NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra

     "Tiana adalah pasien gangguan mental. Dan aku salah satu yang jadi terapis dan konselornya. Jadi, otomatis aku harus bertemu dengannya," jawabnya sambil berlalu.

     Nayra terpaku, dia tidak yakin kalau Tiana hanya sebatas pasien yang kebetulan diterapis oleh suaminya.

**

     Lantunan lagu dari ponsel Nayra terdengar begitu syahdu. Nayra membenamkan diri di Sanggar Mini miliknya setelah kepergian Ardana tadi.

     Suara tinggi melengking Lyodra penyanyi yang ia kagumi itu terdengar, meskipun bernada tinggi, namun lirik lagu itu begitu dalam dan seolah menggambarkan keadaan dirinya kini. Entah kebetulan atau tidak, musik yang ia setel terdengar begitu sedih. Nayra seolah larut dalam kesedihan, terutama di bagian lirik;

Teganya kau curangiku, kau bertemu dengan dia yang kau cinta dulu di masa lalumu, perih hati ini. Saat kau mulai menatap dia, kau sebut namanya, saat bersamaku, tak bisakah sedikit saja hargai, perasaan ini, kau acuhkan aku. Di depan temanmu, baiknya kau jujur saja kepadaku, Kau tak cintaiku.

Hu..bayangkanlah jadi aku, luka hatiku, uh...teganya kau permainkanku, patah hatiku. Uh...teganya kau....

     Nayra sampai menangis, saking larut dalam lagu itu yang begitu syahdu seakan mewakili perasaannya. Setelah lagu Lyodra selesai, bahkan lagu lain yang ia setel, hampir berlirik sama, syahdu dan menyedihkan.

     "Kapan kamu bisa mencintai Nay, Mas? Dan kini, bukan hanya cinta Mas Arda yang masih jadi tembok penghalang, tapi kehadiran perempuan bernama Tiana itu. Bahkan rasanya lebih tebal lagi tembok penghalang itu," tulisnya dalam buku diarynya. Hanya buku itu menjadi curahan hatinya.

    Hari sudah menjelang siang, tapi Ardana masih belum juga pulang. Sesuai rencananya, siang ini Nayra akan mengunjungi Ibunya, Bu Lila. Karena sudah kurang lebih enam bulan ia dan Ardana tidak berkunjung. Beda dengan mertuanya, Bu Karina, Nayra dan Ardana hampir sebulan sekali berkunjung, malah Bu Karina dan suaminya yang lebih sering mendatangi rumah Ardana dalam dua bulan terakhir ini.

     Setelah siap, Nayra segera menuju motor listrik yang sudah siap di halaman rumah. Jarak rumahnya menuju rumah orang tuanya lumayan makan waktu, yakni satu jam.

     Satu jam kemudian, Nayra tiba di rumah orang tuanya. Kedatangannya disambut oleh Pak Kemal sang Ayah yang kebetulan sedang duduk santai menikmati kopi di depan teras rumahnya.

     "Nayra, kamu datang? Sendirian?" Pak Kemal berdiri, bibirnya merekah melihat anak perempuan keduanya datang berkunjung. Namun senyum itu kembali pudar, saat mendapati Nayra hanya sendirian.

     "Bapak...bapak sehat?" Nayra menghampiri Pak Kemal lalu meraih tangan lelaki paruh baya itu.

     "Alhamdulillah sehat. Kamu sendiri saja, Nay? Mana suami kamu? Sudah lama bapak tidak bertemu kalian. Kangen rasanya," ungkap Pak Kemal sambil menatap Nayra.

     "Nay, sendiri, Pak. Mas Arda kebetulan sibuk. Hari ini dia harus bertemu pasien gangguan mental yang diterapis olehnya," ujar Nayra, setidaknya begitu yang tadi didengarnya dari Ardana.

     "Oh, begitu? Ya sudah, masuk saja. Kebetulan ada kakakmu, Nayma."

     "Ada Kak Nayma, tapi mobilnya nggak ada, Pak?" Nayra menatap ke dalam rumah mencari sosok Nayma sang kakak yang dibilang Pak Kemal tadi.

     "Tadi diantar Reno suaminya ke sini. Reno pergi lagi karena mobilnya mau ganti oli," jelas Pak Kemal.

     "Oh...ya udah, Nay masuk, ya. Nay sudah kangen sama Ibu dan Kak Ima," sahutnya sembari bergegas menuju ke dalam rumah mencari sosok kakak perempuan satu-satunya yang selisih umur dengannya hanya dua tahun saja.

     Pak Kemal menatap kepergian putrinya menuju dalam, ada rasa yang tidak biasa ketika Nayra terlihat berlari kecil sambil tertawa menuju dalam.

     "Assalamualaikum, Ibu, Kak Ima," serunya sambil meletakkan kantong oleh-olehnya di atas meja.

     "Waalaikumsalam. Nayra...kamu datang, Nak? Mana suami kamu?" Bu Lila melirik ke arah belakang mencari sosok Ardana, tapi tidak ditemuinya.

     Beberapa saat kemudian, Nayma sang kakak muncul dari dalam kamar, setelah menidurkan anak bayinya yang baru berumur satu tahun.

     "Nay, kamu ke sini? Jangan berisik anak Mbak baru tidur." Nayma meletakkan telunjuknya di bibir, memberi kode supaya Nayra jangan berisik.

     "Ya sudah-sudah, kemarilah, kita di dapur saja ngobrolnya. Fero, cucuku itu telinganya rombengan. Kalau mendengar berisik saja, langsung terbangun. " Bu Lila mengajak kedua putrinya menuju dapur sambil meraih kantong oleh-oleh yang dibawa Nayra.

     "Bagaimana keadaan rumah tangga kamu, Nay? Sudah ada perubahan?" Bu Lila tiba-tiba bertanya, setelah ia meletakan secangkir coklat panas kesukaan Nayra di atas meja. Wanita paruh baya yang baru berusia 46 tahun itu, seakan sudah tahu keadaan rumah tangga sang putri bungsunya.

     Nayra diam, dia tidak mampu menjelaskan bagaimana sebetulnya hubungan rumah tangga yang dibangun saat ini bersama suaminya. "Kenapa diam Nay, suamimu masih dingin seperti biasa?" sela Nayma.

     "Seperti biasa. Masih sama kayak pertama kali menikah. Tapi, hubungan kami baik-baik saja kok Bu. Mas Ardana kan tipe yang tidak banyak bicara," kilahnya menutupi hal yang sebenarnya.

     Bu Lila mendesah, ia bangkit dari kursi makannya. Ia meletakkan cangkir bekas minumnya yang terasa masih panas ke atas wastafel.

     "Seandainya perjodohan itu tidak kami lakukan, mungkin saat ini kamu sudah mempunyai suami yang mencintai kamu. Ibu memang sudah salah telah menjodohkan kamu pada anaknya Karina," sesal Bu Lila sedih.

     "Bu, tidak perlu disesali, ini sudah terjadi. Toh Nayra masih bisa menerima sikap Mas Arda. Ibu tenang saja, kalau Nayra hamil, Nay yakin Mas Arda akan berubah hangat," tukas Nayra cepat. Ia tidak ingin membuat Ibunya kepikiran dengan sikap Ardana padanya. Sebisa mungkin Nayra menutupi hal yang sebenarnya agar kesedihan sang Ibu tidak berlanjut.

     "Ibu pikir, bahwa Ardana akan bisa mencintai kamu dengan cepat seiring waktu. Tapi sangkaan Ibu dan Bapak salah. Karina juga terlalu percaya diri, kalau Ardana akan bisa mencintai kamu dengan cepat," ucap Bu Lila lagi. Kini ia membalikkan badan menatap Nayra yang masih berada di meja makan.

     "Lalu, gimana? Apakah sekarang kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" Bu Lila penasaran sambil dalam hati penuh harapan besar agar ada jawaban dari Nayra yang membahagiakan.

     Nayra menggeleng. Bu Lila mendesah sedih, lalu ia bergegas meninggalkan dapur.

     "Bicaralah, Nay. Suamimu masih tidak menganggap kamu? Kamu pasti tidak jujur, kan? Dan sekarang suami kamu ke mana, kenapa dia tidak ikut datang?" Kini giliran Nayma menelisik keadaan rumah tangga Nayra.

     "Hemmm...Mas Arda sibuk, Mbak. Akhir-akhir ini dia harus bulak-balik ke RSAU untuk menangani pasien gangguan psikis." Nayra masih memberikan alasan yang sama kepada sang kakak.

Nayma menghela napas dalam, ia cukup memahami perasaan sang adik, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk Nayra.

     Beberapa jam kemudian akhirnya kebersamaan itu harus berakhir. Nayra berpamitan sebelum jarum jam di tangannya menuju ke angka tiga. Ia ingin tiba di rumah sebelum jam tiga sore.

     Namun, ketika motor listriknya tiba di perempatan Otista, tepat di depan sebuah kafe bernuansa alam, Nayra melihat mobil suaminya terparkir di sana.

     Nayra menghentikan motornya lalu menatap dalam ke arah kafe itu.

Apakah Nayra akan menghampiri Ardana ke dalam kafe itu atau justru melanjutkan perjalanan pulang? Nantikan kelanjutannya nanti ya, di bab selanjutnya.

1
Ita rahmawati
tidak Sudi setelah kmu tau kalo dia udah bekas laki2 lain kan coba kalo blm tau pasti masih punya niat tuh di otakmu utk jadiin dia istri kedua 😏🙄
Ita rahmawati
kuapok kamu Ardana
Sri Widiyarti
akhirnya ditemukan juga nayra
Ita rahmawati
dasar moyed
Ita rahmawati
wes mbuhlah Ardana Ardana 🙄🙄
Ita rahmawati
lanjutkan nay aku dukung online ya 🤭
Ita rahmawati
ogeb sih satu rumah sakit 🤣🤣
Ita rahmawati
kan gila
Ita rahmawati
mau blg Tiana pernah keguguran aja kok ya susah bgt toh 🤦
Ita rahmawati
lagian gimana sih ngeliat Arda ini kyk cinta tp kyk GK juga
Ita rahmawati
ngapain ngilangin kata2 yg SM terus nai padahal GK ngaruh SM lakimu 🤦
Ayudya
lah Uda ketemu ma dokter Arkana.
Ita rahmawati
arka SM Arda dokter tp bodoh 😂
Ita rahmawati
dasar tianot bentar LG pasti bukan cuma trauma dn stres tp gila 🤣
Ita rahmawati
ternyta kakaknya nepa,,baguslah krna nepanya GK seburuk si tianot
Nar Sih
ahir nya dr akana ketemu nayra awal titik terang mulai ada ,pasti dr arkana cerita semua soal suami ya nayra
Ita rahmawati
ternyata Ardana takut juga SM ortunya
Ita rahmawati
profesional e ek lah
Ita rahmawati
malah ketauan 🤦
Rina
Semoga Arkana bercerita tentang perjuangan Ardana saat mencari Nayra 🫢🫢🫢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!