Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Perangkap untuk Hadiprana
Uang bergerak paling cepat saat tidak ada yang melihat.
Di ruang kerja Cynthia Wulandari, empat layar menyala bersamaan.
Grafik saham PT Megah Sentosa bergerak pelan. Angkanya belum jatuh. Beritanya masih terlihat tenang. Di luar sana, orang-orang masih mengira Hadiprana berdiri kokoh seperti gedung kaca di tengah kota.
Cynthia tahu gedung kaca jarang pecah oleh satu batu besar.
Kadang cukup dengan retakan kecil di tempat yang tepat.
"Posisi awal sudah masuk," kata Cynthia melalui panggilan aman.
Hendry duduk di ruang kerjanya, masih memikirkan nama Wulan Pratiwi dan Eyang Kesembilan yang baru ia dengar dua hari lalu. Namun saat suara Cynthia terdengar, matanya kembali dingin.
"Berapa?"
"Belum besar. Sengaja saya pecah lewat beberapa kendaraan investasi. Broker tidak melihat pola yang sama. Pasar juga belum bereaksi."
"Bagus."
Cynthia menggeser laporan.
"Kalau kita pukul terlalu cepat, mereka bisa bertahan dengan dana keluarga. Kalau kita biarkan mereka percaya diri, mereka akan membuka lebih banyak kelemahan."
Hendry menatap nama PT Megah Sentosa di layar.
"Vincent membuat terlalu banyak kesalahan."
"Anak seperti itu selalu berpikir nama keluarga adalah perisai."
Cynthia tersenyum tipis.
"Kita akan ubah perisai itu menjadi beban."
Di sisi lain kota, Dimas Kurniawan duduk di depan tiga monitor dan dua gelas kopi kosong.
Rambutnya lebih berantakan daripada biasa.
Matanya justru lebih hidup.
"Pak Hendry," katanya lewat earphone, "saya sudah kumpulkan paket pertama."
Di layar Hendry, beberapa folder muncul.
`Vincent - private expenses`
`Vincent - company card`
`Vincent - offshore chat`
`Hadiprana vendor payments`
Dimas menguap pendek.
"Saya tidak akan ceritakan teknisnya karena nanti kedengarannya seperti dosa digital. Intinya, Pak Vincent ini lebih rajin belanja pakai uang perusahaan daripada kerja."
Hendry membuka satu file.
Foto tagihan klub malam.
Transfer ke rekening pribadi.
Invoice vendor fiktif.
Percakapan dengan beberapa staf keuangan yang nada pesannya terlalu santai untuk urusan miliaran rupiah.
"Cukup untuk menekan dia?"
"Untuk mempermalukan, cukup. Untuk menghancurkan, belum."
Dimas mengetuk keyboard.
"Tapi ada jalur ke Herman Hadiprana. Nama ayahnya muncul di beberapa dokumen tanah dan pajak. Saya belum ambil semua. Masih perlu Rizal cek dari lapangan."
Seolah menjawab, pesan dari Rizal masuk.
`Target lama ditemukan. Herman Hadiprana. Catatan medis pribadi. Ada indikasi kuat: tidak bisa memiliki anak secara biologis.`
Ruangan menjadi hening.
Hendry membaca pesan itu dua kali.
Vincent Hadiprana.
Anak kesayangan Herman.
Pewaris yang selalu membanggakan darah Hadiprana.
Jika Herman tidak bisa memiliki anak...
Maka Vincent bukan anak kandung.
"Rizal," kata Hendry setelah membuka panggilan suara, "pastikan sumbernya."
Suara Rizal pendek.
"Sedang saya ikuti. Dokter lama sudah pindah ke Surabaya. Perawat administrasi masih di Kota Biru. Ada arsip rumah sakit lama, bukan sistem pemerintah."
"Jangan sentuh jalur resmi kalau tidak perlu."
"Mengerti."
Dimas menyela, "Kalau arsip adopsi pernah dipindai, saya bisa cari jejak digitalnya. Banyak orang tua kaya suka mengunci dokumen, tapi lupa mengunci backup."
Hendry berkata, "Cari. Tapi jangan tinggalkan jejak."
"Mode senyap."
Tiga hari berlalu.
Kota Biru tetap sibuk.
PT Megah Sentosa tetap mengeluarkan siaran pers tentang proyek baru.
Vincent Hadiprana masih muncul di foto sosialita dengan jas mahal dan senyum yang seolah dunia berada di telapak tangannya.
Namun di bawah permukaan, jaring Hendry makin rapat.
Cynthia membangun posisi.
Dimas membuka satu demi satu kotak gelap.
Rizal bertemu orang-orang lama yang masih ingat nama Herman sebelum ia menjadi sebesar sekarang.
Pada malam keempat, Rizal datang membawa map cokelat.
Ia meletakkannya di meja Hendry.
"Ada dua hal."
Hendry membuka map.
Halaman pertama adalah salinan ringkas catatan medis.
Tidak banyak detail.
Cukup satu kesimpulan.
Herman Hadiprana secara medis tidak mungkin memiliki anak kandung.
Halaman kedua lebih tua.
Dokumen panti asuhan.
Nama bayi.
Tanggal adopsi.
Nama pengadopsi: Herman Hadiprana dan istrinya.
Nama anak setelah adopsi: Vincent Hadiprana.
Hendry menatap dokumen itu lama.
"Jadi selama ini dia hidup dari kebohongan yang dijadikan mahkota."
Rizal berkata, "Masih ada lagi. Herman juga punya beberapa berkas tanah bermasalah. Pembayaran ke pejabat, pajak yang diputar, penggusuran paksa lewat perusahaan keamanan."
Dimas mengirim file baru.
`Herman - land acquisition`
`Herman - tax manipulation`
`Herman - sealed adoption backup`
Cynthia yang ikut dalam panggilan video melihat daftar itu.
"Kalau ini keluar bersamaan dengan tekanan saham, PT Megah Sentosa tidak hanya jatuh. Mereka akan kehilangan kepercayaan bank."
Hendry menutup map.
"Belum sekarang."
Dimas hampir protes.
"Pak, ini bahan ledakan."
"Ledakan paling baik terjadi saat semua orang sedang berkumpul untuk bertepuk tangan."
Cynthia memahami lebih dulu.
"Pesta pertunangan Vincent dan Angelica."
Hendry mengangguk.
"Biarkan mereka menyiapkan panggung sendiri."
Sementara itu, di rumah tua keluarga Wirawan, udara terasa lebih sesak daripada biasa.
Nenek Ratna duduk di kursi utama.
Tongkatnya berada di samping lutut.
Mama Ayu berdiri di dekat meja, wajahnya gelisah.
"Ma, Jessica sudah putus urusan bisnis dengan keluarga. Dia tidak akan mau datang kalau tahu ini untuk Vincent."
Nenek Ratna menatapnya tanpa emosi.
"Maka jangan bilang untuk Vincent."
Mama Ayu menunduk.
"Tapi setelah kejadian Hadiprana dan Wirawan kemarin..."
"Justru karena itu, kita harus memperbaiki jalan."
Nenek Ratna mengetukkan jarinya ke tongkat.
"Hadiprana masih bisa memberi keluarga ini pintu. Jessica keras kepala, tapi dia masih anakmu. Seorang anak harus tahu kapan keluarga membutuhkan pengorbanan."
Mama Ayu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia ingat wajah Jessica saat memutus hubungan bisnis.
Ia ingat juga nama Hadiprana, uang seratus miliar, dan rasa malu karena Wirawan keluarga mulai dijauhi beberapa mitra.
Pada akhirnya, ia mengambil ponsel.
Jessica menerima telepon itu saat sedang memeriksa desain ulang kantor PT Daun Kreasi.
Kompensasi dari Eyang Karyo sudah masuk.
Tiga kali lipat.
Staf yang terluka juga sudah menerima biaya pengobatan.
Secara bisnis, masalah itu selesai.
Secara batin, Jessica belum selesai.
Ketika nama Mama Ayu muncul, ia ragu beberapa detik sebelum mengangkat.
"Ma?"
Suara Mama Ayu terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Jessica, malam ini Mama ada makan dengan calon klien. Mereka butuh desain interior untuk tiga kantor cabang. Mama pikir ini cocok untuk PT Daun Kreasi."
Jessica diam.
"Kenapa Mama tiba-tiba membantu perusahaanku?"
Mama Ayu tersinggung, tapi menahannya.
"Kamu anak Mama. Kantormu baru kena musibah. Apa salahnya Mama bantu?"
Kalimat itu mengenai bagian Jessica yang paling lelah.
Ia tidak percaya sepenuhnya.
Tapi ia juga ingin percaya, sekali saja, ibunya masih bisa memilih dirinya.
"Siapa kliennya?"
"Orang dari jaringan bisnis lama Wirawan. Kamu datang saja dulu. Tempatnya di restoran hotel, aman. Mama juga ada di sana."
Jessica melihat ruang kantornya yang masih setengah kosong.
Ia menarik napas.
"Baik. Tapi ini hanya urusan kerja."
"Tentu."
Mama Ayu menutup telepon.
Di sampingnya, Nenek Ratna berkata pelan, "Bagus."
Malam itu, restoran hotel tampak terlalu tenang.
Lampu kuning.
Meja bundar.
Tiga pria berpakaian rapi yang memperkenalkan diri sebagai calon klien.
Mama Ayu duduk di sebelah Jessica, senyumnya kaku.
Jessica membuka tablet dan mulai menjelaskan konsep desain.
Ia profesional.
Jelas.
Tidak bertele-tele.
Salah satu pria mengangguk-angguk.
"Bu Jessica memang pantas menang tender. Kami suka gaya kerja Anda."
"Terima kasih."
Pelayan datang membawa teh hangat dan jus.
Jessica memilih jus jeruk.
Mama Ayu menatap gelas itu sepersekian detik terlalu lama.
Jessica tidak menyadarinya.
Pembicaraan berjalan normal selama dua puluh menit.
Lalu kepala Jessica mulai terasa berat.
Ia mengira itu karena kurang tidur.
Sejak kantor dihancurkan, ia memang belum tidur nyenyak.
Namun huruf-huruf di tabletnya mulai kabur.
Suara orang di meja menjadi jauh.
"Jessica?" Mama Ayu menyentuh lengannya. "Kamu pucat."
"Aku... mungkin hanya lelah."
Salah satu pria segera berkata, "Di lantai atas ada kamar istirahat. Bu Jessica bisa rebahan sebentar. Kami tunggu."
Jessica ingin menolak.
Tubuhnya tidak mendengar.
Mama Ayu memegang bahunya.
"Istirahat sebentar saja. Mama antar."
"Ma..."
Suara Jessica pelan.
Ada sesuatu yang salah.
Tapi pikirannya seperti tenggelam di air keruh.
Di lobi Hotel Marquis, Kevin Saputra baru selesai berbicara dengan manajer malam.
Hotel itu milik grup keluarganya, dan malam itu ia datang tanpa pengumuman untuk memeriksa standar layanan setelah beberapa komplain kecil.
Ia sedang menandatangani laporan ketika resepsionis menatap layar dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Pak Kevin, kamar 1708 baru dibuka lewat reservasi VIP, tapi data tamunya agak aneh. Ada perempuan tampak tidak sehat dibawa naik oleh dua orang. Mereka bilang keluarganya."
Kevin berhenti menulis.
"Tidak sehat seperti apa?"
"Seperti hampir pingsan, Pak."
Tatapan Kevin berubah.
Hotel keluarga Saputra tidak boleh menjadi tempat orang melakukan hal kotor.
"Cek CCTV lift."
Manajer malam langsung memberi instruksi.
Beberapa detik kemudian, layar kecil di meja keamanan menampilkan rekaman.
Dua pria membantu seorang perempuan masuk lift.
Kepalanya tertunduk.
Rambutnya menutupi sebagian wajah.
Namun saat lift menutup, wajah perempuan itu terlihat satu detik.
Cukup satu detik.
Kevin membeku.
Jessica Mahendra.
Istri Hendry.
Di layar lain, rekaman koridor lantai tujuh belas muncul.
Pintu kamar 1708 terbuka dari dalam.
Vincent Hadiprana berdiri di sana.
Senyumnya tipis.
Darah Kevin terasa dingin.
"kunci master," katanya.
Manajer malam terkejut.
"Pak?"
Kevin sudah berjalan ke lift.
Suaranya tidak tinggi.
Tapi seluruh staf mendadak bergerak.
"Sekarang."