NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006

Kamera di Tangga Sekolah

Sepuluh tahun lalu, sebuah gelas boba jatuh di lantai dekat kaki Laras.

Tutup plastiknya terlepas. Teh susu kecokelatan menyebar di ubin, membasahi ujung sepatu sekolahnya dan bagian bawah rok abu-abu yang baru dicuci Wulan malam sebelumnya.

Tiara berdiri di anak tangga paling bawah dengan kedua tangan terlipat. Vina dan Sherly menghalangi jalan menuju koridor.

“Ambil,” perintah Tiara.

Laras memandang gelas yang menggelinding pelan. “Kamu sendiri yang menjatuhkannya.”

“Karena kamu menabrakku.”

“Aku bahkan belum lewat.”

Vina mendorong bahunya dari belakang. Tidak cukup keras untuk membuatnya jatuh, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Laras tidak punya jalan keluar.

“Jangan suka melawan,” bisiknya.

Tangga belakang gedung sekolah sepi saat jam istirahat. Dari lapangan terdengar teriakan anak-anak yang bermain bola, terlalu jauh untuk menyadari apa yang terjadi di sana.

Sherly mengeluarkan dua lembar tugas dari tasnya. “Ini juga gimana? Jawabanmu sama dengan Tiara.”

“Itu tugasku.” Laras mengenali lipatan kertasnya. “Kalian mengambilnya dari meja.”

“Pede banget.” Sherly merobek sudut halaman itu. “Semua orang tahu kamu yang suka meniru.”

Tiara turun satu anak tangga. Sepatunya berhenti tepat di depan noda boba.

“Ibunya suka mengambil milik orang. Anaknya ternyata sama.”

Telinga Laras berdenging.

“Jangan bawa Mama.”

“Kenapa? Takut semua orang ingat dia pelakor?”

Vina dan Sherly tertawa.

Laras menunduk, bukan karena mengaku kalah, melainkan karena jika ia melihat wajah mereka lebih lama, air yang membakar matanya mungkin jatuh. Ia tak mau memberi mereka kepuasan itu.

“Ulangi.”

Suara laki-laki datang dari atas tangga.

Tawa mereka berhenti.

Arkan berdiri beberapa anak tangga di atas Tiara. Kemeja seragamnya tidak dimasukkan serapi biasanya karena baru selesai latihan olahraga. Sebelah tangannya memegang ponsel dengan kamera mengarah lurus kepada mereka.

Titik merah kecil terlihat di layar.

“Kamu merekam apa?” Tiara bertanya.

“Semuanya.”

Arkan menuruni tangga tanpa mematikan kamera. Tatapannya singgah pada tugas yang robek, rok Laras yang ternoda, lalu wajah Vina yang mendadak pucat.

“Tadi kamu bilang apa soal ibunya?” tanyanya.

Tiara mengangkat dagu. “Bukan urusanmu.”

“Kalau begitu, aku kirim videonya ke wali kelas. Biar mereka yang putuskan.”

Sherly buru-buru menyembunyikan lembar tugas di belakang tubuhnya. “Kami cuma bercanda.”

“Bagian mana yang lucu?”

Tak ada yang menjawab.

Arkan mendekat satu langkah. Ia tidak berteriak, tetapi ketiga perempuan itu mundur hampir bersamaan.

“Kembalikan tugasnya.”

Sherly menyodorkan dua lembar kertas kepada Laras. Sudutnya sudah robek dan ada bekas kuku di tengah halaman.

“Sekarang pergi,” kata Arkan.

“Sok jadi pahlawan,” desis Vina.

Arkan mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi. “Mau diulangi lebih jelas?”

Vina menutup mulut. Tiara menatap Laras dengan kebencian yang dingin, lalu berbalik. Ketiganya menaiki tangga dan menghilang ke koridor atas.

Langkah kaki mereka baru benar-benar lenyap ketika Arkan mematikan rekaman.

Laras masih memegang tugas yang rusak. Air boba meresap ke kaus kakinya, lengket dan dingin.

“Kamu terluka?” tanya Arkan.

Ia menggeleng.

“Mereka sering begitu?”

Laras ingin menjawab tidak. Kebiasaan menyangkal sudah terbentuk terlalu lama. Namun, kamera di tangan Arkan telah merekam cukup banyak untuk membuat kebohongan itu sia-sia.

“Kadang,” katanya.

Arkan mengembuskan napas pendek. Ia membuka tas, merobek bagian kosong dari buku catatan, lalu menulis nomor dengan pena hitam.

Kertas itu disodorkan kepada Laras.

“Nomor WhatsApp-ku.”

Laras menerimanya dengan dua tangan. Tulisan Arkan miring sedikit ke kanan, tegas dan bersih.

“Kalau mereka ganggu lagi, hubungi aku,” katanya. “Berlaku sampai kita lulus.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu lolos begitu saja. Arkan mengernyit, seolah jawabannya sangat sederhana.

“Karena mereka bertiga dan kamu sendirian.”

Ia mengambil beberapa lembar tisu dari sakunya, meletakkannya di pegangan tangga, lalu pergi sebelum Laras sempat mengucapkan terima kasih.

Laras berdiri di sana sampai suara bel masuk berbunyi.

Malamnya, ia menyalin nomor itu ke bagian belakang buku harian. Di halaman depan, untuk pertama kalinya, ia menulis satu nama lengkap.

Arkananta Wibisana.

Ia tidak pernah mengirim pesan.

Keesokan paginya, wali kelas memanggil Laras, Tiara, Vina, dan Sherly. Arkan ternyata sudah mengirim salinan video malam itu. Rekaman memperlihatkan tugas Laras berada di tangan Sherly sebelum dikumpulkan, juga memperdengarkan seluruh hinaan di tangga belakang.

Nilai Laras dikembalikan setelah riwayat berkas di komputer sekolah diperiksa. Tiga perempuan itu mendapat surat peringatan dan diwajibkan meminta maaf di depan wali kelas.

Permintaan maaf mereka hanya terdiri dari dua kata yang diucapkan tanpa menatap Laras.

Namun, sejak hari itu, tak ada lagi yang berani menuliskan kata pelakor di meja atau menumpahkan minuman ke seragamnya. Kamera Arkan telah memberi Laras sesuatu yang selama ini tidak ia punya, bukti yang tak bisa dipelintir menjadi “cuma bercanda”.

Tiara berhenti mendorong dan menumpahkan minuman setelah kejadian itu, tetapi memilih cara yang lebih sulit dibuktikan. Laras tidak lagi dimasukkan ke kelompok tugas. Kursi di sampingnya dibiarkan kosong. Percakapan mendadak berhenti setiap kali ia masuk kelas.

Arkan tak selalu berada di dekatnya. Mereka berbeda kelas, memiliki lingkaran teman sendiri, dan menjelang kelulusan laki-laki itu lebih sering sibuk menyiapkan sekolah penerbangan di luar negeri.

Namun, nomor di kertas kecil itu tetap tersimpan.

Begitu juga namanya di buku harian.

Ketika Arkan berangkat belajar terbang, Laras mencari satu-satunya jalan yang mungkin membawanya mendekati langit yang sama. Menjadi pilot bukan pilihan. Ia takut ketinggian dan penglihatannya saat itu tidak memenuhi syarat. Ia menjalani operasi koreksi mata, belajar sampai dini hari, lalu mendaftar ke PPI Curug untuk menjadi pengatur lalu lintas udara.

Jika ia tidak sanggup berada di kokpit, setidaknya suatu hari nanti suaranya bisa sampai ke sana.

Ia tak pernah mengira hari itu benar-benar datang dalam frekuensi yang dipenuhi badai.

“Laras?”

Suara Arkan yang dewasa menariknya kembali ke Restoran Kayu Manis.

Gelas air masih berada di depan tangannya. Percakapan reuni telah kembali berjalan di sekeliling mereka, tetapi terdengar jauh. Laras menatap laki-laki di sampingnya dan untuk sesaat masih melihat seragam putih abu-abu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Arkan.

“Aku baik.”

Jawabannya terlalu cepat.

Arkan memandang kedua tangannya yang saling mencengkeram di bawah meja. “Kamu gemetar.”

Laras segera melepaskan genggaman. “Cuma kaget.”

“Karena Vina?”

“Karena banyak hal.”

Arkan tidak memaksanya menjelaskan di tengah orang banyak. Ia mengambil ponselnya dari meja, lalu berdiri.

Beberapa pasang mata langsung mengikuti gerakannya.

Arkan menoleh kepada Laras dan menggerakkan dagu ke arah pintu samping yang menuju koridor lebih sepi.

“Keluar sebentar.”

Laras menatap tangan yang pernah memberinya secarik nomor, lalu wajah yang kini menunggu jawabannya.

Ia bangkit dan mengikuti Arkan menuju koridor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!