"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Penolakan Keisha
Satria sendiri tetap tenang. Pria itu tidak menunjukkan kepanikan, canggung, atau salah tingkah sedikit pun karena rencana rahasianya dibongkar habis-habisan di depan meja makan keluarga. Ia hanya melipat kedua tangannya di atas meja, tetap dengan postur tegap seragam Mayornya yang tanpa cela, menatar Keisha seolah siap menghadapi konfrontasi apa pun.
"Dan, Ayah sebenarnya sangat setuju kalau Kei mau menerima pinangan Satria," lanjut kata Ayah Farrel, menghidupkan kembali senyuman tipis di wajah paruh bayanya yang mulai berkerut. "Satria ini pria yang baik, bertanggung jawab, dan sudah mapan dari segi apa pun. Ayah sudah mengenal karakter dia sejak bertahun-tahun lalu saat dia menikahi kakakmu, almarhumah Vania. Tidak ada satu pun alasan bagi Ayah untuk meragukan kemampuannya memimpin rumah tangga."
Duh, kepala Keisha mendadak pusing tujuh keliling. Rasa mual mendadak merayap di perutnya, dan kali ini bukan karena bumbu nasi goreng cakalang buatan ibunya, melainkan karena keputusan sepihak yang mendadak mengepung hidupnya dari segala penjuru. Ia memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Bisa-bisanya Ayah malah menyetujuinya begitu saja? Kenapa enggak ada diskusi dulu sama aku?" pikir Keisha frustrasi, merasa ingin menjerit absurd saat itu juga.
Namun, sedetik kemudian ia merutuki kebodohannya sendiri. Ya, maklum saja. Ayah Farrel juga seorang pensiunan tentara dengan pangkat terakhir yang cukup dihormati di markas besar. Sudah menjadi rahasia umum di keluarga mereka kalau Ayah selalu bangga dan fanatik dengan segala hal yang berbau korps tentara, terutama angkatan darat. Punya menantu seorang tentara aktif berprestasi dengan pangkat Mayor seperti Satria adalah sebuah kebanggaan mutlak bagi Ayah yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.
Di sudut dapur, Ibu Dania yang sejak tadi menyimak perdebatan hanya terdiam di depan wastafel. Wanita paruh baya itu membalikkan tubuhnya, memberikan tatapan teduh namun penuh harap pada anak bungsunya. Dari tatapan mata Ibu, Keisha tahu bahwa ibunya pun sudah berada di kubu yang sama dengan Ayah dan Satria.
Keisha menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya yang mendadak terasa sesak oleh atmosfer ruangan yang kian memadat. Sifat barbarnya yang keras kepala dan tidak suka diatur-atur kini bangkit sepenuhnya, menolak untuk disudutkan oleh takdir yang sama sekali tidak ia inginkan. Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang cukup keras ke atas piring, lalu menegakkan punggungnya, menatar langsung ke arah Ayah Farrel dengan sorot mata yang tegas dan menantang.
"Kei tidak punya mimpi jadi istri tentara, Yah," jawab Keisha, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat jelas, lantang, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Suasana di meja makan semakin menegang. Ibu Dania menghentikan gerakannya yang sedang menata gelas, sementara Ayah Farrel menurunkan sedikit kacamatanya, menatap anak bungsunya dengan dahi berkerut.
Keisha tidak berhenti di situ. Ia kemudian mengalihkan pandangan tajamnya, menusuk langsung ke arah Satria yang duduk diam di hadapannya. "Keisha ... suka Rendra. Jadi sebaiknya, Kak Satria cari calon istri yang lain saja. Masih banyak perempuan di luar sana yang antre untuk seragam Mayor Kakak. Cari yang memang bercita-cita jadi Ibu Persit, bukan aku."
Suasana di ruang makan yang semula riuh oleh suara kicauan burung di luar rumah mendadak berubah total menjadi sunyi senyap. Kebohongan yang diucapkan Keisha tentang Rendra meluncur begitu saja demi menyelamatkan dirinya dari jeratan pinangan sang Mayor.
*Prang.*
Rafka yang semula sedang lahap menikmati nasi goreng cakalangnya, tiba-tiba menjatuhkan sendok logamnya ke atas piring hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Bocah lima tahun itu menatap Keisha dengan mata yang mendadak berkaca-kaca. Pipi gembilnya yang coreng-moreng bekas saus tampak bergetar, dan bibir mungilnya langsung mengerucut kencang, menahan tangis yang siap pecah kapan saja.
"Tante Kei ... bohong ...," cicit Rafka dengan suara parau yang bergetar. "Tante Kei enggak boleh suka sama Om jaket biru itu! Tante Kei harus sama Papa!"
"Rafka, masuk ke kamar dulu," perintah Satria tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh otoritas mutlak yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun di ruangan itu.
Rafka melompat turun dari kursinya sembari terisak pelan, lalu berlari kencang menuju kamar bawah dan membanting pintunya hingga tertutup rapat. Setelah kepergian anaknya, suasana pagi itu berubah menjadi sangat mencekam.
Tidak ada lagi suara yang terdengar di ruang makan. Udara di sekitar meja makan rasanya mendadak membeku seiring dengan rahang tegas Satria yang mengetat hebat hingga urat-urat di lehernya menonjol samar. Sepasang mata tajam sang Mayor memicing pekat, menatar Keisha dengan pandangan dingin yang begitu menusuk, memancarkan aura kemarahan tak kasat mata sekaligus kecemburuan kaku yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang berada di sana.
Keisha membalas tatapan itu dengan sisa-sisa keberanian barbarnya, meski di dalam dadanya, jantungnya sudah berdegup ugal-ugalan menahan debaran yang luar biasa hebat.
***
Beberapa saat kemudian...
Suasana di dalam rumah keluarga Farrel mendadak berubah total setelah ketukan pintu kamar Rafka yang berdentam keras tadi pagi. Nasi goreng cakalang di atas meja yang semula mengepul hangat kini mendingin begitu saja, diabaikan oleh para penghuninya yang mendadak terkunci dalam pikiran masing-masing. Situasi rumah menjadi benar-benar tidak kondusif, menyisakan kecanggungan yang teramat pekat di setiap sudut ruangan.
Satria bangkit dari kursi makannya tanpa menimbulkan suara geseran yang berarti. Dengan langkah tegap berseragam Mayornya, ia berjalan menuju pintu kamar bawah tempat putranya mengurung diri. Ia mengetuk pintu kayu itu perlahan, ketukan yang teratur namun penuh kelembutan yang jarang ia perlihatkan.
"Rafka, buka pintunya. Kita harus berangkat sekolah sekarang. Anak Papa tidak boleh terlambat," bujuk Satria dengan suara beratnya yang melandai di balik pintu.
Sementara di ruang makan, Keisha tidak sudi berlama-lama di bawah atmosfer mencekam tersebut. Tanpa menoleh lagi ke arah Satria atau piring nasinya yang baru disentuh sedikit, ia langsung berdiri dengan menghentakkan kursinya kasar. "Ayah, Ibu, Keisha kembali ke kamar dulu buat bersiap-siap ke kampus. Mau ada kelas pagi," pamit Keisha dengan nada ketus yang kentara, lalu segera melesat naik ke lantai atas, mengunci diri di kamarnya sendiri.
Di lantai bawah, setelah memastikan Satria berhasil membujuk Rafka keluar dan menuntun bocah itu menuju mobil dinasnya di pekarangan, Ibu Dania akhirnya mendekati suaminya. Wanita paruh baya itu meletakkan teko teh dengan helaan napas yang teramat panjang, lalu duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Keisha.
"Pasti akan terjadi penolakan yang besar dari Keisha, Yah," kata Ibu Dania, membuka pembicaraan dengan nada cemas yang mendalam.
Bersambung...
Met pagi Kakak semuanya, alhamdulillah ada kabar baik, retensi bab 20 nya tercapai, dan semoga di bab 40 retensi tidak terlalu turun. Maka dari itu temeni kisahnya Satria dan Keisha ya, terima kasih banyak sebelumnya. Perlu diingatkan tombol like-nya sangat berarti, jadi tinggalkan like-nya di setiap bab 👍👍