NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:858k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Satu Kamar, Dua Ego

Di belakang Fransisca, Alena langsung menjerit kecil.

“YA TUHAN!”

Arsen yang baru keluar berhenti di tengah langkah. Ia menatap kakaknya dari atas sampai bawah.

Lalu tertawa keras tanpa ampun.

“Hahahaha! Kakak pulang kayak debt collector gagal!”

“Diam,” ujar Alden datar sambil berjalan masuk.

Arsen buru-buru mengejarnya, mengitari kakaknya seperti sedang memeriksa barang langka.

“Serius... ini nyata?”

Ia menyentuh debu di lengan baju Alden.

“Masih hangat pula.”

Alena menutup mulut menahan tawa.

“Bahkan rambut Kak Alden berantakan. Aku tidak pernah lihat ini sejak lahir.”

Fransisca mendekat cemas.

“Kamu kenapa? Mobilmu mana? Kamu jatuh? Kamu dirampok?”

“Mobilku dibawa Belvina.”

Semua orang menatapnya.

Arsen paling dulu bereaksi, lalu meledak lagi.

“Hahahahaha! Kakak dibajak Kak Belvina!”

Alena sampai berpegangan ke dinding.

“Tidak... aku tak sanggup...”

Fransisca justru tampak terharu.

“Ya ampun...” matanya berkaca-kaca. “Akhirnya ada juga yang bisa mengalahkanmu.”

Alden melewati mereka semua seolah tak terganggu. Bibirnya malah melengkung nyaris tak terlihat

Gerakan kecil itu tertangkap Andreas yang baru keluar dari ruang baca.

Pria yang menjadi kepala keluarga itu berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh pada RX-King di halaman.

Lalu pada putra sulungnya yang pulang berdebu.

“Jelaskan.”

Alden membuka kancing manset kemejanya sambil berjalan melewati ayahnya.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

Andreas mengangkat alis.

“Mobilmu hilang. Kau pulang naik motor tua. Bajumu seperti habis dikejar ayam. Dan kau bilang tak ada yang perlu dijelaskan?”

Arsen hampir tersedak menahan tawa.

Alden berhenti sebentar, menoleh sedikit ke belakang.

“Istriku sedang belajar mengambil aset keluarga.”

Arsen jatuh terduduk di tangga sambil tertawa.

Alena menepuk meja terdekat.

Fransisca benar-benar menangis karena terlalu bahagia.

Andreas memandang putranya beberapa detik, lalu satu sudut bibir pria tua itu naik nyaris tak terlihat.

“Bagus.”

Alden mengangkat alis tipis.

“Bagus bagian mananya?”

“Kalau dia berani mengambil milikmu,” ujar Andreas tenang, “berarti dia belum berniat pergi.”

Alden terdiam. Kalimat itu mengenai sasaran terlalu tepat. Ia menoleh ke arah halaman, ke tempat sedan hitamnya seharusnya parkir.

Kosong.

Namun entah kenapa, dadanya justru terasa penuh.

Arsen masih terpingkal di tangga.

“Besok apa lagi? Kakak pulang naik bajaj?”

Alden berjalan ke kamarnya tanpa menoleh.

“Kalau kau masih tertawa saat makan malam, kartu kreditmu kublokir.”

Tawa Arsen mati seketika. Alena terbahak lebih keras. Fransisca memeluk lengan suaminya bahagia.

“Rumah kita menyenangkan lagi.”

Andreas menyesap teh yang baru dibawakan pelayan.

“Bukan rumahnya,” katanya tenang.

Matanya mengikuti langkah Alden yang menjauh.

“Tapi perang yang baru dimulai.”

***

Pintu kamar terbuka.

Alden masuk sambil melonggarkan dasi, masih membawa aura jalanan, debu, dan kekesalan yang belum selesai.

Namun langkahnya berhenti di ambang pintu.

Belvina baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, dijepit ke satu sisi sambil digosok handuk kecil. Wajahnya segar tanpa riasan. Piyama longgar berwarna lembut membuatnya terlihat jauh lebih muda.

Belvina memerhatikannya dari kepala sampai kaki. Lalu alisnya terangkat.

“Wah.”

Alden menutup pintu pelan.

“Apa?”

Belvina menahan tawa.

“Kalau tak kenal, kupikir tadi satpam salah masukin tukang tagih utang.”

Alden berjalan mendekat sambil melepas jam tangan.

“Lucu?”

“Tidak, serius.” Belvina melangkah memutari dirinya seolah sedang menilai barang bekas. “Kemeja kusut. Sepatu berdebu. Rambut berantakan.”

Ia berhenti di depannya.

“Masih kurang helm proyek.”

Alden hanya memandang tanpa ekspresi.

“Kau selesai?”

“Belum.”

Belvina menunjuk lengannya.

“Ini apa?”

“Debu.”

“Bukan. Ini bukti karma bekerja cepat.”

Alden terkekeh pendek, sangat tipis, tapi nyata.

Belvina langsung menyipitkan mata.

“Kau ketawa?”

“Tidak.”

“Kau jelas ketawa.”

“Aku sedang kasihan padamu.”

Belvina mendecak.

“Kasihan kenapa?”

Alden membuka simpul dasinya.

“Karena kau sengaja pulang ke sini hanya supaya bisa tidur denganku.”

Belvina membeku satu detik, lalu tertawa kering.

“Narsis.”

Ia melempar handuk kecil ke sofa.

“Aku pulang ke sini karena Bunda yang minta.”

“Mm.”

“Jangan ‘mm’ begitu.”

“Faktanya tetap sama.” Alden berjalan melewatinya menuju lemari. “Kau tetap berakhir di kamar yang sama denganku.”

Belvina menaruh tangan di pinggang

“Malam ini kau tidur di sofa.”

Alden membuka lemari tanpa menoleh, seolah usul itu tak layak dipertimbangkan.

“Gak mau.”

Belvina membelalak.

“Excuse me?” Ia melangkah mendekat. “Ya sudah. Kalau kau tak mau, aku yang tidur di sofa.”

Kini Alden menoleh. Tatapannya datar, tapi jelas menilai.

“Yakin ingin tidur di sofa?”

“Yakin.”

Alden menutup pintu lemari pelan.

“Semalam kau nyaman sekali tidur denganku.”

Belvina tersedak udara sendiri.

“Apa?”

“Bahkan sampai memelukku.”

“Itu fitnah.”

“Kau melingkari pinggangku.”

“Itu karena aku mengira kau guling.”

Alden mengangkat satu alis.

“Guling hidup?”

Belvina menunjuk wajahnya.

“Jangan besar kepala. Kau yang maksa aku tidur di ranjang itu.”

“Tapi kau nyaman.”

“Tidak.”

“Nyenyak.”

“Tidak.”

“Mendengkur sedikit.”

“Aku tidak mendengkur!”

“Baik. Mendengus manja.”

Belvina mengambil bantal terdekat dan melempar ke arahnya.

Alden menangkapnya dengan satu tangan.

“Malam ini kita tidur seranjang lagi,” ucapnya tenang sambil meletakkan bantal ke kasur.

“Tidak," bantah Belvina. "Kita tidur terpisah.”

“Gak mau.”

“Harus mau.”

“Tidak.”

Belvina menyipitkan mata.

“Keras kepala.”

“Kita cocok.”

“Aku tidak bercanda.”

“Aku juga.”

Dua-duanya saling menatap tanpa berkedip.

Lalu Alden berkata santai,

“Kalau begitu, aku panggil Bunda dan bilang kita bertengkar.”

Belvina langsung bergerak cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Awas kalau berani.”

Alden menunduk sedikit. Suaranya teredam di balik telapak tangan Belvina.

“Jadi?”

Belvina sadar posisi mereka mendadak terlalu dekat.

Ia buru-buru menarik tangannya, mundur beberapa langkah.

“Licik.”

Tatapan Alden tak berubah sedikit pun.

“Efektif.”

"Aku tetap gak mau tidur denganmu."

"Aku beneran bilang ke bunda."

Belvina menatap tajam.

“Kau mengancamku pakai ibumu sendiri?”

“Aku memanfaatkan situasi.”

Belvina berjalan cepat mendekat.

“Kau tahu apa yang paling menyebalkan darimu?”

Alden menoleh, jarak mereka kini terlalu dekat.

“Apa?”

“Kau merasa selalu menang.”

Alden menunduk sedikit, suaranya rendah.

“Kalau begitu buktikan aku salah.”

Jantung Belvina berdenyut tak nyaman. Ia mundur setengah langkah.

“Pergi mandi.”

“Ada nada perhatian di sana.”

“Ada bau knalpot di sana.”

Sudut bibir Alden bergerak samar.

“Jadi kau mengendusku?”

Belvina mengambil bantal lagi dan menghantam dadanya.

“MANDI.”

Lagi-lagi Alden menangkap bantal itu dengan satu tangan.

Tatapan keduanya bertemu beberapa detik terlalu lama. Lalu Alden berjalan ke kamar mandi sambil membawa bantalnya.

“Itu bantalku!” seru Belvina.

“Rampasan perang,” jawabnya tenang dari balik pintu yang menutup.

"What?!" Belvina berdiri mematung, pipinya panas. “Manusia paling menyebalkan sedunia.”

Dari balik pintu terdengar suara Alden datar.

“Aku dengar.”

Belvina langsung mengambil bantal kedua.

“Bagus.”

Dari kamar mandi kembali terdengar suara Alden. Ia berkata dengan nada datar,

“Siapkan diri. Aku tidak berniat tidur di sofa.”

 

...✨“Mereka belum saling mengaku suka. Tapi seluruh rumah sudah tahu perang ini terlalu manis untuk disebut benci.”✨...

.

To be continued

1
echa purin
👍👍
Firma Firma
bagus banget
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
EsTefaYe
Lho kalau Belvina & Alden sdh kenal sejak kecil, apakah msh bisa dianggap merebut dari Seraphina/Doubt/
ayu cantik
suka
rara
Ceritanya baguss, ngga terlalu banyak konflik. suka sama karakternya Belvina. sukses terus utk karyanya Thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
seribu nama
Akhirnya Alden bisa berubah jadi tidak terpuruk dengan penyesalan walau rasa bersalah itu ada tapi datang sebagai pelajaran☺
rara
🤣🤣🤣
anonim
Alden semakin tidak peduli pada Serapina bukan saja karena Belvina. Tapi karena Alden sudah tahu permainan liciknya.

Tinggal menunggu apa nanti yang akan dilakukan Alden.
anonim
Alena dan Arsen rebutan ingin saling duluan menemui Belvina.

Beda dengan Alden yang kesal merasa terganggu dengan kehadiran kedua adknya yang tiba-tiba. Belvina hatinya menghangat.

Alena sok tahu kalau calon keponakannya perempuan 😄.

Arsen tak mau kalah, ia protes. Memastikan keponakannya ganteng, karena cowok.

Waduuuh tangan Arsen yang terulur mau pegang perut Belvina dipukul Alden.

Alden mengusir kedua adiknya.

Belvina terharu, senang merasakan kehangatan dari keluarga Alden.

Mereka semua keluar meninggalkan Alden dan Belvina yang butuh istirahat.
fii 🤩
👍👍💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tamat juga happy ending...
Bagus banget, penulisannya tertata rapi,jalan ceritanya juga ngena banget.👍👍👍

Tapi Thor kalau bisa Ceritanya agak di persingkat saja biar ga terus muter² di situ masalah tentang musuhnya dan terus ga di ulang² juga yang jadi alasan konflik RT antara Belvina sama Alden, maaf hanya memberi saran saja... jangan tersinggung ya Thor.🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍: Sama² Thor.🤗
tetap terus berkarya hasilin cerita yang bagus².👍💪
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Bukan karna hormon kehamilan Bel tapi kamu memang egois sudah di batas keterlaluan namanya, untung Alden masihbsabar dan ga nyari pelampiasan atau jajan keluar... Coba pikirkan kalau seandainya Dia jenuh dan capek dengan sikap kamu dan akhirnya menyerah.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kurang berkorban apa lagi Alden sama kamu Bel, Dia sudah banyak berkorban Lho dari semua aset dan nyawanya sekalipun justrubdibsini kamu yang hanya berkorban kasih kesempatan doang buat Dia selebihnya ga ada...

semoga sibSeraphina dapat perlakuan buruk deh dari penghunu jerusi yang lain biar ngerasain gimana sakitna.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada rahasia kah di balik kalung itu.
Buat pelajaran Bel kalau dapat kabar atau mau lakuin sesuatu itu jangan Ceroboh terus dan jangan bertindak sendiri sampe berUjung celaka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hadeuuhh mau nolong Belvina pake Teriak pake Pesan dulu lagi pak Polisi... ya gimana Sandera mau selamat yang ada malah jadi sasaran empuk Seraphina buat Bunuh Dia, harusnya pelan² saja bergerak Pak biar Korban selamat dan musuh tumbang.😤😤
Mulut di utamain bukannya gercep lewat tindakan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Belvina yang masih Bodoh dan ceroboh dan Alden yang masih Kurang gercep dan Teledor...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah kan benar tebakanKu di awal kalau Seraphina dalang bangkrutnya perusahaan Alden dan datang sebagai pahlawan palsu.🤣🤣🤣
udah curiga karna aneh setiap ada kejadian apapun tentang Alden maupun perusahaan kok siluman datang tepat bangetbseolah tau semua.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Alden kalah mulu dari Deraphina percuma adanya pengawasan tapi Belvina masih kena juga untung Dia dan Bayinya ga apa².. lagian Belvina juga suka banget ceroboh kalau jalan jangan di biasakan main Hp tapi Dokus ke jalan dan sekitar Bel
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
lama² ga suka juga dengan sikap Belvina yang makin ke sini makin Sok, keterlauan sama Alden... jangan jadikan kesempatan yang Kamu berikan pada Alden buat Kamu semakin ngerasa kalau Alden harus terus nurut dan ngalah terus sama Kamu Belvina.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Dimas T O P.👍👍👍
pikirkan perkataan Dimas tuh Al kadang perwmpuan juga butuh pengakuat dari ucapan... jadi apa susahnya buat bilang I Love You Belvina.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!