Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan Pembunuhan Pertama Terhadap Maya
Bab 10
Setelah mengetahui bahwa benda berbentuk kotak kecil itu sudah berada di tangan Vanessa aku merasa seolah olah ada bayangan gelap yang semakin lama semakin dekat ke arahku setiap harinya. Aku tahu bahwa rencana mereka sudah masuk ke tahap yang paling akhir dan paling berbahaya dan aku juga tahu bahwa aku adalah satu satunya orang yang berdiri di antara mereka dan tujuan yang ingin mereka capai. Selama aku masih ada dan masih mengetahui kebenaran mereka tidak akan bisa melaksanakan rencana besar mereka dengan tenang. Oleh karena itu aku menyadari bahwa langkah pertama yang akan mereka lakukan adalah menyingkirkanku secara permanen sehingga tidak ada lagi orang yang bisa membongkar rahasia mereka. Setiap kali aku berjalan di dalam rumah atau tidur di kamarku yang kecil di bagian belakang aku selalu merasa waspada dan tidak pernah merasa benar benar aman di mana pun aku berada.
Beberapa hari berlalu dengan perasaan yang penuh ketegangan setiap detiknya. Vanessa terlihat semakin gelisah dan semakin sering melirik ke arahku dengan tatapan yang tajam dan penuh kebencian setiap kali kami berpapasan. Ia sepertinya sedang mencari waktu yang tepat dan cara yang aman untuk melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya oleh pria misterius itu. Aku selalu berusaha tidak pergi ke tempat yang sepi sendirian dan selalu memastikan ada orang lain yang melihat ke mana aku pergi dan apa yang aku lakukan setiap saat. Namun tetap saja aku merasa bahaya itu ada di mana mana seolah olah mengikutiku dari balik setiap pintu dan setiap sudut dinding rumah yang besar ini.
Suatu sore Bibi Rina memintaku untuk membantunya mengambil beberapa botol bumbu yang tersimpan di rak paling atas di gudang dapur yang terletak agak jauh dari ruang utama rumah. Biasanya tempat itu cukup sering dilewati oleh pelayan lain namun pada sore hari itu suasana terasa sangat sunyi seolah olah semua orang sengaja pergi ke tempat lain sehingga tidak ada satu orang pun yang terlihat di lorong yang menuju ke arah gudang dapur itu. Sesampainya di dalam gudang aku berdiri di atas sebuah kursi kayu yang kokoh untuk meraih botol yang berada di rak paling atas. Tiba tiba aku mendengar suara langkah kaki yang cepat dan berat di belakangku sebelum sempat aku berbalik untuk melihat siapa yang datang seseorang mendorong kursi yang sedang aku pijak dengan kekuatan yang sangat besar dari belakang.
Aku terjatuh ke lantai yang keras dan penuh dengan pecahan keramik dan benda benda keras yang tersebar di lantai gudang itu. Kepalaku terbentur tepi lemari besi yang berat dan tajam di sudut ruangan dan rasa sakit yang hebat seketika itu juga menyebar ke seluruh tubuhku. Darah mengalir dari luka di pelipis kananku membasahi sebagian wajah dan pakaianku. Aku terbaring di lantai yang dingin dan berdebu napasku terasa sesak dan pandanganku menjadi kabur dan gelap sebentar karena benturan yang keras itu. Saat aku berusaha mengangkat kepalaku dengan sisa tenaga yang tersisa aku melihat sosok Vanessa berdiri di ambang pintu gudang dengan wajah yang tidak lagi menyembunyikan kebencian dan niat jahatnya sedikit pun. Ia tidak berusaha berpura pura sedih atau terkejut seperti biasanya kali ini ia hanya tersenyum senyum yang dingin dan penuh kemenangan seolah olah melihatku terbaring terluka adalah hal yang paling membahagiakan di dunia baginya.
Vanessa berjalan perlahan mendekat ke arahku sambil berkata dengan suara yang pelan namun penuh kebencian yang selama ini ia sembunyikan di dalam hatimu adalah penghalang terbesarku Maya. Selama kau masih hidup rencana ini tidak akan pernah bisa berjalan dengan lancar. Semua orang terlalu memanjakanmu dan terlalu mempercayaimu dulu namun sekarang tidak ada satu orang pun yang akan percaya pada kata kata anak yang sudah dicampakkan seperti dirimu. Jika kau menghilang hari ini tidak ada satu orang pun yang akan bertanya atau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Mereka semua bahkan mungkin akan merasa lega karena akhirnya kau pergi dari kehidupan mereka selamanya. Ia berdiri di samping tubuhku yang lemah dan terluka menatapku dengan mata yang tajam dan dingin seolah olah sedang mempertimbangkan apakah harus menyelesaikan apa yang baru saja dimulai atau menunggu waktu yang lain.
Namun tiba tiba terdengar suara langkah kaki orang lain yang mendekat dari arah luar gudang. Wajah Vanessa berubah seketika kembali menjadi wajah yang ketakutan dan lemah yang biasa ia pakai di hadapan orang lain. Ia berteriak sekeras mungkin sambil menangis dengan air mata yang keluar seketika itu juga astaga Maya kenapa kau jatuh? Aku baru saja datang melihatmu terjatuh dari kursi aku tidak sempat menahanmu maafkan aku maafkan aku. Ia berteriak seolah olah ia sungguh sungguh tidak tahu apa apa dan hanya menemukan aku terbaring terluka di lantai gudang itu secara tidak sengaja. Tidak lama kemudian beberapa pelayan dan juga Ayah serta Ibu datang berlari ke arah gudang setelah mendengar teriakan keras yang dilontarkan oleh Vanessa tadi. Mereka melihatku terbaring berdarah di lantai dan Vanessa yang berlutut di sampingku sambil menangis tersedu sedu seolah olah ia sangat sedih dan takut melihatku terluka.
Ayah dan Ibu tidak langsung menghampiriku mereka justru terlebih dahulu menenangkan Vanessa yang tampak gemetar ketakutan sambil berkata tidak apa apa Sayang kau tidak bersalah itu bukan salahmu. Ia pasti tidak berhati hati saat memanjat kursi itu sendiri. Tidak ada satu orang pun yang bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi tidak ada satu orang pun yang bertanya siapa yang mendorongku. Mereka langsung menganggap bahwa aku sendiri yang jatuh karena kelalaianku sendiri dan Vanessa hanyalah orang yang kebetulan datang dan menemukan aku terluka di sana. Bahkan saat aku berusaha berbicara dengan suara yang lemah dan terputus putus bahwa ada orang yang mendorongku dari belakang Ayah justru berkata dengan nada yang tegas dan dingin cukup sudah Maya berhenti menuduh orang lain untuk menutupi kesalahanmu sendiri. Kau selalu saja seperti ini setiap ada hal buruk yang terjadi padamu selalu ada orang lain yang harus disalahkan. Belajarlah untuk bertanggung jawab atas kesalahanmu sendiri.
Kata kata Ayah terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka di kepalaku yang masih mengeluarkan darah. Ia tidak melihat darah yang mengalir di wajahku ia hanya mendengar suara tangis Vanessa yang terdengar lebih meyakinkan daripada suara anak kandungnya sendiri yang sedang terbaring terluka di lantai. Ibu juga tidak memandangku dengan tatapan kasihan sedikit pun ia hanya memerintahkan pelayan untuk membawaku ke kamarku di bagian belakang dan memanggil perawat rumah untuk mengobati lukaku dengan alasan bahwa tidak perlu mengganggu dokter yang sibuk hanya untuk luka yang tidak terlalu parah. Sementara Vanessa dipeluk dan dibawa pergi oleh Ibu dengan lembut seolah olah dialah yang baru saja mengalami kejadian menakutkan dan bukan aku yang terbaring terluka di lantai gudang yang berdebu itu.
Sesampainya di kamarku yang kecil di bagian belakang rumah perawat rumah datang mengobati lukaku dengan wajah yang tampak kasihan namun tidak berani berbicara banyak hal. Ia hanya berkata bahwa lukaku cukup dalam namun untungnya tidak ada pembuluh darah besar yang rusak dan aku hanya perlu beristirahat beberapa hari agar luka itu sembuh dengan baik. Setelah perawat pergi dan pintu kamarku tertutup rapat aku mengeluarkan buku catatanku dengan tangan yang masih terasa lemah dan gemetar karena rasa sakit dan syok yang baru saja aku alami. Aku menuliskan setiap kejadian secara lengkap dan terperinci mulai dari saat aku berjalan menuju gudang dapur dorongan yang kuat dari belakang kata kata yang diucapkan Vanessa saat ia berpikir tidak ada orang yang melihat kedatangannya serta cara ia mengubah sikapnya seketika saat mendengar suara langkah kaki orang lain mendekat. Aku juga menuliskan bagaimana reaksi Ayah dan Ibu yang langsung membelanya tanpa mau mendengarkan sepatah kata pun yang keluar dari mulutku.
Saat malam semakin larut pintu kamarku diketuk pelan sekali lagi. Kali ini adalah Bibi Rina yang datang membawa air bersih dan makanan hangat. Ia terlihat sangat sedih dan matanya merah sembab seolah olah ia baru saja menangis untukku sendirian di tempat yang tidak dilihat orang lain. Ia berkata dengan suara yang bergetar karena menahan tangis aku melihat sebagian kejadian itu dari kejauhan Nona Maya. Aku melihatnya mendorong kursi itu dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Namun aku tidak berani berteriak atau berlari lebih cepat karena aku takut jika aku terlihat olehnya ia akan melakukan hal yang sama kepadaku juga dan tidak ada yang akan melindungimu jika aku sudah tidak ada di sini. Aku menahan rasa sakit di hatiku mendengar kata kata itu namun aku mengerti sepenuhnya alasan Bibi Rina. Vanessa tidak segan segan melukai orang yang menjadi penghalang jalannya dan Bibi Rina harus tetap aman agar bisa terus membantuku dan menjadi saksi kebenaran yang lain.
Bibi Rina juga memberitahuku hal yang membuatku semakin merasa ngeri dan berhati hati. Ia berkata bahwa setelah kejadian sore tadi ia mendengar Vanessa berbicara di telepon dengan suara yang tampak marah dan kecewa karena rencananya gagal menyelesaikannya hari itu juga. Ia mendengar Vanessa berkata bahwa aku ternyata masih bisa bertahan dan bahwa ia akan mencoba lagi dengan cara yang lebih pasti dan tidak akan ada saksi yang melihat kali ini. Bibi Rina memintaku untuk tidak pergi ke mana mana sendirian dan selalu mengunci pintu kamarku dari dalam setiap saat bahkan saat siang hari sekalipun. Ia juga berjanji akan selalu mengawasi gerak gerik Vanessa dan memberitahuku segera jika ada hal yang mencurigakan terjadi.
Setelah Bibi Rina pergi aku berbaring di atas tempat tidurku yang sempit sambil memegang buku catatanku erat erat di dadaku. Rasa sakit di kepalaku masih terasa nyeri setiap kali aku menggerakkan kepalaku sedikit saja namun rasa sakit di hatiku terasa jauh lebih berat dan jauh lebih menyakitkan dari itu semua. Mereka tidak percaya padaku bahkan saat darahku mengalir di lantai mereka tetap lebih percaya pada air mata palsu gadis asing itu daripada pada kenyataan yang ada di depan mata mereka sendiri. Namun aku tidak akan menyerah dan aku tidak akan pergi dari rumah ini sebelum membuktikan kebenaran. Jika hari ini ia gagal maka ia akan mencoba lagi dan aku harus siap menunggunya dengan bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkannya sebelum ia sempat menyelesaikan apa yang baru saja ia mulai.
Malam itu aku menulis baris terakhir di halaman itu dengan tinta yang sedikit berantakan karena tanganku yang masih terasa lemah namun setiap huruf yang kutulis tetap teguh dan jelas. Ia mencoba menghabisiku hari ini namun aku masih ada di sini. Setiap kali ia mencoba melukai aku ia justru menambah satu lagi bukti kesalahannya ke dalam buku ini. Semakin banyak kejahatan yang ia lakukan semakin cepat ia akan menjatuhkan dirinya sendiri. Aku akan tetap waspada tetap sabar dan tetap mencatat setiap gerak geriknya sampai hari di mana ia tidak bisa lagi lari dari segala perbuatannya.
Bersambung...