Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Satu Kokpit, Dua Orang Asing
Anindya melewati pintu garbarata tanpa menjawab perintah Arkana.
Ia tidak naik ke pesawat milik pria itu. Pesawat tersebut milik maskapai, membawa penumpang yang mempercayakan nyawa kepada kru, dan pagi ini Anindya masuk sebagai kopilot yang sah.
Bukan sebagai perempuan yang baru dibuang dari tempat tidur Arka.
Di depan pintu kokpit, ia berhenti untuk menyapa kepala awak kabin. Amara sudah berada di sana dengan senyum profesional, seolah pertengkaran di ruang briefing tak pernah terjadi.
“Selamat datang di penerbangan kami, Kopilot Anindya.”
Tekanan pada kata kopilot terdengar seperti ejekan yang dipaksakan melewati gigi.
“Terima kasih.” Anindya membalas senyumnya. “Pastikan kabin siap sesuai waktu boarding.”
Amara menahan tatapannya, lalu bergeser memberi jalan.
Arka sudah duduk di kursi kiri ketika Anindya masuk. Cahaya dari kaca depan jatuh pada empat garis di bahunya. Flight bag milik Anindya diletakkan di tempatnya, headset dipasang, lalu ia duduk di kursi kanan dengan jarak kurang dari satu meter dari mantan suaminya.
Ruang itu terlalu sempit untuk dua orang yang memiliki tiga tahun kenangan dan tak lagi boleh membicarakannya.
“Dokumen penerbangan,” kata Arka.
Anindya menyerahkan berkas. “Rute dan cuaca sudah saya periksa. Ada potensi turbulensi ringan di tengah perjalanan. Tidak ada NOTAM yang memengaruhi keberangkatan.”
Arka membaca catatannya. “Bahan bakar?”
Ia menyebutkan angka sesuai flight plan, cadangan, serta bandara alternatif. Jawabannya keluar tenang tanpa tergesa.
“Berat lepas landas?”
Anindya menjawab lagi.
“Kalau cuaca memburuk sebelum titik keputusan?”
“Kita kembali atau menuju bandara alternatif sesuai kondisi aktual, bukan memaksakan jadwal.”
Arka menutup berkas. Tak ada celah yang bisa ia serang.
Seorang petugas operasi masuk untuk menyerahkan pembaruan muatan. Anindya memeriksa perubahan angka bersama Arka, lalu memasukkannya ke sistem. Percakapan mereka menjadi pendek, resmi, dan bersih.
“Checked.”
“Confirmed.”
“Set.”
Tiga tahun lalu, mereka pernah berbagi headset sambil tertawa setelah pendaratan buruk Anindya yang pertama. Hari ini, bahkan siku mereka tak bersentuhan.
Amara muncul sebelum pintu kokpit ditutup. Ia membawa dua gelas kopi.
“Kopi hitam tanpa gula untuk Arka.” Ia meletakkan satu gelas di tempat aman. “Dan latte untuk Kak Anindya. Aku masih ingat kesukaanmu.”
“Saya tidak minum latte sebelum terbang.”
“Dulu kamu suka.”
“Dulu banyak hal yang saya sukai.”
Tatapan Amara bergerak cepat ke Arka, menunggu pria itu bereaksi. Arka hanya memeriksa panel di depannya.
“Awak kabin bersiap untuk penutupan pintu,” katanya.
Amara tersenyum tipis. “Tentu, Kapten.”
Pintu kokpit akhirnya tertutup.
Suara dunia luar meredup. Di dalam, hanya ada dengung peralatan, komunikasi radio, dan dua orang asing yang mengetahui kebiasaan bernapas satu sama lain.
Arka bertindak sebagai pilot flying untuk sektor itu. Anindya menjalankan tugas pilot monitoring. Ia membaca checklist tanpa satu kata berlebih, memverifikasi izin, lalu mengawasi instrumen saat pesawat mulai bergerak dari apron.
“Taxi checklist complete,” ucapnya.
Arka melirik sekilas. “Anda tidak gugup?”
“Apakah ada alasan operasional untuk gugup, Kapten?”
“Ini penerbangan pertama Anda di Adiwijaya.”
“Bukan penerbangan pertama saya.”
Ia mengatakannya tanpa menoleh.
Pesawat berhenti di titik tunggu. Setelah izin lepas landas diterima, deru mesin membesar. Landasan pacu memanjang di depan mereka seperti garis yang tak memberi kesempatan untuk mundur.
Arka mendorong tuas daya. Tubuh Anindya tertekan ke sandaran kursi.
“Thrust set.”
Kecepatan meningkat.
Anindya menyebutkan callout dengan suara stabil. Saat roda meninggalkan aspal, gedung-gedung di bawah mereka mengecil, lalu tersapu lapisan tipis awan pagi.
Tak ada ruang untuk luka di fase kritis penerbangan. Anindya tidak memikirkan cincin, apartemen, atau kopi dingin yang ditinggalkan seminggu lalu. Matanya berpindah dari instrumen ke jalur terbang, lalu kembali lagi.
Arka bisa mengujinya sesulit apa pun. Langit tetap mengenali tangannya.
Setelah pesawat mencapai ketinggian jelajah, ketegangan sedikit turun. Arka menyerahkan kendali kepadanya.
“Your control.”
“My control.”
Anindya mengambil alih. Pergerakannya halus, nyaris tanpa koreksi yang tidak perlu.
Beberapa menit kemudian, indikator cuaca menunjukkan area guncangan di depan. Anindya meminta awak kabin memastikan semua orang duduk. Tanda sabuk pengaman menyala.
“Kita geser sedikit ke kanan,” katanya setelah memeriksa rute dan lalu lintas. “Sel awannya berkembang lebih cepat dari laporan awal.”
“Alasannya?”
Anindya menunjuk pantulan pada radar cuaca, lalu menjelaskan pilihan jalur dengan singkat. Arka menilai layar yang sama.
“Lakukan.”
Ia menghubungi pengatur lalu lintas udara dan memperoleh izin perubahan kecil. Pesawat tetap memasuki udara bergelombang, tetapi guncangannya jauh lebih ringan daripada jalur semula.
Gelas kopi Arka bergetar di tempatnya. Tangan Anindya tetap mantap.
Dari sudut mata, Anindya menangkap Arka sedang memperhatikan profil wajahnya. “Siapa yang melatih Anda setelah keluar dari sekolah penerbangan?”
“Pertanyaan itu ada di berkas HRD.”
“Saya ingin mendengarnya dari Anda.”
“Kita sedang berada di tengah area turbulensi, Kapten.”
Panggilan itu lagi. Bukan Arka. Bukan pula Kana yang hanya pernah keluar saat mereka berdua dan pintu kamar terkunci. Hanya Kapten, seperti nama jabatan di sebuah kartu.
Rahang Arka mengeras. “Fokus pada penerbangan.”
“Sejak tadi saya memang fokus.”
Guncangan mereda setelah beberapa menit. Seorang awak kabin menghubungi kokpit melalui interphone untuk melaporkan kondisi kabin aman. Tak lama kemudian, bel akses berbunyi.
Arka memeriksa layar pintu sebelum mengizinkan masuk.
Amara muncul membawa kotak makanan kecil.
“Penumpang sudah tenang,” lapornya. “Aku bawakan makanan. Arka biasanya telat makan kalau penerbangannya pagi.”
“Taruh saja,” jawab Arka.
Amara meletakkan kotak itu, tetapi tidak segera pergi. Matanya bergantian menatap tangan Anindya pada kendali dan Arka di kursi kiri.
“Turbulensinya lumayan, ya? Kak Anindya enggak panik?”
“Kabin sudah aman?” tanya Anindya.
“Sudah.”
“Kalau begitu, awak kabin kembali ke kabin. Jangan berada di kokpit lebih lama dari kebutuhan operasional selama penerbangan.”
Amara berkedip. “Aku sedang melapor kepada kapten.”
“Laporan selesai dua puluh detik lalu.”
“Arka?”
Pria itu menatap lurus ke depan. “Kembali ke kabin, Amara.”
Senyum di bibir Amara menghilang. Ia keluar, dan pintu kokpit menutup rapat di belakangnya.
Anindya tidak menoleh, tetapi pantulan kaca memperlihatkan wajah Amara sesaat sebelum terhalang pintu. Wajah orang yang baru sadar ada tempat di pesawat ini yang tak bisa ia kuasai hanya dengan memegang lengan Arka.
Sisa penerbangan berjalan lancar. Pada pendekatan akhir, Arka mengambil kembali kendali. Anindya membaca checklist, memantau kecepatan dan konfigurasi, lalu memberikan callout dengan tepat sampai roda menyentuh landasan.
Pendaratan itu halus.
Namun, begitu mesin dimatikan di apron, Arka melepas headset dan berkata, “Ke kantor saya setelah debriefing.”
“Apakah ada catatan terkait kinerja saya?”
“Ada hal yang harus dibicarakan.”
“Masukkan ke laporan evaluasi.”
“Anindya.”
Untuk pertama kali hari itu, namanya keluar tanpa jabatan. Nadanya rendah dan terlalu pribadi.
Anindya mengunci flight bag. “Baik, Kapten.”
Satu jam kemudian, ia berdiri di kantor kapten di lantai operasi. Arka masuk di belakangnya dan menutup pintu dengan keras. Ia tidak mendekat, tetapi tubuhnya menghalangi satu-satunya jalan keluar.
“Geser dari pintu,” kata Anindya.
Arka bergerak ke samping. “Duduk.”
“Saya lebih suka berdiri.”
“Di mana kamu tinggal selama seminggu ini?”
“Itu evaluasi penerbangan?”
“Kenapa kamu masuk ke perusahaan saya?”
“Saya pilot. Adiwijaya membuka lowongan pilot.”
“Jangan main-main dengan saya.”
“Saya tidak pernah lebih serius.”
Anindya meletakkan salinan hasil evaluasinya di meja. Tak ada catatan kritis. Semua kolom utama memenuhi standar.
“Anda ingin membuktikan saya memalsukan kemampuan. Sekarang sudah terbukti saya layak duduk di kursi kanan. Ada lagi?”
Arka meremas ujung meja. “Kamu menghilang tanpa memberi kabar.”
Anindya tertawa pendek. Suaranya tak mengandung kegembiraan.
“Kamu menyuruhku mengosongkan apartemen hari itu juga.”
“Aku tidak menyuruhmu memutus semua nomor.”
“Apa yang kamu harapkan? Laporan alamat baru dari perempuan yang sudah kamu talak?”
“Aku perlu tahu kamu aman.”
“Supaya daftar kompensasinya bisa dikirim ke alamat yang benar?”
Napas Arka tertahan.
Anindya menatap empat garis di bahunya. “Kamu sudah memastikan aku keluar tanpa hak atas rumah, tanpa status, dan tanpa cincin. Kamu juga pernah menyebutku anak dari keluarga pembunuh. Jadi jangan berdiri di sini seolah seminggu ketidaktahuanmu lebih menyakitkan daripada apa yang kamu lakukan.”
“Masalah ayahku bukan sesuatu yang bisa kamu anggap selesai.”
“Aku tidak menganggapnya selesai. Aku hanya tidak akan menerima hukuman atas kejahatan yang tidak pernah kubuktikan melakukan.”
“Keluargamu...”
“Bukti, Arka. Bukan bisikan Amara. Bukan dendam yang diwariskan. Bawa bukti kalau kamu ingin menuduhku lagi.”
Nama itu membuat mata Arka menyipit. “Jangan seret Amara ke sini.”
“Saya tidak menyeret siapa pun. Calon istri Anda sendiri yang masuk ke kokpit dua kali untuk memastikan kami tidak bernapas terlalu dekat.”
“Dia bagian dari awak kabin.”
“Tepat.”
Anindya mengambil mapnya dan berjalan ke pintu. Arka tidak lagi menghalangi.
Tangannya sudah berada di gagang ketika ia menoleh.
“Dia memang pramugari. Dia bisa terbang bersamamu, di kabin.” Senyum tipis menyentuh bibir Anindya. “Tapi aku kopilotmu, orang yang duduk satu kokpit denganmu.”
Ia membuka pintu.
“Jangan sampai calon istrimu melihat wajahmu sekarang, Kapten.”
Anindya pergi tanpa menunggu jawaban.
Malamnya, di kamar sewaan sementara yang hanya memiliki satu tempat tidur dan sebuah meja kecil, seragam putih itu akhirnya terlepas dari tubuhnya.
Ia meletakkan gelas air di meja, tetapi jemarinya mendadak kehilangan tenaga. Gelas jatuh. Pecahannya menyebar di lantai, memantulkan cahaya lampu seperti serpihan es.
Anindya berjongkok untuk memungutnya. Sebuah ujung tajam menggores kulit jarinya.
Darah muncul.
Baru saat itulah napas yang ia tahan sejak pagi pecah.
Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar suara tangisnya tidak terdengar ke kamar sebelah. Bahunya berguncang. Air mata jatuh ke lantai di antara pecahan gelas, cepat dan tanpa isak panjang.
Di kokpit tadi, Arka masih mengingat kebiasaan kecilnya. Masih memperhatikan tangannya saat turbulensi. Masih marah karena tak tahu tempat tinggalnya.
Namun, pria itu juga tetap membela nama Amara.
Anindya membiarkan dirinya menangis sampai dadanya sakit, lalu mengambil sapu. Ia membersihkan setiap pecahan, mencuci luka di jari, dan menempelkan plester kecil.
Ketika lantai kembali bersih, ponselnya bergetar.
Pesan dari Enggar hanya terdiri atas dua baris.
Bos, kami menemukan sesuatu pada catatan kematian Ibu Laras.
Ada nama yang sengaja dihapus dari laporan lama.