Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik di Balik Kemegahan
Ruang tamu kastil Ragonves terbentang luas dan megah, mencerminkan kekuasaan dua keluarga besar yang telah menguasai wilayah ini selama berabad-abad. Lantai marmer putih berkilau memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa yang tergantung di langit-langit tinggi. Dinding-dindingnya dihiasi permadani sutra dengan sulaman benang emas, menggambarkan pertempuran legendaris para leluhur.
Prajurit berjaga di setiap sudut dengan seragam kebesaran mereka—beberapa mengenakan lambang naga perak keluarga Vincentes, yang lain mengenakan ular hitam keluarga Sienta. Para pelayan berlalu lalang dengan nampan perak berisi hidangan dan minuman, sementara para bangsawan duduk berkelompok, berbincang ringan sambil tertawa sopan.
Namun, di sudut ruangan yang sepi, di balik tirai beludru tebal, dua sosok bersembunyi dengan penyamaran yang cukup meyakinkan.
Vega Arcsein dan Barteil Aerhas berdiri kaku dengan seragam pelayan berwarna abu-abu, nampan kosong di tangan mereka sebagai alat pura-pura. Wajah mereka ditutupi sedikit oleh topi pelayan yang rendah.
"Vega," bisik Barteil, suaranya bergetar, "apa kita akan tetap aman seperti ini? Aku takut kita ketahuan dan kita justru diinterogasi nantinya. Lihat saja prajurit-prajurit itu—mereka tampak sangat waspada!"
Ia menyikut Vega dengan keras, tetapi pemuda kurus itu tetap tampak santai, bahkan tersenyum kecil.
"Berisik kau," desis Vega, menginjak kaki Barteil dengan kasar. "Diam saja, nanti kita dicurigai oleh banyak orang. Kau mau kita digantung di halaman kastil?"
Barteil memekik pelan kesakitan, tetapi berusaha menahan suaranya. "Sialan, Vega! Kakiku!"
"Kau yang bodoh, berisik di tempat seperti ini."
Sebelum Barteil bisa membalas, suasana ruangan tiba-tiba berubah. Semua pembicaraan meredup. Para bangsawan berhenti berbincang, pelayan berhenti melangkah, dan prajurit menegakkan punggung mereka.
Rombongan keluarga Sienta telah tiba.
Kenta Sienta melangkah masuk dengan langkah tegas dan penuh wibawa. Pria tua itu mengenakan jubah hitam dengan bordir ular naga merah menyala di dadanya. Rambutnya yang putih keperakan disisir rapi, dan matanya yang tajam seperti elang mengamati setiap sudut ruangan. Wajahnya dingin, tanpa senyum, tanpa ekspresi—seperti patung dewa kematian yang berjalan di antara manusia.
Semua orang yang hadir segera membungkuk hormat. Bahkan para bangsawan dari keluarga Vincentes pun menundukkan kepala.
Barteil yang melihat itu langsung gemetar hebat. Kakinya bergetar seperti daun tertiup angin.
"Lihat itu, Vega," bisiknya nyaris tak terdengar. "Tuan Kenta benar-benar mengerikan... Bagaimana mungkin kau berpikir untuk melirik istrinya? Kau benar-benar gila!"
Vega hanya tersenyum tipis. Matanya tetap mengamati Kenta dengan tatapan tenang, bahkan nyaris mengejek.
"Tua bangka itu beruntung saja tidak bertemu Komandan Reliets," ucapnya pelan, nyaris seperti gumaman. "Seandainya Komandan Reliets ada di sini, dia tidak akan berani segalak itu."
Barteil menatap Vega dengan tatapan tidak percaya. "Kau bicara tentang Komandan Reliets? Komandan prajurit kerajaan Dirvente? Kau pikir dia akan datang ke pertemuan keluarga biasa?"
Vega mendengus. "Kau tidak tahu, Barteil. Aku tahu sekuat apapun kedua keluarga Vincentes dan Sienta—mereka tidak akan pernah berani berurusan dengan keluarga kerajaan Dirvente. Kenta mungkin tampak kuat di sini, tetapi di hadapan kerajaan, dia hanya serigala yang menggonggong di bawah singa."
Barteil menggelengkan kepala, masih tidak percaya dengan keberanian sahabatnya.
"Lihat di sana itu Nyonya Belinda!" bisik Barteil tiba-tiba, menunjuk ke arah pintu masuk.
Seorang wanita berjalan masuk dengan anggun, setiap langkahnya terukur dan penuh pesona. Belinda Helrena mengenakan gaun sutra hitam panjang yang membentuk lekuk tubuhnya, dengan kalung rubi merah menyala di lehernya yang ramping. Sepatu hak tingginya berdetak di lantai marmer, menciptakan irama yang memikat.
Semua orang kembali membungkuk hormat. Belinda hanya mengangguk singkat, matanya yang dingin menyapu ruangan sejenak sebelum ia duduk di kursi di samping suaminya.
Vega tersenyum puas. "Targetku," bisiknya pelan. "Dia benar-benar memukau."
Barteil hanya bisa menggelengkan kepala dengan putus asa.
"Ingat, Vega. Nyawa kita dipertaruhkan di sini."
"Kurasa ada yang datang lagi," ucap Vega tiba-tiba, menyikut bahu Barteil.
Dua sosok wanita muncul dari balik pintu. Yang pertama adalah Keilla Sienta—rambut hitam pekatnya tergerai indah, gaun biru muda membalut tubuhnya yang ramping. Wajahnya dingin, namun kecantikannya tetap memukau.
Dan di sampingnya, seorang gadis dengan rambut pirang keemasan dan mata biru lembut. Ia berjalan dengan tenang, hampir seperti bayangan, dengan ekspresi pendiam yang membuatnya tampak misterius.
"Itu... Nona Clarisa?" Barteil terbelalak. Matanya tidak bisa lepas dari gadis pirang itu. "Wah, Nona Clarisa sungguh cantik sekali! Aku tidak pernah melihat gadis secantik itu!"
Vega mendengus. "Fokus, Barteil. Kau bukan di sini untuk melamun."
Namun, tiba-tiba alis Vega dan Barteil terangkat bersamaan. Di belakang Keilla dan Clarisa, seorang pemuda melangkah masuk dengan percaya diri. Ia mengenakan jas putih dengan bordir emas lambang kerajaan Dirvente—seekor griffin bersayap terbentang. Wajahnya tampan, rambutnya pirang terang, dan senyumnya ramah namun penuh kepercayaan diri.
Barteil menelan ludahnya. "Siapa dia? Jangan-jangan dia dari keluarga kerajaan Dirvente?"
Vega menatap pemuda itu dengan mata menyipit. Wajahnya berubah serius.
"Dia adalah Alarga Pigeinta," jawabnya pelan. "Kekasih Keilla—bahkan jauh sebelum Grey mengejarnya."
Barteil terkejut. "Apa? Jadi selama ini Keilla sudah punya kekasih?"
Vega mengangguk. "Aku tahu sedikit tentang Alarga. Menurut rumor yang beredar, dia adalah salah satu penerus penting di Kerajaan Divente. Keluarganya sangat berpengaruh." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Grey tidak tahu tentang ini. Dia terlalu buta oleh cintanya pada Keilla."
Barteil mengusap wajahnya dengan bingung. "Jadi... Grey dijodohkan dengan Keilla, tetapi Keilla sudah punya kekasih dari keluarga kerajaan? Ini seperti bencana yang menunggu untuk terjadi."
Vega hanya tersenyum kecut.
"Sudah, lupakan saja orang itu. Fokus kita adalah mengawasi mereka."
"Aku tidak yakin jika rencana kita berhasil," gumam Barteil, wajahnya tampak ragu. "Terlalu banyak risiko di sini. Aku benar-benar ingin pergi."
"Tidak bisa," potong Vega tegas. "Kita sudah terlalu jauh untuk mundur."
Barteil menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. Meskipun ketakutan, ia memilih mengikuti instruksi Vega—bukan hanya karena penasaran dengan keberanian sahabatnya, tetapi juga karena ia percaya bahwa Vega memiliki rencana yang lebih besar dari yang terlihat.
Di kejauhan, Alarga Pigeinta tersenyum pada Keilla, menggenggam tangannya dengan lembut. Keilla membalas senyumnya—senyum hangat yang tidak pernah ia berikan pada Grey.
Vega mengamati semua ini dengan mata tajam.
"Grey," pikirnya dalam hati, "aku akan membantumu. Bukan hanya untuk menghancurkan keluarga Sienta, tetapi juga untuk membuka matamu tentang siapa sebenarnya orang-orang di sekitarmu."
Di luar kastil, malam mulai turun.