NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Sahabat yang Menukar Nyawa

Arsip lama itu tidak terbuka dengan cepat.

Sebagian halaman hanya tersedia sebagai hasil pindai buram. Operator harus mencocokkan nomor perkara, tanggal lahir, dan nama orang tua Surya sebelum memastikan bahwa mereka membaca berkas orang yang sama.

Kirana memeriksa ringkasannya dua kali.

Kedua orang tua Surya meninggal dalam kecelakaan dua puluh tahun lalu. Saat itu Surya berusia sembilan tahun, sedangkan adik perempuannya baru lima tahun. Keduanya kemudian diasuh keluarga paman dari pihak ibu, seorang pejabat daerah di Surabaya.

Sepuluh tahun lalu, sebuah kematian terjadi di rumah keluarga tersebut.

Korban adalah adik ipar sang paman. Berdasarkan keterangan awal, pria itu datang meminta uang, membawa pisau, lalu mengancam adik Surya. Surya yang saat itu sudah remaja melawan untuk melindunginya. Dalam pergumulan, pria bersenjata tersebut tewas.

Beberapa keterangan saksi mendukung pembelaan diri. Namun keluarga korban menekan proses, saksi berubah-ubah, dan Surya menghilang sebelum pemeriksaan selesai. Status pencarian orang tetap tertinggal di sistem meski perkara tak pernah mencapai putusan pengadilan.

"Dia bukan penjahat biasa," kata operator pelan.

"Jangan membuat kesimpulan dari ringkasan," jawab Kirana. "Cetak bagian yang relevan. Catat bahwa subjek diduga sudah meninggal di luar negeri dan perlu verifikasi lebih lanjut."

Kirana membawa salinan itu kembali ke ruang pemeriksaan.

Bima membaca halaman pertama tanpa perubahan wajah. Pada halaman kedua, jari yang memegang kertas mulai mengencang.

"Kamu tahu kejadian ini?" tanya Kirana.

"Sebagian. Surya pernah bilang dia meninggalkan Indonesia karena melindungi adiknya. Dia tidak pernah menyebut siapa yang meninggal atau bagaimana keluarganya menutup jalan pulang."

"Menurut berkas, dia dikirim ke luar negeri melalui kenalan keluarga. Setelah itu jejaknya hilang."

Bima meletakkan kertas.

"Saya bertemu dia di sebuah kota pelabuhan. Dia tidur di gudang kosong dan bekerja bongkar muat dengan identitas palsu. Orang yang seharusnya mengurusnya mengambil uang, paspor, lalu meninggalkannya."

"Berapa usianya?"

"Masih terlalu muda untuk hidup sendirian."

Surya bertahan dari pekerjaan kasar, perkelahian jalanan, dan orang-orang yang menjual janji. Beberapa tahun kemudian ia menerima kontrak pengamanan di wilayah konflik. Di sanalah jalannya bertemu Bima.

"Dia bergabung dengan unit yang sama?" tanya Kirana.

"Iya."

"Di bawah perusahaan yang masih tidak mau Anda sebutkan?"

"Iya."

Kirana ingin mendesak, tetapi melihat cara Bima menatap nama Surya di lembar perkara membuatnya menahan pertanyaan.

Bima membuka dompet. Foto lama yang pernah dilihat Anindya diletakkan di atas meja.

Dua pemuda berseragam loreng berdiri di samping mobil sport merah berlapis debu. Senapan tergantung di dada. Surya merangkul bahu Bima sambil menyeringai seolah dunia belum pernah mengambil apa pun darinya.

"Mobil itu milik siapa?" tanya Kirana.

"Kami beli setelah kontrak besar pertama. Mesin bekas, catnya bagus. Surya bersikeras mobil perang harus terlihat seperti mobil orang kaya."

Ada bayangan senyum di bibir Bima. Hanya sebentar.

"Bagaimana dia meninggal?"

Ruangan terasa lebih sunyi.

Bima memandang foto itu, tetapi yang dilihatnya bukan mobil merah atau wajah muda mereka.

Ia melihat lorong beton yang dipenuhi asap. Mendengar letusan senapan dari lantai atas. Merasakan tubuh Surya menghantam dadanya ketika sahabatnya mendorongnya keluar dari jalur tembakan.

"Kami terjebak dalam operasi evakuasi," katanya. "Informasi lokasi kami bocor. Tembakan datang dari arah yang seharusnya aman. Saya terlambat melihatnya."

Suaranya serak.

"Surya melihat lebih dulu. Dia mendorong saya. Peluru yang seharusnya masuk ke dada saya mengenai dia."

Kirana diam.

"Saya menutup lukanya dengan tangan. Dia masih sempat menarik kerah saya dan menyebut adiknya." Mata Bima memerah, tetapi tak ada air mata yang jatuh. "Dia bilang, kalau saya masih menganggapnya saudara, cari dia. Pastikan tidak ada orang yang bisa memaksanya lari dari hidupnya sendiri lagi."

Jari Bima menyentuh tepi foto.

"Lalu dia mati sebelum bantuan datang."

Itu bukan seluruh kebenaran. Bima belum menceritakan pengkhianatan di dalam operasi, keputusan Surya untuk tetap menahan musuh, atau kalimat terakhir yang masih muncul dalam tidurnya. Luka tersebut belum sanggup ia serahkan kepada orang lain.

Namun bagian yang dibuka sudah cukup membuat Kirana memahami satu hal: pencarian ini bukan kedok mencari uang keluarga kaya.

"Saya perlu jawaban yang jelas," katanya. "Kalau saya membantu menemukan adiknya, apa yang akan Anda lakukan?"

"Memastikan dia aman."

"Meminta uang? Menuntut balas jasa atas kematian kakaknya?"

"Tidak."

"Membawanya ke lingkungan lama Anda?"

"Tidak. Dia bahkan tidak perlu tahu siapa saya kalau kehadiran saya justru membahayakannya."

Kirana menatapnya lama. "Anda tidak punya hubungan hukum, hak pengasuhan, hak waris, atau kewenangan apa pun atas perempuan itu."

"Saya tahu. Janji bukan surat kuasa. Saya hanya ingin menepatinya tanpa mengambil haknya memilih."

Jawaban itu membuat pertahanan terakhir Kirana turun.

Ia membuka catatan hasil penelusuran terbaru. "Saya tidak akan memberikan alamat rumah atau data pribadi. Tapi identitas pekerjaannya bersifat publik dan cocok dengan data keluarga dalam arsip."

Bima menahan napas.

"Nama lengkap adik Surya adalah Vanya Wijaya," kata Kirana. "Dia pemilik sebuah rumah mode di Surabaya. Larissa Couture."

Nama perusahaan itu menghantam lebih keras daripada pukulan.

Larissa Couture.

Tempat kerja yang baru saja ditawarkan Anindya kepadanya.

Bima menatap Kirana. "Anda yakin?"

"Tanggal lahir, nama orang tua, dan hubungan keluarga cocok. Saya sarankan jangan datang membawa cerita besar. Dekati melalui jalur wajar. Jika dia menolak bertemu, Anda harus menghormatinya."

"Saya mengerti."

Kirana menutup map. Untuk perkara malam ini, pengakuan Jarot, rekaman, dan bukti akses asrama membuat tuduhan pencurian terhadap Bima gugur. Jarot tetap diperiksa atas dugaan laporan palsu dan penanaman barang bukti. Tiga anggota polisi memilih mencatat luka ringan tanpa mengajukan laporan pribadi setelah rekaman menunjukkan Bima menggunakan tenaga terbatas.

Kirana tetap memberi peringatan resmi.

"Sekali lagi Anda menyentuh petugas saat pemeriksaan, saya sendiri yang memastikan prosesnya tidak selesai dengan peringatan."

"Dipahami, Bu Iptu."

"Dan berhenti menggoda petugas yang sedang bekerja."

Bima mengangkat alis. "Berarti saat tidak bekerja boleh?"

"Keluar."

Anindya menunggu di lorong. Ia bangkit begitu melihat Bima membawa kembali dompet dan ponselnya.

"Selesai?"

"Selesai. Saya bukan pencuri."

"Itu sudah aku tahu. Soal yang kamu cari?"

Bima melirik pintu ruang pemeriksaan. "Dapat petunjuk. Besok saya ceritakan setelah semuanya pasti."

Anindya tidak memaksa.

Mereka meninggalkan Polsek Danau Utara ketika malam mulai reda. Jalan menuju apartemen hampir kosong. Bima berjalan dengan satu tangan di saku, menyentuh tepi foto Surya di dalam dompet.

Untuk pertama kalinya sejak pulang ke Indonesia, janji itu tidak lagi mengarah ke alamat kosong.

Besok pagi, ia akan masuk ke Larissa Couture.

Dan berdiri di hadapan adik yang dibeli Surya dengan nyawanya sendiri.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!