Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Restoran Rasa Nusantara
Bagas mengajukan ide restoran pada saat yang sangat tidak tepat.
Rian sedang menghitung sisa Dana Sistem setelah pembukaan Garuda Mart baru. Angkanya masih besar, tapi tidak cukup membuatnya tenang. Supermarket di depan Makmur Mart memang mahal, tetapi kalau nasibnya mengikuti toko pertama, uang itu bisa kembali berlipat ganda seperti kutukan.
Lalu Bagas masuk ke kantor sambil membawa nasi Padang bungkus.
"Bos, gue punya ide."
Rian menatap bungkus nasi itu. "Kalau idemu soal makan, aku takut."
"Justru karena soal makan, ini serius." Bagas membuka bungkusnya dengan hormat. "Kota ini butuh restoran Nusantara kelas tinggi. Padang, Sunda, seafood, semuanya premium. Tempat orang kaya makan sambil merasa hidupnya berhasil."
Darmawan yang sedang memeriksa laporan stok mengangkat kepala. "Restoran high-end risikonya besar."
Telinga Rian langsung berdiri.
"Risiko apa?"
"Modal dapur mahal, bahan baku mahal, chef mahal, sewa lokasi mahal. Kalau harga terlalu tinggi, pelanggan tidak datang. Kalau harga terlalu rendah, rugi."
Bagas mengangguk cepat. "Makanya harus serius. Kalau setengah-setengah, malu."
Rian merasakan cahaya kecil turun dari langit.
Modal mahal.
Bahan baku mahal.
Harga tinggi.
Pelanggan tidak datang.
Inilah musik yang ingin ia dengar.
"Kita buka," kata Rian.
Bagas hampir menjatuhkan sendok. "Serius?"
"Serius. Buat yang terbaik."
"Bos, kalau gue pegang konsep makanan, gue nggak mau asal."
"Jangan asal."
"Gue mau rendang daging terbaik, ayam bakar bumbu lengkap, ikan gurame segar, sambal yang bukan cuma pedas tapi punya jiwa."
"Ambil yang paling mahal selama legal dan masuk akal."
Bagas menatapnya seperti baru menerima wahyu kuliner.
Darmawan menutup mata sebentar.
Tiga hari kemudian, mereka menyewa bangunan besar dekat kawasan kuliner Kota Tanjung Emas. Lokasinya tidak murah, parkirnya luas, dan interior lamanya harus dibongkar total. Rian menyetujui semuanya.
Pemilik bangunan bahkan sempat menawarkan potongan harga jika Rian mau kontrak dua tahun.
Rian menolak potongan itu.
"Saya bayar normal. Yang penting renovasi bisa langsung mulai."
Bagas menatapnya dengan bangga. "Bos, lu kalau urusan makanan memang nggak pelit."
Darmawan menatap angka sewa dengan ekspresi orang yang ingin menyelamatkan kapal sebelum kapalnya dibakar.
"Pak Bos, restoran ini belum punya pelanggan."
"Makanya harus siap dari awal."
Dalam hati Rian menjawab lebih jujur:
Makanya harus mahal dari awal.
Nama restoran dipilih setelah Bagas menolak dua belas nama yang menurutnya "kurang menggugah nafsu makan".
Restoran Rasa Nusantara.
Rian menyukai nama itu karena terdengar mahal.
Bagas menyukainya karena terdengar seperti tempat orang datang dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan percaya diri.
Renovasi berjalan cepat. Meja kayu solid dipesan. Kain batik untuk taplak dibuat khusus. Dapur memakai kompor industri, ruang pendingin bahan segar, dan area plating yang menurut Rian terlalu serius untuk bisnis yang ia harapkan sepi.
Di sudut ruangan, Bagas meminta area kecil untuk musik akustik tradisional pada malam tertentu.
"Biar suasananya hidup."
"Biar biayanya hidup juga," jawab Rian.
"Nah, itu juga."
Bagas juga meminta piring keramik berat, gelas tebal, dan buku menu kulit sintetis.
"Kalau orang bayar mahal, dari pegang menu saja harus terasa mahal."
Rian langsung setuju.
Semakin banyak benda yang terasa mahal, semakin berat biaya pembukaannya.
Untuk resep, Bagas menghubungi seorang juru masak tua yang pernah bekerja di restoran hotel besar. Biaya konsultasi dan resep rahasia mencapai 30 miliar Rupiah.
Darmawan hampir batuk.
Rian justru menandatangani pembayaran dengan tenang.
Tiga puluh miliar untuk bumbu.
Kalimat itu sendiri sudah terasa seperti doa kerugian.
Masalah berikutnya adalah karyawan.
Rian menetapkan gaji 8 juta Rupiah per bulan untuk staf restoran, BPJS lengkap, kos-kosan ditanggung, makan kerja gratis, buah dan minuman tersedia, serta subsidi pengasuh anak bagi karyawan yang sudah punya anak.
Bagas mengangkat jempol. "Bos, kalau restoran ini gagal, minimal karyawannya bahagia."
"Itu tujuannya."
Maksud Rian: bahagia sambil menghabiskan uang.
Darmawan mencoba menghitung biaya bulanan di kalkulator.
Setiap kali ia menekan tombol sama dengan, wajahnya semakin sunyi.
"Pak Bos, biaya tetap restoran ini bahkan sebelum buka sudah lebih tinggi daripada banyak restoran yang sudah ramai."
"Bagus. Berarti target kita jelas."
"Target apa?"
"Menjadi berbeda."
Darmawan berhenti bertanya.
Hari wawancara karyawan, Putri Larasati datang dengan kemeja putih yang terlalu rapi dan map CV yang ia pegang terlalu kuat. Usianya masih muda, baru lulus, matanya penuh tekad sekaligus panik.
"Nama saya Putri Larasati, Pak. Saya siap bekerja keras."
Kalimat itu bagus.
Lalu ia menyenggol gelas air di meja.
Air tumpah ke arah Rian.
Putri membeku.
Bagas membuka mulut.
Darmawan refleks mengambil tisu.
"Maaf, Pak! Saya tidak sengaja. Saya bisa bersihkan. Saya bisa ganti gelasnya. Saya juga bisa ganti mejanya kalau perlu, tapi mungkin gaji saya belum cukup..."
Rian menatap gadis itu.
Gugup.
Ceroboh.
Terlalu jujur.
Sempurna.
Jika ia ditempatkan di restoran mahal, mungkin ia akan menumpahkan air pada pelanggan kaya. Itu akan membantu.
"Diterima," kata Rian.
Putri berkedip. "Pak?"
"Mulai besok. Bagian pelayanan."
Putri hampir menangis. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."
"Ada satu syarat," kata Rian.
Putri langsung tegak. "Apa pun, Pak."
"Kalau gugup, jujur saja. Jangan pura-pura bisa."
Putri mengangguk terlalu cepat. "Saya sangat bisa jujur, Pak. Kadang malah terlalu jujur. Dosen saya pernah bilang itu masalah, tapi saya sedang belajar membuatnya jadi kelebihan."
Bagas berbisik, "Bos, anak ini bisa jadi bencana lucu."
Rian mengangguk puas.
Itu nilai tambah.
Rian tersenyum tipis.
Itulah yang aku khawatirkan.
Seminggu berikutnya, Restoran Rasa Nusantara selesai.
Lampu kuning hangat memantul di meja kayu. Dinding dihiasi motif batik dan ukiran halus. Dari dapur, aroma santan, rempah, daging panggang, dan daun jeruk memenuhi ruangan. Bagas berdiri di tengah restoran dengan mata berkaca-kaca seperti ayah melihat anak pertamanya masuk sekolah.
"Bos," katanya, "ini indah."
Rian melihat tagihan renovasi.
Ia juga merasa indah.
Lalu menu dicetak.
Rendang Wagyu - Rp 500.000/porsi.
Gurame Bakar Rempah - Rp 350.000.
Paket Nasi Liwet Premium - Rp 275.000.
Es Kelapa Muda Organik - Rp 85.000.
Harga itu kira-kira dua kali lipat restoran bagus di kota ini.
Rian akhirnya merasa dunia kembali masuk akal.
"Dengan harga begini," katanya puas, "Kota Tanjung Emas tidak akan ada yang datang."
Bagas tidak menjawab.
Ia sedang menyuap satu potong kecil Rendang Wagyu dari sesi uji rasa. Matanya tiba-tiba basah.
"Bos..."
"Kenapa?"
"Ini mungkin rendang terbaik yang pernah gue makan."
Rian mengabaikannya. Bagas memang mudah tersentuh oleh makanan.
Ia menatap menu mahal itu sekali lagi, lalu mengangguk dengan tenang.
Akhirnya.
Sebuah proyek yang benar-benar terlihat seperti lubang uang.