Malam itu, Alya mendapat pesan dari pacarnya yang memberitahukan jika ayahnya mabuk.
Sebagai Seorang anak, Alya berniat untuk pergi menjemput Ayahnya, tapi siapa sangka di balik itu semua, pacar yang begitu ia percaya dan sangat dia cintai ternyata membohonginya.
Dia di jebak sampai tak sadarkan diri, rupanya Alya di bawa ke sebuah hotel, disana dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan yang lebih sialnya lagi, sadar ia sudah sadar, laki-laki yang bersamanya semalam sudah menghilang entah kemana.
Beberapa bulan kemudian Alya di nyatakan positif hamil, ada dua janin di dalam perutnya, hal itu membuat Alya harus menanggung gunjingan dari orang-orang Sekitar karena kehamilannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah Alya bahagia dengan anak kembarnya? lalu siapa ayah dari kedua anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Anak-anak
Alya resah, dia tidak bisa tidur, matanya seakan segar seperti baru saja mencuci muka.
"Mama kenapa belum tidur?" Nino ternyata masih sama seperti Alya, berbeda dengan Nina adiknya itu sudah terlelap saat baru sebentar berada di atas kasur.
Alya sedikit terkejut mengira kedua anaknya sudah tertidur, dia menoleh ke Nino setelah menengadahkan wajahnya ke atas plafon kamar, "Ehm... Tidak apa-apa, mama hanya sedang memikirkan sesuatu! Kamu tidurlah, adikmu saja sudah tidur masa kamu mau begadang!"
"Apa mama memikirkan pengendara mobil mewah yang Nino ceritakan tadi atau pengirim barang-barang itu?" Tanyanya.
"Ha? Kamu ini bisa membaca fikiran mama ya? Jangan-jangan kamu punya indra ke enam?"
Nino mengerutkan dahinya, "Mama!"
Alya tertawa pelan, "Heheh mama hanya bercanda! Tapi apa yang kamu katakan tadi memang benar!"
"Aku tau mama juga mengkhawatirkanku sama Nina kan? Mama tenang saja, aku akan melindungi Nina!" ucap Nino.
"Mama percaya sama kamu sayang!"
"Ehh sebenarnya sebelum mobil itu pergi, Nino sempat melihat plat nomor mobilnya mah!"
"Benarkah?"
Nino mengangguk dengan penuh keyakinan, dia menyebut nomor plat mobil tadi, ingatan itu masih segar dalam benaknya, dia tidak keliru sama sekali dalam hal ingat-mengingat.
"Ya sudah! Kalau begitu kamu tidur yah... Mama mau minum obat dulu, sepertinya mama tidak akan bisa berangkat bekerja besok pagi kalau kepala mama sakit terus seperti ini!" Alya Pelan-pelan menyingkirkan tangan Nina yang berada di perutnya, dia duduk diatas ranjang masih menatap putranya.
"Di mana obatnya mah, biar Nino ambilkan!" ujarnya menawarkan diri segera turun dari ranjang.
"Tidak usah sayang! Kamu tidur saja!"
"Jangan begitu mama! Sejak kecil sampai sekarang mama merawatku dan Nina, mama bahkan bisa menahan diri dari cemoohan orang-orang, jadi kali ini biarkan anakmu yang merawat mama!"
Mata Alya berkaca-kaca, "Terimakasih sayang! Mama beruntung memiliki anak seperti kalian!" Tangis itu tertahan, dia tak mau suaranya membangunkan Nina.
Alya memberitahu Nino jika obatnya ada di dalam laci, Nino juga begitu sigap mengambil air minum untuk ibunya.
Alya minum obat dengan tetesan air mata mengalir di pipinya, tersirat rasa bahagia yang mendalam.
Melihat Ibundanya menangis seperti itu, Nino ikut merasa sedih, ia menyeka air mata Alya dengan jari telunjuknya yang mungil, "Mama kenapa menangis lagi? Jangan menangis mama! Aku tidak suka mama menjatuhkan air mata!"
Alya tak kuasa lagi menahan air mata, segera ia memeluk erat tubuh kecil Nino yang ada di hadapannya sembari duduk di pinggir ranjang.
"Terimakasih banyak sayang! Terimakasih... Mama tidak tau lagi harus mengatakan apa sama kamu kecuali rasa terimakasih!"
"Mungkin di mata mama aku masih kecil, tapi aku sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah mama! Jika mama ingin menceritakan sesuatu, aku akan mendengarkan cerita mama!" imbuh Nino dalam pelukan Alya.
"Iya, mama akan menceritakan semuanya pada Nino!"
"Ehh Sebenarnya, aku juga penasaran soal papa, tapi jika mama masih belum siap membicarakannya padaku! Nino tidak masalah, Nino bisa menunggu mama yang penting mama bahagia, mama tidak boleh memendamnya sendirian!" lanjut Nino lagi.
Alya termangu, senyumnya seketika sirna diwajahnya itu "Nino.... " dia melepaskan pelukan mereka
"Iya, ada apa mama?" tanyanya bingung.
"Mama tau kalian berdua penasaran dengan papa kalian, tapi maaf mama belum siap menceritakannya! Mama.... "
Nino tersenyum tipis, "Mama tenang saja! Aku dan Nina akan menunggu, aku percaya mama adalah orang baik, mama tidak mungkin seperti apa yang tetangga katakan!"
"Makasih Nak! Ya sudah... Kita tidur sekarang! Mama sangat mengantuk! Mungkin karena efek obatnya sudah mulai bekerja!"
Alya kembali berbaring dia dipeluk Nino sekarang, tangan kanannya mengelus kepala Nina hingga sekilas tampak tersenyum dalam tidurnya.
***
Alya merasakan pergerakan diatas ranjangnya, membuat dia yang semula tertidur perlahan membuka mata.
Samar-samar dia melihat Nina sudah bangun sambil menatapnya dengan memegang erat tangannya.
"Apa mama masih sakit?" tanya lirih Nina dengan rambut yang masih acak-acakan menyambut paginya.
"Kenapa Nina cepat sekali bangunnya?" Alya masih berbaring memandangi Nina.
"Aku takut mama kenapa-kenapa, apakah kepala mama masih sakit? Kalau begitu ayo pergi kerumah sakit mama, biar dokter memberi mama obat!" Nina menarik-narik tangannya, dengan suara isak tangis menyelip disela-sela ucapannya yang terlontar.
Alya mulai bangun, dia duduk berhadapan dengan Nina, "Mama sudah tidak apa-apa sayang! Tadi malam kakakmu sudah memberi mama obat! Jadi mama sudah baik-baik saja sekarang!" tak lupa dia tersenyum lebar agar anak perempuannya itu tidak khawatir.
"Kakak? Tapi kenapa mama tidak membangunkanku? Aku juga anakmu mama! Kenapa mama tidak menyuruhku saja mengambil obat, kenapa harus kakak?"
"Tadi malam Nina sangat cantik saat tertidur, mama jadi tidak tega membangunkan anak mama yang cantik ini!" Alya menggodanya, dia mengapit wajah cubby anaknya yang menggemaskan.
"Huwwah! Mama tega sama Nina! Mama hanya menyayangi kakak!" tangis Nina malah pecah.
Ahh....
Mendengar suara nyaring tangisan Nina membuat kepala Alya kembali bergeming.
"Ma-mama kenapa?" Nina panik menyadari Alya menekan kepalanya dengan kedua tangan.
"Kepala mama sakit lagi?"
Alya mengangguk, "Maaf! Apa itu karena Nina?" lirih Nina merasa bersalah.
"Ini bukan salah kamu sayang!" jawabnya.
"Nina melarang mama sakit! Jangan sakit lagi mama, Nina sangat takut! Bagaimana jika mama tidak ada? Nina hanya akan hidup berdua bersama kakak yang menyebalkan itu!" keluhnya.
"Hum... Jangan berkata begitu, mama baik-baik saja! Kakakmu begitu karena dia sangat mencintai kamu! Kalau tidak mana mungkin kakakmu mengajarimu cara membaca sampai pintar, iya kan?"
Nina mengangguk paham.
"Ohh iya, kakakmu dimana?" terlalu lama bicara dengan Nina membuat Alya tidak sadar jika putranya tidak ada dalam kamar itu.
Nina menunjuk keluar, "Kakakmu ada diluar? Kalau begitu ayo kita keluar juga, mama mau lihat apa yang dia lakukan sepagi ini!"
Buru-buru Nina turun dari ranjang setelah mendengar ucapan Alya, dia menjulurkan tangan pada mamanya, "Kamu mau apa sayang?" Alya heran menatap telapak tangan putrinya itu.
"Mama lagi sakit, biar mama tidak jatuh saat berjalan, jadi peganglah tangan Nina mama! Biar Nina menjadi tongkat mama!"
Alya hampir tertawa karena ulah Nina yang bertingkah menggemaskan didepannya, "Tapi... Tapi kaki mama baik-baik saja sayang! Mama hanya sakit kepala biasa!"
"Mama!!" Alya melenguh tak terima dia menghentakkan kakinya kesal.
"Ahh iya iya baiklah... Mama akan memegang tangan Nina!"
Alya memegang tangan putrinya itu menuruni ranjang, dalam hati Nina bersorak bahagia, dia ternyata hanya ingin memperlihatkan itu pada kakaknya.
nggak sanggup beli peredam suara 🤣🤣🤣🤣
tapi Lo*** atau Pe**c**
pemuas dahaga situan besar..
kayak sprite.. ilangin dahaga tapi bikin candu 🤣🤣🤣
emang perempuan yang tidak memakai cincin emas itu pasti belum nikah ya?🤣🤣🤣
ada korban, pelaku nggak langsung di tangkap dan beri pertolongan pertama kepada korban.. malah dialog panjang n pergi tanpa berikan pertolongan 🤣🤣🤣
😁
👕👍Great!
👖
melapor dulu dgn kirim pesan ini malah bantu maling