarannya terkumpul sedikit demi sedikit. Bayangan Arsen yang dingin dan tega perlahan buyar, berganti dengan raut wajah Raihan yang penuh kehangatan dan rasa khawatir.
"Rumah... sakit?" jemari Tsania yang bebas mencoba memegang kepala yang terasa seperti dihantam godam. "Kenapa saya..."
"Anda pingsan di trotoar depan gedung kantor Anda," potong Raihan penuh empati. Ia menarik kursi plastik dan duduk di samping brankar.
"Suhu badan Anda panas sekali, Mbak. Baju Anda juga basah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tidak ada rekan kerja atau atasan yang menemani Anda?"
Air mata yang sejak siang ditahan Tsania mendadak luruh, menetes perlahan melewati pelipisnya menuju bantal. Bukan hanya karena rasa sakit di tubuhnya, tapi karena fakta bahwa seorang asing justru jauh lebih peduli dibanding pria yang pernah berjanji membahagiakannya.
"Saya... saya habis menyelesaikan pekerjaan," bisik Tsania, suaranya bergetar hebat menahan tangis.
"Terima kasih banyak, Pak Raihan. Kalau tidak ada Anda... saya tidak tahu harus bagaimana di jalanan tadi."
"Sama-sama. Panggil Raihan saja," ujar Raihan tersenyum tipis, lalu menyodorkan segelas air hangat dengan sedotan.
"Minum sedikit dulu. Saya sudah mengurus kamar rawat inap untuk Anda di lantai tiga."
"Tapi... biaya rumah sakit ini..." Tsania panik, mencoba duduk namun Raihan menahannya dengan lembut.
"Jangan pikirkan soal biaya dulu," pangkas Raihan tegas namun ramah.
"Fokus saja pada pemulihan Anda. Oh ya, ponsel Anda terus bergetar di dalam tas sejak tadi. Ada nama 'Mbak Maya' yang menelepon belasan kali."
"Bisa tolong ambilkan ponsel saya, Raihan?" minta Tsania.
Raihan mengambil ponsel dari tas Tsania dan menyerahkannya. Begitu Tsania menggeser layar, panggilan dari Maya kembali masuk.
" Halo, Mbak Maya..."
"Tsania! Astaga, kamu di mana?!" suara Maya terdengar panik setengah mati dari seberang telepon.
"Aku masih di parkiran basemen, tadi lihat mobil Pak Arsen sudah keluar dari jam delapan. Tapi lampu ruangan kalian baru mati. Kamu sudah pulang? Kamu baik-baik saja, kan?"
Tsania menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. "Saya... saya di RS YPK Mandiri, Mbak Maya. Saya dirawat,"
"Apa?! Dirawat?!" jerit Maya terkejut. "Astaga, demammu makin parah?! Biar aku ke sana sekarang! Kirim nomor kamarnya!"
"Iya, Mbak. Terima kasih..."
Tepat pukul sepuluh malam, Maya menerobos masuk ke kamar rawat inap kelas satu dengan wajah panik. Ia langsung menghampiri Tsania yang terbaring dengan selang infus. Di sudut ruangan, Raihan sedang berdiri merapikan beberapa obat dari apotek.
"Tsania!" Maya memeluk lengan Tsania yang tak terinfus.
"Kamu kenapa bisa sampai begini, sih? Ya Tuhan, wajahmu pucat sekali! Ini pasti karena tadi siang kamu kediginan berjam-jam dengan pakaian basah karena air hujan dan lumpur,"
"Mbak Maya, kenalkan ini Mas Raihan. Dia yang menolong saya waktu pingsan di lobi depan," ucap Tsania pelan.
Maya menoleh, menjabat tangan Raihan cepat. "Mas Raihan, terima kasih banyak ya! Kalau tidak ada Mas, saya tidak tahu nasib teman saya ini."
"Sama-sama, Mbak. Saya kebetulan memang ada di lokasi," balas Raihan sopan.
"Karena rekan Mbak Tsania sudah datang, saya permisi mengurus sisa berkas di luar dulu."
Begitu Raihan keluar dari kamar, Maya langsung duduk di pinggir ranjang, matanya memancarkan amarah yang meluap-luap.
"Ini pasti gara-gara Pak Arsen, kan?!" bisik Maya dengan nada menahan geram.
"Aku tahu dia menyuruhmu kerja lembur sampai jam sembilan malam lewat! Tadi aku sempat bertanya pada satpam lantai atas, katanya Pak Arsen sengaja memberikan tumpukan berkas baru saat kamu sudah mau pamit pulang!"
Tsania menunduk, menggenggam selimut rumah sakitnya erat-erat. "Pak Arsen cuma menuntut profesionalitas kerja, Mbak..."
"Profesionalitas gundulmu!" potong Maya murka.
"Itu bukan profesional, itu penyiksaan! Dia tahu kamu habis kehujanan dan terpeleset di lumpur saat di Bogor! Dia lihat sendiri bajumu basah dan kotor! Bagaimana bisa seorang atasan setega itu menyiksa karyawannya sampai pingsan dan masuk rumah sakit?!"
"Tolong jangan cerita ke siapa-siapa di kantor ya, Mbak Maya," mohon Tsania menatap Maya penuh iba.
"Saya tidak mau dipandang lemah. Saya juga tidak mau Pak Arsen berpikir saya mencari perhatian."
"Kamu ini terlalu baik, Tsania!" Maya mengusap wajahnya frustrasi.
"Pak Arsen itu benar-benar monster. Dia bahkan tidak tahu kamu sekarang ada di sini, kan? Dia pasti sedang tidur nyenyak di apartemen mewahnya tanpa rasa bersalah sedikit pun!"
"Lagian aku heran ada apa dengan Pak Arsen? Apa kamu ada masalah sebelumnya sama dia? Karena bahkan ruangan kamu di dalam ruangannya dan dai juga selalu emnyiksa kamu dengan banyak pekerjaan,"
"Kami tidak saling kenal dan tak ada masalah sebelumnya. Mungkin karena dia ingin aku menjadi karyawan yang tahan banting," kekeh Tsania menyembunyikan sakit hati atas perlakuan mantan kekasihnya.
Tsania mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang menampilkan rintik hujan malam. Kata-kata Maya menghantam dadanya dengan telak. Benar, Arsen saat ini pasti sedang beristirahat tenang, sepenuhnya buta dan tak acuh pada penderitaan yang ia ciptakan sendiri.
Sementara itu, di sebuah penthause mewah kawasan Senopati.
Arsen berdiri di balkon, memegang minuman bersoda dalam kaleng. Angin malam bertiup kencang, membelai kemeja hitamnya yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Pikirannya tidak tenang. Sejak meninggalkan gedung kantor tadi malam, bayangan wajah pucat Tsania dan bibirnya yang bergetar menahan dingin terus berputar di kepalanya.
Ia melirik jam tangan mewahnya. Pukul sebelas malam. Arsen merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Jemarinya bergerak ragu melintasi nama kontak Tsania.
'Haruskah aku meneleponnya? Memastikan dia tidak pingsan di jalan?' batin Arsen bertarung keras dengan gengsinya.
"Tidak. Untuk apa?" gumam Arsen pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum sinis yang dipaksakan.
"Dia yang memilih bertahan. Dia wanita tangguh, bukan? Jangan biarkan dirimu terpedaya lagi oleh akting menyedihkannya, Arsen."
Arsen melemparkan ponselnya acuh tak acuh ke atas sofa empuk, lalu menyesap minumannya kembali. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa besok pagi pukul delapan tepat, Tsania akan kembali berdiri tegar di depan mejanya dengan dokumen yang sempurna.
Ia sama sekali tidak tahu, bahwa di sudut kota yang lain, Tsania sedang berjuang melewati malam kritisnya di bawah pengawasan ketat tim medis dan bahwa rasa dendam yang ia pelihara dengan bangga telah menancapkan luka yang terlalu dalam untuk bisa disembuhkan kembali.