NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003: Klaim Sang Ahli Waris

Dua hari kemudian, stempel notaris jatuh di atas nama Hendra Wijaya.

TOK.

Suara itu pendek.

Tapi bagi Hendra, bunyinya seperti pintu besi yang terkunci dari dalam.

Di atas meja kayu gelap, tiga berkas sudah tersusun rapi. Akta waris. Sertifikat saham lama. Salinan anggaran dasar PT Wijaya Sentosa yang memuat nama ayahnya sebagai pendiri dan pemegang saham utama sebelum kecelakaan itu terjadi.

Di sampingnya, kartu nama tua bertuliskan Dirut PT Wijaya Sentosa ikut diletakkan dalam plastik bening. Kertas itu sudah sedikit menguning, tapi hurufnya masih jelas. Nama ayah Hendra masih ada di sana.

Dulu, Om Rusli menyimpan semua benda itu seperti menyimpan mayat di lemari, tersembunyi sampai Hendra tumbuh menjadi orang yang dianggap tidak tahu apa-apa.

Sayangnya, Hendra sekarang bukan pemuda bodoh yang mereka tinggalkan di ruang rapat.

Notaris berambut putih di hadapannya membaca ulang halaman terakhir dengan kacamata turun di batang hidung.

"Secara dokumen, rantai warisnya kuat, Pak Hendra," katanya pelan. "Akta waris ini sah. Sertifikat saham juga bukan fotokopi kosong. Ada nomor, cap lama, dan dasar pencatatan. Namun pihak perusahaan mungkin akan mempermasalahkan administrasi internal."

"Saya tahu," jawab Hendra.

"Mereka bisa bilang daftar pemegang saham sudah berubah."

"Biarkan mereka bilang."

Notaris itu menatapnya sebentar.

Banyak klien datang dengan wajah panas, suara tinggi, dan tangan gemetar. Mereka bicara soal hak, darah, keluarga, pengkhianatan, lalu memaksa semua orang percaya hanya karena mereka merasa terluka.

Hendra berbeda.

Pemuda itu duduk tegak, jaket gelapnya rapi, wajahnya tenang, dan matanya sama sekali tidak meminta belas kasihan.

Ia tidak sedang memohon.

Ia sedang mengunci satu per satu baut di mesin yang akan menggiling lawannya.

"Saya akan buatkan waarmerking dan legalisasi salinan dokumen yang Bapak perlukan," ujar notaris. "Untuk sengketa saham, sebaiknya Bapak masuk lewat pengacara korporat. Somasi resmi, permintaan pencatatan hak, lalu jika perlu permintaan RUPS atau gugatan."

"Saya sudah siapkan."

Hendra mengeluarkan satu map tipis lagi dari tasnya.

Di dalamnya ada daftar pertanyaan, kronologi singkat kematian orang tuanya, perubahan posisi Om Rusli setelah kecelakaan, serta beberapa catatan rapat yang sempat ia salin diam-diam dari arsip perusahaan dua tahun lalu.

Di kehidupan lalu, catatan-catatan itu tidak pernah ia pakai. Ia terlalu takut. Terlalu ingin diterima. Terlalu percaya bahwa keluarga masih menyisakan sedikit hati.

Hasilnya?

Ia mati di tengah badai salju, dengan racun merobek perutnya dan suara orang-orang yang ia tolong berubah menjadi tawa.

Kali ini, Hendra tidak lagi menunggu hati siapa pun.

Ia hanya membutuhkan tanda tangan, cap, dan celah hukum yang cukup untuk menyeret serigala keluar dari balik meja.

TOK.

Stempel kedua jatuh.

TOK.

Stempel ketiga menyusul.

Notaris mendorong berkas itu ke hadapan Hendra. "Simpan baik-baik, Pak Hendra. Mulai hari ini, dokumen ini bisa menjadi dasar tuntutan formal."

Hendra menyentuh tepi map.

Cincin tembaga di jarinya dingin.

Sesaat, ia hampir ingin memasukkan semua berkas itu ke Ruang Penyimpanan. Di sana, kertas tidak akan kusut, tidak akan terbakar, tidak akan basah, tidak akan hilang.

Tapi ia menahan diri.

Belum.

Benda ini harus terlihat di dunia luar dulu. Om Rusli harus melihatnya. Handoko harus mendengar namanya. Mereka harus paham bahwa anak muda yang mereka tekan di ruang rapat mulai bergerak dengan cara yang tidak bisa ditertawakan.

"Terima kasih," kata Hendra.

Ia berdiri, membawa map itu dengan dua tangan, lalu keluar dari kantor notaris tanpa menoleh.

Satu jam kemudian, Hendra sudah duduk di kantor pengacara korporat di lantai dua puluh sebuah gedung kaca di Jakarta.

Ruangan itu dingin. Bau kopi hitam dan kertas baru memenuhi udara.

Pengacara di hadapannya tidak banyak bicara. Pria itu membaca dokumen satu per satu, mencocokkan nomor sertifikat, menandai beberapa pasal, lalu mengetuk ujung pulpen ke meja.

"Bapak ingin apa dari Wijaya Group?" tanyanya.

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tapi di baliknya ada banyak kemungkinan.

Kompensasi.

Posisi direksi.

Pengakuan nama.

Kursi komisaris.

Balas dendam keluarga.

Hendra menatap map di atas meja. Dalam tiga bulan, semua kursi itu tidak akan berarti. Gedung kaca akan retak. Ruang direksi akan mati listrik. Uang di rekening akan menjadi angka yang tidak bisa dimakan.

Tapi sebelum dunia lama runtuh, dunia lama masih punya satu fungsi.

Menjadi bahan bakar.

"Saya ingin mereka mengakui hak saham warisan saya secara resmi," kata Hendra. "Saya ingin akses ke dokumen pemegang saham. Saya ingin mereka tahu bahwa semua komunikasi setelah ini harus melalui kuasa hukum."

Pengacara itu mengangkat alis. "Bapak tidak meminta jabatan?"

"Tidak hari ini."

"Tidak meminta damai keluarga?"

"Keluarga yang menyembunyikan hak saya selama bertahun-tahun tidak perlu diberi panggung kata damai."

Ruangan itu hening sejenak.

Lalu pengacara itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum profesional yang mulai memahami bahwa klien di depannya bukan korban yang datang menangis.

"Baik," katanya. "Kita kirim somasi hari ini. Tuntut pengakuan status ahli waris dan pemegang saham. Minta mereka membuka buku daftar pemegang saham, risalah RUPS, dan seluruh perubahan kepemilikan sejak kecelakaan orang tua Bapak. Saya juga akan cantumkan tenggat waktu."

"Berapa lama?"

"Tujuh hari kerja cukup keras."

"Tiga hari."

Pengacara itu berhenti menulis.

Hendra menatapnya tenang. "Mereka sudah menahan hak saya bertahun-tahun. Saya tidak berkewajiban memberi mereka waktu untuk merapikan kebohongan."

Ujung pulpen itu kembali bergerak.

"Tiga hari," kata pengacara.

Pukul tiga sore, surat resmi pertama dikirim ke kantor pusat Wijaya Group.

Pukul empat lewat dua puluh, seorang staf legal di Menara Wijaya Group berlari kecil menuju lantai direksi dengan wajah pucat.

Pukul empat lewat tiga puluh, Om Rusli membaca surat itu di ruang kerjanya.

Mula-mula, ia tertawa.

"Anak itu menyewa pengacara?"

Sekretaris di depannya menunduk. "Iya, Pak. Suratnya ditujukan resmi ke direksi dan komisaris. Mereka meminta pengakuan hak saham warisan serta akses dokumen RUPS."

Tawa Om Rusli berhenti.

Ia membaca halaman kedua.

Lalu halaman ketiga.

Wajahnya perlahan mengeras.

Ada salinan akta waris.

Ada nomor sertifikat saham.

Ada legalisasi notaris.

Ada tenggat tiga hari.

Anak itu tidak datang membawa tangis.

Anak itu datang membawa pisau yang dibungkus bahasa hukum.

"Panggil orangnya," kata Om Rusli dingin. "Suruh dia datang malam ini. Katakan Om ingin bicara baik-baik."

Sekretaris keluar.

Lima menit kemudian, telepon Hendra bergetar.

Saat itu Hendra sedang berdiri di lobi gedung pengacara. Di luar kaca, langit Jakarta mulai berubah oranye. Kendaraan merayap seperti biasa. Orang-orang melewati pintu putar dengan mata sibuk dan langkah tergesa, tidak satu pun tahu bahwa musim terakhir hidup mereka sedang mendekat.

Hendra melihat nama penelepon yang tidak dikenal.

Ia mengangkatnya.

"Pak Hendra?" suara perempuan terdengar hati-hati. "Saya dari kantor Pak Rusli. Pak Rusli meminta Bapak datang ke Menara Wijaya malam ini. Beliau ingin membicarakan masalah keluarga secara baik-baik."

Masalah keluarga.

Kalimat itu hampir membuat Hendra tersenyum.

Saat ingin merampas, mereka menyebutnya keputusan bisnis.

Saat mulai terancam, mereka menyebutnya keluarga.

"Sampaikan kepada Om Rusli," kata Hendra, "mulai hari ini semua komunikasi hukum melalui kuasa saya."

"Tapi Pak Rusli bilang--"

"Saya sudah menjawab."

Hendra menutup telepon.

Satu pintu tertutup rapi di depan wajah Om Rusli.

Beberapa kilometer dari sana, di ruang pribadi sebuah klub bisnis, Handoko menerima pesan dari Om Rusli. Ia membaca lampiran surat itu, lalu menyipitkan mata.

"Menarik," gumamnya.

Di layar ponsel, nama Hendra Wijaya tertera jelas di baris pertama.

Anak muda yang kemarin masih terlihat bisa ditekan kini memakai notaris, pengacara, dan tenggat waktu.

Itu bukan gaya orang kalah.

Itu gaya orang yang sedang memancing.

Handoko mengetuk meja dengan kuku jarinya.

"Cari tahu," katanya kepada asisten di sampingnya. "Dia sebenarnya mengincar apa."

Sementara itu, Hendra keluar dari gedung dengan map hitam di tangan.

Angin sore menyentuh wajahnya. Untuk orang lain, map itu hanya kertas. Untuk Om Rusli, map itu ancaman. Untuk Handoko, map itu tanda tanya.

Bagi Hendra, map itu adalah kail.

Dan ikan terbesar baru saja mencium bau darah.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!