Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Buku Harian yang Tak Pernah Kutunjukkan
Buku harian itu terbuka di pangkuan Laras pada pukul dua dini hari.
Kertasnya telah menguning di bagian tepi. Tulisan pada halaman-halaman pertama masih bulat dan ragu, milik seorang gadis enam belas tahun yang belum berani menyebut perasaannya sendiri.
Hari ini Arkan menolongku.
Di halaman berikutnya, namanya muncul lagi.
Arkan berangkat sekolah penerbangan tahun depan.
Lalu lagi.
Kalau aku tidak bisa terbang, apa ada pekerjaan yang membuat suaraku tetap sampai ke langit?
Laras membalik halaman lebih cepat. Catatan tentang operasi matanya, ujian masuk PPI Curug, rating pertamanya, dan penerbangan Angkasa Nusantara yang diam-diam ia lacak lewat Flightradar24 tersimpan di antara jadwal kuliah dan keluhan shift malam.
Sepuluh tahun hidupnya memenuhi buku itu.
Sekarang, laki-laki yang tak pernah membaca satu baris pun di dalamnya menawarkan pernikahan.
Laras menutup buku dengan kedua telapak tangan. Kesempatan itu terasa terlalu indah untuk ditolak, sekaligus terlalu berbahaya untuk diterima. Jika ia menikah dengan Arkan, setiap perhatian kecil bisa membuatnya berharap lebih. Jika ia menolak, ia mungkin menghabiskan sisa hidup bertanya apa yang akan terjadi seandainya ia berani.
Panggilan video kepada Nindya tersambung setelah tiga dering.
“Kamu tahu sekarang jam berapa?” Wajah Nindya muncul dengan sebelah mata masih terpejam.
“Dia mengajakku menikah.”
Kedua mata Nindya langsung terbuka. “Apa?”
Laras menceritakan percakapan di koridor, termasuk rencana tinggal, batas ruang pribadi, dan jawaban yang belum ia kirim.
“Kamu mau?” tanya Nindya setelah mendengarkan.
“Aku sudah menyukainya sepuluh tahun.”
“Itu bukan jawaban.”
Laras menatap sampul biru di pangkuannya. “Aku mau. Tapi aku takut dia cuma memilihku karena praktis.”
“Memang itu alasannya sekarang.”
Kejujuran Nindya menusuk tepat sasaran.
“Kalau kamu menerima,” lanjutnya, “jangan menikah dengan bayangan cowok di buku harian. Menikahlah dengan laki-laki yang kemarin jujur bilang belum mencintaimu. Kamu sanggup?”
Laras tidak segera menjawab.
“Dan kalau dia nggak pernah mencintaimu?”
Jarinya mengusap karet pengikat buku. “Aku belum tahu.”
“Cari tahu dulu. Jangan jawab karena takut kehilangan kesempatan.”
Nindya menarik selimut sampai bahu, tetapi tatapannya tetap serius. “Aku kasih tiga pertanyaan. Jawab tanpa melihat buku itu.”
“Apa?”
“Waktu kamu bilang butuh waktu, dia marah?”
“Nggak. Dia menyuruhku menjawab kalau sudah yakin.”
“Dia meminta kamu berhenti kerja setelah menikah?”
“Justru bilang nggak akan pernah memintanya.”
“Kalau kamu menetapkan batas, dia mendengarkan?”
Laras mengingat bagaimana Arkan menjelaskan kamar terpisah, jadwal malam, dan urusan keluarga yang harus mereka bicarakan sendiri. “Sejauh ini, iya.”
“Nah.” Nindya menguap. “Itu belum membuktikan dia akan jadi suami terbaik. Tapi setidaknya kamu tidak sedang berjalan ke orang yang mengabaikan pilihanmu.”
“Kamu menyuruhku menerima?”
“Aku menyuruhmu berhenti memakai rasa takut sebagai satu-satunya alasan menolak.”
Setelah panggilan berakhir, Laras membuka halaman kosong di bagian belakang buku harian. Ia menulis tiga hal, ruang untuk bekerja, hak untuk berkata tidak, dan keberanian berbicara langsung. Bukan daftar sifat Arkan. Daftar itu adalah syarat agar Laras tidak kehilangan dirinya sendiri di dalam mimpi yang terlalu lama ia tunggu.
Keesokan siangnya, Laras membawa pertanyaan itu ke Kopi Wulan. Wulan sedang menghitung stok biji kopi ketika melihat putrinya duduk tanpa menyentuh minuman.
“Arkan bilang apa sampai kamu begini?”
Laras mendongak. “Kok Mama tahu ini soal Arkan?”
“Sejak pulang dari reuni, kamu melihat ponsel lalu tersenyum, setelah itu menghela napas. Ulang terus.” Wulan duduk di seberangnya. “Dia melamarmu?”
Laras hampir menjatuhkan sendok. “Mama sudah tahu?”
“Bu Ratna menelepon pagi tadi. Katanya anaknya akhirnya punya inisiatif.”
“Mama dan Bu Ratna sedekat itu?”
“Kami kenal dari arisan, lalu sering bertemu karena sama-sama suka mencoba kedai kopi baru. Ide mengenalkan kalian memang dari kami.”
Laras memejamkan mata. “Jadi ini operasi dua ibu.”
Wulan tertawa, lalu menggenggam tangannya. “Mama cuma mau kamu bahagia. Kalau kamu nggak yakin, bilang tidak. Mama nggak akan kecewa.”
“Kalau aku bilang iya?”
“Pastikan kamu mengatakannya karena berani menjalani hidup bersamanya, bukan karena merasa berutang pada siapa pun.”
Hangat telapak tangan Wulan membuat simpul di dada Laras sedikit longgar.
Dua hari kemudian, ia kembali duduk di posisi executive Jakarta Approach. Pak Bagas memimpin pergantian shift, memeriksa daftar posisi, lalu mengingatkan tim tentang pertumbuhan awan di sisi selatan.
Lalu lintas sore cukup padat. Laras menurunkan tiga penerbangan secara bertahap sebelum sebuah suara yang terlalu ia kenal masuk ke frekuensi.
“Jakarta Approach, Nusantara 8966, mempertahankan FL120, siap turun lebih lanjut jika memungkinkan.”
Ujung pena Laras menekan kertas.
Arkan.
Ia tidak tahu siapa yang duduk di balik frekuensi. Bagi Arkan, Laras hanyalah suara petugas yang kebetulan mengatur jalurnya sore itu.
“Nusantara 8966, turun ke ketinggian 7.000 kaki, QNH 1009.”
“Turun ke 7.000 kaki, QNH 1009, Nusantara 8966.”
Laras menempatkan pesawatnya di antara dua kedatangan, memberi vektor menuju localizer, lalu memindahkannya ke Tower tanpa satu kata pribadi pun.
Setelah lalu lintas stabil, petugas pengganti datang untuk jadwal istirahatnya. Laras menjalani overlap lima menit, menyelesaikan checklist serah terima, lalu meninggalkan posisi. Ponselnya tetap tersimpan di loker ruang istirahat selama ia mengendalikan sektor.
Baru di luar ruang kendali ia melihat satu pesan yang terkirim sebelum waktu keberangkatan Arkan.
Arkan:
Soal yang kemarin, ditunggu ya.
Di balik kaca, label Nusantara 8966 baru saja hilang dari sektor setelah meluncur tepat di jalur pemberiannya.
Kartu akses di tangan Laras terkatup semakin erat.