NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Kartu Nama dari dr. Marcus

Keesokan paginya, Karina tiba di BSD menjelang pukul sepuluh.

Nathan dan Lucas sudah berangkat sekolah, sedangkan Sebastian pergi ke kantor sebelum Karina turun untuk sarapan. Itu membuatnya lega sekaligus sedikit kecewa, perasaan yang segera ia singkirkan sebelum sempat berkembang.

Alamat yang dikirim Reyhan mengarah ke deretan ruko dua lantai tidak jauh dari kawasan perumahan. Karina turun dari mobil sewaan daring di jalan utama karena pengemudi tidak dapat masuk. Hujan pagi baru berhenti, meninggalkan aspal basah dan genangan kecil di tepi trotoar.

Menurut peta, ia hanya perlu berjalan tujuh menit. Namun sebuah ruas jalan ditutup untuk perbaikan saluran air. Karina terpaksa mengambil gang samping sambil membawa tas kain berisi cetakan iklan, daftar pertanyaan, dan salinan rincian awal yang diberikan Reyhan.

Ia terlalu sibuk mencocokkan nomor bangunan dengan peta di ponsel sampai tidak melihat permukaan trotoar yang menurun tajam.

Telapak kaki kanannya menginjak lumut basah di tepi beton.

Pergelangan kakinya terpelintir. Karina terhuyung dan buru-buru berpegangan pada tiang penanda jalan. Tas kain terlepas dari bahunya. Map yang tidak tertutup rapat jatuh, membuat lembaran kertas berhamburan di trotoar.

"Aduh."

Rasa nyeri menjalar dari pergelangan kaki. Karina mencoba berdiri tegak, tetapi pijakan pertama membuatnya meringis. Ia akhirnya berjongkok untuk menyelamatkan dokumen sebelum angin membawa semuanya ke genangan.

Sebuah mobil abu-abu menepi dengan tenang beberapa meter darinya.

Seorang laki-laki keluar dari kursi pengemudi. Ia mengenakan kaus polo biru tua dan celana panjang sederhana, tanpa aksesori mencolok. Sebelum bertanya apa pun, ia menangkap satu lembar kertas yang hampir masuk ke selokan.

"Ini punya Anda?"

"Iya. Terima kasih."

Laki-laki itu ikut berjongkok dan membantu mengumpulkan kertas. Gerakannya cekatan, tetapi tetap menjaga jarak. "Hati-hati, jalannya licin habis hujan. Ada yang sakit?"

"Pergelangan kaki sedikit terkilir. Sepertinya nggak parah."

Pintu penumpang depan terbuka. Seorang perempuan muda turun sambil membawa payung lipat. Rambutnya diikat tinggi, dan tas kanvas bertuliskan Universitas Indonesia menggantung di bahunya.

"Kak, payungnya." Ia segera membentangkan payung di atas Karina dan kakaknya. "Kertasnya lengkap? Jangan sampai tugas kuliah atau dokumen penting hilang."

Karina memeriksa nomor halaman, lalu mengangguk. "Lengkap. Ini cuma berkas ruko."

Perempuan muda itu langsung terlihat tertarik. "Mau buka usaha?"

"Masih lihat tempatnya dulu. Kalau cocok dan semua dokumennya bersih, aku ingin bantu tanteku buka kedai kecil. Beliau jago masak, tapi selama ini belum punya tempat sendiri."

"Keren banget." Senyum perempuan itu lebar dan tulus. "Jarang ada yang segigih ini bantu keluarga. Aku Angeline. Ini kakakku, Marcus."

"Karina. Terima kasih sudah menolong."

Marcus menyerahkan map yang sudah dirapikan. Tatapannya lalu turun ke pergelangan kaki Karina. Kulit di sisi luarnya mulai memerah.

"Coba jangan langsung dipakai jalan jauh," katanya. "Ada apotek di ujung jalan. Kami kebetulan lewat sana. Biar kami antar."

Karina hendak menolak, tetapi saat mencoba menumpukan berat badan, rasa ngilu kembali muncul.

Angeline mengangkat telunjuk seolah telah memenangkan perdebatan. "Nah, kelihatan sakit, kan? Ayo. Daripada nanti malah nggak bisa lihat rukonya."

Marcus tidak mendesak. Ia hanya membuka pintu belakang dan menunggu keputusan Karina.

"Kalau memang searah, aku merepotkan sebentar," kata Karina akhirnya.

Di dalam mobil, Angeline lebih banyak berbicara. Ia mengaku sedang kuliah di UI dan mengajak kakaknya sarapan setelah mengambil buku dari rumah teman. Marcus hanya sesekali meluruskan cerita adiknya yang terlalu bersemangat.

"Kami tinggal di Jakarta," kata Angeline. "Kak Marcus kerja di rumah sakit. Kak Karina juga dari Jakarta?"

"Iya. Aku tinggal di Menteng untuk sementara."

Marcus melirik melalui kaca spion. "Berarti cukup jauh datang sendirian hanya untuk survei tempat."

"Kalau tempat ini layak, perjalanan jauh sekali pun nggak masalah. Tapi aku belum akan membuat keputusan hari ini. Masih ada izin, tunggakan, kondisi bangunan, dan kontrak yang harus diperiksa."

"Kedengarannya Anda sudah menyiapkan semuanya," ujar Marcus.

Karina teringat pada daftar panjang Sebastian semalam. "Ada yang mengingatkanku supaya nggak gegabah."

Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum ia sempat menahannya.

Mobil berhenti di depan apotek. Marcus meminta kompres dingin sekali pakai dan perban elastis, lalu menyarankan Karina mengistirahatkan kaki serta tidak memaksakan jalan jika nyerinya bertambah. Ia tidak membuat diagnosis besar di pinggir jalan. Ia hanya memastikan Karina masih dapat menggerakkan jari kaki dan menapak perlahan.

"Kalau bengkaknya cepat membesar, terasa kebas, atau nanti nggak bisa menapak, periksa ke klinik untuk penilaian lebih lanjut," katanya.

"Baik, Dok."

Marcus mengangkat alis. "Kok tahu saya dokter?"

Angeline tertawa. "Cara ngomongmu ketahuan banget."

Setelah kompres dipasang, nyeri Karina berkurang. Ruko yang ditujunya tinggal dua blok lagi. Marcus menawarkan mengantar sampai depan, tetapi jalannya masih ditutup sehingga Karina memilih berjalan pelan setelah berterima kasih.

Sebelum ia turun, Angeline membuka dompet kakaknya yang diletakkan di konsol, mengambil selembar kartu, lalu menyelipkannya ke tangan Karina.

"Kalau butuh apa-apa soal kesehatan, kakakku dokter jantung, lho. Jangan sungkan."

"Angeline," tegur Marcus, terdengar pasrah.

"Apa? Aku cuma bantu orang baik kenal dokter baik."

Marcus menghela napas, tetapi tidak mengambil kembali kartunya. "Nomor rumah sakit ada di sana. Namun untuk kaki, klinik umum atau dokter ortopedi lebih tepat kalau keluhannya menetap."

Karina tersenyum. "Aku mengerti. Terima kasih, dr. Marcus. Terima kasih juga, Angeline."

Ia memasukkan kartu itu ke tas tanpa memikirkannya lagi. Bagi Karina, Marcus hanyalah orang asing yang kebetulan bersikap baik saat ia kesulitan. Tidak ada debar aneh atau rasa ingin tahu lain. Pikirannya sudah kembali pada Tante Mei dan ruko yang menunggu diperiksa.

Karina dapat menerima pertolongan tanpa mengubahnya menjadi utang perasaan. Kebaikan Marcus cukup dibalas dengan ucapan terima kasih dan sikap wajar jika mereka kebetulan bertemu lagi.

Pemilik tempat datang tidak lama kemudian. Karina melihat ruang depan, dapur belakang, saluran air, meteran listrik, dan lantai atas yang dapat dipakai menyimpan bahan. Ukurannya cukup kecil untuk dikelola keluarga, tetapi cukup luas untuk beberapa meja makan.

Ia menyukai tempat itu. Meski begitu, ia hanya memotret kondisi bangunan, mencatat retakan dekat wastafel, lalu meminta salinan dokumen untuk diperiksa Reyhan. Tidak ada uang muka dan tidak ada janji lisan.

Saat keluar dari ruko, Karina belum langsung pulang. Ia hendak memeriksa arus pengunjung, harga bahan, dan warung sekitar sebelum sore. Ketika ia meraih ponsel untuk membuka peta, kartu nama Marcus ikut terseret dari tas dan jatuh tepat di atas ponselnya.

Angin mendorong kartu itu masuk ke celah antara ponsel dan bagian belakang casing bening yang sedikit longgar. Karina tidak menyadarinya. Ia hanya menekan casing, memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan pergi dengan langkah hati-hati.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!