Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
.
“Ibu dengar hari ini kamu mengajukan cuti. Kamu baik-baik saja, kan?"
Rania menundukkan kepalanya merasa bersalah. “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja membiarkan masalah pribadi mengganggu pekerjaan. Saya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sebentar saja. Setelah ini saya janji, hal ini tidak akan terulang."
“Mengapa minta maaf?” tanya Bu Soraya lembut sambil menepuk punggung tangan wanita itu yang berada di atas pangkuannya. “Kamu bukan mesin, Nak. Kamu juga manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Sangat wajar jika sesekali merasa lelah dan sedih.”
Rania menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri, tapi rasanya sudah tak sanggup lagi. Selama ini tak pernah ada yang begitu perhatian padanya.
“Bu…” suaranya mulai bergetar. “Apakah benar saya sudah gagal sebagai wanita? Apakah hanya karena tidak bisa melahirkan anak, maka saya pantas dicampakkan begitu saja?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, pertanyaan yang selama ini terus menghantuinya siang dan malam.
Bu Soraya langsung menggenggam kedua tangan Rania erat, menatap matanya dengan tatapan sangat tegas namun penuh kasih sayang. “Sama sekali tidak. Tidak bisa memiliki anak bukan berarti kamu gagal. Bukan berarti kamu tidak berharga.”
“Tapi semua orang bicara sebaliknya… bahkan keluarga saya sendiri…” air mata akhirnya mengalir membasahi pipinya.
“Itu pasti sangat menyakitkan, tapi kamu harus tahu, ukuran keberhasilan seorang wanita bukan terletak pada rahimnya, melainkan pada hatinya,” jawab Bu Soraya tenang namun tegas.
“Saya sudah mencoba sekuat tenaga, Bu…” isak Rania terputus-putus.
“Ibu percaya padamu,” Bu Soraya mengusap punggung tangannya perlahan. “Mungkin saat ini kamu terluka, tapi kamu harus percaya suatu saat kelak kamu pasti akan bertemu dengan orang yang benar-benar menghargai dan menyayangi kamu.”
Rania menangis lebih keras, melepaskan semua sesak yang selama ini dipendam sendiri. Seperti inikah rasanya ada orang yang tidak menyalahkan atau menuntut?
Tak jauh dari sana, di balik rindangnya pohon besar, Alvino berdiri diam menyaksikan pemandangan itu. Ia datang ke taman itu karena ibunya mengirim pesan pada dirinya untuk menyusul ke tempat itu, namun tak disangka ia malah melihat ibunya bersama dengan Rania. Dan sekarang melihat wanita yang selalu tampak tegar dan kuat itu menangis, dadanya ikut merasa sesak.
Alvino mengepalkan tangannya erat. Selama bertahun-tahun ia hanya berdiri diam di kejauhan, takut mengganggu atau merusak. Tapi hari ini hatinya berbicara lain. “Baji’ngan kau Arga Pratama, Kalau kamu tidak bisa menjaganya, maka biarkan aku yang melakukannya mulai sekarang,” tekadnya dalam hati.
*
*
*
Satu minggu telah berlalu sejak keputusan perceraian itu disepakati. Tujuh hari yang terasa begitu singkat berlalu begitu saja. Tak ada yang tahu bahwa bagi Rania hari-hari itu terasa begitu berat dan menyiksa.
Di mata orang-orang di kantor, ia terlihat masih sama seperti biasanya, datang tepat waktu, menyelesaikan semua tugas dengan baik, menghadiri rapat, melayani klien, dan selalu tersenyum kepada siapa saja. Namun hanya ia sendiri yang tahu kenyataannya. Meskipun tampak tersenyum, sebenarnya luka hatinya masih menganga.
Pagi itu, Rania masuk kerja seperti biasa. Namun, baru saja ia hendak memulai pekerjaannya, ponsel di dalam tasnya berdering. Buru-buru Rania mengambil ponselnya, namun begitu membuka dan melihat ada nama ibunya di layar, wanita itu menjadi ragu, meskipun akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Halo, Bu?”
“Rania, nanti malam pulang ke rumah, ya?”
Rania mengernyit bingung. “Ada apa, Bu? Aku masih ada pekerjaan.”
“Ibu tidak meminta kamu pulang sekarang, tapi nanti malam ketika kamu pulang kerja. Ini penting, kita makan malam bersama. Jangan terlambat ya.”
Rania menghela napas panjang, mendengar nada bicara ibunya yang seperti perintah tak bisa dibantah. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. “Baiklah, aku usahakan.”
Tut!
Panggilan diputus begitu saja oleh ibunya bahkan tanpa mengucapkan kata apapun. Tidak juga menanyakan kabar dirinya. Rania merasa dadanya begitu sesak, namun ia menggelengkan kepala mengabaikannya. Bukankah sudah biasa baginya menerima sikap seperti itu dari ibunya?
*
*
*
Malam itu, Rania tiba di rumah orang tuanya seperti yang telah ia janji. Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung merasa ada yang tidak beres. Rumah itu terlihat lebih rapi dari biasanya, di atas meja juga ada berbagai cemilan dan hidangan, dan di salah satu sofa, ada seorang pria asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Usianya sekitar tiga puluhan, penampilannya rapi dan terawat, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya pun terlihat mahal. Tapi ada satu yang membuat Rania semakin tidak nyaman. Pria itu memandangnya dari ujung kaki hingga kepala, seolah sedang menilai sebuah barang dagangan.
“Rania, cepat duduklah,” sapa ibunya sambil tersenyum lebar, senyum yang selama ini tak pernah terlihat oleh Rania. Apalagi ketika melihat ibunya begitu antusias menyambutnya bahkan membantunya untuk duduk diantara ayah dan ibunya.
“Perkenalkan, Nak Dimas, dia ini Rania, putri kami yang sudah kami bicarakan sebelumnya.” ayahnya memulai pembicaraan bahkan tidak menjelaskan apapun pada Rania.
“Halo, Mbak Rania,” sapa pria itu sambil tersenyum ramah, namun senyum itu terasa asing bagi Rania.
Rania hanya mengangguk sopan, lalu kembali menatap orang tuanya dengan pandangan bertanya. “Katakan saja… apa tujuan ayah dan ibu memanggilku pulang?”
Ibunya tertawa kecil, lalu menjawab santai. “Ya hanya ingin mengenalkan kalian berdua saja.”
Deg.
Jantung Rania terasa berhenti berdetak saat menangkap maksud tersembunyi di balik kalimat itu. Suasana hatinya seketika berubah menjadi dingin.
“Mengenalkan? Maksud kalian… menjodohkanku?” tanyanya pelan namun tegas.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan. Diamnya kedua orang tuanya sudah cukup menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Rania tertawa kecil, tawa yang terdengar begitu getir. Baru satu minggu. Baru tujuh hari ia menerima surat cerai, masa iddahnya masih berjalan, dan keluarganya sudah sibuk mencarikan pengganti?
“Maaf… aku belum memikirkan hal itu sama sekali,” katanya mencoba menahan kesabarannya.
Ibunya langsung menghela napas panjang, seolah kecewa dengan jawaban putrinya. “Rania, kamu tidak muda lagi lho. Sudah dua puluh tujuh tahun.”
“Tapi bukan berarti aku harus terburu-buru menikah lagi,” bantah Rania pelan. Tidak ada yang tahu, di atas pangkuan kedua tangannya terkepal.
Belum sempat ibunya menjawab, pria bernama Dimas itu ikut menyela pembicaraan dengan nada yang terasa terlalu santai. “Sebenarnya saya sudah mendengar semuanya, Mbak. Saya tidak keberatan sama sekali dengan status Mbak.”
Rania menoleh tajam ke arahnya. “Maksud Bapak?”
“Saya tahu kalau Mbak baru saja bercerai. Saya juga sudah tahu alasannya,” lanjut Dimas seolah membicarakan hal biasa. “Tapi saya benar-benar tidak masalah. Meski Mbak tidak bisa memberikan keturunan, itu bukan halangan bagi saya.”
Kalimat terakhir itu terasa seperti tamparan keras yang membakar telinga Rania. Rahangnya mengeras, seluruh darahnya terasa mendidih karena tersinggung.
Rania berdiri tiba-tiba dan membuat semua orang terkejut melihat reaksinya. Tapi ia sudah tidak peduli lagi dengan sopan santun.
“Aku permisi pulang.”
“Rania! Kamu mau ke mana? Kamu belum makan malam,” seru ibunya terkejut.
“Aku sudah kehilangan selera makan malam ini,” jawab Rania singkat tanpa menoleh. Ia melangkah cepat keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka semua dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.
Begitu sampai di luar rumah, Rania berjalan cepat menuju jalan raya. Dadanya terasa sesak luar biasa, napasnya terengah menahan tangis. Semuanya terasa menyakitkan. Tak hanya diceraikan oleh suaminya, bahkan keluarganya pun tidak melihatnya sebagai manusia. Mereka hanya melihatnya sebagai wanita yang gagal,
Air mata mulai membuat pandangannya menjadi kabur, namun ia terus berjalan. Tidak menyadari adanya sebuah mobil hitam melaju mendekat, lalu berhenti tepat di sampingnya. Rania tidak memperhatikan, pikirannya terlalu kacau. Hingga kaca jendela mobil itu turun perlahan.
“Rania?”
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁