Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Pencuri Misterius
Malam itu, Taman Indah Residence terlalu tenang.
Angin melewati celah jendela dapur, membawa bau tanah basah dari taman kecil di belakang rumah. Lampu ruang keluarga sudah padam. Daun tidur di kamar dengan boneka kelinci di pelukan. Jessica tertidur lebih lambat, setelah hampir dua jam membuka catatan untuk negosiasi PT Surya Abadi.
Hendry belum tidur.
Ia duduk di ruang tengah tanpa menyalakan lampu, hanya ditemani cahaya tipis dari luar jendela.
Pikirannya masih berada di rumah Nenek Ratna.
Jessica tahu ia digunakan.
Tapi tetap menerima.
Itu yang membuat dada Hendry terasa berat.
Ia bisa menghancurkan orang yang memukul Jessica.
Ia bisa menutup perusahaan yang menjebaknya.
Namun luka yang datang dari keluarga sendiri selalu lebih sulit ditarik keluar.
Pada pukul dua lewat sedikit, telinga Hendry bergerak.
Klik.
Sangat pelan.
Suara itu terlalu teratur untuk berasal dari kayu rumah, kucing, atau angin.
Suara logam menyentuh logam.
Mata Hendry terbuka penuh.
Ia berdiri tanpa suara.
Di lorong depan, bayangan hitam bergerak melewati garis cahaya jendela. Cepat. Rendah. Terlatih.
Orang itu bukan pencuri biasa.
Hendry melangkah mendekat.
Bayangan itu berhenti di dekat lemari kecil ruang tengah. Tangannya memakai sarung tangan tipis. Ia tidak membuka laci dengan kasar. Ia meraba bagian bawah, bagian belakang, sela kayu, seolah mencari ruang rahasia.
Hendry tidak langsung menyerang.
Ia ingin tahu apa yang dicari orang itu.
Bayangan itu berpindah ke rak buku. Lalu ke bingkai foto keluarga. Lalu ke meja kecil tempat Jessica biasa meletakkan kunci.
Tidak ada uang yang diambil.
Tidak ada laptop yang disentuh.
Tidak ada perhiasan biasa yang masuk saku.
Ia mencari sesuatu.
Tiba-tiba, dari kamar Daun terdengar suara kecil.
"Papa..."
Bayangan itu menoleh.
Mata Hendry berubah dingin.
Satu langkah.
Lantai kayu berderit sangat halus.
Bayangan itu sadar.
Ia langsung melompat ke arah jendela belakang.
Hendry bergerak.
Tangannya hampir menyentuh bahu orang itu.
Namun bayangan itu melemparkan benda kecil ke lantai.
Paf!
Asap putih tipis meledak, tidak banyak, tapi cukup menusuk hidung dan mata.
Hendry menahan napas. Ia menembus asap, membuka jendela dengan satu dorongan.
Di luar, bayangan itu sudah melompati pagar samping.
Gerakannya ringan.
Mereka terlalu rapi untuk preman jalanan.
Mereka juga terlalu tenang untuk pencuri perumahan.
Orang yang tahu cara masuk, tahu cara mencari, dan tahu cara kabur.
Hendry tidak mengejar lebih jauh.
Di rumah ada Jessica dan Daun.
Prioritasnya bukan menangkap orang itu.
Prioritasnya memastikan mereka aman.
Lampu kamar menyala.
Jessica keluar dengan wajah pucat. "Hendry? Ada apa?"
Daun berdiri di belakangnya, menggosok mata.
Hendry menutup jendela. "Tidak apa-apa. Ada orang masuk."
Jessica langsung memeluk Daun. "Apa?"
"Dia sudah pergi."
"Ada yang hilang?"
"Belum tahu."
Hendry memeriksa seluruh rumah. Uang masih ada. Dokumen PT Daun Kreasi masih rapi. Ponsel cadangan, laptop, jam tangan lama, semuanya di tempat.
Semakin tidak ada yang hilang, semakin dingin hati Hendry.
Karena itu berarti targetnya spesifik.
Ia masuk ke kamar kecil yang jarang dipakai, menutup pintu, lalu menggeser lemari kayu di sudut.
Di balik papan lantai yang tampak biasa, ada rongga sempit.
Hendry membuka kotak logam kecil.
Di dalamnya, sebuah cincin terbungkus kain hitam masih berada di tempat.
Cincin Pusaka Garuda.
Emas tua melingkar di sekitar batu Pusaka. Di permukaannya ada guratan kecil yang tampak seperti pola biasa, tetapi Hendry tahu itu bukan hiasan kosong.
Kunci.
Warisan.
Masalah.
Ia mengambil cincin itu dan mengamati kain di bawahnya.
Ada satu lipatan yang tidak sama seperti terakhir kali ia letakkan.
Seseorang belum menemukan cincinnya.
Tetapi seseorang sudah mencari sangat dekat.
Hendry menutup kotak itu perlahan.
Matanya menjadi gelap.
Pukul tiga pagi, Bagus tiba dengan napas terburu-buru.
"Pak Hendry."
"Mulai malam ini, kamu tidur di rumah ini."
"Siap."
"Periksa depan rumah, pagar, kamera kompleks, jalan belakang, dan atap tetangga."
Bagus langsung menegakkan punggung. "Saya mengerti."
Hendry menelepon nomor lain.
Telepon tersambung pada dering kedua. Suara laki-laki muda terdengar parau, jelas baru bangun.
"Halo... siapa yang mati?"
"Dimas."
Suara di seberang langsung berubah. "Pak Hendry?"
"Aku butuh sistem kamera penuh di Taman Indah Residence. Pintu, pagar, lorong, atap, blind spot, penyimpanan cloud, akses ponselku. Pagi ini."
"Pagi ini?"
"Sebelum matahari tinggi."
Dimas Kurniawan hening dua detik.
"Baik. Saya kirim tim. Kalau ada jaringan Wi-Fi lemah, saya pasang mesh sendiri."
"Jangan tanya penghuni rumah terlalu banyak."
"Paham. Mode senyap."
Hendry menutup telepon.
Jessica berdiri di ambang pintu. Daun sudah kembali tidur di kamar, ditemani Michelle yang ikut terbangun.
"Kamu kenal orang seperti itu juga?" tanya Jessica pelan.
"Teman."
Jessica tersenyum lelah. "Temanmu banyak sekali."
Hendry menatapnya. "Mulai sekarang, jangan buka pintu malam-malam. Kalau ada suara apa pun, panggil aku atau Bagus."
"Kamu pikir orang itu akan datang lagi?"
"Kalau yang dia cari belum dia dapat, iya."
Wajah Jessica memucat.
Hendry melunakkan suaranya.
"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh kamu atau Daun."
Kali ini Jessica tidak membantah.
Ia hanya mengangguk.
Paginya, tim teknis Dimas datang dengan mobil van putih tanpa logo besar. Mereka bekerja cepat, rapi, hampir tanpa bicara. Kamera kecil dipasang di sudut pagar, dekat garasi, atap belakang, lorong samping, bahkan di dekat pot besar yang selama ini menutup pandangan dari jalan.
Dimas tidak datang langsung.
Ia muncul lewat video call di ponsel Hendry, rambutnya berantakan, mata masih merah, tetapi layar di belakangnya penuh peta rumah dan titik kamera.
"Pak Hendry, blind spot lama ada tiga. Sekarang saya tutup semua. Kalau ada gerakan manusia lewat pagar, sistem kirim notifikasi ke ponsel Anda dan saya."
"Bagus."
"Saya juga cek kamera kompleks. Rekaman pukul dua ada gangguan lima menit. Bukan rusak. Diputus dari jarak dekat."
Hendry menatap layar.
"Profesional."
"Sangat profesional."
Jessica mendengar itu dari ruang makan. Wajahnya tidak tenang.
Untuk mengalihkan pikiran Daun dari suasana rumah, Hendry memenuhi janji lama: mencari guru tari.
Daun sejak pagi sudah memakai rok kecil warna merah muda.
"Papa, Daun mau menari seperti di TV."
"Kita cari guru yang baik."
"Yang cantik?"
"Yang sabar."
Daun berpikir serius. "Kalau cantik dan sabar?"
Hendry tersenyum. "Lebih bagus."
Bagus ikut, tetapi Hendry menyuruhnya menunggu di luar setelah memastikan area aman. Jessica tidak ikut karena harus mulai menyiapkan dokumen untuk PT Surya Abadi.
Sekolah tari itu berada di ruko tiga lantai dekat pusat kota. Papan namanya sederhana: Sanggar Tari Pelita.
Dari dalam terdengar musik gamelan modern bercampur hitungan pelatih.
Satu, dua, tiga.
Daun langsung menggenggam tangan Hendry lebih erat.
"Papa, Daun suka."
Mereka belum sampai pintu ketika suara pria muda terdengar dari samping.
"Putri, jangan pura-pura sibuk. Aku cuma minta kamu makan siang."
Hendry menoleh.
Di dekat mobil sport merah, seorang pria muda memakai kacamata hitam menarik pergelangan tangan seorang wanita.
Wanita itu berusia pertengahan dua puluhan. Rambutnya diikat rapi, tubuhnya ramping, wajahnya cantik dengan kelelahan yang ditahan. Ia membawa tas kain dan sepatu tari.
Putri Rahayu.
"Lepaskan," katanya tegas.
Pria muda itu tertawa. "Aku sudah bayar kelas privat mahal di sini. Kamu pikir aku tidak boleh minta sedikit perhatian?"
"Kelas privat bukan alasan untuk menyentuh saya."
"Jangan sok suci. Banyak guru tari ingin dekat dengan orang seperti aku."
Daun bersembunyi di belakang kaki Hendry.
"Papa, Om itu jahat?"
Hendry menepuk tangannya.
Pria itu menarik Putri lebih keras.
Putri hampir jatuh.
Hendry bergerak maju.
"Lepaskan."
Pria muda itu menoleh. Ia melihat pakaian Hendry yang sederhana, lalu tertawa.
"Siapa kamu? Suaminya?"
"Orang yang menyuruhmu melepaskan."
Wajah pria itu berubah sinis. "Kamu tahu aku siapa? Kamu tahu ayahku siapa?"
"Tidak perlu."
"Aku anak pemilik jaringan dealer mobil terbesar di kota ini. Sekali telepon, kamu tidak akan bisa beli ban bekas sekalipun."
Hendry menatap tangan yang masih mencengkeram pergelangan Putri.
"Terakhir kali."
"Apa?"
"Lepaskan."
Pria itu justru mendorong Putri ke samping dan mengangkat tangan ke arah dada Hendry.
"Pergi sebelum aku..."
Kalimatnya putus.
Hendry menangkap pergelangan tangannya.
Putar.
Tarik.
Tubuh pria itu terangkat dari tanah.
Dalam satu gerakan bersih, Hendry membantingnya melewati bahu.
Brak!
Punggung pria itu menghantam lantai parkiran.
Dua pengawal yang berdiri di dekat mobil sport langsung membeku.
Putri Rahayu menatap Hendry dengan mata terbelalak.
Daun keluar dari belakang kaki Hendry, lalu bertepuk tangan kecil.
"Papa keren!"
Hendry mengulurkan tangan kepada Putri.
"Anda tidak apa-apa?"