NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Alun-alun Batu Bintang perlahan kembali tenang. Seribu seratus delapan puluh peserta yang berhasil lolos segera diarahkan menuju kawasan peristirahatan di kaki Gunung Tujuh Bintang. Di sana, setiap peserta memperoleh sebuah paviliun sederhana yang cukup nyaman untuk melepas lelah dan memulihkan tenaga.

Arga meletakkan pedangnya di samping tempat tidur. Ia baru saja hendak bermeditasi ketika terdengar ketukan berturut-turut di pintu.

"Masuk," panggil Arga.

Pintu terbuka perlahan memperlihatkan sosok Han, pemuda bernomor peserta 119 yang datang membawa sebuah kendi teh hangat.

"Aku mengganggumu?" tanya Han ragu.

Arga tersenyum tipis. "Sama sekali tidak. Masuklah."

Han melangkah masuk lalu duduk bersila di hadapan Arga. Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan sebelum akhirnya Han membuka suara. "Soal ujian tadi... terima kasih banyak."

"Kita saling membantu, jadi tidak perlu sungkan," sahut Arga sambil menggeleng pelan.

Han tertawa kecil menanggapi jawaban itu. "Dulu guruku pernah berpesan agar aku tidak pernah memercayai orang asing di dunia kultivasi. Aku selalu memegang teguh kata-kata itu. Namun hari ini, aku sengaja melanggar nasihat beliau."

Arga terkekeh. "Mudah-mudahan kau tidak menyesali keputusanmu."

"Sepertinya tidak," jawab Han mantap.

Malam itu, persahabatan baru di antara mereka mulai tumbuh secara alami.

Di paviliun terpisah, Nara sedang duduk di tepi jendela. Jepit rambut berbentuk bunga plum masih terpasang rapi di rambutnya. Ia menatap lekat langit malam yang bertabur bintang, membayangkan kembali rentetan kejadian saat ujian berlangsung.

Bukan beratnya rintangan yang mengganggu pikirannya, tetapi sebuah kenyataan sederhana. Saat melangkah masuk ke Alam Ilusi Bintang, orang yang secara refleks langsung ia cari adalah Arga.

Nara menghela napas pelan. "Aku benar-benar sudah tidak bisa membohongi perasaanku lagi."

Suara langkah kaki yang mendekat membuyarkan lamunan Nara. Ling Yue muncul dari balik pintu membawa dua cangkir teh yang masih berasap. "Boleh aku bergabung?"

"Tentu saja, masuklah," sambut Nara.

Ling Yue duduk di samping Nara. Mereka berdua menikmati teh hangat dalam kedamaian malam. Setelah beberapa tegukan, Ling Yue melempar senyum tipis. "Kau sedang memikirkan Arga, ya?"

Nara seketika tersedak. "Kelihatan jelas?"

"Sedikit," jawab Ling Yue terkekeh.

Wajah Nara memerah seketika. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Ling Yue kembali memandang ke arah langit. "Arga memang berbeda. Dia tipe orang yang tidak peka dan sulit memahami isi hati orang lain."

"Aku juga mulai menyadarinya," bisik Nara tersenyum pahit. "Kadang ada dorongan kuat untuk menyampaikan semuanya secara langsung. Tapi aku takut."

Ling Yue mengangguk paham. "Takut hubungan kalian berubah?"

"Iya. Kalau dia ternyata menolak, aku bahkan bisa kehilangan teman terbaikku," sahut Nara pelan.

Ling Yue tidak langsung merespons. Ia terdiam sejenak sebelum berkata, "Perasaan tidak selalu harus terburu-buru diungkapkan. Kadang, cukup disimpan dan dijaga dengan baik sampai momen yang tepat tiba."

Nara menoleh menatap Ling Yue. "Apakah kau juga melakukan hal yang sama?"

"Entahlah. Aku hanya tidak ingin memaksakan sebuah jawaban saat dia belum siap memberikannya," jawab Ling Yue tenang.

Keduanya kembali terdiam, menikmati kehangatan teh di tengah sejuknya angin malam. Tak ada aroma persaingan di antara mereka, hanya dua gadis yang sama-sama menyimpan rasa pada pemuda yang sama, namun memilih untuk saling menghargai.

Sementara itu, jauh di puncak Gunung Tujuh Bintang, tujuh tetua sekte sedang berkumpul memeriksa daftar peserta yang berhasil lolos. Seorang tetua berjanggut putih menghentikan jarinya pada satu nama spesifik.

"Arga," gumamnya.

Tetua berjubah hitam di sebelahnya mengangguk setuju. "Bocah itu cukup menarik. Bakatnya bagus, meski bukan yang paling menonjol di antara yang lain."

Namun, tetua berjubah putih yang sejak awal mengamati gerak-gerik Arga menggeleng pelan. "Bukan bakatnya yang membuatku tertarik, Namun bagaimana reaksi Pedang Penjaga Langit saat berada di tangannya."

Suasana ruangan mendadak menjadi kaku. Seorang tetua wanita tampak mengernyit heran. "Pedang Penjaga Langit? Mustahil. Bukankah pusaka itu sudah lenyap tanpa jejak sejak ratusan tahun lalu?"

Tetua berjubah putih tidak membalas pertanyaan itu. Matanya hanya tertuju pada rembulan yang menggantung tinggi di angkasa. Di dalam benaknya, sebuah dugaan kuat mulai terbentuk. Jika perkiraannya benar, maka kehadiran Arga di Kota Bintang akan menjadi awal dari gelombang perubahan besar bagi seluruh dunia kultivasi.

Tanpa ada seorang pun yang menyadari, di balik bayangan pilar batu aula yang gelap, berdiri seorang pria bertopeng putih.

Kairo.

Ia mengukir senyum tipis sembari menatap nama Arga yang tertera di daftar peserta.

"Arga... kita pasti akan bertemu lagi. Namun kali ini, pertempuran kita bukan lagi antara pemburu dan buruannya, kita akan berkompetisi sebagai sesama rival."

Pagi itu. Seribu seratus delapan puluh peserta yang tersisa kini berkumpul di kaki sebuah tangga batu raksasa. Anak-anak tangga itu membentang begitu tinggi hingga seolah tidak memiliki ujung, menembus lautan awan yang membentang di atas mereka. Di puncaknya, berdiri megah tujuh paviliun yang masing-masing mewakili satu sekte besar.

Arga mendongak menatap megahnya tangga batu tersebut. "Jadi... itu tujuan kita."

Suara Guru Tian kembali terdengar bergema melalui liontin di dadanya. "Bukan, Arga."

Arga mengernyit heran. "Bukan?"

"Tujuanmu tidak hanya mencapai puncak, tapi kau juga harus memahami alasan mendasar mengapa kau harus berada di sana."

Arga mengangguk pelan, mulai mencerna petuah sang guru. Di dunia kultivasi, setiap tahap ujian selalu menyimpan makna tersirat yang jauh lebih dalam daripada apa yang terlihat di permukaan.

Tak lama kemudian, seorang tetua berjubah biru melangkah maju mendekati barisan peserta. Ia menunjuk ke arah tangga batu raksasa di belakangnya. "Ujian kedua sangat sederhana. Tugas kalian hanya satu: naiklah."

Beberapa peserta saling berpandangan heran. "Hanya begitu?" bisik salah satu dari mereka.

Tetua itu mengukir senyum tipis yang penuh arti. "Jika kalian menganggapnya mudah, silakan coba sendiri."

Belum sempat instruksi selesai diberikan, seorang pemuda bertubuh kekar langsung melesat maju. Ia berlari kencang, melompati tiga anak tangga sekaligus dengan percaya diri. Namun, saat baru saja menapakkan kakinya di tangga keempat puluh, wajahnya mendadak pucat pasi. Seluruh persendian kakinya bergetar hebat sebelum akhirnya ia ambruk berlutut dan muntah darah di atas batu.

Suasana di kaki gunung seketika berubah tegang. Seluruh peserta tertegun menyaksikan pemandangan itu.

Tetua berjubah biru melanjutkan penjelasannya dengan nada datar. "Setiap anak tangga dialiri tekanan spiritual yang berbeda. Kalian bebas untuk berhenti dan menyerah kapan saja. Namun, mereka yang tidak sanggup bertahan menghadapi tekanan ini sama sekali tidak pantas menjadi murid Tujuh Sekte. Ujian dimulai!"

Seribuan peserta langsung bergerak serentak. Arga memilih melangkah dengan tenang tanpa terburu-buru.

Pada tangga pertama, belum ada perubahan energi yang berarti. Memasuki tangga kesepuluh, bobot tekanan spiritual mulai terasa membebani kedua bahunya. Saat menginjak tangga kedua puluh, helaan napas Arga mulai sedikit memberat.

Di sampingnya, Nara masih mampu mengimbangi langkah dengan wajah tenang, begitu pula dengan Ling Yue yang tampak santai. Sementara itu, agak jauh di depan mereka, Rivan terus melangkah maju secara konstan tanpa pernah menoleh ke belakang.

Tekanan kian kuat di tangga kelima puluh hingga membuat beberapa peserta mulai tertinggal. Begitu mencapai tangga ketujuh puluh, belasan orang terpaksa menyerah karena tak sanggup lagi bernapas. Arga sendiri tidak berniat mempercepat ritme jalannya; ia fokus mengatur kestabilan napas dan aliran qi di dalam tubuhnya.

Guru Tian mengangguk puas dari dalam liontin. "Bagus, Arga. Kebanyakan orang salah sangka dan mengira ujian ini adalah adu kecepatan, padahal yang sesungguhnya diuji adalah ketahanan dan kestabilan fondasi."

Tepat saat Arga menginjak anak tangga keseratus, satu suara menyapa dari arah belakang. "Arga!"

Arga menoleh dan menemukan Han yang sedang bersusah payah menyusulnya. "Rupanya kau sanggup bertahan sejauh ini," puji Arga dengan senyum tipis.

Han mengangguk sembari menyapu keringat di dahinya. "Lumayanlah."

Mereka pun kembali melangkah berdampingan. Namun, baru berjalan beberapa puluh langkah, seorang pemuda berjubah merah mendadak memotong jalur mereka secara agresif. Pandangannya langsung mengunci sosok Arga.

"Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi," ucap pemuda berjubah merah itu dengan nada provokatif, lalu menatap pedang di pinggang Arga. "Jadi kau pemuda yang membawa pedang itu?"

Arga menanggapi dengan tenang. "Ada perlu apa?"

Pemuda itu menyeringai licik. "Tidak ada. Aku hanya ingin membuktikan sendiri, apakah orang yang sibuk dibicarakan oleh para tetua memang sehebat kabar burung yang beredar."

Han langsung pasang badan di samping Arga. "Kami di sini untuk mengikuti ujian, bukan untuk melayani provokasi."

Pemuda berjubah merah itu terkekeh meremehkan. "Tenang saja, aku tidak berniat menyerang kalian di sini. Tapi ingat... di tangga ini, gangguan sekecil apa pun bisa menjadi penentu siapa yang akan jatuh tereliminasi."

Usai melontarkan ancaman tertutup, ia mempercepat langkahnya dan melesat menghilang ke barisan depan.

Guru Tian menyipitkan mata spiritualnya. "Pemuda itu berbahaya. Kau harus waspada arga."

Arga mengangguk setuju. Lawan yang pandai bermain intrik dan memanfaatkan situasi biasanya jauh lebih merepotkan daripada musuh yang hanya mengandalkan otot belaka.

Memasuki anak tangga keseratus lima puluh, tekanan spiritual di udara mendadak berlipat ganda secara ekstrem!

Bruk!

Seorang peserta di depan Arga langsung jatuh tersungkur tak sadarkan diri, sementara yang lainnya mulai bersusah payah menarik napas. Bahkan Han mulai bergetar hebat, lututnya hampir menekuk ke tanah. "Aku... rasanya sudah tidak sanggup lagi..."

Arga refleks mengulurkan tangan hendak membantu Han menopang beban tersebut. Namun, teguran keras Guru Tian langsung menghentikannya.

"Jangan, Arga! Jangan bantu dia!"

Tangan Arga tertegun di udara. Ia menatap Han yang sedang berjuang sendirian dengan sisa-sisa tenaganya agar tidak roboh. Arga akhirnya menyadari maksud gurunya. Ini adalah ujian pribadi untuk menempa ketahanan diri masing-masing, dan tidak semua bantuan di dunia kultivasi akan mendatangkan kebaikan bagi orang yang ditolong.

1
Semoli Ginon
aku kesinj thor. lanjut baca
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
Mxxx: 🤣🤣 itu ma aktor ya
yg salah buat gitu gak ada sensasi ya
gak ada gregit y
🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!