NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Telepon dari Tiara

"Revan Hadinata ada di balik foto-foto itu."

Suara Tiara tidak lagi bercanda.

Arya berdiri di atas jembatan penyeberangan, membiarkan hujan menetes dari ujung rambutnya. Di bawah sana, kendaraan merayap perlahan. Kota Awan tampak seperti sungai lampu yang tersumbat, penuh orang yang ingin cepat pulang tetapi terjebak oleh malam.

"Buktinya?" tanya Arya.

"Aku punya rekaman panggilan Wulan dengan seseorang dari pihak Revan. Belum sempurna, tapi cukup untuk menunjukkan arah." Tiara berhenti sebentar. "Dan ada transfer ke rekening adik Wulan, dua kali, masing-masing lima puluh juta. Pengirimnya bukan Revan langsung. Tapi orang yang biasa mengurus urusan kotornya."

Arya menatap arus mobil di bawah.

Lima puluh juta.

Harga untuk menjual martabat orang lain di ruang keluarga.

"Kirim ke Pak Satria," katanya.

"Sudah. Aku tidak mungkin meneleponmu tanpa menyiapkan itu dulu."

Arya akhirnya tersenyum sedikit. "Kamu masih sama."

"Cantik, pintar, dan selalu lebih cepat dari orang yang meremehkanku?"

"Aku ingin bilang cerewet."

Tiara tertawa, kali ini lebih lepas. Suara itu pernah sering Arya dengar dari televisi, iklan parfum, panggung musik, dan layar besar mall. Bagi warga Kota Awan, Tiara adalah wajah yang selalu tersenyum di poster. Artis muda yang bersinar, sepupu Sinta yang lebih berani, lebih bebas, dan jauh lebih sulit ditebak.

Tetapi bagi Arya, Tiara adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah melihat topengnya retak.

Tiga tahun lalu, di sebuah acara amal Keluarga Permata, Tiara melihatnya berdiri sendirian di koridor belakang. Saat semua orang mengira ia hanya menantu miskin yang tidak pantas masuk ruang utama, Tiara melihat seorang pensiunan jenderal tua berhenti di depannya, menundukkan kepala sedikit, lalu memanggilnya dengan suara pelan, "Tuan Muda."

Sejak malam itu, Tiara tahu.

Dan selama tiga tahun, ia menutup mulut.

"Kenapa baru bicara sekarang?" tanya Arya.

Di seberang sana, Tiara menghela napas. "Karena selama ini kamu memilih diam. Aku tidak mau merusak permainanmu. Tapi malam ini mereka sudah melewati batas."

"Mereka?"

"Sinta tidak sebersih yang kamu harapkan, Mas." Suara Tiara melembut, tetapi kata-katanya tetap tajam. "Dia mungkin tidak mengatur semuanya dari awal, tapi dia tahu foto itu tidak kuat. Dia tahu ada yang janggal. Dia tetap memilih membiarkan ibunya mengusirmu."

Arya tidak menjawab.

Fakta itu tidak baru.

Yang membuatnya sakit bukan karena Sinta tertipu. Yang membuatnya selesai adalah karena Sinta tidak ingin tahu apakah ia tertipu.

"Revan mendekati Sinta sejak dua bulan lalu," lanjut Tiara. "Awalnya lewat proyek iklan PT Suara Kreatif. Lalu makan siang. Lalu rapat malam. Kamu tahu gaya Revan. Dia tidak pernah mendekati perempuan tanpa menghitung keuntungan."

"PT Takdir."

"Ya." Tiara menurunkan suara. "Dia mengira, selama Sinta masih menjadi istrimu, Keluarga Permata punya celah untuk menekan Takdir lewat hubungan keluarga. Tapi kalau kamu diusir sebagai pihak yang bersalah, semua narasi berubah. Sinta menjadi korban. Permata bisa menjaga muka. Revan bisa muncul sebagai penyelamat."

Arya menatap logo Gedung Takdir yang jauh di depan.

Revan Hadinata.

Anak konglomerat kelas dua yang terlalu sering difoto di restoran mahal, klub privat, dan acara balap mobil. Lelaki yang mengira dunia bisa dibeli dengan uang ayahnya dan diselesaikan dengan pengawal.

Arya pernah melihat namanya di beberapa proposal mencurigakan. Keluarga Hadinata ingin masuk ke jaringan kontraktor Takdir Infrastruktur, tetapi kualitas perusahaan mereka buruk, arus kasnya kotor, dan beberapa dokumen tendernya berbau suap. Arya menolak proposal itu tanpa pernah muncul langsung.

Mungkin sejak saat itu Revan mulai mencari jalan lain.

"Dia mengira aku pintu belakang," kata Arya.

"Dia mengira kamu gagang pintu yang sudah berkarat," balas Tiara. "Itu masalahnya."

Kali ini Arya benar-benar tertawa pendek.

"Mas Arya," kata Tiara, tiba-tiba serius lagi, "kamu mau apa?"

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi di baliknya ada pintu yang sangat besar.

Selama tiga tahun, Arya membiarkan dirinya menjadi bayangan. Ia menahan tangan saat dihina. Ia menundukkan kepala saat dipanggil benalu. Ia duduk di ujung meja keluarga seperti orang yang meminta sisa tempat.

Malam ini, meja itu sudah ditinggalkan.

"Untuk sekarang," kata Arya, "aku ingin mereka merasa menang."

Tiara terdiam sebentar. "Kamu mau membiarkan mereka tidur nyenyak?"

"Tidak." Mata Arya menjadi dingin. "Aku mau mereka tidur sambil memeluk bom yang belum mereka tahu sudah menyala."

Di ujung telepon, Tiara menarik napas pelan.

"Astaga," bisiknya. "Aku hampir lupa kenapa orang-orang tua itu takut padamu."

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari kaki jembatan. Arya meliriknya. Kaca belakang turun sedikit. Di dalamnya, ia melihat wajah Pak Satria yang sudah memutih karena usia, tetapi matanya tetap tajam seperti pisau lama yang dirawat baik.

Arya menuruni tangga jembatan.

"Aku tutup dulu," katanya.

"Tunggu." Tiara cepat-cepat bicara. "Satu hal lagi. Jangan percaya semua orang dari pihak Suryanegara yang datang padamu. Aku mendengar kabar dari manajerku di Jakarta, nama Prabu Suryanegara mulai disebut lagi di lingkaran bisnis. Kalau dia sudah bergerak, ini bukan cuma soal Sinta dan Revan."

Langkah Arya melambat.

Prabu.

Nama itu turun seperti batu ke dalam air gelap.

"Dari mana manajermu mendengar nama itu?"

"Acara tertutup. Beberapa investor tua. Aku belum dapat detail. Tapi mereka bicara seolah-olah kamu akan segera dipanggil pulang."

Arya menatap mobil Pak Satria.

"Baik. Kirim semua yang kamu punya."

"Mas Arya."

"Ya?"

Suara Tiara berubah lebih pelan. Tidak main-main, tidak menggoda. "Aku senang kamu akhirnya keluar dari rumah itu."

Arya diam beberapa detik.

"Terima kasih, Tiara."

"Jangan cuma terima kasih. Nanti traktir aku makan."

"Kalau jadwalku kosong."

"Jadwal pewaris konglomerat pasti bisa dikosongkan untuk artis tercantik Kota Awan."

Sambungan terputus sebelum Arya sempat membalas.

Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju mobil hitam. Pak Satria sudah turun lebih dulu, berdiri di bawah payung besar. Pria tua itu mengenakan setelan gelap sederhana, tetapi cara ia berdiri membuat satpam komplek mana pun langsung tahu bahwa ia bukan sopir biasa.

"Tuan Muda," katanya sambil menunduk.

"Jangan menunduk di tempat umum."

Pak Satria mengangkat kepala, tetapi matanya merah. "Maaf. Saya menunggu hari ini terlalu lama."

Arya menerima payung darinya. "Dokumen dari Tiara?"

"Sudah masuk. Rekaman panggilan, bukti transfer, dan satu foto Revan Hadinata bertemu Wulan di restoran privat dua hari lalu." Pak Satria membuka pintu mobil. "Cukup untuk menghancurkan narasi mereka, tapi belum cukup untuk menjatuhkan Revan sepenuhnya."

"Aku tidak ingin menjatuhkannya terlalu cepat."

Pak Satria tersenyum tipis. "Saya paham. Kalau tikus langsung mati, kita tidak tahu lubang mana yang dia pakai."

Arya masuk ke mobil. Di dalam, udara hangat dan aroma kulit baru menyambutnya. Sebuah handuk putih sudah disiapkan di kursi. Di konsol tengah, ada folder tablet berisi laporan singkat: Keluarga Permata, PT Suara Kreatif, Revan Hadinata, Keluarga Hadinata.

Semua rapi.

Semua menunggu satu perintah.

Pak Satria duduk di depan. "Ke mana, Tuan Muda? Gedung Takdir? Apartemen privat? Atau rumah aman?"

Arya membuka tablet. Di layar, foto Revan muncul: setelan mahal, senyum tipis, tangan memegang gelas jus di sebuah restoran privat. Di sampingnya, Wulan menunduk dengan wajah dibuat manis.

"Kontrakan lama dulu," kata Arya. "Biarkan semua orang mengira aku benar-benar tidak punya tempat."

Pak Satria tidak membantah. "Baik."

Mobil melaju meninggalkan komplek elite itu.

Sepanjang perjalanan, Arya membaca laporan tanpa bicara. Setiap halaman membuat gambarnya semakin jelas. Revan bukan hanya ingin Sinta. Ia mengincar akses ke daftar vendor Takdir, jalur kontrak infrastruktur, dan kemungkinan menekan Keluarga Permata untuk menjadi pintu masuk.

Anak itu serakah.

Serakah biasanya mudah dikendalikan.

Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan kontrakan sederhana di gang yang tidak terlalu lebar. Dindingnya kusam, lampu terasnya redup, dan beberapa motor terparkir berdesakan. Tempat itu adalah salah satu lokasi yang Arya pakai selama tiga tahun untuk bekerja diam-diam tanpa diketahui Keluarga Permata.

Ia baru saja turun ketika suara dari langit membuat beberapa warga membuka pintu.

DHUM. DHUM. DHUM.

Angin kencang menyapu ujung gang. Daun-daun basah beterbangan. Lampu teras bergoyang.

Pak Satria mendongak. Wajahnya berubah waspada.

Di atas deretan atap rumah, sebuah helikopter hitam bergerak rendah, lampu navigasinya berkedip merah di tengah hujan tipis. Bukan helikopter polisi. Bukan ambulans udara. Terlalu bersih, terlalu mahal, terlalu berani untuk turun di kawasan sempit seperti ini.

Ponsel Arya bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor yang sudah tiga tahun tidak ia hubungi.

Adikku, aku datang.

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!