~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 CURHATAN DENGAN BAYI
****
Cahaya matahari menerobos lewat jendela tinggi bergaya Gothic, menari di atas meja panjang penuh tumpukan laporan dari wilayah Ravengard. Ruang kerja Grand Duchess Iris von Draewyn sunyi senyap, hanya suara lembut pena bergesekan dengan kertas yang terdengar.
Iris duduk di kursi besar berbalut kulit hitam, punggungnya tegak sempurna—meskipun di dalam kepalanya, Intan, si mantan buruh korporat BUMC yang baru sebulan kerja lalu kena PHK dan tewas ditabrak truk tronton, sedang menjerit frustrasi.
'Gila! Kenapa gue harus terjebak di tubuh tokoh novel dengan beban kerja setara Manajer Operasional gini?! Di dunia nyata gue udah pengangguran, mati ketabrak tronton, eh di sini malah kerja rodi ngurusin dokumen kadipaten! Mana gayanya harus jaim ala bangsawan dingin lagi!' gerutu Intan dalam hati.
Iris meletakkan penanya, lalu menghela napas panjang dengan gaya yang sangat tidak anggun jika dilihat oleh para pelayan istana. “Lisa,” panggilnya tanpa menoleh, suaranya diatur agar tetap terdengar datar dan berwibawa.
Pelayan muda bertubuh ramping itu berdiri siaga di dekat rak buku. “Ya, Yang Mulia?”
Iris menoleh, menatap Lisa dengan mata violet jernihnya. “Sudah beberapa bulan kita tinggal di sini. Aku mau tanya jujur... bagaimana penilaian para pelayan dan ksatria di kastil ini terhadapku?”
Lisa terdiam sejenak, jelas terlihat ragu dan menggigit bibir bawahnya.
Iris menyipitkan mata. Sifat aslinya sebagai Intan yang doyan nge-gossip di pantry kantor mulai keluar, meski harus ditahan setengah mati. “Katakan dengan jujur, Lisa. Aku memintanya sebagai Iris yang apa adanya, bukan sebagai Grand Duchess yang harus jaga image.”
Lisa menunduk inang dalam-dalam. “Saya... saya mohon maaf sebelumnya, Nyonya.”
“Lanjutkan aja, nggak usah pake urat,” sahut Iris spontan—yang langsung buru-buru ia meralat nadanya. Maksudnya, “Silakan bicaralah.”
Lisa menelan ludah. “Mereka... mereka menghormati Anda, Yang Mulia. Tapi... banyak juga yang... takut.”
Iris mengangkat sebelah alisnya. “Takut? Emangnya muka gue mirip penagih pinjol ilegal?”
Lisa berkedip bingung mendengar istilah asing itu, lalu menggeleng pelan. “Anda terlalu... dingin. Ketus. Tak banyak bicara. Tak ada yang berani mengajak Anda bicara, apalagi berkelakar. Anda tidak seperti bangsawan pada umumnya yang lebih ramah dan suka tebar senyum.”
Iris menunduk, jari-jarinya mengetuk pelan cangkir teh yang kini telah mendingin. Di dalam batinnya, Intan tertawa miris.
'Ya mancing-mancing gimana mau ramah, woi! Lah wong gue aja masih syok berat gara-gara pindah dimensi! Otak gue masih sinkronisasi antara rumus Excel sama tata krama ala keluarga kerajaan Eropa!' batinnya menjerit.
“Mereka takut padaku...” gumam Iris lirih.
Lisa buru-buru menambahkan, “Bukan karena Anda jahat, Nyonya. Tapi karena mereka tidak bisa membaca ekspresi Anda. Anda seperti patung es. Anggun, indah... tapi tak tersentuh.”
Iris tersenyum pahit, yang kali ini benar-benar tulus dari hatinya yang jomblo akut. “Aku rasa... itu nggak cuma berlaku buat para pelayan, ya?”
Lisa melangkah pelan mendekat, menatap nyonyanya dengan iba. “Bahkan suami Anda sendiri, Grand Duke Darian... tak pernah dekat dengan Anda. Tapi itu... bukan sepenuhnya salah Anda. Saya tahu itu karena... pernikahan politik kalian dari awal memang kaku.”
Senyum di bibir Iris memudar. Ingatan novel yang pernah ia baca saat senggang berputar cepat di kepalanya. Di dalam cerita aslinya, Iris memang bucin setengah mati pada Darian, tapi si Grand Duke malah cuek bebek karena menganggapnya cuma alat aliansi.
“Perjanjian yang disetujui karena si Iris bodoh di novel itu kepincut kegantengannya sejak pertama kali lihat dia bawa pedang di aula musim salju,” umpat Iris dalam hati. “Padahal aslinya si Darian tuh kanebo kering berjalan!”
Iris menekan dadanya pelan, merasakan sisa-sisa emosi dari pemilik tubuh asli. “Rasanya... sesak. Padahal gue tahu ini dari awal kalau lakinya modelan batu es.”
Lisa mendekat lagi. “Yang Mulia...”
Namun, sebelum Lisa sempat meneruskan kata-katanya, Iris tiba-tiba meringis kecil sambil memegang perutnya yang kini sudah mulai membuncit.
Lisa panik seketika. “Anda sakit? Perutnya sakit? Saya panggil Tabib Eldric sekarang?!”
Iris menggeleng cepat, melambaikan tangannya. “Nggak usah, nggak usah panggil tabib! Cuma agak nggak nyaman aja... Mungil di dalam kayaknya protes gara-gara emaknya kurang asupan gula.”
Ia menatap Lisa dengan mata berbinar penuh harap.
“Lisa... tolong banget, carikan puding mangga lagi.”
Lisa tertegun. “Hah? Sekarang, Yang Mulia?”
Iris mengangguk mantap. “Iya, sekarang! Sumpah, lidah gue udah pait banget pengin yang manis-manis, asam, dan dingin. Tolong ya, Yang Mulia Asisten Rumah Tangga kesayangan gue?”
Lisa menunduk hormat, walau ada garis kebingungan di wajahnya. “Baiklah... saya akan memerintahkan dapur istana untuk membuatnya.”
Begitu Lisa keluar dan menutup pintu, Iris langsung merosot di kursinya, membiarkan seluruh topeng bangsawannya runtuh seketika. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja kerja yang penuh tumpukan kertas.
“Huft... capek banget jadi orang kaya tapi menderita batin,” keluh Iris dengan gaya bahasa aslinya. “Mati ketabrak truk tronton, masuk novel, hamil anak panglima galak, terus disangka psikopat dingin sama pelayan sendiri. Komplit banget penderitaan gue!”
Tangannya perlahan meraba perutnya yang membuncit, merasakan kehangatan di sana.
“Setidaknya lu ada di sini nemenin emak lu yang lagi stres berat, Nak...” bisiknya lembut. “Lu tahu nggak? Emak lu di dunia asal tuh cuma buruh magang yang di-PHK gara-gara perusahaan ngaku rugi tapi bosnya malah beli lamborghini. Makanya di sini kita harus bertahan hidup, ya!”
Ia menatap keluar jendela kaca patri yang menampilkan lanskap Kastil Ravengard berselimut kabut tebal.
“Apa bapakmu yang mirip kanebo kering itu juga ngerasa kesepian di menara sebelah sana? Ah, nggak mungkin, orang hatinya dari semen, kok,” gerutunya pelan sambil tersenyum tipis.
Malam menggantung berat di atas langit Ravengard. Hujan tipis turun di luar jendela, menetes pelan di bingkai batu, menciptakan melodi sunyi yang menenangkan.
Di atas ranjang berhias kanopi sutra abu-abu keperakan di kamar utamanya, Iris mengerang pelan dalam tidurnya. Wajahnya pucat, tubuhnya sedikit gemetar, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Malam ini, bukan cuma ingatan Iris asli yang datang, tapi mimpi aneh tentang masa lalunya sebagai Intan—detik-detik saat lampu sorot truk tronton menerjangnya, berpadu dengan memori masa kecil Iris bersama ibunya di utara.
Iris terbangun dengan napas memburu.
“Hah... hah... astaga, kirain gue beneran ketabrak tronton lagi,” gumamnya panik, meraba-raba selimutnya. Ia menoleh ke sekeliling. Kamar itu temaram. Lisa tidak ada di pojokan karena sudah disuruh istirahat.
Rasa takut sisa mimpi buruk membuat dadanya sesak. “Duh, males banget kalau insomnia kambuh begini,” gerutunya sambil bangkit dari ranjang, merapikan gaun tidurnya, dan memutuskan keluar kamar untuk mencari udara segar atau... ya, sekadar jalan-jalan cari mangga sisa kalau ada.
Langkahnya pelan menyusuri lorong kastil yang sunyi. Namun, tepat di tikungan koridor utama...
“Grand Duchess?”
Sebuah suara bariton yang berat dan dingin menghentikan langkahnya.
Iris melonjak kaget. Ia mendongak.
Grand Duke Darian von Ravengard berdiri di hadapannya. Pria itu masih mengenakan jubah kebesaran hitam dengan lambang gagak perak di dadanya, rambut hitamnya agak berantakan karena angin malam. Mata kelabunya menatap tajam, menyiratkan keterkejutan yang tersembunyi di balik raut datarnya.
Iris menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terpesona, tapi karena takut salah ngomong di depan 'atasan tertingginya' ini.
“A-anu... Yang Mulia,” cicit Iris, refleks memasang gestur sopan ala pegawai teladan yang tepergok bos besar di luar jam kerja.
Darian mengerutkan keningnya, menatap penampilan Iris dari atas ke bawah—rambut perak berantakan, gaun tidur satin, dan wajah pucat. “Apa yang kau lakukan berkeliaran sendirian di lorong jam segini? Mau cari puding mangga lagi sampai pingsan?”
Mendengar sindiran itu, harga diri Intan sebagai mantan anak korporat langsung terpancing.
“Heh! Enak aja!” balas Iris keceplosan dengan nada aslinya yang agak ngegas, sebelum akhirnya buru-buru ia batuk kecil untuk menetralisir. “Maksud saya... saya cuma terbangun karena mimpi buruk, Yang Mulia. Bukan mau cari puding.”
Darian tertegun sejenak. Alis tebal pria itu terangkat mendengar nada bicara Iris yang mendadak tidak formal. Namun, alih-alih marah, Darian justru menghela napas pendek.
“Kau tidak seharusnya berjalan sendirian dalam kondisi hamil seperti ini,” ujar Darian datar, suaranya terdengar tidak lagi setajam biasanya.
Setelah jeda beberapa detik yang canggung, Darian menawarkan sesuatu yang membuat mata violet Iris membelalak lebar.
“Jika Grand Duchess keberatan tidur sendiri karena mimpi buruk,” kata Darian kaku, “kau bisa... tidur di kamar saya malam ini. Di sana ada perapian yang lebih hangat.”
Iris melongo. 'Hah? Dia ngajak gue sekamar? Wah, jangan-jangan si kanebo kering ini lagi kesurupan siluman apa gitu!' batinnya histeris.
“S saya ... nggak mau nyusahin Anda, Yang Mulia,” tolak Iris halus.
Darian menatap lurus ke matanya tanpa kompromi. “Kau sedang mengandung pewarisku. Ini bukan soal menyusahkan. Ini kewajiban.”
‘Kewajiban katanya... cih, dasar bucin birokrasi,’ batin Iris protes, tapi kakinya tetap mengekor langkah Darian karena, jujur saja, kamar pribadinya memang agak horor kalau malam-malam.
Begitu pintu kamar pribadi Darian yang besar dan kokoh terbuka, Iris merasa sedang memasuki markas militer rahasia.
Ruangan itu luas, didominasi warna gelap, batu obsidian, rak buku tebal, peta strategi perang, dan aroma maskulin khas kayu pinus serta tembakau dingin. Tidak ada kesan feminin sama sekali. Jauh berbeda dengan kamarnya yang penuh nuansa pastel dan bunga.
Darian menyalakan api di perapian besar dengan cekatan, membuat ruangan langsung terasa hangat.
Iris berdiri kaku di tengah ruangan, memeluk dirinya sendiri. Ia menunjuk sofa panjang di dekat jendela dengan ragu. “Saya... tidur di sofa itu saja, ya?”
Darian menoleh cepat dari perapian. “Kau hamil, Iris. Jangan membantah.”
“Tapi kan—emangnya bapak mau tidur di mana?” tanya Iris blak-blakan.
Darian menunjuk ranjang besarnya yang menggunakan seprai hitam legam. “Di ranjang. Dan kau juga di sana.”
Iris menelan ludah kasar. ‘Wah, wah, wah. Mau modus terselubung nih si jenderal galak,’ pikirnya panik. Tapi melihat wajah datar dan sorot mata Darian yang murni memandangnya sebagai pasien berjalan, Iris tahu pria itu tidak punya niat romantis—murni kaku dan lurus seperti penggaris besi.
Dengan hati-hati, Iris naik ke atas ranjang besar itu, mengambil sisi sebelah kanan, dan menarik selimut hingga menutupi dagunya. Tubuhnya masih kaku, tapi kehangatan dari perapian dan aroma kayu pinus perlahan-lahan membuat sarafnya rileks.
Darian menyusul naik ke atas ranjang, mengambil posisi di sisi sebelah kiri dengan jarak aman yang cukup lebar di antara mereka. Pria itu melepaskan jubah luarnya dan berbaring tenang.
Keheningan malam menyelimuti mereka. Hujan di luar terdengar semakin syahdu.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi, sampai akhirnya Iris berbisik pelan, mengalahkan suara gemercik api di perapian.
“Yang Mulia... ini pertama kalinya saya masuk ke kamar Anda.”
Darian meliriknya sekilas dalam temaram cahaya api. “Dan?”
“Dan... ternyata serem ya. Kayak bunker militer buat merencanakan kudeta,” celetuk Iris tanpa sadar.
Darian terdiam sejenak, lalu mendengkus pelan—suara yang hampir mirip tawa tertahan. “Bunker militer? Tempat ini adalah jantung pertahanan Ravengard.”
“Iya, iya, terserah Jenderal,” gumam Iris pelan, lalu melanjutkan dengan nada sedikit lebih serius. “Tapi... makasih ya udah nawarin tempat. Kamar saya agak dingin tadi.”
Darian tidak menjawab dengan kata-kata, namun matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Di dalam hatinya, sang panglima perang yang biasa tegas mengambil keputusan militer kini merasa asing dengan debar aneh di dadanya.
Dan saat Iris perlahan memejamkan mata, mengelus perutnya, dan berbisik lirih pada bayinya, "Tenang ya, Nak, ayahmu walau galak tapi lumayan juga buat numpang nginep," Darian mendengarnya jelas.
Pria itu mengepalkan sebelah tangannya pelan di atas selimut, menyadari satu hal: dunia dan pertempurannya mungkin sangat luas, tapi wanita berambut perak di sampingnya ini... perlahan-lahan sedang meruntuhkan seluruh pertahanan benteng es di dalam hatinya.
Bersambung....