NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010: Lima Puluh Ribu

Hari penyelesaian Siklus 2 datang seperti vonis pengadilan.

Rian Prasetyo duduk di kantor Garuda Mart sejak pagi, menatap panel biru Sistem Rugi yang hanya bisa ia lihat. Di luar ruangan, suara roda troli, kasir, dan karyawan yang saling menyapa terdengar terlalu hidup.

Garuda Mart ramai.

Restoran Rasa Nusantara penuh reservasi.

Darmawan membawa laporan ritel yang tebal.

Bagas membawa laporan restoran sambil tersenyum bangga.

Rian membawa harapan yang sudah tidak berbentuk.

"Pak Bos," kata Darmawan hati-hati, "semua laporan operasional sudah siap. Saya juga sudah pisahkan biaya gaji, renovasi, sewa, bonus, dividen, dan pengeluaran tambahan sesuai instruksi."

"Bagus," jawab Rian.

Suaranya datar.

Di dalam kepalanya, ia sudah bersiap menerima angka nol lagi.

Bagas duduk di sofa, menggoyang kaki. "Bos, kalau gue boleh jujur, dua bisnis ini gila. Garuda Mart diserbu orang, restoran harus reservasi seminggu. Lu mungkin orang pertama yang bikin supermarket dan restoran sama-sama jadi legenda dalam satu kota."

Rian menatapnya pelan.

"Terima kasih sudah mengingatkan penderitaanku."

"Sama-sama, Bos."

Bagas mengangkat jempol, lalu baru sadar ada yang salah. "Eh, maksud gue penderitaan yang keren."

Rian tidak punya tenaga untuk membalas.

Panel biru di depannya bergetar.

[Siklus 2 berakhir.]

[Dana Sistem terpakai: dalam proses audit.]

[Pendapatan Garuda Mart: dihitung.]

[Pendapatan Restoran Rasa Nusantara: dihitung.]

[Biaya operasional: dihitung.]

[Pengeluaran tidak produktif yang diizinkan: dihitung.]

Jantung Rian berdetak semakin keras.

Tidak produktif yang diizinkan.

Kalimat itu terdengar seperti suara malaikat kecil yang tersesat.

Ia menahan napas.

Angka-angka berganti cepat. Keuntungan kotor dari dua lini usaha itu sangat besar, cukup membuat wajah Rian mati rasa. Tapi setelah itu, biaya mulai masuk.

Sewa ruko lama dan baru.

Renovasi mewah.

Gaji ribuan karyawan.

BPJS.

Kos-kosan karyawan.

Makan gratis.

Bonus.

Dividen.

Pembelian bahan premium.

Konsultan resep.

Pengeluaran itu jatuh seperti batu besar satu per satu ke atas angka profit.

Rian yang tadinya menunggu eksekusi tiba-tiba duduk tegak.

Tunggu.

Jangan-jangan...

[Audit selesai.]

[Hasil bersih Siklus 2: -Rp 50.120.]

Ruangan terasa sunyi.

Rian berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Ia mendekatkan wajah ke panel.

Minus.

Benar-benar minus.

Lima puluh ribu seratus dua puluh Rupiah.

Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membeli makan enak di Restoran Rasa Nusantara, tapi bagi Rian saat itu, angka itu lebih bercahaya daripada 500 miliar.

[Konversi Dana Pribadi: Rp 50.120.]

[Dana Pribadi telah ditransfer.]

Ponsel Rian bergetar.

Notifikasi masuk.

Saldo bertambah: Rp 50.120.

Rian berdiri terlalu cepat sampai kursinya hampir jatuh.

Darmawan panik. "Pak Bos?"

Bagas juga bangkit. "Bro, lu kenapa?"

Rian menatap layar ponselnya. Tangannya sedikit gemetar.

Setelah semua kekacauan ini.

Setelah membangun supermarket, membuka restoran, membayar gaji yang membuat orang menangis, melawan logika pasar, dan hampir kehilangan akal sehat.

Ia akhirnya mendapat uang pribadi.

Lima puluh ribu.

"Aku..." Rian menelan ludah. "Aku berhasil."

Darmawan langsung terharu. "Pak Bos merasa perusahaan berhasil melewati tahap penting?"

Bagas menepuk dada. "Gue tahu! Ini pasti soal visi jangka panjang!"

Rian menutup ponsel.

Tidak.

Kalian tidak akan pernah mengerti.

Baginya, Rp 50.120 itu bukan angka kecil.

Itu bukti.

Rumus Sistem Rugi benar.

Kalau rugi, uangnya benar-benar menjadi miliknya.

Masalahnya, untuk mendapatkan lima puluh ribu Rupiah, ia harus memutar 500 miliar.

Rasio itu sangat memalukan sampai kalau diceritakan ke orang normal, orang itu mungkin akan menyarankannya tidur.

Rian pulang ke kamar kos tanpa membawa mobil perusahaan. Ia ingin berjalan sebentar. Ia ingin merasakan uang kecil itu seperti manusia biasa.

Di kamar, ia membuka dompet lamanya.

Ada beberapa lembar uang sisa dan koin kecil. Jika ditambah Rp 50.120, total uang pribadinya sekitar lima puluh dua ribuan.

Seluruh kekayaan pribadi seorang pemilik Garuda Mart dan Restoran Rasa Nusantara.

Rian memandang dompet itu lama.

Lalu ia tertawa.

Tawanya pendek, lelah, tapi entah kenapa ringan.

"Akhirnya," gumamnya. "Uang sendiri."

Sore itu ia berjalan ke warung kaki lima di pinggir jalan. Tempatnya sederhana, dengan tenda biru, meja plastik, dan panci kuah yang mengepul.

"Bang, Soto Ayam satu. Es Teh satu."

Penjual mengangguk. "Pedas?"

"Sedang."

Rian duduk di bangku plastik. Ketika mangkuk soto datang, aromanya tidak semewah masakan Bagas. Tidak ada daging wagyu. Tidak ada plating. Tidak ada pelayan viral yang menjelaskan uang berubah menjadi kebahagiaan.

Hanya kuah panas, suwiran ayam, nasi, sambal, dan segelas Es Teh.

Tapi saat Rian menyuap pertama kali, dadanya terasa penuh.

Ini makanan pertama yang ia beli dengan uang hasil sistem.

Uang pribadi.

Uang yang boleh ia pakai tanpa takut melanggar aturan.

Ia hampir menangis lagi, tapi kali ini ia menahannya. Warung pinggir jalan bukan tempat bagus untuk membuat orang salah paham sebagai filsuf miskin.

Di meja sebelah, seorang pria berusia tiga puluhan duduk dengan jas kusut. Rambutnya rapi tapi wajahnya kacau. Di depannya ada secangkir kopi hitam yang sepertinya sudah dingin.

Pria itu terus menatap ponsel.

Lalu tiba-tiba ia tertawa pahit.

"Sepuluh tahun saya mengajar orang jadi sukses," gumamnya, cukup keras untuk terdengar. "Sekarang saya sendiri tidak tahu harus bayar kontrakan pakai apa."

Rian menoleh.

Pria itu sadar diperhatikan, lalu tersenyum lemah. "Maaf, Mas. Kebiasaan bicara sendiri."

"Tidak apa-apa," kata Rian. "Saya juga sering."

Pria itu mengulurkan tangan. "Fajar Hidayat."

"Rian Prasetyo."

Nama itu membuat Fajar berhenti.

"Rian... Garuda Mart?"

Rian mengangguk malas.

Fajar langsung duduk lebih tegak. "Serius? Saya kira Anda jauh lebih tua."

"Saya juga kadang berharap begitu."

Fajar tertawa kecil, lalu matanya berubah serius. "Saya dulu pembicara seminar bisnis. Motivator. Jujur saja, separuhnya omong kosong. Saya jual mimpi cepat kaya ke orang-orang yang bahkan belum punya modal. Sekarang peserta komplain, kelas saya batal, nama saya hancur."

Rian mengaduk soto. "Kenapa cerita ke saya?"

"Karena saya penasaran." Fajar menatapnya tajam. "Anda memberi karyawan gaji tinggi. Jam kerja pendek. Bonus besar. Harga barang di Garuda Mart cuma ambil margin tipis. Restoran Anda mahal, tapi profitnya dibagi ke karyawan. Itu semua kebalikan dari materi seminar saya."

Rian mengangkat alis.

Benar.

Akhirnya ada orang yang melihat ini tidak normal.

Fajar menarik napas. "Tapi Anda berhasil."

Rian menurunkan sendok.

Ah.

Tentu saja.

"Saya menjual teori sukses selama sepuluh tahun," kata Fajar pelan. "Tapi saya belum pernah melihat orang yang benar-benar sukses memperlakukan orang kecil seperti manusia. Mas Rian, Anda orang pertama."

Rian diam.

Ia ingin berkata bahwa semua itu dilakukan agar uang keluar sebanyak mungkin.

Tapi wajah Fajar terlalu letih.

Ada sesuatu di mata pria itu yang mirip dengan dirinya beberapa bulan lalu: malu, gagal, dan tidak tahu pintu mana yang masih terbuka.

"Kalau kamu mau berhenti jual omong kosong," kata Rian akhirnya, "berhenti saja."

Fajar menatapnya.

"Lalu mulai kerja sungguhan."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Fajar terdiam lama. Lalu ia berdiri dan membungkuk.

"Mas Rian, izinkan saya ikut Anda. Saya tidak tahu bisa berguna atau tidak, tapi saya ingin belajar dari cara Anda membangun bisnis."

Rian memandang sotonya yang tinggal setengah.

Tambah satu orang berarti tambah gaji.

Tambah biaya.

Mungkin ini bagus.

"Boleh," katanya santai. "Saya juga tidak keberatan menambah orang."

Mata Fajar memerah.

Rian segera menambahkan, "Tapi jangan menangis. Saya baru mau makan."

Malamnya, ketika Rian kembali ke kantor untuk mengambil beberapa dokumen, panel Sistem Rugi muncul lagi.

[Siklus 3 dimulai.]

[Dana Sistem: Rp 1.000.000.000.000.]

[Durasi: 90 hari.]

[Rekomendasi pasar: Jakarta.]

Rian berdiri kaku.

Satu triliun.

Ia baru saja merayakan lima puluh ribu Rupiah.

Sekarang sistem memberinya uang yang jumlah nolnya seperti antrean tak berujung.

Keesokan paginya, Rian berdiri di Stasiun Kota Tanjung Emas. Di tangannya ada tiket kereta dan dompet berisi sisa uang pribadinya yang menyedihkan.

Darmawan tetap tinggal untuk menjaga Garuda Mart dan Restoran Rasa Nusantara.

Fajar menunggu di dekat pintu masuk dengan tas kecil, masih tampak seperti orang yang baru keluar dari reruntuhan hidup.

Panel biru melayang di depan Rian.

[Target pasar: Jakarta.]

[Dana Sistem tersedia: Rp 1.000.000.000.000.]

Rian menatap rel kereta, lalu menarik napas.

"Satu triliun," gumamnya. "Ke Jakarta untuk rugi."

Dari belakang, Bagas berlari sambil menyeret koper besar.

"Bos! Tunggu gue!"

Rian menoleh.

Bagas terengah-engah, tapi tersenyum lebar.

"Lu kira gue bakal melewatkan babak baru neraka bisnis ini?"

Rian memandang sahabatnya, memandang Fajar, lalu memandang kereta yang mulai membuka pintu.

Ia menggenggam dompet tipisnya.

Lima puluh ribu Rupiah di tangan.

Satu triliun Rupiah di panel.

Dan sebuah kota yang jauh lebih besar menunggu untuk dibuat rugi.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!