Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Rizky menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke dalam laras hitam pistol yang mematikan itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Anda pikir Anda bisa menembak lurus ke arahku dengan tangan yang gemetar ketakutan seperti itu Hendra?" tantang Rizky memiringkan kepalanya sedikit.
"Aku ini direktur perusahaan raksasa, nyawaku jauh lebih berharga dari nyawa pemuda udik sepertimu," jerit Hendra mencoba membenarkan posisinya di mata dunia.
Jari telunjuk Hendra mulai menarik pelatuk pistol revolver itu dengan perlahan untuk menahan beban pegas besi yang berat.
Namun otak jenius Rizky sudah memperhitungkan presisi lintasan peluru dan respons lambat otot Hendra sejak awal ia mengangkat senjatanya.
Rizky menjentikkan jari tangan kirinya dengan kecepatan kilat yang sangat sulit ditangkap oleh mata telanjang orang biasa.
SYUUT.
Sebuah jarum akupuntur perak yang sangat tipis melayang membelah udara menembus angin kencang baling-baling helikopter di atap itu.
Jarum tersebut melesat dan menancap sangat akurat tepat di titik saraf mati rasa pada pergelangan tangan kanan Hendra.
JLEB.
"Aaakh," teriak Hendra kesakitan luar biasa sambil melepaskan cengkeramannya pada gagang pistol tersebut karena ototnya mendadak lumpuh.
DOR.
Pistol itu meletus secara tidak sengaja saat terjatuh ke lantai dan pelurunya melesat jauh melubangi awan kosong di atas kepala Rizky.
Hendra jatuh terduduk sambil memegangi pergelangan tangannya yang mendadak lumpuh total tidak bisa digerakkan sama sekali.
Koper besi berisi dokumen aset berharganya ikut terjatuh dan terbuka, membuat beberapa lembar kertas saham berhamburan tertiup angin buang helikopter.
Rizky melangkah maju dengan cepat dan langsung menendang pistol revolver itu hingga meluncur jauh dan jatuh ke bawah gedung pencakar langit tersebut.
KLONTANG.
Sang pilot helikopter yang melihat adegan mengerikan dari dalam kokpit itu segera memilih untuk mematikan mesinnya secara perlahan.
Pilot itu mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah mutlak dan menolak untuk ikut campur dalam pertempuran antar bos besar ini.
Baling-baling helikopter perlahan berhenti berputar dan suasana di atas atap gedung kembali menjadi sedikit lebih tenang dan bisa didengar.
Rizky berjongkok di hadapan Hendra yang sedang menangis sesenggukan meratapi nasib perusahaannya yang hancur berantakan.
"Tolong ampuni nyawaku Rizky, aku berjanji akan menyerahkan semua sisa kekayaanku padamu asalkan kau membiarkanku hidup," mohon Hendra mengemis dengan sangat menyedihkan.
"Aku tidak butuh kekayaan harammu Hendra, aku hanya butuh pabrik dan jaringan distribusimu untuk menyelamatkan lebih banyak orang," jawab Rizky dingin dan menusuk.
"Ambil semuanya, ambil perusahaanku, tapi tolong cabut jarum perak ini dari tanganku, rasanya seperti ditusuk ribuan semut api," rintih Hendra meronta kesakitan di lantai beton.
Rizky sama sekali tidak mencabut jarum itu dan justru merogoh saku jaketnya untuk mengambil sebuah botol kaca berukuran kecil.
"Ini adalah perjanjian bisnis kita yang baru Hendra, dengarkan baik-baik syarat mutlak dariku jika kau masih ingin bernapas besok."
Rizky menempelkan botol kecil berisi cairan hitam pekat itu tepat di depan hidung Hendra yang langsung mencium bau busuk menyengat.
"Kau akan menandatangani semua dokumen penyerahan aset PT Medika Raya pada Klinik Bintang Abadi secara sukarela hari ini juga tanpa syarat."
"Baik, aku akan menandatanganinya sekarang juga di lobi bawah, tolong jangan berikan racun itu padaku," tangis Hendra sangat ketakutan melihat botol tersebut.
"Dan sebagai gantinya, aku akan membiarkanmu tetap hidup di kota ini sebagai orang biasa yang bangkrut tanpa uang sepeser pun."
Rizky menatap mata Hendra dengan pandangan buas yang sukses membekukan sisa keberanian di jiwa sang mantan direktur serakah itu.
"Tapi jika kau berani macam-macam atau mencoba melarikan diri lagi ke luar kota, cairan hitam di botol ini akan langsung dikirimkan ke dalam lambungmu."
"Cairan apa ini sebenarnya Tuan Rizky? Jangan bilang ini racun pelan yang mematikan," tanya Hendra dengan bibir gemetar pucat pasi.
"Ini adalah sari pati dari akar jamur rawa membusuk yang bisa menggerogoti organ dalammu pelan-pelan selama setahun penuh sebelum kau mati berteriak kesakitan."
Rizky tersenyum lebar menakut-nakuti musuhnya dengan bualan ilmu herbal yang sangat mengerikan namun sukses terdengar sangat meyakinkan.
Hendra yang sudah trauma berat dengan kejadian massal pil pencahar di televisi kemarin langsung percaya seratus persen pada ancaman palsu Rizky.
"Aku bersumpah tidak akan pernah melawanmu lagi seumur hidupku Tuan Rizky, aku akan jadi pelayanmu yang paling patuh," ucap Hendra menempelkan dahinya ke lantai atap yang kotor debu.
"Pilihan yang sangat cerdas untuk bertahan hidup Hendra, sekarang berdirilah dan mari kita temui Nona Indah di bawah untuk mengurus semua surat peralihanmu."
Rizky bangkit berdiri dan menatap pemandangan luas kota Jakarta dari atas gedung tertinggi yang dulunya milik PT Medika Raya tersebut.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, memberikan sensasi kemenangan yang sangat mutlak, tenang, dan tidak terbantahkan oleh siapa pun.
Hendra dengan tertatih-tatih bangun dari lantai dan mengikuti langkah Rizky dari belakang seperti seekor anjing peliharaan yang sudah kehilangan taringnya.
Dalam waktu kurang dari satu minggu, pemuda yang dulunya hanya pengangguran miskin kelaparan itu berhasil menumbangkan raksasa farmasi terbesar di ibu kota.
Klinik Bintang Abadi yang tadinya hanya klinik swasta kecil kini telah resmi menelan tubuh raksasa musuhnya untuk berevolusi menjadi sebuah kerajaan bisnis skala nasional.
Tato daun hijau zamrud di dada Rizky kembali berdenyut hangat menyebarkan rasa nyaman, seolah sistem ikut memberikan ucapan selamat atas pencapaian luar biasa inangnya hari ini.