NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Sinyal Militer

Angin malam bertiup kencang menabrak dinding kaca tebal penthouse Menara Fujimi Financial Center. Di luar, Kota Fujimi tampak bagaikan kuburan raksasa bertingkat yang gelap gulita, tempat ribuan zombie melata di antara bangkai kendaraan dan reruntuhan beton.

Thomas masih duduk santai di kursi kulit eksekutifnya. Di sampingnya, Saeko berdiri tegak bagaikan patung prajurit tak bernyawa, siap mengeksekusi setiap perintah hanya dengan satu lirikan mata sang Tuan.

BZZZZZT... KRRRRK...

Mendadak, konsol radio frekuensi tinggi di meja kerja penthouse yang terhubung dengan antena satelit benteng mengeluarkan suara static memekakkan telinga. Pendaran lampu indikator hijau di konsol itu berkedip-kedip cepat—menandakan adanya penerimaan sinyal enkripsi militer berskala luas.

Thomas mengangkat sedikit alisnya. Ia mengibaskan tangan, memberi sinyal pada Saeko.

Dengan gerakan cepat dan halus tanpa suara, Saeko melangkah mendekati konsol, menekan tombol dekoder frekuensi.

BZZZTTT.. KRRRKKK.....

Saeko membutuhkan beberapa waktu untuk mencari frekuensi yang tepat karena Radio Thomas adalah jenis Radio Militer yang memiliki daya tahan lama dan kualitas suara yang bagus

"Peringatan untuk seluruh wilayah Distrik Kanto dan Pesisir Barat... Ini adalah siaran otomatis dari pangkalan komando Armada Gabungan Pasifik..."

"Kota Fujimi dan sekitarnya telah dinyatakan sebagai Zona Merah Tingkat Totalis. Sisa-sisa pasukan militer dan resimen pembersih khusus telah dikerahkan ke perbatasan Distrik Utara untuk isolasi total..."

"Setiap bentuk kehidupan atau mutasi yang terdeteksi di dalam Zona Merah akan dimusnahkan melalui serangan udara terstruktur dalam kurun waktu 72 jam..."

BZZZ... Siaran radio itu terputus, kembali menyisakan suara deris hening.

Saeko memiringkan kepalanya sedikit. Tatapan matanya yang dingin beralih menatap Thomas, menunggu instruksi. Tidak ada sedikit pun riak ketakutan di wajah cantiknya; baginya, ancaman militer atau serangan udara dari peradaban lama hanyalah gangguan kecil yang tak berarti di hadapan kekuatan tuannya.

"Serangan udara dan resimen pembersih khusus ya..." Thomas terkekeh pelan. Sebuah tawa dingin bernada celaan yang memenuhi ruangan sunyi itu.

Dunia lama yang sekarat ini masih merasa memiliki otoritas untuk "membersihkan" dunia baru. Mereka tidak tahu bahwa di dalam Zona Merah yang mereka anggap sebagai sarang mayat hidup ini, telah lahir sesosok predator puncak yang tak sanggup dihancurkan oleh amunisi konvensional mereka.

Thomas berdiri dari kursi eksekutifnya. Ia melangkah menuju jendela kaca raksasa, memandangi arah utara—tempat di mana pasukan militer tersebut sedang mendirikan garis perbatasan mereka.

"Mereka mengira sedang mengurung hewan di dalam kandang dan memiliki kekuatan serta kecerdasan untuk mengatur hidup dan matinya hewan tersebut," bisik Thomas dingin.

Ia memusatkan aliran energinya. Lapisan exoskeleton chitin hitam keemasan merayap mulus menyelimuti kedua tangannya, memancarkan kilau metallic yang mematikan di bawah kegelapan malam. Pada saat yang sama, pendaran merah abadi dari genetik Bintang Laut berdenyut lembut di balik dadanya.

"Mereka tidak sadar... bahwa merekalah yang terjebak di luar sana bersamaku menunggu kematian mereka."

Thomas menoleh ke arah Saeko.

"Siapkan kendaraan taktis dan amunisi tambahan, Busujima. Kita tidak akan menunggu mereka datang ke sini."

Saeko menyunggingkan senyum tipis yang mematikan, menarik sedikit bilah Meito: Muramasa dari sarungnya hingga pendaran racun korosif Tier 3 menyala tak terdeteksi di balik baja lipatnya.

"Laksanakan, Tuan," sahut Saeko anggun sembari membungkuk dalam-dalam. "Hamba akan menjadi pedang pembuka jalan bagi ekspansi Tuan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!