NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Anindya, Sang Janda yang Ditolong

Yang membuat pandangan Bima membeku bukan tubuh perempuan itu.

Melainkan mata ketakutan yang menatapnya dari atas tempat tidur.

Kedua tangan perempuan tersebut terikat pada sisi ranjang. Pergelangan kakinya disatukan dengan tali plastik, sementara mulutnya disumpal kain. Piyama saten berwarna gading yang dikenakannya robek pada bagian bahu. Satu tali tipis terlepas, memperlihatkan kulit yang memerah akibat gesekan.

Bima mengenal wajah itu.

Penghuni yang selalu menyapa satpam di lobi.

Perempuan itu berusaha mundur saat ia masuk. Punggungnya membentur kepala ranjang. Isak tertahan keluar dari balik sumpal.

"Tenang," kata Bima cepat. Ia mengangkat kedua tangan agar terlihat jelas. "Saya satpam yang tadi bicara dari luar. Dua orang itu sudah saya lumpuhkan."

Mata perempuan itu bergerak ke pintu, lalu kembali kepada Bima. Ketakutannya belum hilang, tetapi bahunya turun sedikit.

Bima memalingkan wajah seperlunya dan mengambil selimut tipis dari ujung ranjang. Ia menutupkannya ke bahu perempuan itu sebelum mendekat.

"Saya lepas sumpalnya dulu. Boleh?"

Perempuan itu mengangguk cepat.

Bima menarik simpul di belakang kepalanya. Begitu kain terlepas, perempuan itu menghirup udara dalam-dalam sampai batuk.

"Mereka... mereka di mana?"

"Di ruang tamu. Pingsan. Pisau mereka juga sudah saya amankan."

"Mereka akan masuk lagi. Pintu kamar..."

"Tidak akan."

Hanya dua kata. Suaranya tidak keras, tetapi perempuan itu berhenti menggigil sesaat.

Bima berjongkok di sisi ranjang untuk memeriksa ikatan tangannya. Tali plastik itu ditarik terlalu kencang hingga meninggalkan garis merah. Ia bisa memutuskannya dengan satu tarikan, tetapi bekas ikatan harus tetap utuh untuk barang bukti.

"Saya perlu melonggarkan simpulnya. Mungkin agak sakit."

"Nggak apa-apa. Cepat, tolong."

Jarinya bekerja di antara tali dan pergelangan. Perempuan itu tersentak ketika buku jari Bima tanpa sengaja menyentuh kulit bahunya yang terbuka.

Bima langsung menarik tangan.

"Maaf."

Perempuan itu menatap profil wajahnya. Di tengah keadaan yang berantakan, telinga satpam itu justru tampak sedikit merah.

"Saya nggak akan menuduh penyelamat saya macam-macam," gumamnya, masih terengah-engah.

Bima melirik sekilas. "Syukurlah. Gaji saya nggak cukup buat bayar pengacara."

Untuk pertama kalinya sejak pintu didobrak, sudut bibir perempuan itu bergerak tipis.

Simpul pertama terlepas. Bima memindahkan diri ke ujung ranjang dan membuka ikatan kaki tanpa komentar. Ia menjaga selimut tetap menutupi tubuh perempuan itu, bahkan ketika tangannya harus menjangkau simpul di balik pergelangan kaki.

Begitu bebas, perempuan itu segera merapatkan selimut ke dada.

"Ada yang sakit? Kepala terbentur? Mereka memukul Anda?"

"Mereka mendorong saya ke lantai." Ia menyentuh siku kirinya. "Cuma sakit di sini. Mereka belum sempat..."

Kalimatnya patah.

Bima tidak memaksanya menyelesaikan.

"Tidak perlu cerita sekarang. Polisi akan datang. Anda bisa menyampaikan sebatas yang Anda sanggup, lalu minta pemeriksaan medis kalau ada nyeri."

Perempuan itu mengangguk. Setelah beberapa tarikan napas, ia berkata, "Saya baru selesai mandi. Lagi nonton televisi di sofa. Mereka congkel pintu, lalu masuk begitu saja."

Tangannya kembali bergetar.

"Mereka minta uang. Salah satunya bilang... kalau saya nggak punya uang tunai, mereka akan ambil yang lain dari saya."

Mata Bima menjadi datar.

Di luar kamar, salah satu penyerang mengerang pelan.

Bima berdiri.

"Tetap di sini. Kunci pintunya setelah saya keluar."

Perempuan itu langsung mencengkeram ujung lengan seragamnya.

"Jangan tinggalkan saya."

Genggamannya lemah, tetapi cukup untuk menahan langkah Bima.

"Saya hanya ke ruang tamu untuk menelepon polisi," katanya. "Saya tidak akan pergi dari unit ini."

"Janji?"

"Janji."

Perempuan itu perlahan melepaskan lengannya.

Bima keluar dan membiarkan pintu kamar menutup. Dua penyerang masih tergeletak di dekat sofa. Pria bertato mulai sadar, tetapi tubuhnya belum mampu bergerak dengan benar. Matanya terbuka setengah saat Bima lewat.

"Jangan," kata Bima tanpa berhenti.

Pria itu membeku, lalu pura-pura pingsan lagi.

Bima mengambil ponselnya dan menelepon 110. Ia menyebut nama gedung, alamat, lantai, jumlah pelaku, kondisi korban, serta adanya dua pisau lipat. Petugas di ujung sambungan memintanya tidak memindahkan senjata atau membersihkan ruangan.

"Pelaku masih hidup dan bernapas," kata Bima. "Keduanya tidak terikat, tetapi belum mampu melawan."

"Jangan melakukan kekerasan tambahan. Amankan jarak dan tunggu petugas," jawab operator.

"Dipahami."

Setelah panggilan berakhir, radio di bahunya langsung berbunyi.

"Bang Bima? Polisi sudah aku hubungi juga," kata Doni. "Mereka benar-benar pingsan? Dua-duanya?"

"Iya."

"Bang pakai pentungan?"

Bima melihat pentungan mati di pinggangnya.

"Nggak sempat."

"Terus pakai apa?"

"Nanti saja. Buka akses petugas ke lift. Jangan izinkan penghuni lain naik ke sini."

"Siap. Tapi Bang..."

Bima mematikan radio sebelum pertanyaan berikutnya keluar.

Ia mengambil dua handuk bersih dari rak dekat kamar mandi, lalu meletakkannya di lantai untuk menandai jarak aman dari kedua pisau tanpa menyentuh barang bukti. Setelah itu ia berdiri di tempat yang bisa mengawasi ruang tamu dan lorong kamar sekaligus.

Pintu kamar terbuka beberapa sentimeter.

"Pak Satpam?"

"Saya di sini."

"Saya mau ganti baju."

"Silakan. Pintu depannya saya jaga."

"Jangan lihat ke sini."

Bima menatap lurus ke televisi. "Saya bahkan nggak tahu kamar Anda ada di sebelah mana."

Pintu terbuka sedikit lebih lebar. "Tadi Anda yang mendobraknya."

"Berarti saya lupa. Banyak kerjaan malam ini."

Hening sesaat. Kemudian terdengar tawa kecil yang masih bergetar.

"Pembohong."

Beberapa menit kemudian, perempuan itu keluar mengenakan gaun hitam sederhana dan kardigan tipis. Rambutnya yang masih lembap diikat seadanya. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya sudah lebih terarah.

Bima berdiri dari kursi dekat pintu.

"Polisi sedang menuju ke sini."

Perempuan itu memandang kedua penyerang, lalu berhenti. Bima langsung bergeser menutup sebagian pandangannya.

"Duduk saja. Jangan dekat-dekat mereka."

Ia mengantar perempuan itu ke sofa tunggal yang tidak tersentuh. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja kaca yang salah satu sudutnya retak.

"Saya belum tahu nama Anda," kata Bima.

Perempuan itu berkedip, seolah baru menyadari hal yang sama. "Anindya Kusuma. Panggil Anindya saja."

"Bima. Bima Prawira."

Anindya mengulurkan tangan. Bima menyambutnya dengan genggaman ringan, berhati-hati pada memar di sikunya.

"Terima kasih, Bima. Kalau kamu terlambat sedikit saja..."

"Saya tidak terlambat."

Anindya menatapnya lebih lama. Matanya turun ke pentungan yang masih utuh di pinggang, lalu ke kedua pria dewasa yang terkapar tanpa ikatan.

"Kamu pernah jadi tentara?"

Bima melepaskan tangannya. "Pernah."

"Tentara apa?"

"Yang gajinya juga nggak cukup buat pengacara."

Anindya mengembuskan napas yang nyaris menjadi tawa. Namun rasa ingin tahu di matanya tidak ikut hilang.

Dari kejauhan, sirene mulai terdengar mendekati kompleks.

Anindya merapatkan kardigan, lalu berkata pelan, "Sayang banget kalau kamu cuma jadi satpam di sini... kelihatannya kamu bisa jadi apa saja."

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!